
Sekarang kondisi Kerin sudah memasuki 5 bulan, perut buncitnya sudah terlihat dan dia sekarang sangatlah gembul, pipinya gemoy, membuat Abdillah ingin mengigit pipi Kerin.
Huwaaa Ab kenapa kau gigit, hormon wanita hamil sangat sensitif bukan?
Hiks..hiks udah jangan menangis ya cup cup, Abdillah mengelus pipi Kerin yang sudah ada bekas gigitan nya.
Hiks, sakit tau, Kerin mengelap air matanya, dia melanjutkan memakan es krim yang sempat tertunda.
Abdillah dari tadi memegang pipi Kerin, Sudah kebiasaan Abdillah memainkan pipi gembul Kerin, karna pola makan Kerin naik drastis dari biasanya.
Sayang kenapa kau sangat menggemaskan, Abdillah mencubit pipi Kerin sampai menimbulkan kemerahan.
Sakit Ab, huwaaaa.... Kerin menangis lagi, salahkan Abdillah yang terlalu gemas.
Astaga aku kelepasan Rin, sudah ya aku akan diam, Kerin mulai merasa tenang.
.
.
Ntah mengapa sekarang aku sangat sensitif, aku gampang menangis padahal hanya masalah kecil, dan itu semua karna suami yang brengsek ini.
Ab aku ingin makan topokki, rengek Kerin.
Baiklah, kau bersiap-siap lah dulu. Aku mengangguk dan mengambil tas milikku, dan bergegas untuk turun, Abdillah sudah siap di depan pintu kamar, dia selalu menjaga ku dengan baik.
Dia menggenggam tanganku saat kami ingin turun dari tangga.
Diperjalanan aku hanya diam sambil mengunyah Snack, Abdillah fokus menyetir, dia sangat tampan jika diliat dari samping, uhhh menggoda.
__ADS_1
Aku tau aku tamvan sayang.
Duhhh Geer, Abdillah tertawa, dan aku pun mengalihkan mataku.
Tidak terasa kami sudah sampai di tempat restoran penjual topokki, aku turun dibantu Abdillah, kami duduk dan langsung memesan makanan.
Aku ingin ini, mau ini, ini, ini, dan ini.
Baik nyonya, ucap pelayan.
Banyak sekali kau makan Rin.
Kenapa? Tidak boleh? Huftt... Aku tidak tau kenapa nafsu makanku sekarang makin bertambah.
Saat kami menunggu makanan tiba-tiba seseorang datang yang membuat moodku turun.
Hai Ab,
Dia duduk di tengah-tengah kami tanpa rasa malu, astaga aku tidak boleh membenci dia, ntar anakku seperti dia pulak.
Aku langsung mengelus perutku, aku harap kau tidak sama seperti wanita yang di sampingku, tapi selain wanita itu tebal muka dia juga tuli.
Ab apa kau tidak merindukan ku?
Oh astaga apa dia sudah gila?
Tidak.
Hahaha rasakan itu wanita licik.
__ADS_1
Aku menggenggam tangan Abdillah, dan memasang wajah kesal, dia mengerti dan langsung mengelus tanganku, ku lihat Risti berdecih dan memalingkan wajahnya.
Dan akhirnya pesanan kami pun datang, sekarang duniaku adalah makanan, aku sudah tidak perduli dengan mereka.
Sayang kau mengabaikan suamimu, ucap Abdillah.
Tapi kau sudah ada teman bicara? Aku melirik sekilas ke arah Risti, dia memandangku rendah.
Dimana? Bukankah hanya ada kita berdua?
Huftt, aku menahan tawa karena melihat wajah Risti kesal, uhhh aku akan memberikan suamiku jatah nanti malam....
Dasar kau sialan, Risti mendorong ku dengan kuat, hampir saja aku terjatuh kalau Abdillah tidak cepat menangkap ku.
Heh, kau sialan kau ingin mendorongku hah? rasakan ini. Aku menjambak rambut Risti dan Risti membalas jambakkanku, kami sekarang menjadi tontonan banyak orang.
Risti, Abdillah menggebrak meja dan kami pun berhenti, aku menarik tanganku, Risti pun juga sama.
Ab....
Kau hampir mencelekai istriku yang sedang hamil sialan, aku menghampiri Abdillah dan langsung menenangkan nya.
Hah Kerin hamil? Aku lihat dia menyeringai licik, aku tau apa yang kau pikirkan nyonya Risti.
Yang benar saja? Atau jangan-jangan itu anak pria lain?
Apa maksudmu? Jelas-jelas ini anak Abdillah, apa kau iri karena kau tida bisa menikah dengannya?
Ohh iya aku lupa, kalau kau sudah pasti iri, aku tersenyum licik.
__ADS_1
Awas saja kau Rin, Risti pergi meninggalkan ku dan Abdillah, akan ku tunggu kau ris walau aku sedang hamil tua akan ku balas kau.