
Helaan napas berat terdengar berulang kali memenuhi Ruangan bernuansa putih tersebut. Sesekali jemari itu memijat pangkal hidungnya yang berdenyut nyeri.
Gagal.
Adalah kata yang terus berputar di kepalanya semenjak tadi.
"Bodoh! Bodoh!"
Tangan besarnya terus memukuli kepalanya sendiri, pun— air mata penyesalan tak henti-hentinya menetes. Seolah menambah rasa sakit yang tengah dirasakan dan membuat dadanya semakin sesak.
"Bodoh!"
Lagi.
Dia— Arga Bima Mahesta. Seorang Dokter Muda berusia dua puluh lima tahun.
Arga berulang kali merutuki kegagalan itu saat dirinya tidak bisa menyelamatkan nyawa seorang pasien kecelakaan yang tak lain adalah Tunangannya sendiri, Mia Zelima.
Operasi Mia sempat berhasil namun sayang, Mia mengalami henti jantung meski para Dokter berusaha menyelamatkan nyawanya, Arga bersama Tim Dokter lain yang ikut menangani hanya bisa pasrah atas takdir yang telah ditetapkan Tuhan untuk Mia malam ini.
Arga sudah berusaha dan nyawa Mia tetap tidak bisa tertolong lagi.
"Kenapa bukan aku aja yang mati, Mia? Kenapa?" lirihnya.
Arga menatap sendu foto Mia yang dijadikan wallpaper di ponselnya. Air mata Arga tidak berhenti menetes, menangisi kepergian gadis yang dicintai untuk selamanya.
Satu minggu sebelum kecelakaan, Arga sudah melihat bad future pada mata gadis itu.
Iya. Arga memiliki kemampuan khusus yang bisa melihat kejadian di masa depan. Entah kejadian baik atau buruk, Arga bisa melihat itu melalui mata seseorang saat menatapnya.
Ketika penglihatan Arga diperlihatkan dengan banyaknya cairan merah serta Ruangan bernuansa hitam, maka dua kombinasi itu adalah sebuah pertanda buruk, yaitu kematian.
Ceklek!
Arga masih tak bergeming. Tidak menyadari bahwa seseorang baru saja memasuki Ruangan.
"Maaf Dok, jenazah di Kamar 23 sudah siap dibawa pulang. Pihak Keluarga sudah menunggu anda."
Arga memejamkan mata sejenak. Telinganya enggan mendengar Suster menyebut Mia demikian. Yang paling sakit adalah hatinya.
"Katakan pada Dokter Richard untuk menggantikan jadwalku selama beberapa hari ke depan."
Setelah mengatakan itu, Arga beranjak dari kursi lalu bergegas menemui Keluarga Mia yang sudah menunggunya semenjak tadi.
...••••...
16.45
Pemakaman dilakukan secara tertutup. Pihak Keluarga Mia tidak melakukan penyelidikan lanjutan mengenai penyebab kecelakaan Putri mereka.
Keluarga Mia memilih fokus dalam masa berkabung.
"Arga, Mia nitipin sesuatu buat kamu. Dia udah siapin ini dari sebulan yang lalu. Diterima ya!" ucap Bu Sandra seraya memberikan kotak berwarna abu gelap itu pada Arga.
"Makasih, Tante. Maaf, gara-gara aku, Mia meninggal."
Bu Sandra menggeleng pelan. Semua ini adalah takdir yang kuasa. Kecelakaan itu musibah yang tidak bisa dihindari Mia dan Arga tidak harus menyalahkan dirinya sendiri atas kegagalannya saat tidak bisa menyelamatkan nyawa wanita itu.
"Enggak, Ga! Semua ini takdir Tuhan. Mia bakal sedih kalau lihat kamu kayak gini. Tante berharap, kamu bisa lanjutin hidup kamu dan selalu bahagia ya meski tanpa Mia."
Mata Arga berkaca-kaca mendengar kalimat terakhir Bu Sandra, "Tante, boleh Arga minta peluk?"
"Tentu, Nak. Tante udah anggep kamu seperti Anak Tante sendiri."
Arga tak kuasa menahan tangisnya. Hubungan yang terjalin antara Mia dan Arga cukup lama, tiga tahun. Banyak hal yang sudah mereka lalui.
Dan selama itu, Bu Sandra memperlakukan Arga dengan sangat baik. Arga akan merindukan kebersamaan itu suatu hari nanti.
__ADS_1
"Jangan putus silaturahmi ya, Ga. Pintu rumah Tante selalu terbuka lebar buat kamu."
Arga yang juga menganggap Bu Sandra sebagai Ibunya, mengangguk pelan dalam dekapan wanita paruh baya itu. Sekilas, mereka tampak seperti Ibu dan Anak sesungguhnya.
"Makasih Tante, buat semuanya. Aku janji bakal tetep main ke Rumah, Tante."
Pemakaman Mia telah selesai dilakukan. Semua orang sudah pulang, termasuk orangtua Mia.
Kecuali Arga.
Yang masih berjongkok sembari mengusap batu nisan bertuliskan nama Kekasihnya tersebut.
"Sayang, yang tenang ya di sana! Aku janji bakal dateng ke sini tiap hari buat doain kamu ..."
Arga mencium batu nisan itu sangat dalam. Menyalurkan semua perasaan yang dirasakannya saat ini. Tak terasa, liquid sebening kristal kembali menetes.
Dengan cepat Arga menyekanya sebab kata orang, tidak baik menangis di atas makam. Bisa memberatkan jalan seseorang itu nantinya.
"Aku pulang dulu ya, Mi. Kalau kangen, temui aku di mimpi."
Arga bergegas pulang sebab hari semakin sore. Tak lupa ia menghubungi Dokter Richard untuk memastikan jika pria itu bisa menggantikan jadwalnya sementara waktu.
"Ahk!"
Arga dikejutkan dengan suara teriakan seseorang. Suaranya terdengar tak jauh dari tempat Arga berdiri. Lantas Arga pun bergegas mencari ke arah sumber suara.
Langkahnya tergopoh ketika melihat seseorang terduduk di atas tanah sembari memegangi kaki kanannya.
"Ssh, sakit banget." keluh seseorang itu.
Arga mendekat hingga membuat seseorang itu terkejut dan berteriak cukup kencang, lagi.
"YAKK!"
"Hey, tenang! Saya bukan hantu."
Berada di Pemakaman sendirian saat hari menjelang sore bukankah itu cukup membuat bulu kuduk merinding, takut.
Dan tiba-tiba seseorang itu merasakan tepukan di bahunya dari arah belakang.
Tidak heran jika ia berteriak.
"Kakimu terluka?" tunjuk Arga, sambil berjongkok untuk memeriksa keadaan kaki si gadis.
"Hm, kayaknya terkilir, ssh."
Gadis itu meringis, menggegat bibir bawahnya saat Arga memegang kakinya yang tampak memar.
"Lukanya harus cepet diobati. Kamu bisa berdiri?"
Yang ditanya menggeleng ragu.
Dibantu Arga, gadis itu mencoba berdiri dari posisinya namun tidak bisa. Tubuhnya hampir terjatuh lagi jika lengan Arga tidak menopang pinggang ramping itu.
"Kamu bisa pegang bahu saya! Kita obati kakimu dulu. Mobil saya ada di sana."
Gadis itu cukup terkejut tapi tidak menolak ketika Arga menuntunnya menuju mobil hitam yang diparkir tidak jauh dari tempat mereka tadi.
Arga mengeluarkan kotak obat yang selalu disimpan di dalam mobilnya. Menggulung kemeja linen hitamnya sebatas siku.
Arga mulai membersihkan luka goresan bagian luar dengan lembut agar tidak infeksi. Sesekali memberikan pijatan kecil untuk melemaskan otot kaki gadis itu supaya tidak terlalu tegang.
"Nama saya Arga. Saya seorang Dokter. Siapa namamu?" tanya Akbar tanpa menatap lawan bicaranya.
Gadis itu mengangguk pelan. Ia mengerti sekarang.
"Gea Esterina. Panggil aja Gea— ahk! Pelan-pelan, Dok! Sakit!" keluh Gea dengan nada suara agak meninggi.
__ADS_1
"Oke Gea, kakimu udah selesai diobati. Jadi, di mana alamat Rumahmu? Biar sekalian saya anter."
Lagi-lagi Arga berbicara tanpa menatap Gea. Hingga mengundang kernyitan penuh tanya di kening Gea yang sedikit bingung melihat sikap Arga.
Pikir Gea, laki-laki itu bersikap tidak sopan karena tidak menatap lawan bicara saat mereka mengobrol.
"Gea?"
Gea terkesiap, menatap Arga yang langsung membuang muka ke arah lain ketika pandangan mereka beradu dalam sekon terakhir.
Arga berpura-pura mengalihkan atensi dengan menyalakan mesin mobil setelah menyimpan kembali kotak obat di tempatnya, "Di mana alamat Rumah kamu?" tanya Arga lagi disela fokusnya menyetir.
"Jalan Dandelion nomor 23. Rumah cat biru muda paling pojok."
"Oke. Pakai sabuk pengamanmu, Ge."
...••••...
Tak lama mobil mereka berhenti di depan Rumah yang dimaksud oleh Gea.
Gea mencuri pandang ke arah laki-laki dihadapannya tersebut dan baru menyadari sesuatu.
Dia orang atau bidadara? Gantengnya gak ada celah!
"Mau makan malem bareng gak, Dok?" tawar Gea tiba-tiba.
Arga melirik jam ditangannya sekilas.
"Anggep aja sebagai ucapan terimakasih karna udah nolongin aku tadi." lanjut Gea.
"Boleh. Kebetulan saya juga laper."
Gea tersenyum tipis, "Hm, kirain bakal nolak." gumamnya.
"Kamu ngomong sesuatu, Ge?"
"E-enggak. Aku juga udah laper banget, ayok, Dok! Anggep Rumah sendiri."
Selesai makan malam, Arga berpamitan dengan Gea.
Sebelum pulang ke Rumah, Arga sempat mampir ke Toko Kue langganan Mia.
Di sana, Arga membeli kue kesukaan Mia.
"Eh, Arga! Sendirian aja? Mia-nya gak diajakin sekalian nih." godanya.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Arga terdiam dan hanya melempar senyum kecil yang dipaksakan.
"Ini pesenannya. Saya udah hafal banget sama kesukaan Pacar kamu! Brownis coklat ekstra topping keju, pasti." goda Bu Maria lagi, memberikan satu box kue itu pada Arga.
"Makasih Bu Maria tapi kuenya buat saya kok."
Bu Maria belum tahu kabar kecelakaan Mia dan mengira jika Arga membelikan kue itu untuk Tunangannya seperti biasa.
Karena biasanya, Mia selalu meminta Arga mampir ke Toko Kue Bu Maria setelah pulang kerja.
Arga tidak tahu, setelah ini apakah dirinya bisa menjalani hidup tanpa kehadiran sosok Mia yang selalu mengisi hari-harinya dengan banyak canda dan tawa untuk mengusir segala kesepian yang datang menerpa.
Baginya, Mia bukan sekedar kekasih, Mia adalah definisi teman hidup Arga yang sesungguhnya. Yang bisa diajak berbagi dalam situasi apa pun. Tidakkah hidup sebatang kara sejak usia belasan cukup menyakitkan? Lantas mengapa Mia juga harus pergi meninggalkan Arga untuk selamanya dan menyisakan kenangan indah yang sulit dilupakan.
Tangis itu kembali datang. Membasahi pelupuk mata.
Arga menyandarkan kepalanya di sofa, memejamkan kedua matanya dan membiarkan tangis itu mereda sendiri, hingga Arga berharap bahwa semua yang terjadi hanya mimpi buruk yang tidak nyata.
Aku mencintaimu ...
...••••...
__ADS_1
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!