Dokter Arga

Dokter Arga
Aneh


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Gea terus memikirkan ucapan Arga tadi. Ia tidak menyadari jika mobil sudah berhenti di Lobby sebuah gedung bertingkat.


"Mau ngomong apa?"


Arga terdiam, memikirkan kalimat yang akan disampaikan pada Gea.


Di jaman modern seperti sekarang, pasti tidak akan ada orang yang mempercayai hal di luar nalar, terutama tentang kemampuan unik yang dimiliki oleh Arga.


Gea berdecak kesal saat Arga tak kunjung berbicara.


"Ga-"


"Sebenernya saya gak yakin kamu bakal percaya ini atau enggak tapi— saya punya kemampuan istimewa yang gak dimiliki orang lain."


Alis Gea menukik, "Kemampuan apa? Sembuhin orang, gitu? 'Kan itu emang profesi kamu sebagai Dokter."


"Bukan. Saya bisa melihat masa depan sebelum itu terjadi ..."


Mata mereka bertemu. Arga kembali mendapat gambaran yang sama jika ia ada di masa depan wanita itu.


"Saya melihat diri saya sendiri ada di masa depan kamu." lanjut Arga.


Gea mengulas senyum tipis.


"Oh, sama dong! Aku juga ngelihat Kak Bintang dan semua orang di masa depan aku. Kita semua ada di masa depan yang sama dan bla bla bla." ejek Gea, seraya beranjak dari kursi, "Gak nyangka ya Ga, orang sepinter kamu bisa mikir kayak gini, haha, aneh!"


Sepertinya Gea tidak mempercayai ucapan Arga. Arga pun tidak berusaha menahan Gea yang sudah ditunggu oleh Bintang di sana.


"Satu lagi-"


Tanpa menoleh ke belakang, Gea kembali berucap dengan suara yang terdengar sedikit bergetar seraya mengepalkan kedua tangannya dimasing-masing sisi, "Di dunia ini, gak ada satu pun manusia yang bisa tahu masa depan seseorang itu seperti apa, Ga! Kalau pun ada dan orang pilihan itu adalah aku maka kejadian kemarin gak bakal pernah terjadi dalam hidupku! Aku juga gak akan jadi pembunuh darah dagingku sendiri, Arga!"


Bahkan Gea juga tidak sadar saat Bintang sudah berjalan keluar sembari menarik kopernya.


"Mikirin apa sih, Ge?"


Gea mengerjapkan mata cepat. Keningnya mengkerut samar memperhatikan sekitar, "Udah nyampe?"


"Dari tadi. Sepuluh menit yang lalu. Mikirin siapa, Ge? Ngelamun terus kamu."


"Lebay! Baru juga sepuluh menit." Gea mendengus kesal karena Bintang selalu menggodanya.


Bintang terkekeh gemas melihat tingkah sang Adik.


Sebenarnya Bintang tahu penyebab perubahan sikap Gea yang mendadak diam


Mereka memasuki sebuah unit Apartemen bergaya minimalis modern. Gea terlihat menganggukkan kepala, suka.


"Di sini ada tiga Kamar. Terserah kamu pilih Kamar utama atau dua Kamar lain."


Bintang merenggangkan ototnya sejenak guna menghilangkan rasa lelah disekujur tubuhnya.


Bibirnya mengulas senyum meski rasa lelah itu tampak jelas di wajahnya.


Untuk membeli Apartemen ini, Bintang harus menggunakan sebagian uang tabungannya.


Tidak masalah.


Berapa pun uang yang dikeluarkan, asal itu untuk Adiknya, Bintang tidak keberatan.


Drtt!


Drtt!

__ADS_1


Ponsel Bintang bergetar, panggilan dari Kantor.


"Hm, ada apa? Harus banget sekarang?"


Bintang melirik Gea yang ikut bergabung duduk di sebelahnya. Tampaknya Gea sudah berkeliling melihat isi Apartemen ini.


"Bisa nanti aja gak? Soalnya aku-"


Gea menggeleng.


Mengisyaratkan Bintang untuk pergi menyelesaikan urusannya.


"Oke! Aku otw sekarang."


Pip!


"Kamu yakin gak apa-apa ditinggal sendiri? Kakak gak yakin bisa pulang cepet." ujar Bintang setelah membaca pesan yang dikirim oleh grup Kantornya.


Gea mengubah posisi, menyandarkan kepalanya di sofa. Matanya terpejam, merasakan nyeri di dada yang terasa begitu mengganggu semenjak perjalanan pulang tadi.


"Kakak bisa pergi. Aku udah terbiasa sendiri kok."


"Jangan ngomong gitu terus, Ge."


Bintang memperhatikan wajah Adiknya yang masih tampak pucat, "Kamu baik-baik aja 'kan, Ge?" Tak dipungkiri, Bintang begitu mengkhawatirkan kondisi Gea, takut sesuatu yang buruk menimpa satu-satunya Keluarga yang ia miliki.


Gea pandai menyembunyikan rasa sakitnya. Bintang tidak ingin kecolongan lagi. Ia sudah berjanji akan berubah.


Lebih memperhatikan Gea dan meluangkan banyak waktu mengajak Gea quality time, tidak peduli jika Gea menganggapnya berlebihan.


Anggap saja sebagai penebus kesalahan Bintang pada Gea dan bayinya yang meninggal.


"Ck! Gak usah lebay! Aku udah terbiasa sendiri, jadi pergi aja kalau Kakak mau pergi." ucap Gea, masih berusaha menahan kernyitan di kening.


Bintang memandang Gea cukup lama hingga Gea merasa risih, "Apa?"


"Kakak udah pesenin kamu makanan. Sebentar lagi pasti dateng ..."


Bintang bersiap-siap pergi, "Jangan lupa minum obat dan istirahat. Baju-baju kamu biar Kakak beresin, nanti. Setiap akhir pekan ada yang dateng buat bersih-bersih Apartemen ini, jadi kamu gak perlu beresin apa pun. Kakak gak mau kamu kecapekan."


Napas Gea terhela.


"Kenapa?" tanya Bintang.


"Aneh gak sih tiba-tiba Kakak bisa berubah kayak gini? Biasanya Kakak cuman transferin uang bulanan tanpa nanyain kabar aku. Ngebiarin aku tinggal di Rumah Papa dan Mama sendiri. Rasanya— aneh aja!"


Bintang tidak menjawab. Tangannya menarik tubuh Gea untuk dipeluk.


"Maaf," gumamnya, penuh penyesalan.


"Hm, semua udah terjadi. Nyesel pun gak akan merubah keadaan."


Diam-diam, keduanya meneteskan air mata. Dengan cepat Gea mengusapnya karena tidak ingin terlihat lemah di depan Bintang.


Aku cuma takut kehangatan ini gak bakal bertahan lama, Kak, batin Gea.


Sembari mengeratkan pelukannya pada tubuh sang Kakak.


...••••...


15.45


Arga baru saja menyelesaikan semua pekerjaannya.

__ADS_1


Besok akhir pekan.


Arga sengaja mengambil libur di hari Sabtu sebab pada hari itu, tepat satu bulan yang lalu— Mia meninggal.


Arg ingin memperingati hari kematian Mia dan mengunjungi Bu Sandra, Ibunya Mia.


"Hai Mi ..."


"Maaf ya, aku baru bisa dateng ke sini."


Arga meletakkan buket bunga mawar kesukaan Mia, "Kamu tahu? Beberapa waktu yang lalu, aku ketemu sama pasien yang hampir meninggal karna bunuh diri."


Entah mengapa, Arga seperti harus menceritakan tentang Gea pada Mia, meski ia tahu, Mia tidak ada di hadapannya, tapi ia yakin, Mia bisa mendengar semua ucapannya di atas sana.


"Namanya Gea! Dia keras kepala dan galak banget kalau ngomong tapi itu cuma kamuflase buat nutupin luka dan kesepian yang dia rasain. Dibalik itu ... Gea sebenernya orang yang baik."


Arga mengusap batu nisan Mia, matanya berkaca-kaca. Arga begitu merindukan gadisnya.


Merindukan setiap perhatian Mia dan segala perlakuan lembut yang ditunjukkan wanita itu padanya.


"Terus Mi, pas aku bilang, aku bisa lihat masa depan, Gea gak percaya. Malah ngatain aku aneh, padahal kan— aku memang punya kemampuan itu dan kamu juga tahu soal itu."


Arga berhenti berbicara ketika ponsel di saku celananya berdering dan nama kontak Bintang tertera di layarnya.


"Halo Ga! Boleh aku minta tolong kamu gak? Ini darurat banget soalnya."


Setelah panggilan ditutup, Arga pun berpamitan pada Mia dan membenarkan letak bunga mawar yang disandarkan pada batu nisan tersebut.


"Aku harus pergi, Mi. Besok aku janji bakal dateng lagi. Ich liebe dich Mia."


...••••...


Gea menatap datar pada seseorang yang berdiri di depan pintu Apartemennya.


"Kita udah gak ada urusan lagi, mending kamu pulang aja, Ga."


Gea hendak menutup pintu tapi ditahan oleh Arga, "Kakakmu yang minta saya buat temenin kamu sampai dia pulang."


Ya Tuhan!


Cobaan apa lagi ini?


Bukankah Gea sudah mengatakan jika dirinya terbiasa sendiri dan tidak butuh ditemani?


Bintang sengaja tidak memberitahu Gea, siapa orang yang dimaksud akan menemaninya di Apartemen sampai urusan pekerjaan Bintang selesai.


Jika Gea tahu orang itu adalah Arga, maka Gea sudah pasti akan menolak.


"Di sini dingin ya, Ge? Kamu ngerasa gak sih?"


Arga berpura-pura mengusap kedua lengannya. Gea hanya merespon dengan mata berotasi, "Masuk! Tapi maaf aja, gak ada makanan di sini. Aku sama Kak Bintang belum belanja stok bulanan." ketusnya.


Mendengar itu, Arga tersenyum kecil.


"Air putih udah cukup kok. Biar tenggorokan saya gak seret-seret banget."


Entah itu sebuah sindiran atau ejekan, yang jelas Gea malas berdebat lagi dengan Arga.


Ia memilih berjalan ke Dapur untuk mengambilkan minuman dan beberapa camilan yang ada di kulkas.


Gea tidak berbohong, jika di Apartemen baru Kakaknya tidak ada bahan makanan yang bisa dimasak, karena Bintang memang belum belanja bulanan untuk stok di kulkas.


...••••...

__ADS_1


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!


__ADS_2