Dokter Arga

Dokter Arga
AB(-)


__ADS_3

Sejak insiden itu, Bintang benar-benar menunjukkan perubahan sikapnya. Lebih protektif dan cerewet.


Selalu melarang Gea melakukan ini dan itu. Yang paling menyebalkan, setiap hari Bintang menjemput Gea tepat waktu di Kampusnya hingga Gea tidak memiliki kesempatan untuk pergi keluar tanpa izin dari sang Kakak.


Sudah dibilang, demi Gea, semua akan dilakukan Bintang sebagai bentuk rasa bersalahnya pada Gea.


Brak!


"Ya ampun, Ge! Pelan-pelan! Pintu mobil Kakak bisa rusak engselnya kalau kamu sebar-bar itu."


Gea mendengus sebal.


Emosinya meluap setelah kejadian beberapa menit yang lalu saat dirinya keluar dari toilet.


Penasaran.


Bintang menoleh ke arah Gea yang tampak begitu muram.


"Ada yang gangguin kamu di Kampus?"


Gea menggeleng. Tak ingin memperpanjang masalah. Bintang bisa murka jika tahu hal yang sebenarnya terjadi padanya.


Mengingat setiap kali Bintang bertanya soal Ayah dari bayi itu— Gea selalu mengalihkan pembicaraan mereka ke topik lain.


"Jawab jujur! Kalau iya, Kakak bakal puter balik lagi dan-"


"Enggak ada! Aku laper, mau cepet-cepet pulang!"


"Mau drive thru aja gak?"


Gea mengangguk singkat.


Sudah cukup kejadian buruk malam itu menimpa dirinya. Gea tidak ingin hal itu terulang lagi.


Jika boleh memilih, Gea tidak akan datang ke tempat sialan itu dan berakhir memendam trauma seperti sekarang.


"Semalaman berapa, Ge?"


Gea berusaha mengabaikan seseorang itu.


Tapi tangan nakalnya begitu aktif menyentuh dagu dan pipi Gea.


"Gak usah pegang-pegang, anjg!"


"Yaudah! Jawab aja! Semalam berapa?"


Gea menarik napas dalam, "Semalem ya dua puluh empat jam! Lo bodoh gak bisa ngitung?"


Seseorang itu terkekeh, mendorong kasar tubuh Gea sampai membentur tembok.


"Lo tahu bukan itu maksud gue." bisiknya seduktif.


"Gue gak pernah jual diri ke siapa pun termasuk ke lo, Jean! Jangan ganggu gue lagi, minggir!"


"Munafik! Ka-"


Plak!


"Eh, sorry! Tangan gue kepleset! Tapi kalau lo pingin lihat tangan gue kepleset buat kedua kalinya— gue bisa lakuin lebih parah dari ini." desis Gea, dengan air mata yang tertahan.


Napasnya terlihat memburu namun Gea berusaha menetralkannya agar tidak mengundang banyak pertanyaan dari sang Kakak nantinya.


...••••...


Sesampainya di Rumah, Gea segera memasuki Kamar. Bintang sudah pergi karena harus kembali ke Kantor.

__ADS_1


Gea berusaha mencari keberadaan obat itu.


Napas Gea memburu seiring keringat sebesar biji jagung membasahi pelipis.


Gea pandai membohongi semua orang, termasuk Bintang.


Tubuhnya mulai gemetaran kala tangannya berusaha memasukkan beberapa butir obat ke dalam mulut.


Gila!


Gea sudah tidak peduli akan resiko yang akan dihadapi suatu hari nanti.


"J-jean sialan!" makinya.


Perlahan, tubuh Gea merosot. Terduduk di lantai dengan posisi kepalanya berada diantara lutut.


Perlahan, kondisi Gea mulai tenang. Obat yang diberikan oleh Dokter Elena— psikiater yang direkomendasikan Arga, cukup membantu Gea menenangkan diri.


Sudah dua bulan ini, Gea rutin mengkonsumsi obat penenang itu, berharap rasa cemas dan ketakutannya akan menghilang.


Namun satu hal yang luput dari pengawasan dan itu akan berakibat fatal jika terlambat diketahui.


...••••...


"Dok, pendarahan pasien tidak bisa berhenti. Saya sudah membersihkan lukanya dan menekan luka itu agar darah pasien tidak terus-menerus keluar tapi tidak bisa."


Arga segera menggantikan Suster yang menangani pasien kecelakaan motor tersebut.


Kondisi pasien itu mendapatkan luka di kepala dan lututnya.


"Tolong kapas dan alkoholnya, Sus."


Arga berusaha menghentikan pendarahan namun tetap saja, darah pada luka itu terus keluar.


"Apa kamu punya hemofilia— Karez?" Arga mengeja nama si pasien setelah Suster menunjukkan lembaran kertas berisi data pasien tersebut.


"Maaf, maksud saya ... Semacam pendarahan yang sulit dihentikan jika kamu terluka."


Karez mengangguk, "Iya, turunan dari Mama saya ..." Karez memperhatikan luka sobek yang menganga dibagian lutut. Bibirnya meringis ngilu, "Apa itu udah selesai dijahit?"


Karez menunjuk lukanya yang masih mengeluarkan darah. Dokter dan Suster sedang berusaha menghentikan pendarahan pada lukanya. Berulang kali mereka menyeka luka itu dengan kapas.


Kepala Karez terasa sangat pusing. Karez berusaha terjaga supaya dirinya tidak perlu menginap di Rumah Sakit.


"Maaf, Dok. Stok golongan darah AB- baru saja kosong. Dua jam yang lalu Dokter Richard menggunakannya untuk pasien penderita Kanker Hati."


"Hubungi PMI dan semua Rumah Sakit yang ada. Kita harus segera mendapatkannya. Pasien sudah banyak kehilangan darah Sus ..." Arga beralih memandang Karez yang tampak pucat, "Karez, kamu masi bisa dengar saya?"


Karez mengangguk lemah.


Kepalanya benar-benar pusing.


"Bisa minta nomor Keluarga yang bisa dihubungi? Atau beri saya nomor orang tua kamu."


"Mereka gak ada di sini."


"Wali kamu yang lain juga tidak apa-apa."


Karez menggeleng lemah. Sakit di kepalanya semakin menjadi-jadi.


Karez merupakan anak kedua. Kakak dan kedua Orang tua Karez tidak di sini. Mereka tinggal di luar negeri.


Di tengah kepanikan itu, Arga justru mendapat gambaran tentang laki-laki ini.


"T-tidak mungkin." lirihnya.

__ADS_1


Arga berusaha menjaga konsentrasi. Ia keluar dari Ruangan sebentar lalu menghubungi seseorang yang seingatnya memiliki golongan darah yang sama dengan Karez.


"Hm, apa?"


"Saya butuh bantuan kamu. Bisa temui saya di Rumah Sakit sekarang?"


"Kamu gak punya jam, huh? Ini udah malem. Jangan gila kamu, Ga!"


Arga merutuki dirinya karena tidak sempat melihat jam terlebih dulu.


Pukul 22.50


Tidak heran jika seseorang di seberang sana menolak permintaannya barusan.


"Maaf tapi ini darurat. Satu-satunya harapan saya cuma kamu, saya mohon."


"Siapa yang telpon?"


Ada suara laki-laki di seberang sana yang menyahut. Arga mengenali suara itu.


"Berikan ponsel itu ke Kak Bintang! Bentar aja, Ge."


Iya. Arga menghubungi Gea karena hanya wanita itu yang memiliki golongan darah AB-.


"Kantor asuransi! Maaf! Bapak salah sambung."


Pip!


Panggilan ditutup sepihak oleh Gea.


Dalam hati, Arga mengumpati sikap Gea yang tidak sopan mematikan telepon begitu saja sebelum pembicaraan mereka selesai.


Dan apa-apaan katanya tadi? Kantor asuransi? Yang benar saja!


Arga bingung, harus menghubungi siapa lagi dalam situasi darurat seperti ini. Ia sudah mengirim pesan di Grup Chat jika ada pasien yang membutuhkan golongan darah AB- secepatnya.


Dan mereka juga sedang berusaha untuk mencarikan pendonor yang cocok.


Satu-satunya yang paling cepat adalah meminta bantuan Gea tapi Arga juga tidak mungkin meninggalkan Karez di UGD bersama Suster.


Di tengah kepanikan itu, ponsel Arga bergetar. Satu pesan muncul di layar ponselnya.


Lima belas menit lagi kita sampai di Rumah Sakit.


Seulas senyum tersungging. Perasaan lega itu membuat Arga sedikit lebih tenang dan mengucapkan syukur atas pertolongan Tuhan untuk Karez.


...••••...


Selesai menangani Karez, Arga bergegas menemui si pedonor.


"Ga, kayaknya Gea perlu di rawat dulu semalem. Habis donor, muka Gea pucet banget soalnya." ujar Bintang, sesaat setelah keluar dari Ruangan Gea dan tidak sengaja bertemu Arga di luar.


"Hm, kalau gitu serahin semuanya ke aku. Biar aku yang urus Gea malem ini. Kak Bintang bisa pulang sekarang."


"Thanks, Ga! Kamu memang bisa aku andelin tapi bener gak apa-apa aku titipin Gea ke kamu?"


Arga tersenyum kecil, "Aman! Kebetulan hari ini aku shift malem, Kak."


Bintang merasa lega mendengar penuturan Arga. Ada rasa nyaman ketika Bintang menyerahkan tanggung jawab untuk menjaga Gea pada laki-laki itu.


Sejujurnya Bintang tidak menyesal karena tadi memaksa Gea untuk mendonorkan darah ketika ia membaca pesan yang dikirim Arga di Grup Chat.


Hanya saja setelah mendonorkan darah, kondisi Gea tampak tidak baik-baik saja. Gea mengeluh pusing dan lemas.


Bintang khawatir jika ini ada hubungannya dengan sakit Gea yang kemarin. Oleh karena itu, Bintang memutuskan untuk membiarkan Gea di rawat dulu sampai kondisinya membaik.

__ADS_1


...••••...


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!


__ADS_2