Dipaksa Menikah Dengan Ustadz

Dipaksa Menikah Dengan Ustadz
Waktu berlalu


__ADS_3

Kerin mengeluh pelan, tubuhnya menggeliat diatas ranjang besar miliknya dan Abdillah. Namun, tidak sampai beberapa menit dia berusaha mengembalikan nyawanya, matanya seketika terbuka lebar, Abdillah tidak ada disampingnya. Kepalanya lantas menoleh ke arah jendela, matahari sudah bersinar terang diatas langit. Membuatnya tersadar bahwa dia bangun kesiangan dan telat menyiapkan segala hal.


Dengan tergesa ia turunkan kaki nya ke atas lantai dan bergerak cepat untuk keluar kamar, dadanya bergemuruh ketika bau gosong masuk ke indera penciuman nya.


Segala perasaan risau di hatinya seketika meluruh saat matanya menangkap tubuh tegap seorang pria yang bergerak dengan kaku di depan kompor. Kerin kembali melanjutkan langkahnya, namun kini dia berjalan dengan mengendap-endap layaknya seorang maling.


Satu... dua.... tiga... hitung Kerin dalam hati.


Cara bikin sup ayam gimana sih? Kenapa bisa sampai surut begini? tanya Abdillah, nadanya dengan sedikit kesal.


Kerin yang telah memasang wajah seperti badut dan tangan yang bersiap mengejutkan Abdillah seketika menjatuhkan rahangnya. Untuk apa dia bertingkah bodoh seperti maling jika ternyata Abdillah sudah mengetahui kedatangan nya? Dan kenapa juga pria itu tidak langsung bertanya, melainkan menunggu nya sampai di dekat pria itu.


Itu api kompornya dikecilin, kamu mau buat sup, tapi bikinnya di atas api neraka. Gimana gak habis coba airnya? ejek Kerin sambil mengecilkan api kompor. Matanya memandang sayuran yang di potong besar-besar di dalam panci.


Abdillah mundur sambil melepas celemek yang biasa di pakai istrinya, membiarkan istrinya melihat kekacauan yang ia buat. Jika bukan karena Kerin habis melahirkan dan ia ingin memberi kejutan pada istri tercintanya itu, Abdillah takkan menyentuh barang-barang di dapur.


Kerin berbalik memandang Abdillah, lagian kamu ngapain sih? Tumben banget masak-masak begini.


Abdillah mengangkat bahunya acuh, pengen aja, sahutnya cuek. Sangat berbeda dengan niat di hatinya.


Kerin menggeleng pelan, tidak habis pikir dengan pria yang di hadapannya itu, iya udah sana mandi aku mau beresin ini sambil nyiapkan sarapan.


Kamu gak ingat apa kata dokter? Jangan kecapekan. Nanti ku suruh bibi yang beresin semuanya. Ujar Abdillah sambil menghampiri Kerin, memeluk pinggang ramping istrinya dan menarik nya untuk meninggalkan dapur.


Terus kita mau ngapain? tanya Kerin.


Lanjut tidur? Atau nonton film? sahut Abdillah.


Eh, kamu gak kerja? tanya Kerin setelah sadar jika suaminya masih bersantai bahkan belum mandi disaat matahari telah bersinar terang.


Abdillah menggeleng, jadi kamu mau nonton film apa?


Aku gak mau nonton film horor, action atau apapun yang ada adegan bunuh-bunuhan nya, jawab Kerin cepat. Terserah Abdillah ingin kerja atau tidak, itu akan menjadi urusan nya sendiri.


As you wish baby, jawab Abdillah sambil mencium kening istrinya.


Kerin tersenyum puas, jika Abdillah bertingkah romantis seperti ini, ia seperti menjadi ratu, karena Abdillah akan memanjakan nya, menuruti kemauannya, walaupun tetap dalam batas wajar.


*****


Hari terus berganti hingga tak terasa Jeyop sudah besar. Meski awal lahiran Kerin merasa begitu sulit merawat bayinya, tetapi seiring berjalannya waktu ia menjalani semuanya. Jeyop yang akan menangis kehausan, lalu yang akan buang air, Kerin menjalani semuanya dengan perasaan gembira.

__ADS_1


Rasa lelah nya tergantikan ketika melihat wajah putranya saat tidur atau tertawa, semuanya terasa menguap begitu saja.


Tak jauh berbeda dengan Abdillah, selain menjadi suami siaga, Abdillah juga menjadi ayah yang siaga. Pria itu akan ikut terjaga bersama Kerin saat mata putranya masih betah terbuka, mendengar keluh kesah istrinya yang terkadang merasa lelah, dan merawat putra kecil nya saat jatuh sakit.


Hal yang paling menyenangkan adalah saat putranya memanggil Kerin dengan panggilan 'Mama' dan Abdillah 'Appa' untuk pertama kalinya. Terutama saat Jeyop mulai merangkak dan berjalan tertatih-tatih. Abdillah dan Kerin akan menunggu tak jauh dari putranya itu bersama mainan untuk merangsang jalannya.


Hal-hal kecil pertumbuhan buah hati yang rasanya ingin kembali terulang.


Kini putranya sudah berumur 3 tahun, tumbuh menjadi anak periang yang tamvan dan rupawan. Sifatnya juga sudah menuruni sang ayahnya.


.


.


Kamu bisa ambilin susu disana? Biar aku bisa cari yang lain, ucap Kerin.


Abdillah mengangguk, setelah itu berjalan berlawanan arah dengan Kerin yang mendorong troli yang berisikan kebutuhan pokok.


Sementara itu, Jeyop yang tengah berada di gendongan Abdillah memeluk leher sang ayah.


Appa, ice cream? pinta pria kecil itu serta menatap tajam mata ayahnya.


Abdillah menghela nafas pelan, kamu kan kemarin sudah makan es krim.


Abdillah menggeleng pelan, nanti Mama marah.


Appa please, seakan tahu kelemahan sang ayah. Jeyop membuat wajah memelas layaknya seorang anak yang merengek.


Setelah beberapa detik Abdillah menatap gemas wajah putranya, janji jangan kasih tau mama oke?


Jeyop mengangguk semangat, okey.


Jeyop mau ganti shampoo nggak? Kerin bertanya di depan shampoo serta sabun anak-anak yang berjejer dari berbagai merek.


Jey mau yang ada gambar Ironman nya.


Kerin menoleh ke arah Jeyop yang berseru antusias di gendongan ayahnya.


Yang ini? Kerin mengambil botol shampoo yang biasa digunakan oleh putranya.


Iya.

__ADS_1


Setelah meletakkan kemasan berwarna merah itu di troli, Kerin menoleh dengan tatapan memicing ke arah Abdillah.


Ngambil susu kok lama banget? tanya Kerin curiga.


Abdillah berdeham pelan, iya tadi muter sebentar.


Jey, kok di pipi kamu ada coklat?


Abdillah berusaha mengalihkan pandangannya saat Kerin memberikan tatapan tajam ke arahnya.


.


.


Setelah beberapa jam memutari supermarket dan membeli seluruh kebutuhan pokok yang telah habis, keluarga kecil itu memilih menghabiskan waktu mereka untuk makan siang diluar.


Sebagai orang tua, Kerin dan Abdillah tentulah sangat pemilih dalam hal makanan, mereka tak ingin putranya memakan makanan yang tak baik untuk kesehatan.


Restoran dengan tema 'Korean all you can eat', yang tengah viral akhir-akhir ini begitu ramai dengan pengunjung. Beberapa nampak tak bisa menahan rasa gemas hingga memuji secara terang-terangan saat keluarga kecil itu melintas untuk mencari meja.


Pria kecil itu sudah bisa makan sendiri, dia tampak tak sabar menerima potongan daging yang di bakar oleh Abdillah.


Pelan-pelan, sayang makannya. Masih banyak kok, ucap Kerin seketika melihat Jeyop dengan semangat memasukkan daging yang masih lumayan panas ke dalam mulutnya. Kerin khawatir lidah putranya itu akan terbakar.


Benar saja, setelah Jeyop memasukkan suapan pertama nya, putra kecil itu langsung merasakan panas yang menjalar di lidahnya.


Kamu, kalau di nasehati mama itu di dengar, paham? Abdillah menegur putranya yang tadi terlihat mengacuhkan nasihat istrinya.


Jeyop mengangguk dengan kepala menunduk. Ayahnya baik, bahkan sangat baik, tetapi Abdillah bisa menjadi sosok yang tegas jika anaknya membuat sesuatu yang tidak sesuai jalan.


Punya mulut kan? jawab yang benar. Kalau diajak bicara itu tatap lawan bicaranya.


Dengan perasaan takut Jeyop mengangkat kepalanya dan balas tatapan ayah nya yang kini terlihat menakutkan.


Iya, maaf, mama, appa, ucap Jeyop dengan nada penuh penyesalan seraya menatap Abdillah dan Kerin secara bergantian.


Kerin tersenyum, iya gak ppa. Udah dilanjut makan nya, tapi ditiup dulu yaa.


Setelah mendapat balasan dari mamanya, kini Jeyop melirik ayahnya yang tetap bungkam dan lanjut membakar daging.


Abdillah menyadari itu, Iya, jangan diulang lagi.

__ADS_1


Jeyop tersenyum seraya mengangguk lega.


__ADS_2