Dokter Arga

Dokter Arga
Gea


__ADS_3

Maaf kalo ada istilah kedokteran yg keliru, tolong dibenerin ya! Sya awam soal dunia medis smua informasi bersumber dari google, makasih:)


Happy reading!


...••••...


Tiga hari berlalu, Arga sudah kembali beraktifitas lagi. Ia harus ikhlas melepas kepergian Mia dan melanjutkan hidupnya.


Paling tidak, saran Dokter Richard kemarin cukup membuahkan hasil.


Arga bisa melupakan kesedihannya sejenak dengan menyibukkan diri bekerja.


"Arga!"


Arga menghentikan langkahnya lalu ke belakang dan mendapati Rosa; anak pemilik Rumah Sakit, berjalan ke arahnya sambil menenteng paper bag berukuran sedang ditangan kanannya.


"Bekal buat kamu."


Wanita itu mengulas senyum sambil memberikan bekal sarapan yang sengaja dibuat pagi-pagi sekali. Menatap Arga cukup lama, berharap Arga menerima bekal itu.


Terpaksa, Arga menerimanya sebab tidak tega jika harus menolak pemberian Rosa.


"Makasih, lain kali gak perlu repot bawain bekal buat aku, Ros."


Rosa menggeleng. Memukul pelan lengan Arga, "Gak repot, Ga. Justru aku seneng kamu nerima bekal itu. Eum, mau aku temenin makan? Di Ruangan kamu, gimana, Ga?"


Rosa semakin berani menunjukkan perasaannya dalam mendekati Arga. Kesempatan ini sudah lama ia nantikan.


Kabar kematian Mia sudah terdengar sampai ke telinga Rosa.


Meski tinggal di Kanada, Rosa tidak pernah melewatkan satu hari tanpa mencari tahu kabar tentang laki-laki yang disuka sejak mereka kuliah dulu.


Namun Arga sengaja denial dengan semua perlakuan istimewa Rosa padanya dan hanya menganggap Rosa sebatas teman baiknya saja, bahkan sebelum Arga dan Mia saling mengenal.


"Maaf. Aku udah ada janji sama Dokter Richard ..." Kebetulan sekali, orang yang dimaksud muncul. Arga memanggil pria itu dan mengisyaratkan agar menunggunya, "Sekali lagi makasih buat bekalnya, Ros."


"Tapi Ga-"


Akbar tidak mengubris ucapan Rosa lagi. Buru-buru beranjak pergi sebab tidak ingin mendengar wanita itu terus merengek padanya, minta ditemani.


"Tsk! Alesan klise."


...••••...


21.00


Setelah dirasa semua pekerjaannya sudah selesai, Arga bergegas pulang.


Shift Arga sudah berakhir sejak sore namun Arga memilih lembur dengan tujuan bisa melupakan kesedihan dan kerinduannya yang menyiksa batin.

__ADS_1


Arga rindu Mia-nya.


Butuh waktu agar luka itu bisa sembuh


Ditengah perasaan rindunya pada Mia meletup-letup, Arga dikejutkan dengan kedatangan mobil ambulance yang melintas di depannya.


"Ya Tuhan! Syukurlah anda belum pulang, Dok."


Arga tak punya waktu untuk basa-basi, "Apa yang terjadi?"


Ia pun mempercepat langkahnya menuju instalansi gawat darurat.


Sebenarnya saat malam, hanya ada dua Dokter yang ditugaskan mengisi shift malam, selebihnya mereka dibantu oleh Suster penjaga.


"Pasien mengalami keracunan. Kami belum mengetahui penyebabnya karna saat ditemukan, pasien sudah dalam kondisi tidak sadarkan diri, Dok."


Sembari menjelaskan kondisi pasien, Arga dan Suster yang diketahui bernama Fayola tersebut berjalan tergesa menuju Ruang Darurat.


Sesampainya di sana, Arga segera memeriksa kondisi pasien tersebut.


"Menurut laporan, sempat dilakukan tindakan resusitasi jantung tapi tidak ada respon dari pasien, Dok."


Arga mengangguk, "Pasang alat ventilatornya dan segera lakukan analisa darah. Kita harus tahu berapa kadar *carboxyhemoglobin dalam tubuh pasien."


"Tapi Dok ..."


Ada jeda beberapa detika. Arga yang sibuk membantu Suster lain memasang alat-alat itu, menoleh sebentar ke arah Suster Fayola, "Kenapa, Sus?"


Seketika tubuh Arga lemas. Lidahnya teras kelu untuk membalas ucapan Suster Fayola.


Matanya bergulir, memandangi wajah pucat pasien itu dengan seksama. Alis Arga mengkerut samar setelah menyadari bahwa pasien yang ia tangani adalah seseorang yang baru dikenal tempo hari.


"G-gea." lirihnya.


Iya. Pasien itu adalah Gea Esterina. Gadis yang ditolong Arga saat kakinya terkilir di Pemakaman.


Seperti dejavu.


Suara Arga tercekat ditenggorokan, sekujur tubuhnya mendadak gemetaran hingga guncangan kecil pada bahunya kembali menarik atensi Arga lagi.


"Anda baik-baik saja?" tanya Suster Fayola, khawatir melihat wajah Arga yang berubah pucat.


Bahkan lebih pucat dari pasien yang sedang mereka tangani.


"Kamu bilang dia sedang hamil?"


"Ya, Dok. Tapi maaf, kami tidak bisa menolong calon bayi pasien. Bayi itu meninggal saat pasien dalam perjalanan ke Rumah Sakit, maaf." sesal Suster Fayola sembari menundukkan wajah.


Seolah menyesali kejadian buruk yang menimpa Gea.

__ADS_1


"Dok, ini hasil COHb pasien."


Arga mengecek hasil pemeriksaan Gea, "Kadar COHb pasien sebesar sepuluh persen, itu berarti dia keracunan Karbon Monoksida ..."


Arga juga meminta hasil pemeriksaan organ lain dan menyuruh Suster untuk terus mengawasi perkembangan kondisi Gea, "Apa keluarga pasien sudah dihubungi? Saya ingin bertemu dengan mereka."


"Maaf, pasien hanya memiliki seorang Kakak laki-laki dan dia sedang dalam perjalanan menuju ke Rumah Sakit."


"Kalau begitu suruh dia langsung menemui saya sekalian bawa hasil laporan pemeriksaan Gea juga ke Ruangan saya dan Suster Fayola— tolong jaga Gea. Laporkan jika ada perkembangan apa pun tentang kondisinya." jelas Arga sebelum beranjak pergi.


Suster yang bertugas menangani Gea saling bertukar pandang, dan menuruti ucapan Arga meski dalam benak mereka muncul pertanyaan mengenai; siapa gadis ini dan apa hubungannya dengan Arga sampai Arga sekhawatir itu padanya?


...••••...


"AKU GAK MAU MAKAN! BIARIN AKU MATI AJA! APA KALIAN TULI, HAH!"


"Maaf, Nona. Anda-"


Prang!


Suara pecahan piring menggema. Arga terkejut melihat situasi di Ruangan Gea tampak sangat kacau.


Gadis itu mengamuk seperti orang kesetanan. Meneriaki Suster penjaga dan berusaha melepas paksa selang intravena yang terpasang dipunggung tangannya.


Menyadari hal itu, Arga segera mengambil tindakan untuk menyuntikkan obat penenang.


"Enggak, enggak! Aku gak mau tidur lagi! Aku gak mau— ARGA!"


Perlahan, obat bius itu mulai menunjukkan reaksinya. Tubuh Gea semakin melemah seiring kelopak matanya terpejam.


Arga meminta Suster untuk selalu mengawasi Gea. Ia berniat menghubungi Kakak Gea lagi.


Masalah ini tidak bisa dianggap remeh. Sepertinya Gea sedang menghadapi banyak masalah dan membuatnya tertekan ingin mengakhiri hidupnya.


"Terus kondisi Gea gimana, Ga? Aku gak tahu apa yang terjadi sama dia, aku ngerasa gak berguna banget sebagai Kakaknya."


Baru semalam mereka berkenalan namun keduanya tampak begitu akrab. Arga juga meminta Bintang, Kakaknya Gea, untuk tidak terlalu kaku saat berbicara dengannya.


Maka dari itu, percakapan mereka bisa sesantai itu.


"Sejauh ini Gea masih dalam proses pemulihan ..." Arga ragu untuk memberitahu satu informasi yang terlewat, melihat betapa khawatirnya Bintang pada Gea, Arga jadi kasihan, "Ada hal lain yang perlu Kakak tahu."


Dengan berat hati, Arga menunjukkan hasil pemeriksaan yang menyatakan bahwa Gea hamil dan keguguran saat berusaha mengakhiri hidupnya semalam.


"Usianya baru empat bulan. Maaf, aku gak bisa berbuat apa-apa buat nyelametin bayi Gea, Kak."


"Gea h-hamil."


...••••...

__ADS_1


-carboxyhemoglobin(n); sebuah kompleks stabil yang terdiri dari karbon monoksida dan hemoglobin


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!


__ADS_2