
Keesokan paginya, Lachysaa berpamitan kepada Gavin karena sahabatnya mengajak bertemu, Lachysaa bosan ketika ditinggal oleh Gavin sendirian di apartemen, apalagi disini Lachysaa harus sendiri ya pasti bosan lah.
"Mas Gavin saya mau pergi bertemu dengan sahabat saya ya, mas kan kerja pulang sore jadi biar dirumah gak bosen aja, kebetulan Irene dan Tiara ada Jihan juga" Lachysaa memang sudah hafal daerah sini,tapi kalau sampai kesasar ya pasti sulit juga.
"Di hotel mana, biar sekalian saya antar jangan pulang sebelum saya jemput"
"Hotel Kama, iya mereka menginap disana"
Hotel Kama adalah hotel terbesar di kota ini, bahkan sudah bintang enam, siapa pemiliknya dia adalah seorang anak muda yang sukses,yaitu Gavino Andrew Jack Damarion, siapa sangka Gavino memiliki hotel, bahkan hotel yang ia bangun sudah dimana-mana ada dikota.
Gavino dan Lachysaa telah sampai di hotel, mereka bahkan disambut oleh resepsionis,betapa terkejutnya ketika melihat pemilik hotel langsung turun kemari,ada acara apa jika tidak ada yang penting.
"Selamat pagi pak Gavin, mohon maaf bapak apakah ada masalah sehingga bapak kemari langsung,pak Tio sedang ada di dapur pak" Lachysaa tentu bingung,kenapa mereka disambut layaknya tamu, sedangkan kata-kata Siska tadi membuat sepertinya Gavin bukan orang biasa.
"Tidak masalah silahkan lanjut bekerja, oh ya perkenalkan ini istri saya tolong jaga dia ya soalnya dia mau bertemu sama temannya disini, saya mau sarapan terlebih dahulu dengan istri saya" betapa bangganya Lachysaa diperkenalkan sebagai istri, dan tentunya Siska terkejut ketika mendengar bahwa Gavino telah menikah.
Yang Lachysaa tau di hotel ini makanannya enak-enak semua dan bisa request,ya walaupun ada juga yang sudah disediakan, pelayanannya juga ramah nyaman sih disini.
"Lachysaa aku rindu sama kamu" Irene memeluk Lachysaa,iya tadi Lachysaa diantar oleh Gavin menuju kamar dimana sahabatnya menginap.
"Baik saya pamit terlebih dahulu, hati-hati ya kabarin saya kalau sudah selesai acaranya" Gavin berpamitan kepada Lachysaa,tidak lupa Lachysaa mencium tangan suaminya dan dibalas kecupan manis di dahinya, apakah Gavin adalah pria yang romantis? jawabannya tidak ia tidak pernah romantis tapi setiap akan berangkat kerja hal ini tidak pernah lupa.
Setelah kepergian Gavin baru Irene mencoba menanyakan tentang suami sahabatnya itu, mengapa tampan sekali dan dingin seperti kutub utara, apakah sahabatnya betah menikah dengan dia.
"Lo masih mau bertahan sama cowok dingin dan cuek kayak suami Lo, kalau gue sih ogah tampan sih kalau cuek sama dingin ya anti, lagian Lo harusnya nikah sama cowok lain bukan sama dia Lachysaa, dia sama Arvind bagaikan langit dan bumi" Irene mencoba memprovokasi Lachysaa tentang suaminya tapi Lachysaa menikah bukan karena cinta melainkan ia ingin mempersatukan Gavin dengan keluarganya lagi.
"Gue yang ngejalanin dia gak cuek dan dingin, dia cowok yang perhatikan menurut gue, ya walaupun banyak orang yang mengira dia cuek sih" bukan bermaksud membela suaminya tapi yang ia katakan memang benar.
"Lo gak curiga suami Lo kerja apa, dilihat dari penampilannya dia bukan orang biasa menurut gue, lihat saja memakai jas dan pakaian yang rapi, suami Lo kaya sepertinya beruntung Lo mendapatkan suami kayak dia, btw Lo dikasih uang bulanan berapa" Tiara mulai kepo dengan jatah bulanan, apakah Lachysaa harus memberitahunya.
"Cukup lah buat kehidupan kami, kalau untuk uang bulanan ada deh cuma dua digit aja, belum kartu yang ia berikan " harusnya Gavin tidak perlu menafkahi Lachysaa karena dia terpaksa menikahinya tapi Gavin melaksanakan tugasnya sebagai seorang suami yang menafkahi istrinya.
"Btw Lachysaa Lo gemukan nih,sorry jangan marah tapi iya kan bener kata gue, dan setahu gue Lachysaa makannya sedikit tapi kali ini makan Lo banyak banget "Lachysaa memang sadar ia agak gemukan dan porsi makannya dua kali lipat,apa efek hamil ya ia jadi doyan makan, tapi kadang juga muntah, apa karena ia pengen aja.
"Masak sih, enggak deh biasa aja menurut gue sih, hehehe gue laper tadi belum sarapan" Lachysaa sengaja berbohong ia menyembunyikan kehamilannya hingga bukan kelima nanti.
__ADS_1
Laura menelfon Gavin, ia rindu dengan kekasihnya bagaimana bisa Gavin tidak memberikan kabar berbulan-bulan sedangkan status mereka saja masih pacaran.
"Sayang aku rindu kamu, nanti kita ketemuan ya"
"Sorry Laura saya sibuk, jangan telfon saya"
"Kamu kenapa sih berubah cuek gini sama aku, padahal kita kan pacaran"
"Bukan berubah tolong dong ngertiin saya ini lagi kerja"
Raut wajah Laura berubah menjadi cemberut, jujur saja Gavin tidak tega membuat seseorang yang ia cintai bersedih tapi ia harus perlahan menjauhi Laura.
"Maaf Laura bukan maksud aku seperti ini, nanti jika kamu tau apa alasanku berubah kamu pasti kecewa dengan keputusanku ini" Gavin berbicara dalam hati menatap telfon yang tiba-tiba dimatikan tanpa ada kata pamit oleh Laura.
Sedangkan di taman, Laura duduk sendirian melamun ia sedih memikirkan kenapa kekasihnya berubah, datanglah Kafka pria yang tidak sengaja lewat menatap gadis yang bersedih.
Kafka Roy Dewangga dia pria yang berusia 32 dan putranya Kenzo Devan Putra Dewangga yang berusia 10 tahun, Kanza Aura Salsabila Putri Dewangga berusia 6 tahun, iya Kafka adalah seorang duda dia telah berpisah dengan mantan istrinya.
"Mbak maaf apakah anda baik-baik saja" Kafka khawatir dengan Laura yang menangis sendirian,Laura pun sadar akan kedatangan ketiganya.
"Tante sebaiknya tenangkan diri Tante dulu, Papa sepertinya Tante ini ada masalah iya kan Pa" Kenzo memang bisa memahami apapun sama seperti Kanza.
"Tante ini aku punya coklat dua Tante mau, kata Mama makan coklat buat kita tidak sedih, iya kan Papa" Kanza memberikan satu coklat kepada Laura awalnya ia enggan untuk menerimanya tapi ia tega dengan gadis kecil itu.
"Terimakasih ya sayang" Laura memeluk Kanza, bagaimana tidak karena anak manis ini sudah menghiburnya.
"Tante makan dong coklatnya, mau Kanza suapin Tante" Laura menganggukkan kepalanya,Kanza pun menyuapinya coklat, sedangkan Kafka dan Kenzo hanya menatap interaksi keduanya yang seperti ibu dan anak.
"Mama kamu beruntung punya anak sebaik dan selucu kamu nak, Tante jadi pengen punya anak sendiri hehehe" Laura mencubit pipi Kanza karena gemas sekali.
"Tante belum pulang anak, jadi Tante boleh menganggap aku anak Tante boleh kan Pa" kali ini kedekatan Kanza yang akan membawa berkah untuk Kafka.
"Boleh, jangan merepotkan Tante ya, oh ya kita belum berkenalan siapa namamu nona" Kafka bertanya tentang gadis cantik ini, siapa namanya.
"Laura, iya nama saya adalah Laura" Laura mengulurkan tangannya dan Kafka bingung harus bagaimana dengan arti perkenalan mereka .
__ADS_1
"Kafka,dan ini putra saya Kenzo dan dia Kanza" sepertinya keluarga Cemara mereka, lalu dimana mama Kanza dan Kenzo.
"Nama Tante cantik seperti Tante Laura" Kenzo memuji Laura, bisa saja ini Kenzo kecil-kecil sudah jadi cowok dewasa ya.
"Tante harus pergi semoga lain kali bisa bertemu lagi, makasih sapu tangannya ya pak Kafka" Laura berpamitan tapi ada tangan kecil yang menahannya,iya dia adalah Kanza.
"Tante apa Kanza boleh bertemu dengan Tante lagi" Laura menganggukkan kepalanya, tandanya ia akan menyempatkan waktu untuk bertemu anak kecil cantik ini.
Kini Gavin sudah berada di hotel, ia akan menjemput istrinya bersamaan dengan itu Laura juga berada di lobby hotel, Gavin dan Lachysaa jalan beriringan tiba-tiba Laura berada di depan Gavin.
"Jadi ini alasan kamu gav, kamu cuek sama aku karena wanita ini, kamu tega gav, katanya kamu sayang aku tapi kenapa kamu selingkuh, aku selama ini menunggu kamu buat ngasih kabar aku, tapi nyatanya kamu asik jalan dengan dia" Laura menatap Lachysaa dengan tajam, Lachysaa bisa menebak bahwa gadis di depannya ini adalah kekasih Gavin.
"Maaf Laura kita tidak bisa melanjutkan hubungan kita, lebih baik kita putus jalani kehidupan kita masing-masing terimakasih sudah pernah ada dalam hidup saya" di depan Lachysaa Gavin rela memutuskan hubungannya dengan Laura, Laura tidak bisa menerima keputusan ini bagaimana bisa Gavin berubah secepat ini.
"Gavin aku mohon, kembalilah kepada aku tinggalkan dia Gavin, kamu hanya cinta sama aku kan" Laura menangis di hadapan Gavin bagaimana bisa hubungan yang sudah ia jalani harus kandas seperti ini.
"Kamu bisa bahagia tanpa saya, carilah laki-laki yang bisa mengerti kamu dan lebih baik dari saya tidak baik menjalin hubungan dengan pria beristri seperti saya" tidak mungkin Gavin sudah menikah, apa yang Laura dengar hanya alasan semata bukan, hanya karena Gavin ingin memutuskan hubungan ini.
Lachysaa tidak tinggal diam, ia tidak ingin kalah dan tidak ingin suaminya sampai direbut oleh perempuan lain, Lachysaa mengandeng lengan Gavin bahkan dia tidak ada niatan merebut Gavin tapi dialah kini pemenangnya.
"Maaf mbak, tapi Mas Gavin adalah suami saya, kami telah menikah tiga bulan yang lalu, jadi saya mohon pengertiannya agar tidak menganggu suami orang ya mbak, karena mbak akan sakit sendiri bukan malah menenangkan hatinya" seketika Gavin dibuat bingung harus bagaimana,kali ini yang dikatakan Lachysaa memang benar.
Gavin dan Lachysaa pergi meninggalkan Laura yang masih menatap kepergiannya, ia harus bagaimana hanya Gavin yang ia cintai mana mungkin ia akan mudah melepaskannya.
"Tidak mereka hanya sandiwara, mana mungkin Gavin sudah menikah,akulah kekasih Gavin mana mungkin perempuan itu adalah istrinya, tidak ini tidak mungkin" bukan tidak menerima takdir, tapi ia tidak sanggup ketika mengetahui semuanya, Laura berjalan dengan tatapan yang kosong hampir saja ia tertabrak mobil, untungnya pengendara mobil bisa mengerem secara mendadak.
Kafka turun dari mobil, ia terkejut ketika melihat Laura yang hampir saja tertabrak, Kafka memeluknya dan menyelamatkannya hingga mereka terjatuh, apa yang Laura pikirkan hingga membahayakan nyawanya.
"Nona sadarlah apa yang anda pikirkan, bagaimana anda bisa jadi seperti ini" Kafka sebagai seorang laki-laki juga bingung harus apa ia membawa Laura untuk masuk ke dalam mobilnya, daritadi Laura hanya melamun saja, dengan terpaksa Kafka membuka tas Laura dan mengambil dompet dengan tujuan melihat dimana alamat rumah Laura.
Kafka mengantarkan Laura sampai depan rumahnya, tapi ternyata Laura tertidur mau tidak mau ia harus menggendongnya, mama Laura terkejut ketika putrinya di gendong oleh pria lain siapa dia, Kafka menidurkan Laura di kamarnya lalu ia turun.
"Kamu siapa nak, bagaimana bisa Laura sampai ketiduran" Mama Desi bertanya, apakah ini adalah kesempatan.
"Saya teman nona Laura Tante, tadi kami habis jalan berdua, yaudah tante saya pamit" Kafka pun berpamitan untungnya tadi ia sempat menyimpan nomor handphone Laura.
__ADS_1