
Laura mendengar kabar bahwa Lachysaa sudah melahirkan,ia pun bergegas menuju rumah Lachysaa iya di kota x awalnya Kafka menolaknya tapi Laura terus memaksakannya,karena Kafka takut harus bertemu dengan Arabella.
"Lebih baik kamu pergi sendiri,disana pasti ada toko perlengkapan bayi kan, pesenin dari sana kita bayar disini" Laura memang sedang memilih baju-baju untuk bayi, menurutnya sangat lucu-lucu ia memesan banyak sekali baju dan troli bayi untuk dua bayi, tak lupa dengan box bayi juga, setelah itu dia pun membayarnya dan meminta untuk dikirimkan ke alamat Lachysaa.
Rencananya sekarang mereka sudah menuju kota x, malam harinya mereka sampai di hotel yang dekat dengan rumah Lachysaa seperti itu sih lokasinya,mereka tidak memberitahukan Gavin karena akan suprise saja.
Keesokan paginya, Laura menuju rumah Lachysaa tempat dimana Gavin dan Lachysaa berada, sesampainya disana ternyata keluarga Gavin juga ada tapi dimana Arabella,iya Arabella keluar dengan Syakila.
"Selamat ya Lachysaa,sudah jadi seorang ibu sekarang ganteng dan cantik banget baby-nya" Laura memeluk Lachysaa,karena baby-nya sedang digendong oleh mama dan mama mertuanya, sedangkan Laura bingung yang mana ibu Lachysaa dan yang mana mantan calon mertuanya dulu.
"Mbak sya siapa yang datang, lihatlah ada mobil terparkir" Arabella dengan santainya memasuki rumah, ia pun menghentikan langkahnya ketika menatap punggung seseorang dia adalah Kafka bukan.
"Kak Kafka, dia disini tapi bersama perempuan lain siapa dia" tentunya sebagai seseorang yang pernah dekat dengan Kafka pun bertanya-tanya siapa perempuan itu.
"Ara sini nak, kenapa bengong disitu" Mama Diajeng memanggilnya, Kafka pun menoleh gadis yang ia rindukan berada di depannya.
"Mama Diajeng tamu darimana, apa tamunya mama Ariane" Arabella sudah bahagia karena menurutnya kedatangan Kafka akan melamarnya ternyata ia salah.
"Darimana aja sih, kenapa gak pamit sama mama Ara" kali ini justru Arabella tidak fokus kepada ucapan mamanya,ia malah fokus dengan Kafka.
"Maaf ma, tadi Ara sama mbak sya nyari cilor ya kan mbak" benar mereka tadi asik jalan-jalan berdua hingga lupa waktu.
"Sepertinya Ara kenal dengan nak Kafka ya, daritadi menatapnya terus-menerus" Gavin tidak siap jika adiknya mengetahui kenyatannya, bagaimana jika ia nanti patah hati.
"Mama Diajeng Ara kan sama kak Kafka deket, Ara kira kak Kafka memang sengaja kesini mau bertemu Ara" Mama Ariane dan Papa Jeff bingung apakah putri bungsunya itu sedang jatuh cinta,tapi kelihatannya mereka suami istri.
"Maaf kamu menyukai orang yang salah, dia suamiku kami sudah menikah tidak baik menjalin hubungan dengan pria yang sudah beristri apalagi usiamu masih muda" dengan hati-hati Laura memberitahu Arabella, tidak tau apa yang dikatakan perempuan ini benar atau tidak,tapi kenapa rasanya sakit ketika mendengarnya lalu selama ini dia hanya pelampiasan saja.
__ADS_1
Untungnya bayi-bayi Lachysaa sedang berada di kamar jadi keributan dibawah tidak sampai terdengar, Arabella mencoba tersenyum walaupun matanya sudah berkaca-kaca, sungguh sakit kecewa dengan Kafka untuk apa dia memberikan ia harapan.
"Ara apa yang kamu lakukan menjalin hubungan dengan suami orang iya, Papa gak pernah ngajarin kamu seperti itu nak" kali ini Papa Jeff salah paham, mana mungkin Arabella mau jika Kafka sudah mempunyai istri.
"Ara mama gak bisa berkata-kata lagi, mama kecewa sama kamu, kamu itu putri mama kami jaga sekarang kamu mengecewakan kami" sudah rasanya tidak kuat untuk mendengar perkataan apapun, Lachysaa hanya bisa memeluk adik iparnya itu, walaupun ia baru saja melahirkan tapi ia tau adiknya tidak salah.
"Cukup Mama Papa mengatakan hal yang tidak-tidak kepada Arabella, justru Arabella menjalin hubungan dengan pak Kafka saat dia tidak mempunyai pasangan,dan perempuan itulah yang merebutnya " lalu Kafka juga terus terang,disitu Laura merasa malu seharusnya ia bangga tapi malah seperti ini.
"Ara nak sudah jangan menangis, ayo ke kamar saja" Mama Diajeng membawa Arabella ke kamar,di susul oleh Syakila dan Tatiana, Tatiana adalah istri dari abangnya Lachysaa.
Mereka bertiga menenangkan Arabella, bagaimana tidak gadis yang baru saja mengenal cinta sekali langsung dikhianatinya, apa sih kurangnya Gavin dan Arabella sampai-sampai di mata orang tuanya selalu salah.
"Kenapa mama selalu nyalahin aku sih, dulu bang Gavin yang selalu disalahkan kini aku,apa sih maunya mereka, apa aku nikah aja agar terbebas dari mama sama papa, tapi siapa calonnya yang mau aku ajak menikah" setelah semuanya pergi, Arabella mendownload aplikasi kencan online,dan benar saja ia match dengan pria yang di daerah ini Arabella pun berniat untuk kencan ya semoga saja cocok,ada beberapa dan untuk yang lainnya besok.
Sandy William
"Bisa kita bertemu besok nona, bagaimana kalau di cafe x atau saya jemput di lokasi nona"
"Lebih baik bertemu di cafe saja, soalnya saya dirumah kakak ipar bukan dirumah sendiri "
Sandy William
"Baiklah sampai bertemu nanti malam ya"
Arabella tidak sabar,malam harinya pun tiba Arabella berpamitan kepada Gavin, Gavin tidak curiga kepada Arabella mau kemana.
Sesampainya di Cafe, ternyata dia sudah datang terlebih dahulu,kenapa sangat tampan dan manis sekali, Arabella langsung menyapanya dan duduk di depannya, awalnya agak canggung ketika saat pertama kali bertemu.
__ADS_1
"Mbak Haviza ya, silahkan duduk mbak"
"Maaf lama ya mas"
"Tidak apa-apa,mbak mau pesan apa biar saya pesankan, silahkan mbak menunya "
"Samakan saja mas, hehehe"
Setelah berjam-jam mengobrol dan saling berkenalan Arabella merasa cocok dengan Sandy, menurutnya dia baik dan dewasa, bisa untuk dijadikan calon suaminya,tapi dia bukan asal kota x ternyata dia disini hanya kerja.
"Semoga bertemu kembali ya mbak, mau saya antar saja" Sandy menawarkan untuk mengantarkan Arabella pulang, tentunya Arabella tidak menolaknya bahkan ia senang ketika di dekat Sandy,tenang Arabella besok masih ada beberapa yang harus diajak kencan.
Sesampainya dirumah Arabella segera berpamitan, untungnya ia masuk pas sepi sebenarnya tidak enak harus begini tapi bagaimana lagi, ternyata Gavin belum tidur ia sengaja menunggu adiknya pulang.
"Bagus darimana Arabella, jam segini baru pulang" Arabella menghentikan langkahnya ketika mendengar suara Gavin, bukanya tadi sudah sepi kenapa masih ada Gavin, bagaimana ini pasti akan besar masalahnya.
"Maaf bang tadi Ara keluar sama temen,maaf Ara gak pamit, kok bang Gavin belum tidur sih" Arabella mencoba basa-basi walaupun ia tau Gavin tidak akan main-main ketika menyelidiki apapun.
"Oke kali ini kamu selamat, jangan begadang cepat tidur" Gavin memasuki kamarnya kali ini ia begadang menjaga kedua anaknya sedangkan Lachysaa tertidur pulas.
Ditengah malam ketika keduanya sedang tertidur pulas, tiba-tiba putranya menangis Gavin segera bangun dan menggendongnya, ia kemungkinan harus tapi Lachysaa masih tertidur pulas.
"Bawa kemari mas, dia haus sepertinya" Lachysaa memang harus memberikan Asi kepada keduanya, ASI-nya sangat banyak bahkan dia juga heran, bahkan sebelum melahirkan dan saat baru memasuki sembilan bulan ASI-nya sangat lancar.
Lachysaa meringis kesakitan karena merasakan nyeri saat Filio terlalu bersemangat menghisapnya, jujur saja Gavin tidak tega melihatnya tapi memang sudah seharusnya bukan.
"Sayang pelan-pelan ya,masih banyak kok lagian adik belum haus jadi ini milik filio aja kok, Daddy juga gak minta iya kan" Gavin menjadi salah tingkah ketika Lachysaa mengatakan hal itu, setelah Filio tidak menangis dan tidur lagi Gavin segera menidurkan bayinya dalam box lagi, lima menit kemudian Fiona yang bangun ia menangis, untungnya mereka belum tidur.
__ADS_1
Fiona juga kuat saat menghisap ASI-nya, bahkan lebih lama dari Filio, setelah ia rasa sudah kenyang barulah Fiona tidur lagi, kali ini Gavin dan Lachysaa berbaring kembali di ranjang.
"Nyeri ya, apa si pompa saja" Lachysaa menggelengkan kepalanya, maklum pengalaman pertama kali menjadi ibu pasti banyak yang belum ia tau.