Dokter Arga

Dokter Arga
Cemburu(?)


__ADS_3

Gosip kedekatan antara Arga dan Gea menyebar dengan cepat ke seluruh Rumah Sakit.


Entah siapa orang yang menyebarkan berita itu.


Mereka penasaran dengan sosok Gea Esterina— pasien yang dikabarkan masuk Rumah Sakit karena percobaan mengakhiri hidupnya sendiri hingga menarik atensi Arga yang dikenal sulit didekati oleh banyak wanita meskipun dulu, status Arga sudah bertunangan, tapi selama janur kuning belum melengkung maka para wanita yang tertarik akan paras tampan Arga, tidak mempedulikan hal tersebut.


Kecuali Rosa.


Bersikap manipulatif. Di depan mendukung tapi di belakang— Rosa diam-diam mendoakan hubungan Arga dan Mia putus kala itu.


"Sepertinya Dokter Arga dan Gea udah saling kenal. Buktinya pas malem kejadian, Dokter Arga bela-belain jagain cewek itu semaleman."


"Beruntung banget dia bisa dapet perhatian Dokter Arga."


"Mia udah meninggal, eh ada aja saingan baru buat caper ke Dokter Arga."


"Ekhem!"


Seseorang berdehem, menginterupsi gerombolan Suster yang tengah asyik mengobrol di lorong koridor.


"Jadi ini kerjaan kalian? Makan gaji buta di jam kerja, iya?"


Semenjak Rosa diangkat menjadi wakil Pimpinan Rumah Sakit, suasana berubah drastis.


Tidak seperti Ayahnya, Rosa suka sekali berkeliling pada jam kerja. Memperhatikan kinerja staff Rumah Sakit dan tidak segan memberikan SP3 pada mereka tanpa basa-basi.


"M-maaf, Bu. Kami permisi dulu."


Rosa mendelik tajam.


Tadinya ia ingin menemui Arga di Ruangannya namun percakapan para Suster barusan membuatnya kesal.


"Gak bisa dibiarin! Aku harus mendesak Papa buat cepet-cepet keluarin cewek itu dari sini."


...••••...


Gea bersiap-siap pulang. Ia sedang duduk di tepi ranjang dan menunggu Bintang menyelesaikan urusan administrasinya.


Ceklek!


Pintu Ruangan terbuka, Gea mengira Kakaknya sudah kembali namun ternyata yang masuk bukanlah Bintang.


Melainkan Arga.


"Ngapain Dokter ke sini lagi? Perasaan pasien di Rumah Sakit ini bukan cuma aku doang loh."


Benar.


Untuk apa Arga repot-repot visit ke Ruangan Gea, padahal sudah jelas ada Suster yang mengurus semua keperluan wanita itu.


Semalam pun Arga juga sudah memeriksa kondisi Gea yang hasilnya Gea baik-baik saja.


Tidak ada keluhan sesak napas atau gejala lain akibat keracunan kemarin tapi ada sesuatu yang ingin dibicarakan Arga sebelum Gea pulang.


"Kalau mau modus, maaf! Aku gak ada waktu."


Gea menurunkan kakinya hendak berjalan keluar menyusul Bintang sebab ia enggan berduaan dengan Arga di Ruangan ini.


"Saya cuma pingin mastiin aja, ternyata kamu memang udah sembuh."

__ADS_1


"Hm, makasih! Lain kali aku bakal nyari cara biar mati gak nyusahin orang lain lagi."


"Dasar orang gak tahu terimakasih." sahut seseorang dari luar.


Itu Rosa.


Berdiri di ambang pintu sambil melipat kedua tangannya di dada. Rencananya untuk mengusir Gea tidak jadi ketika melihat Gea sudah siap pergi.


Bagus deh! Aku gak perlu ngasih surat pernyataan keluar ke dia, batin Rosa.


Melihat kehadiran Rosa, seketika Arga pun menarik lengan Rosa keluar.


Gea yang tidak tahu hubungan mereka, tampaknya tidak ingin ambil pusing.


"Udah punya pacar masih aja kegatelan deketin cewek lain." cibirnya, sembari menatap kesal ke arah pintu.


Tempat dimana Arga menarik lengan Rosa begitu posesif dalam penglihatannya.


Gea akui jika dirinya sempat terpesona saat pertama kali bertemu dengan Arga.


Bukan karena parasnya, melainkan cara Arga saat memperlakukan dirinya atau— Arga memang bersikap lembut dan perhatian pada semua orang.


Ralat.


Pada setiap wanita yang terluka dengan caranya ketika mengobati pasien tersebut.


Masih membekas dalam ingatan, ketika Arga meminta Gea duduk di jok mobil sementara Arga berjongkok di hadapan Gea untuk mengobati kaki wanita itu.


Dan yang paling baru, selama Gea dirawat, Arga tidak pernah sekali pun melewatkan waktunya untuk memeriksa kondisi Gea.


Menugaskan Suster Fayola untuk menjaganya saat Arga ada urusan mendadak.


"Lama banget sih, Kak! Aku capek! Kangen Rumah." rengeknya.


"Maaf, tadi Kakak sekalian nebus obat kamu ..."


Bintang merangkul pundak Gea dan menuntunnya untuk berjalan bersama, "Setelah ini Kakak mohon sama kamu, jangan lakuin hal bodoh lagi kayak kemarin, gak boleh, dosa! Di dunia ini cuma kamu satu-satunya Keluarga yang Kakak punya, Ge. Kalau ada masalah atau ada yang gangguin kamu, bilang ke Kakak. Jangan dipendam sendiri."


"Iya, iya! Geli banget tiba-tiba Kakak sok perhatian kayak gini."


Mendengar protes itu, Bintang mencubit gemas hidung Adiknya, "Kebiasaan! Kalau dinasehatin orang tua itu dengerin bukannya ngomel-ngomel."


"Apaan sih! Kak Bintang itu Kakak aku, bukan mendiang Papa dan Mama ya!" sahut Gea, mengusap hidungnya yang dicubit agak kencang oleh Bintang.


Jika dilihat, hubungan Kakak dan Adik itu tampak akur. Bintang juga merasa bersalah atas insiden yang menimpa Gea tempo hari dan berjanji mulai sekarang akan menjaga Gea dari siapa saja yang berniat jahat pada Gea.


Untuk sejenak, mereka melupakan masalah kemarin. Bintang benar-benar mengikuti nasehat Arga agar tidak terlalu memaksa Gea untuk menceritakan masalahnya.


"Kayaknya kamu salah minum obat deh, Ge." goda Bintang.


Yang langsung membuat Gea mengerutkan kening, "Salah gimana? Aku minumnya bener kok. Malah Arga-"


Ucapan Gea menggantung saat melihat Arga berdiri di depan pintu.


"Eum, Kakak keluar dulu ambil mobil di Parkiran. Ntar kamu tunggu di Lobby ya, Ge ..." Bintang paham situasi. Tersenyum penuh arti ke arah Arga, "Temenin bunny-ku turun ke bawah, Ga."


"Iya, Kak. Duluan aja gak apa-apa."


Gea yang tak suka dengan ide mereka pun menyuarakan protes.

__ADS_1


"Bareng aja sih, Kak! Ribet banget pakai nunggu-nunggu segala."


"Gak bisa, Sayang. Parkir mobilnya lumayan jauh, mending kamu sama Arga tunggu di depan Lobby."


"Tapi-"


Bintang mengusap pucuk kepala Gea sebentar. Memberi kode pada Arga untuk menahan Gea supaya tidak mengikutinya.


"Gak usah pegang-pegang juga kali!" desis Gea ketika melihat tangan Arga menggenggam jemarinya.


"M-maaf. Ayo saya anterin ke bawah."


Gea mengabaikan laki-laki itu dan berjalan cepat menuju lift. Berharap Arga tidak mengikutinya meski Bintang sudah menitipkan Gea pada Arga.


"Jangan ikutin aku, bisa gak?"


"Kamu kenapa, Ge? Maksud saya ... Kenapa tiba-tiba ketus sama saya?" tanya Arga, berusaha menatap sepasang mata itu, untuk membaca pikiran Gea.


Ting!


Tiba-tiba lift berhenti dan reflek, Gea memeluk Arga karena rasa takut itu datang.


"Monitor! Tolong perbaiki lift lantai empat! Kami terjebak di sini."


Setelah menekan tombol emergency, perlahan Gea bisa menghela napas lega.


Mata mereka bertemu. Arga berhasil mengunci pergerakan Gea melalui sepasang obsidiannya yang teduh dan menenangkan.


Dia— cemburu.


Sadar jika posisi mereka ambigu, Gea buru-buru melepaskan diri dari dekapan Arga yang terasa nyaman.


"Cih! Pencuri kesempatan dalam kesempitan. Dasar buaya!"


"Kita berdua sama-sama refleknya, Ge. Gak usah berlebihan."


"Ya tapi bisa 'kan dilepas lagi pas kagetku udah hilang? Bukan malah pelukannya dieratin gitu! Kayak orang amnesia, gak inget status sendiri!" sindir Gea.


Ting!


Pintu lift kembali terbuka.


Lagi-lagi Gea berjalan mendahului Arga. Mengabaikan tatapan staff Rumah Sakit yang kebetulan berpas-pasan dengan mereka saat hendak masuk ke lift.


Mereka berbisik kecil dan menunjuk Gea yang berjalan diikuti oleh Arga di belakangnya.


Gea yang terlanjur tidak mood, balas mendelik tajam hingga mereka membubarkan diri.


"Ge, tunggu sebentar! Ada yang mau saya omongin sama kamu."


Arga menahan tangan wanita itu, "Lepasin, Ga! Kamu ini suka banget ya pegang-pegang cewek sembarangan."


"Kamu salah paham! Ayo ikut saya sebentar ke Taman samping."


Mereka hanya tidak menyadari, sepasang mata lain menatap mereka dengan tatapan penuh kebencian.


"Brengsek!"


...•••• ...

__ADS_1


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!


__ADS_2