Dokter Arga

Dokter Arga
Penyesalan


__ADS_3

Keesokan paginya, Gea terbangun dengan kondisi selang intravena yang menancap dipunggung tangannya.


Gea mengernyitkan dahi saat kepalanya terasa berdenyut, pusing.


Namun tidak sepusing tadi malam.


Lebih mengejutkan lagi, saat Gea mengedarkan mata, pemandangan pertama yang dilihat adalah sosok laki-laki yang tertidur di samping brankarnya.


Wajahnya tampak damai meski posisi tidurnya sangat tidak nyaman. Terlihat dari kaki panjang laki-laki itu yang ditekuk dengan kedua tangan bersedekap di dada.


"Arga ..." panggilnya dengan lembut.


Panggilan kedua dan ketiga, Arga tak kunjung bangun. Gea yang sudah menahan haus semenjak tadi, berusaha mengambil sendiri gelas di atas nakas.


Entah mengapa, tubuhnya terasa lemas tapi Gea berusaha bangkit dan menggapai gelas tersebut.


Prang!


Gea dan Arga sama-sama terkejut saat gelas itu terjatuh hingga pecahannya berserakan di lantai.


"Ya Tuhan! Kamu gak apa-apa, Ge? Kamu butuh apa? Biar saya ambilin."


"Aku haus, Ga."


Arga mengerti pun langsung keluar dari Ruangan dan meminta Suster sekalian membawakan satu trolly makanan untuk sarapan Gea.


"Harusnya kamu bangunin saya tadi. Sini! Saya periksa dulu."


Gea diam dan membiarkan Arga memeriksa kondisinya.


Sial! Kenapa rasanya aneh gini?


Arga memandang wajah Gea yang terpejam. Baru menyadari jika Gea secantik ini.


Tidak!


Gea bukan hanya cantik, tapi juga manis dengan kulit tan-nya yang terlihat begitu terawat dengan baik. Terlebih lesung pipi samar yang dimiliki wanita itu, menambah kesan yang menarik dimatanya.


Tiba-tiba Arga tersentak kaget saat Gea membuka matanya lagi.


Pandangan mereka bertemu, cukup lama sampai Arga menjadi pihak pertama yang memutuskan kontak mata itu.


"Tekanan darah kamu menurun. Apa kamu merasa mual akhir-akhir ini?"


Gea mengangguk.


Mual yang dimaksud bukan gejala kehamilan tapi asam lambung Gea yang kambuh.


"Gimana konsultasi kamu sama Dokter Elena? Apa ada perkembangan?" Arga mengubah topik pembicaraan.


Sejujurnya, sudah dua minggu ini, Gea tidak datang untuk pertemuan ketiganya dengan Dokter Elena.


Padahal dua bulan pertama, Gea selalu rutin untuk berkonsultasi.


"Ge?"


"Kar— ekhem! Pasien semalem, gimana kondisinya, Ga? Apa dia udah mati?" Gea sengaja mengubah topik pembicaraan dengan cepat.


Ah, soal Karez!


Arga sampai melupakan laki-laki itu dan tentang penglihatannya semalam.


"Kalian pacaran?"


"Atau kamu punya hubungan khusus sama dia? Eum, fwb-an, misalnya?" lanjut Arga, berpura-pura menebak.


Arga langsung pada inti pembahasan hingga membuat Gea terkejut dalam diam.


Arga hanya ingin melihat reaksi Gea saat mendengar ia yang seolah mengetahui sesuatu yang terjadi antara dirinya dan Karez.


"Kamu Dokter bukan Dosen Sastra, Ga! Jangan suka ngarang cerita sembarangan!" desis Gea.


"Haha! Kalau gitu, kamu mau gak melengkapi karangan saya?" goda Arga, berusaha mencairkan percakapan yang ada.


Namun tanggapan Gea justru sebaliknya.


"Haha, lucu, Ga?" Gea balik tertawa mengejek Arga. Percakapan ini tidak nyaman untuk dilanjutkan lagi, "Aku gak kenal sama Karez dan berhenti tanya sesuatu yang gak jelas!"

__ADS_1


"Kamu yakin? Bukannya Karez itu Ayah dari bayi kamu?"


Skakmat!


Mulut Gea hampir menganga jika saja pintu Ruangan itu tidak terbuka.


Sembari menunggu Suster yang mengantar sarapan Gea pergi— sejak tadi, Arga sengaja mengaktifkan aplikasi rekam suara di ponselnya sebagai bukti.


Itu akan berguna nantinya.


"Mending kamu pergi deh, Ga! Aku mau sarapan dulu. Sebentar lagi Kak Bintang dateng buat jemput aku." ucapnya santai, berusaha mengalihkan pembicaraan mereka tadi.


"Saya gak akan pergi sebelum dapet jawaban dari kamu."


"Kamu budek, Ga? Aku bilang, aku gak kenal si Karez, Karez itu!"


Arga tertawa pelan hingga matanya membentuk bulan sabit, "Gak kenal tapi nyumpahin Karez mati, aneh ya kamu!"


Hening.


Gea tampaknya sedang berpikir keras. Arga bisa melihat itu pada sorot mata Gea.


Selama Arga menatap mata lawan bicara secara intens maka Arga tidak akan kesulitan untuk membaca apa yang sedang dipikirkan Gea, catat.


"Udahlah, Ge! Dari pada sibuk mikirin buat nyela saya ... Jujur aja! Karez 'kan yang udah ngehamilin kamu?"


Mendengar itu, seketika membuat Gea tersedak, "Uhuk, uhuk! Brengsek!" umpatnya.


Arga ikut panik dan langsung menyodorkan segelas air minum untuk Gea.


"Maafin saya. Kamu gak apa-apa?"


Gea menatap tajam ke arah Arga.


"Keluar, Ga! Aku muak denger kalimat itu dari mulut kamu!" Gea menepis kasar tangan Arga yang berada di bahunya.


Bersamaan itu, Bintang datang.


Keduanya tidak saling berbicara lagi. Arga memutuskan pergi ke Ruangannya.


Mungkin saat ini bukan waktu yang tepat bagi Arga untuk membicarakan masalah Gea dan Karez.


...••••...


Lima bulan berlalu dengan cepat.


Sejak saat itu, Arga sudah tidak mendengar kabar tentang Gea lagi.


Wanita itu menjadi sulit dihubungi.


Dokter Elena juga memberitahu Arga bahwa Gea sudah tidak datang berkunjung untuk berkonsultasi dengannya lagi. Terhitung sejak malam Gea mendonorkan darahnya untuk Karez.


Semua terasa semakin rumit ketika nomor Bintang juga tidak aktif. Sepertinya mereka sengaja menghindari Arga— lebih tepatnya, pasti semua ini atas permintaan Gea.


"Kenapa aku jadi khawatir sama Gea? Ya Tuhan! Perasaan apa ini."


Arga ingin berkunjung ke Apartemen Gea, namun ia tidak cukup berani melakukan itu. Terlebih, keduanya memang tidak memiliki hubungan apa-apa.


Ceklek!


Arga melihat Suster Fayola panik saat memasuki Ruangannya.


"Maaf, Dok! Pasien yang ada di Kamar 04 kondisinya kembali kritis."


Arga bergegas menuju Ruangan pasien yang dimaksud.


"Siapkan alat defibrillator. Kita harus menstabilkan detak jantungnya lagi."


"Baik, Dok."


Arga berusaha memacu detak jantung pasien tersebut.


"Naikkan lagi defibrillator, Sus."


Satu kali ...


Dua kali ...

__ADS_1


Hingga ketiga kalinya— suara mesin EKG itu terdengar. Arga menarik napas panjang. Tidak akan menyerah sebelum grafik di monitor kembali menunjukkan aktifitasnya lagi.


"Dokter Arga, grafiknya semakin menurun." Suster Fayola mengingatkan.


Gak, jangan pergi! Ya Tuhan, tolong bantu aku! batin Arga.


Lagi.


Arga memeriksa mata pasien itu dan ia tahu— jika ia telah gagal menyelamatkan nyawa pasien tersebut.


"Dokter Arga!" pekik kedua Suster itu bersamaan.


Suster Fayola dan satu pasien lain memegangi Arga yang terlihat lemas.


Arga benci pada dirinya sendiri.


Jika kebanyakan Dokter di luar sana bisa tegar dan kuat ketika menghadapi pasien yang sedang kritis— Arga justru bersikap sebaliknya.


Semua itu karena kemampuan yang ia miliki.


"Kita tidak bisa menyelamatkan dia ..."


Kedua Suster turut berduka dan merasakan kesedihan itu.


"Catat tanggal kematiannya. Siapkan ambulance untuk mengantar mendiang dan jangan lupa, hubungi keluarganya juga."


"Baik, Dok."


Arga memperhatikan wajah pasien itu sekali lagi.


Selalu saja seperti ini.


Kematian adalah takdir Tuhan yang pasti terjadi pada setiap makhluk yang bernyawa namun tidak bisa dipungkiri jika Arga selalu merasa dirinya gagal ketika ada nyawa seseorang yang tidak ia selamatkan.


Ya Tuhan, kalau boleh aku berharap ... Aku mau kemampuan ini hilang selamanya dan hidup menjadi manusia biasa jauh lebih baik dari pada aku harus melihat kejadian menyedihkan di masa depan seseorang tapi terkadang, aku sendiri gak bisa mencegah hal buruk itu terjadi pada seseorang itu.


...••••...


Rumput hijau yang dibiarkan tumbuh di atas tanah serta pepohonan kecil yang sengaja ditanam pada sekitaran tempat itu, membuat hawa sejuknya menyeruak, terasa begitu teduh.


Lega.


Sebab dalam pikirannya, mereka yang telah meninggal bisa beristirahat dengan tenang karena makam mereka dirawat dengan baik oleh si penjaga makam.


"Mah, Pah ... Hari ini Gea dateng lagi tapi sendirian."


Gea— menatap sendu pada dua gundukan tanah; makam Ayah dan Ibunya.


"Kak Bintang lagi sibuk cari uang yang banyak buat kuliah aku." Gea terkekeh pelan, namun kesedihan dimatanya tak bisa ditutupi.


Gea merindukan kedua Orang tuanya, sangat.


"Maaf! Gea gak bisa pertahanin calon cucu kalian .."


"G-gea, hks! Udah b-bunuh bayi itu. Selama ini, Gea udah bohong. Gea gak pernah baik-baik aja sejak empat bulan Gea menyimpan kehamilan itu, hks."


Air mata yang berusaha ditahan, kini tak bisa dibendung lagi. Gea menangis di depan makam Orang tuanya.


Iya. Selama kehamilannya dulu— Gea tidak pernah menceritakan hal itu pada siapa pun, termasuk pada Bintang.


Gea takut menghadapi kemarahan Kakaknya.


Di Kampus, Gea dikenal sebagai Mahasiswi yang tidak banyak bergaul.


Cenderung tertutup dan tidak suka menjadi pusat perhatian teman-temannya, bahkan saat Karez mengajaknya berkenalan, Gea menolak.


Selalu menghindari Karez sebab gosip yang beredar mengatakan jika Karez merupakan seorang playboy dan suka tidur dengan banyak wanita yang berbeda.


Gea benci dengan laki-laki tak bermoral seperti itu.


Sialnya lagi, saat kejadian itu, Gea dalam kondisi tidak sadar. Ada seseorang yang sengaja mencampur minumannya dengan obat tidur.


Dan Karez berhasil mengambil video ketika keduanya sedang melakukan itu. Menjadikannya sebagai senjata untuk mengancam Gea agar mau menuruti semua permintaan gilanya.


Gea tidak punya pilihan lagi selain membiarkan Karez menjadikan dirinya sebagai ****.


Hingga pada akhirnya Gea diketahui hamil namun Karez yang brengsek tidak mau bertanggung jawab atas semua perbuatan yang sudah dilakukan pada Gea.

__ADS_1


...••••...


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!


__ADS_2