
Gea merasa jantungnya berdebar.
Ini aneh dan tidak wajar.
Apa Gea kena serangan jantung? Tapi tidak ada riwayat penyakit jantung turunan di keluarganya lalu debaran apa ini?
Mata Gea terus memperhatikan pergerakan laki-laki yang berdiri gagah di balik counter dapur, sementara Gea duduk di depan televisi.
Tidak ada sekat yang membatasi pandangan. Hingga Gea bisa leluasa mencuri pandang ke arah Arga yang tampak tenang memasak sesuatu untuk makan malam nanti.
Gea bilang ingin makan gurami bakar madu.
"Saya tahu, saya ganteng tapi bisa minta tolong bantu angkat ini dan tata di meja?"
Gea yang kedapatan memperhatikan Arga diam-diam, dibuat salah tingkah mendengar ucapan pria itu.
Arga terkekeh melihat sikap Gea yang begitu menggemaskan.
Semenjak tadi Ruangan itu hening hingga Gea merasa bosan sebab Arga tidak mengizinkan dirinya ikut membantu di Dapur, kecuali yang barusan tadi.
"Makan malam udah siap. Tenang aja, Ge! Masakan saya gak kalah sama Restauran bintang lima kok."
Arga bersiap-siap pulang. Tugasnya sudah selesai. Tadi niatnya cuman mampir tapi setelah melihat kekacauan yang dilakukan Gea sampai membuat tangannya terluka, Arga berubah pikiran.
Takut hal lebih buruk terjadi pada Gea, mengingat Bintang sedang berada di luar kota lagi selama satu minggu ke depan.
"K-kamu mau k-kemana, Ga?"
Dalam hati, Gea merutuki suaranya yang terdengar gugup seperti seekor tikus yang terjepit.
Bisa-bisanya ia gugup dan salah tingkah hanya karena bertatap muka dengan Arga.
"Pulang. Tugas saya udah selesai."
"Gak mau makan malem dulu, Ga?" Mata Gea bergulir ke arah meja yang dipenuhi dengan makanan sesuai permintaannya tadi, "Jangan baper! Aku cuma nawarin kalau gak ma-"
"Iya, saya mau."
Gengsi banget tinggal bilang minta ditemenin makan malem, batin Arga.
Mereka menikmati hidangan tanpa ada yang bersuara. Hanya dentingan sendok dan garpu mengisi kekosongan diantara keduanya.
Selesai makan malam, Arga kembali menunjukkan perhatiannya pada Gea dan membuat Gea tersentuh.
"Kamu beresin meja aja, biar saya yang cuci piring."
Belum sempat Gea protes, Arga sudah mengangkat piring kotor itu lalu meletakkannya di westafel.
"Gak usah, Ga! Kamu udah-"
"Saya cuman ngelakuin tugas saya sebagai Dokter."
Alis Gea menukik ke depan, bingung, "Gak ada hubungannya sama cuci piring, aneh kamu!"
"Jelas ada. Itu!"
Arga menunjuk tangan Gea yang terbalut perban, "Kalau perbannya basah, saya juga yang repot ganti dengan yang baru sementara saya gak bawa cadangan perban lagi."
Masuk akal tapi tetap saja— sikap tak biasa Arga memunculkan banyak pertanyaan dibenak Gea.
__ADS_1
Sebenernya tujuan Arga dateng ke sini apa? Jangan bilang kalau dia— tsk! Aneh banget nih cowok! batin Gea.
Lima belas menit kemudian, Arga kembali menghampiri Gea yang tengah menonton televisi sambil memakan snack dan soda di pangkuannya.
"Udah?" tanya Gea sambil menoleh ke arah Arga yang bersiap-siap pulang.
Ada perasaan tidak rela ketika Arga hanya merespon dengan anggukan kepala.
Wajah cantik itu berubah muram.
Arga tersenyum dalam hati. Ia tahu jika Gea ingin dirinya tinggal sedikit lebih lama, tapi tertutup gengsi.
"Yaudah. Hati-hati di jalan. Lain kali aku traktir minum kopi kalau ketemu lagi."
Sebelah alis Arga naik, menggoda Gea sepertinya menyenangkan, "Ini masih belum terlalu malam— di sekitar Apartemen kamu ada Cafe yang baru buka. Kayaknya kita bisa ke situ, gimana?" Arga berpura-pura melirik jam di tangannya.
Benar.
Jam masih menunjukkan pukul delapan kurang.
"Padahal tadinya aku cuma iseng ngomong gitu."
Arga tidak pernah tertawa lepas, selain dengan Mia, namun malam ini Gea membuatnya memperlihatkan sisi lain dari seorang Arga Mahesta yang begitu hangat dan santai.
"Ganti baju sana! Saya tunggu di depan ya, Ge."
Gea belum menyetujui ajakannya, Arga dengan kepercayaan dirinya yang tinggi sudah berjalan lebih dulu menuju pintu.
...••••...
"Sejak kapan kemampuan itu ada?"
"Dari usia sebelas tapi itu gak menjamin saya bisa mencegah sesuatu yang buruk akan terjadi."
"Ya seperti takdir, misalnya! Itu udah kehendak Tuhan. Saya gak bisa mencegahnya." lanjut Arga.
Gea mengangguk paham dan tidak bertanya lebih jauh karena ini masih diantara percaya atau tidak akan kemampuan diluar nalar yang dimiliki oleh Arga.
Bahkan saat disinggung mengenai hubungannya dengan Karez— Gea tidak menyangkal lagi.
Menceritakan semuanya pada Arga sebab selama ini, Gea merasa sangat terbebani dengan hal itu.
Gea tidak banyak menuntut apa-apa pada Karez. Toh bayi yang dikandung juga sudah meninggal.
Meski mereka kuliah di Kampus yang sama, Gea sudah jarang bertemu dengan Karez sejak malam itu.
"Jangan beritahu Kak Bintang soal ini."
"Hm, kamu bisa percaya sama saya."
Gea menatap Arga cukup lama sampai Arga menyadari itu dan keduanya jadi salah tingkah.
"Ekhem! Kayaknya aku harus pulang. I-ini udah malem." cicit Gea.
Berharap Arga tidak mendengar debaran aneh yang kembali muncul saat pandangan mereka bertemu.
Gea hanya tidak tahu jika hal yang sama tengah dirasakan oleh Arga.
Keduanya masih denial akan perasaan cinta yang mulai tumbuh seiring kedekatan mereka sebagai pasien dan dokter.
__ADS_1
"Ga!"
"Ge!"
Mereka menoleh saat tidak sengaja berbicara diwaktu bersamaan.
Arga berdehem, menetralkan detak jantungnya yang tidak wajar setiap kali Gea mengulas senyum padanya.
"Kamu dulu aja, Ga."
Arga menggeleng.
"Ladies first!" ucapnya seraya fokus menyetir.
"Makasih dan maaf kalau selama ini aku ngehindarin kamu. Itu semua karna aku gak pingin ngerusak hubungan kamu sama cewek itu."
Sudah Arga duga.
Pasti Gea salah paham dengan Rosa.
Padahal Arga sudah menjelaskan, dirinya dan Rosa hanya teman.
"Rosa anak pemilik Rumah Sakit tempat saya bekerja ..." Arga menghentikan mobilnya sejenak, beralih menatap Gea dengan tatapan penuh arti, "Saya gak tahu kenapa saya harus bilang ini sama kamu, tapi— ada perasaan aneh yang muncul sejak malam dimana kamu hampir meninggal karna keracunan dan saya rasa, saya udah jatuh cinta sama kamu Gea ..."
Deg!
Jantung Gea berdetak lebih cepat. Mendadak perutnya terasa mulas ketika Arga menatapnya penuh arti.
Cinta.
Gea melihat itu dengan jelas pada sepasang mata bulan sabit Arga yang begitu tulus, tanpa ada kepalsuan.
"Ada sesuatu yang mendorong diri saya buat selalu pingin melindungi kamu dari hal buruk yang sedang dan akan terjadi. Sepertinya; Tuhan memberi saya kesempatan kedua melalui kamu, Ge." lanjutnya.
Gea masih memberi Arga kesempatan untuk mengutarakan perasaannya yang dipendam selama mereka berjauhan.
"Saya gak bakal maksa kamu buat nerima saya, tapi seenggaknya, sekarang saya merasa lega udah bilang ini ke kamu."
"Apa ini ada hubungannya sama penglihatan kamu?" tanya Gea.
"Hm, iya. Yang saya lihat, saya ada di masa depan kamu."
Sayangnya, mobil mereka sudah sampai di depan Lobby Apartemen. Setelah sama-sama terdiam cukup lama, Gea memutuskan keluar dan tidak lupa mengucapkan terimakasih atas bantuan Arga malam ini.
"Ge, tunggu!"
Gea menoleh.
Melihat Arga yang turun dari mobilnya, "Yang tadi gak usah terlalu dipikirin ya! Saya gak mau itu jadi beban buat kamu. Cukup kamu tahu aja, saya udah seneng kok."
Arga memeluk Gea tanpa izin tapi Gea tidak menolak atau pun membalas pelukan itu.
"M-maaf. Saya pulang dulu."
Gea mengusap bekas dekapan itu dengan perasaan tidak rela saat melihat sosok Arga mulai menjauh dari jarak pandangnya.
Ah, Arga! Wanita itu juga sudah jatuh cinta padamu.
...•••• ...
__ADS_1
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!