Dokter Arga

Dokter Arga
Patah Tulang


__ADS_3

Kedua mata Bintang berkaca-kaca membaca kata positif yang ada di kertas itu. Tak menyangka jika pergaulan sang Adik akan sebebas ini.


Terjemurus pada dosa besar yang tidak hanya satu, melainkan dua dosa besar yang ditanggung oleh Gea.


Berzina dan membunuh bayinya sendiri.


"Tenangin diri Kakak. Tolong jangan bahas soal ini dulu sampai kondisi Gea bener-bener pulih."


Bintang tak menyahut. Terdiam cukup lama sampai mata mereka bertemu.


Beri aku penglihatan tentang pria ini, batin Arga.


Arga mencoba melihat masa depan Bintang melalui kontak mata mereka.


Altar, darah dan sebuah pernikahan yang diwarnai dengan jerit tangis.


Arga melihat Bintang berjalan bersama seorang wanita, wajahnya tidak jelas sebab Arga hanya diperlihatkan dari samping tapi yang membuat Arga terkejut saat tiba-tiba wanita itu terjatuh dan bersimbah darah dengan lubang yang menembus dada sebelah kiri.


"Kamu kenapa, Ga?"


Arga sedang memusatkan pikirannya tapi sentuhan tangan Bintang di lengannya membuat konsentrasi laki-laki itu buyar seketika.


Apa calon istri Kak Bintang mati tertembak?


"Ga?"


"Mm, gak apa-apa. Aku cuma agak ngantuk karna semalem gak tidur jagain Gea."


Arga tidak sepenuhnya berbohong. Tubuhnya memang lelah dan butuh istirahat. Arga menolak tawaran para Suster untuk bergantian menjaga Gea tapi ia tolak.


Bingung.


Arga hanya menganggap bahwa Tuhan telah memberinya kesempatan kedua melalui Gea.


Jika dulu Arga gagal menyelamatkan nyawa mendiang Mia, untuk kali ini, Arga berusaha keras menyelamatkan Gea meski pada akhirnya, bayi Gea tidak selamat.


"Aku minta maaf udah repotin kamu. Lakuin apa pun yang terbaik buat Gea, berapa pun biayanya, aku gak peduli asal kondisi Gea bisa pulih kayak dulu." mohon Bintang.


"Ini udah jadi tugasku. Kak Bintang gak perlu khawatir. Gea hanya butuh pemulihan beberapa hari ke depan supaya kondisinya bisa kembali pulih."


Baru semalam keduanya berkenalan tapi Arga dan Bintang terlihat begitu akrab. Tidak ada rasa canggung sebab Arga yang meminta Bintang agar tidak terlalu kaku saat mengobrol.


Arga juga menceritakan awal perkenalannya dengan Gea dan Bintang bersyukur Gea bisa mengenal Dokter sebaik Arga.


Yang peduli dengan gadis itu dan menjaganya semalam suntuk.


"Sebenernya ada yang-"


Ceklek!


Keduanya menoleh bersamaan ke arah pintu. Mendapati Rosa berdiri diambang pintu dengan raut wajah menyebalkan, dimata Arga.

__ADS_1


"Kamu gak tahu apa itu permisi sebelum masuk ke Ruangan orang lain?" tegur Arga, nadanya terdengar ketus.


Bukannya langsung meminta maaf karena bersikap tidak sopan, Rosa justru melenggang masuk sebelum Arga sempat mencegahnya.


"Bukannya hari ini kamu libur ya? Apa perlu aku ngomong sama Papa buat atur ulang jadwal kamu, Ga?" ucap Rosa seenak jidatnya.


Ternyata ekspektasi Bintang pada Arga terlalu tinggi. Tadinya Bintang ingin membahas topic lain yang lebih privasi dan saat melihat eksistensi wanita berambut blonde di hadapannya sekarang, Bintang jadi ragu dan mengurungkan niatnya tersebut.


"Mending kamu keluar dulu. Aku masih ada konsul sama keluarga pasien, Rosa." jelas Arga, merasa tidak enak dengan Bintang.


"Gak usah, Ga. Ini udah selesai kok. Silahkan lanjutin urusan kalian, aku mau jenguk Gea dulu."


Arga yakin Bintang merasa tidak nyaman setelah ada Rosa di sini.


"Hubungi aku kalau ada apa-apa."


Setelah kepergian Bintang, Rosa mendudukkan diri di sofa panjang. Meminta Arga duduk di sana juga tapi Arga menolak. Ia lebih tertarik membaca tumpukan berkas pasien ketimbang menanggapi wanita itu.


"Sini, Ga. Aku mau ngomong sesuatu."


"Ngomong aja. Aku belum tuli." sinis Arga, dengan mata yang masih fokus pada lembaran kertas di tangannya.


Mendapat reaksi begitu, Rosa mulai beranjak dan memberikan sebuah undangan.


Iya, tujuan Rosa datang ke Ruangan Arga untuk memberikan undangan makan malam.


"Tenang aja, acaranya formal. Papa juga ngundang beberapa staff dan Dokter lain di Rumah Sakit ini ..." Rosa mengulas senyum penuh arti. Bertekad akan mendapatkan Arga apa pun caranya, "Jangan lupa dateng ya, Ga!"


"Hm, kamu bisa pergi sekarang. Aku sibuk."


"Take your time, Ga! Sampai ketemu nanti malem."


Arga hanya melirik sekilas kemudian mendecih pelan, "Dasar wanita gila!


Awalnya hubungan mereka baik-baik saja. Arga merespon Rosa layaknya seorang teman.


Tapi setelah kematian Mia, sikap Rosa perlahan mulai berubah. Lebih agresif dan bertingkah seenaknya tanpa melihat situasi,


Sebab hal itu memang sudah lama dinantikan oleh Rosa hanya saja dulu ia terhalang dengan kehadiran Mia diantara mereka.


...••••...


"Siapa Ayahnya?"


Bintang mengabaikan peringatan Arga dan nekat membahas masalah bayi Gea yang telah keguguran akibat insiden semalam.


"Jawab Kakak, Ge! Siapa Ayah dari bayi itu?" bentak Bintang.


Gea tidak berani bertatap muka dengan Kakaknya.


Malu dan takut— sebab rencananya untuk mengakhiri hidup telah gagal. Gea berharap dirinya mati semalam, bukan terbangun dengan kondisi selang intravena dan ventilator terpasang di tubuhnya.

__ADS_1


"Jangan bikin Kakak marah-"


"Aku gak pingin bahas soal apa pun sama Kakak. Mending Kakak keluar! Aku mau sendiri."


Bintang berusaha mencari sisa kesabaran yang dipunya untuk tidak meluapkan seluruh emosi yang berada diubun-ubun.


Mempertimbangkan kondisi Gea yang tampak pucat dan lemah— Bintang tidak tega jika harus memarahi Adiknya.


"Suka atau enggak, setelah ini kamu harus tinggal sama Kakak. Kakak juga bakal anter-jemput kamu ke Kampus tiap hari dan ..."


Bintang sengaja menjeda ucapannya, berusaha menarik atensi Gea yang sedang memunggunginya, "Kakak akan cari bajingan itu sampai ketemu! Dia harus tanggung jawab atas semua perbuatannya!"


Gea mendengar suara langkah kaki berjalan menjauh, diiringi bantingan pintu.


Bintang sudah pergi.


Yang tersisa hanya suara isak tangis Gea yang terdengar begitu menyayat hati. Sejujurnya Gea merasa bersalah pada Kakaknya. Maka dari itu, Gea enggan membicarakan masalah yang tengah dipendam selama satu bulan ini.


Kejadian yang menimpa Gea adalah sebuah kecelakaan. Gea dijebak dan tidak tahu harus berbuat apa.


Satu-satunya opsi terakhir yang ia pikirkan semalam adalah mati.


...••••...


Arga menyesal karena memutuskan pulang melewati jalan ini.


Suasana macet menambah rasa lelahnya. Belum lagi undangan makan malam Ayah Rosa yang hanya tinggal tiga jam lagi, membuat kepalanya berdenyut pening karena kurang tidur.


Arga bisa saja tidak datang ke sana tapi undangan itu diberikan langsung padanya dari pemilik Rumah Sakit.


Bisa-bisa, Pak Baskara tersinggung karena merasa undangannya diabaikan begitu saja.


Arga menyipitkan mata saat melihat kecelakaan di depan sana. Jiwa Dokternya keluar ketika melihat pengendara itu terjatuh dari motornya.


"Jangan diangkat! Biarkan dulu di situ!" teriak Arga sambil berlari melarang orang-orang itu untuk mengangkat tubuh si korban.


"Buta mata lo? Kita mau bawa dia ke tepi tapi justru lo larang-larang kita buat angkat dia. Gak jelas banget!"


Arga tidak menggubris ocehan pria berjaket hitam itu. Fokusnya hanya memeriksa keadaan pasien.


Ya Tuhan! Dia mengalami patah tulang, batin Arga.


"Saya Dokter! Tindakan kalian yang seperti ini malah membuat cideranya semakin parah ..." Arga menyuruh seseorang menghubungi ambulance, "Lengan kirinya patah!" pungkas Arga, sebab dari penglihatan itu, korban mengalami patah tulang akibat membentur aspal ketika terjatuh.


"Sok tahu! Dokter gadungan lo! Cuma modal lihatin doang udah diagnosa orang patah tulang, aneh!"


Arga berusaha sabar mendengar ucapan pria itu. Pikirnya, Arga tidak mungkin memberitahu mereka jika dirinya memiliki kemampuan khusus yang bisa melihat masa depan.


Orang-orang tidak akan percaya dengan hal semacam ini.


"Terserah! Lebih baik tunggu petugas medis datang. Saya gak izinin kalian buat pindahin dia apa pun alasannya." final Arga.

__ADS_1


...••••...


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!


__ADS_2