
Keesokannya, Arga melakukan visit rutin ke setiap Ruangan pasien. Hari ini tidak ada jadwal operasi, Arga memiliki banyak waktu luang untuk mengerjakan urusannya yang lain.
"Kenapa?"
Arga bertanya pada Suster yang bertugas menjaga Gea. Trolly berisi makanan itu masih utuh belum tersentuh sama sekali, beserta obat-obatannya.
Gadis itu mogok makan lagi. Seperti yang dilakukan kemarin.
"Nona Gea tidak mau makan. Kami sudah berusaha membujuknya tapi Nona Gea marah, Dok."
"Berikan trolly itu ke saya."
Gea tengah berbaring dengan posisi membelakangi. Entah apa yang dipikirkan gadis itu sekarang.
Punggung sempit itu terlihat begitu menyedihkan. Arga bisa merasakan beban yang tengah dihadapi oleh Gea.
Apalagi selama ini Gea tinggal sendirian dan Bintang jarang pulang menemuinya, pasti kehidupan yang dilalui Gea sangat berat. Arga menyayangkan pertemuan awalnya dengan Gea.
Seharusnya Arga menyadari kesulitan gadis itu sejak mereka bertemu tempo hari.
"Pergi! Jangan paksa aku makan lagi atau kalian bakal nyesel!" ancamnya, tanpa melihat siapa yang berdiri di belakangnya saat ini.
"Ini saya Arga, Ge. Kamu harus makan dan minum obat."
Gea akhirnya berbalik, mendudukkan diri dengan tatapan tajam.
"Dokter gak usah sok peduli! Kenapa malam itu Dokter gak biarin aku mati aja? Kenapa cuma bayi itu yang mati? Kenapa, Dok?"
Arga melihat sorot mata Gea memancarkan kesakitan yang begitu dalam.
Terkesiap dengan apa yang baru saja dilihat, Arga beranjak dari kursi tanpa membalas ucapan Gea.
Masuk ke dalam toilet yang ada di Ruangan itu.
Meninggalkan Gea yang menatapnya bingung sebab sikap Arga tampak aneh.
Dan sejak awal, laki-laki itu selalu bersikap aneh bukan?
Gea melirik tak minat trolly yang berisi makanan dan obat-obatan untuknya.
Kembali pada Arga yang kini berdiri memandangi pantulan dirinya di dalam cermin.
"Gak! Gak mungkin! Aku sama Gea baru kenal beberapa hari. Gak mungkin kita— aku tiba-tiba ada di masa depan perempuan itu? Tapi kenapa aku di sana?" gumamnya, penuh tanya.
Iya. Saat pandangan mereka bertemu, Arga mendapat gambaran masa depan Gea.
Yang lebih mengejutkan, ada sosok dirinya di sana. Arga tidak tahu kenapa begitu tapi bisa saja, di masa depan nanti, Arga berperan sebagai pelindung Gea, mungkin.
Teriakan Gea membuyarkan lamunan Arga. Ia bergegas keluar memeriksa keadaan Gea yang sudah terjatuh bersimpuh di lantai.
Gea cukup kesulitan untuk kembali berdiri. Tubuhnya masih terasa lemas.
__ADS_1
"Udah saya bilang, panggil saya kalau butuh sesuatu."
Uluran tangan Arga ditepis. Gea menolak niat baik Arga.
Well, Arga melangkah mundur. Berdiri menatap Gea yang lagi-lagi kesulitan saat berusaha ingin berdiri.
"Lepas! Aku gak butuh bantuan, Dokter." Gea kembali menepis tangan Arga yang hendak membantunya, dan Arga memahami kondisi Gea pun— tidak memaksa.
Memperhatikan Gea yang kini tampak susah payah menopang tubuhnya sendiri.
Sret!
"ARGA! Turunin aku, hey!"
"Diem, Ge."
Arga yang kehabisan kesabaran, terpaksa menggendong Gea dan meletakkan tubuh wanita itu di brankarnya lagi.
Tidak mengetahui jika diam-diam, seseorang tengah memperhatikan interaksi mereka melalui cctv yang sudah terpasang pagi tadi.
Brak!
Gebrakan di meja menandakan jika hatinya dilanda perasaan cemburu. Satu orang sudah berhasil tersingkir selamanya kini datang orang baru yang mencoba menjadi penghalang rencananya untuk mendapatkan Arga.
Dia— Rosalinda Estemat.
"Papa lihat sendiri? Pokoknya aku gak mau tahu! Cepet urus cewek itu, Pah! Aku pingin dia dipindahin ke Rumah Sakit lain."
"Jangan sembarangan ngomong! Kamu udah mengenal Arga dengan baik. Sebagai Dokter, Arga udah bersikap sewajarnya. Memperlakukan pasien dengan sangat baik."
Pak Baskara menghela napas, berusaha menenangkan amarah Rosa yang meledak-ledak. Sejak kecil terbiasa dimanja, membuat Rosa tumbuh menjadi gadis yang tidak sabaran jika keinginannya tidak cepat dituruti.
Bukan hanya sekali, Rosa menceritakan kekesalannya pada sang Ayah. Dulu saat mendiang Mia masih hidup, Rosa tidak berhenti mencurahkan kecemburuannya terhadap Mia.
Hingga Pak Baskara terpaksa meminta Rosa melanjutkan pendidikan S2-nya di Kanada.
Beruntungnya saat itu, Rosa mau menurut tanpa curiga.
"Papa gak bisa tiba-tiba pindahin pasien gitu aja. Harus ada penyebab darurat supaya surat rujukan itu bisa dibuat."
"Buat aja seolah-olah fasilitas Rumah Sakit ini gak memadai."
"Rosa! Jangan gila kamu! Bisa rusak reputasi Rumah Sakit ini."
Pak Baskara harus mencari cara lain agar Rosa tidak bertindak gegabah. Mengingat sifat keras kepala Anaknya, Pak Baskara khawatir Rosa akan bertindak nekat di belakangnya.
"Papa minta kamu sabar. Papa janji bakal bantuin kamu dapetin Arga asal kamu gak berbuat macem-macem."
"Hm, aku pegang janji Papa."
Rosa menurunkan sedikit egonya yang menggebu-gebu. Yang tadi hanya gertakan semata supaya Ayahnya bertindak cepat untuk memisahkan Arga dengan perempuan tidak jelas itu.
__ADS_1
...••••...
Pada akhirnya, Gea mau makan tapi bukan makanan dari Rumah Sakit.
Karena masakan Rumah Sakit menurutnya tidak enak dan hambar.
"Bakso lava. Iya! Aku mau itu."
"Gak. Saya gak ijinin kamu makan sesuatu yang gak sehat."
Ceklek!
Bintang datang membawa banyak makanan dan minuman. Setelah kemarin Bintang dan Arga berdiskusi lagi, Bintang sedikit melunak.
Memahami kondisi psikis Gea yang tidak baik-baik saja dan berusaha menahan diri tidak membahas masa kehamilan Gea.
"Kakak beliin makanan buat kalian."
"Makasih." ujar Gea dengan nada ketus.
Melalui gestur mata, Arga mengisyaratkan agar Bintang tidak terpancing dengan emosi Gea yang sedang labil.
Disela waktu Gea makan, Bintang mencoba membicarakan saran Arga kemarin.
"Oh ya Ge ... Lusa kamu udah boleh pulang tapi sebelum itu-"
"Biar aku aja yang ngomong, Kak." sela Arga.
Bintang mengangguk. Membiarkan Arga melanjutkan ucapannya yang terjeda.
"Sebelum pulang, kamu harus menemui Psikiater dulu. Saya udah atur jadwal konsul kamu dengan Dokter Elena. Kebetulan dia temen saya dan masih di Rumah Sakit yang sama."
"Gak!"
Arga dan Bintang saling tatap. Kening keduanya mengkerut, "Gak? Maksudnya ... Kamu nolak ke Psikiater, gitu?" sela Bintang.
Mulai kesal dengan sifat keras kepala Gea.
"Kalian pikir aku gila, hah? Aku gak mau ke Psikiater!"
"Gak semua yang dateng ke Psikiater itu gila. Saya cuma ingin kamu lebih terbuka. Kamu bisa konsultasikan masalah kamu ke Dokter Elena supaya dia bisa bantu ngasih solusinya."
Prang!
Gea marah.
Membanting makanan itu di atas nakas dekat brankar, "Kamu udah terlalu jauh ikut campur urusan hidupku, Ga!" Mata Gea bergulir, menatap Bintang dengan tatapan sama, "Kakaknya juga! Gak perlu sok perhatian! Kalau aku gak hampir mati kemarin, mana mungkin Kakak pulang dan nemuin aku!" sindir Gea.
Mulai bangkit dari brankar tanpa kesulitan sebab selang intravena ditangannya sudah dicabut atas permintaannya kemarin.
Gea tidak mau mendatangi Psikiater karena Gea menganggap dirinya baik-baik saja. Justru mereka semua yang sudah gila.
__ADS_1
...••••...
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!