Dipaksa Menikah Dengan Ustadz

Dipaksa Menikah Dengan Ustadz
Penjelasan


__ADS_3

Sayang, aku mohon kau percaya padaku, ucap Abdillah.


Iya aku percaya padamu, Abdillah tersenyum bahagia, dia tahu kalau Kerin tidak bodoh, dia tidak mungkin akan cepat tertipu.


Saat mereka tiba di mobil, Kerin memandang ke arah Abdillah, cepat jelaskan.


Aku akan menjelaskannya padamu, saat aku pulang membeli durian, Risti terus menelpon ku, saat ku angkat dia katanya di ganggu oleh beberapa pria, karena aku sedikit tidak tega aku.... ucapan Abdillah dipotong oleh Kerin, dan dipandangnya tajam wajah Abdillah.


Brengsek kau Abdillah, kenapa pula kau harus membantu Risti?


Maafkan aku, aku kira dia sedang terdesak makanya aku menghampiri nya di bar.


Baiklah lanjutkan, Abdillah mengelus pipi Kerin.


Ternyata itu hanya tipuannya, saat sampai dia langsung menarik ku ke salah satu kamar yang ada di bar, kulihat dia sangat mabuk atau mungkin meminum perangsang, aku pun langsung memberontak, dan saat itu juga Dian datang, dia pun... ucapan Abdillah dipotong lagi oleh Kerin.


Tunggu.


Berarti yang mengambil keperawanan Risti itu Dian?


Mungkin. Kerin berfikir lagi kalau iya berarti Abdillah masih setia padanya, akh bukan itu sekarang yang iya pikirkan tapi Risti, walau dia jahat hanya saja mengambil keperawanan nya disaat mabuk itu sama saja pelecehan bukan?


Ayo kita cari buktinya, dan kita beri pada Risti, Abdillah mengangguk setuju, karena itu dia jadi terfitnah hingga membuat Kerin marah.


Tapi aku masih marah padamu, Kerin menatap tajam ke arah Abdillah, Abdillah bingung ntah harus berbuat apa.


Sudahlah sayang, aku tidak melakukan apapun, sungguh. Kerin membuang muka ke arah jendela, Abdillah memegang tangan Kerin, kau masih marah padaku? Maaf.


Kerin melirik ke arah Abdillah yang sedang menunduk menatap tangan mereka yang sedang berpegangan. Perasaan iba Kerin menatap suaminya seperti itu pun luluh, dia mengelus kepala Abdillah.


Abdillah mendongakkan kepalanya menatap Kerin yang sedang tersenyum padanya, sudahlah aku tau kau tidak akan mengkhianati ku lagi.


Kenapa harus ada kata lagi? tanya Abdillah.


Kerin mendengus sebal, dia mencubit pipi Abdillah gemas, kau lupa? bagaimana kau dulu memperlakukan ku hah?


Abdillah mengelus pipinya yang dicubit Kerin, itu dulu sayang sekarang tidak.

__ADS_1


Tetap saja, kau kan gampang berpindah hati, Abdillah tidak habis pikir, bagaimana mereka sudah berbaikan lalu bertengkar lagi karena hal sepele.


Abdillah meringis saat melihat tatapan Kerin seperti ingin membunuhnya saja, baiklah kau menang.


Tapi percaya atau tidak, aku tidak akan seperti dulu lagi, aku akan mencintaimu sampai aku mati Rin.


.


.


Abdillah dan Kerin sekarang berada di tempat bar yang bulan lalu Abdillah datangi karena Risti, mereka melihat sekeliling yang masih sepi karena masih siang hari, Abdillah berjalan ke tempat bartender.


Apakah disini ada cctv?


Bartender itu menatap heran pada Abdillah, dia menunjuk cctv yang berad di sudut ruangan, Kerin menuju ke arah yang di tunjuk bartender itu.


Dia kembali menatap bartender itu dengan tatapan sinis, bisakah kami melihat cctv pada saat bulan kemarin?


Untuk apa? tanya bartender dengan nada membentak, bartender itu perempuan rambutnya sebahu, dan berkulit sawo matang.


Untuk memakannya, ya untuk dilihat lah bodoh, Abdillah terkejut dengan jawaban Kerin, apakah ibu hamil akan seperti ini?


Kerin membulatkan matanya, dia melipat-lipat lengan baju lalu memasang ancang-ancang, walau dengan keadaan perut buncit, Kerin tetap meladeni bartender yang tidak punya akhlak itu.


Oh kau melawanku hah?


Astaga sayang, kau itu sedang hamil, Abdillah menarik Kerin dan langsung memeluknya. Dia menggeleng gelengkan kepalanya, istrinya ini emang patut di kasih jempol.


Tolong ya tuan bawa istri mu ini pergi dari sini, perempuan bartender itu memohon pada Abdillah untuk membawa istrinya pergi dari sini.


Lini, seseorang berteriak keras pada perempuan bartender itu, lelaki itu cukup berumur, dia memakai kemeja berkotak kotak sambil membawa berkas di tangannya, mungkin dia manejer disini.


Tuan, hormat Lini sih perempuan bartender.


Kau tidak tau dia siapa?


Lini memandang Abdillah dan Kerin secara bergantian, Tidak.

__ADS_1


Astaga dia itu tuan Abdillah, kau berasal dari dunia mana?


Maafkan aku, tapi aku benar-benar tidak tau, bahu Lini bergetar hebat, dia takut dipecat karena sudah berani membentak pemuda tampan dan kaya, siapa lagi kalau bukan Abdillah.


Kerin mengeratkan pelukannya di lengan Abdillah, dia merasa di ruangan ini sangat mencengkram, dia melihat ke arah lelaki tua yang memijit pelipisnya, lalu dia mendekat ke arah Kerin dan Abdillah.


Maafkan pegawai ku tuan Abdillah, ada apa ada datang kesini tuan?


Kami hanya ingin melihat cctv di bar ini.


Baik-baik ikuti saya.


Lalu mereka pergi ke ruangan gelap yang penuh dengan layar yang menampilkan aktivitas orang-orang di bar.


Ingin melihat cctv pada hari apa?


Bulan lalu, pria tua itu langsung mengangguk dan mengotak atik keyboard, dan muncullah Abdillah di layar itu.


Bisakah kami meminta rekaman itu?


Tentu, tunggu sebentar. Pria itu langsung mengotak atik keyboard nya, dan langsung memberi flashdisk pada Abdillah.


Terimakasih.


Sama-sama tuan Abdillah, semoga kau bisa datang kesini lagi untuk membicarakan bisnis, Abdillah dan pria tua itu tertawa, Kerin terus memandangi layar itu seperti ada yang janggal.


Ab, apa kau melihat kalau.... Ahkkk!


Kerin berteriak dan membuat kedua lelaki itu terkejut dan langsung menatap Kerin khawatir.


Ada apa?


Perut ku, akhh sakittt...


Seperti nya Kerin mengalami kontraksi, dan sepertinya dia akan melahirkan saat itu juga.


Ab... bawa aku ke rumah sakit sekarang juga, Abdillah mengangkat Kerin ala bridal style, dia berjalan sedikit cepat ke arah mobilnya, dia membuka pintu dibantu dengan manejer bar.

__ADS_1


Terimakasih.


Abdillah menduduk kan Kerin di kursi penumpang, dia memasuki mobilnya dan cepat-cepat mengemudi dan langsung menuju ke rumah sakit.


__ADS_2