Dokter Arga

Dokter Arga
Tergores


__ADS_3

Berbulan-bulan tidak bertemu, ada perasaan menggelitik yang tengah dirasakan oleh Arga.


Gelisah.


Perasaan aneh itu muncul sejak Gea memblokir nomornya dan Bintang pun ikut mendukung yang dilakukan wanita itu.


Arga bingung dengan hatinya yang mulai goyah hanya karena wanita yang dikenalnya melalui pertemuan yang tidak disengaja saat hari pemakaman Mia.


"Ini gak mungkin 'kan? Aku ... Aku gak mungkin suka sama dia 'kan, Mi?"


Arga menatap foto Mia yang ada di pojok meja kerjanya.


"Perasaanku gak mungkin berubah 'kan?" tanyanya lagi, entah pada siapa.


Tatapan Arga berubah sendu. Difoto itu, Mia terlihat sangat cantik dan— hidup.


Masih terbayang dalam ingatan, foto itu diambil satu hari setelah acara pertunangan mereka. Mia tampak begitu bahagia saat Arga mengajaknya liburan bersama ke Bali.


Tidak tahan dengan perasaan yang menyesakkan sekaligus membingungkan— Arga beranjak menuju Toilet.


Berdiri di depan kaca dekat westafel dengan kepala menunduk. Masing-masing kedua tangannya mencengkeram sisi westafel.


Arga menarik napas dalam-dalam. Selama hidupnya, Arga sudah sering melihat gambaran masa depan orang lain namun kali ini, Arga mencoba untuk melihat masa depannya sendiri dengan cara menatap pantulan dirinya di kaca itu.


Arga masih menunduk, mengumpulkan keberanian untuk bisa menerima segala yang akan dilihatnya nanti.


"Apa pun yang terjadi, apa pun hasilnya ... Cintaku ke Mia gak akan berubah! Mia tetep nempatin posisi tertinggi di hatiku." yakinnya.


Perlahan, kepala Arga mendongak. Sepasang matanya menatap intens pantulan di kaca.


Deg!


Arga berusaha konsentrasi untuk memperjelas penglihatan itu.


Keningnya mengkerut.


Dalam penglihatannya, Arga diberi gambaran jika ia memasangkan sebuah cincin dijari manis seorang gadis yang memiliki bekas luka.


"Ga? Arga? Kamu di mana?"


Arga terkesiap dan buru-buru keluar dari Toilet ketika seseorang memanggilnya.


Rosa.


Sedang apa wanita itu di sini? Dan kapan dia kembali dari Kanada?


"I miss you so bad."


Arga menatap datar pada sosok Rosa.


Mereka sempat bertengkar hanya karena Arga tidak terima melihat Rosa menyakiti Gea.


"Apa ucapanku beberapa bulan yang lalu kurang jelas?" desis Arga tak suka.


Sebab inilah salah satu alasan Gea menghindarinya selain karena masalah Karez— Rosa juga menjadi penyebab Gea memblokir semua kontaknya dan pergi begitu saja.


"Kamu gak adil, Ga! Aku udah pergi, sesuai permintaan kamu tapi ... Itu sulit! Aku udah berusaha lupain kamu dan belajar relain kamu buat cewek penyakitan itu tapi apa? Aku gak bisa! Aku malah tersiksa, Arga! Perasaanku ke kamu udah ada sejak kita kuliah. Bahkan sebelum kamu kenal Mia, aku udah suka sama kamu!"


Bukan sesuatu yang mengejutkan mendengar Rosa dan pernyataan cintanya itu.

__ADS_1


Kesekian kalinya, Arga muak mendengar semua omong kosong Rosa tentang perasaannya.


Cinta tidak bisa dipaksa.


Sejak dulu atau pun sekarang, Arga tidak pernah memiliki perasaan lebih dari teman.


Arga menatap sepasang mata itu.


Tidak mungkin, batin Arga.


Arga mendapat gambaran tentang masa depan Rosa.


Darah dan air mata.


"Keluar!"


Tiba-tiba Arga jadi mengkhawatirkan sesuatu. Sebuah pertanda buruk yang akan dilakukan oleh Rosa di masa depan.


Entah pada siapa, namun Arga menduga jika itu masih berhubungan dengan dirinya.


Sekali lagi, kemampuan Arga tidak bisa menjelaskan secara detail kejadian di masa depan, tapi itu sudah cukup menjelaskan jika hal buruk pasti akan terjadi.


"Kamu belum ngomong apa-apa soal yang aku ucapin barusan."


Arga tersenyum sinis, "Jawabanku tetep sama dan kamu tahu itu, Ros!"


"Kamu jahat! Bahkan setelah kematian Mia, kamu gak ngasih aku kesempatan buat deketin kamu! Justru kamu lebih milih cewek penyakitan itu buat gantiin posisi Mia!" bentak Rosa.


Sudah dibilang, tidak ada satu hari yang terlewatkan jika itu berhubungan dengan Arga. Jarak bukan halangan bagi Rosa untuk mendapatkan informasi tentang Arga dari seseorang yang sudah ia tugaskan untuk mengawasi laki-laki itu secara diam-diam.


Rosa sudah mengetahui bagaimana perubahan Arga saat Gea menghindarinya selama berbulan-bulan.


Pikir Rosa, Gea itu bodoh dan tidak tahu diri karena menyia-nyiakan laki-laki sebaik Arga.


"Gak mau keluar? Yaudah! Biar aku yang keluar!"


Arga benar-benar sudah jengah melihat sikap Rosa yang berubah total semenjak kematian Mia.


Dulu, Rosa bisa menahan diri untuk tidak terlalu menunjukkan perasaannya pada Arga, namun sekarang, sikap Rosa yang agresif justru membuat Arga tidak nyaman dan ilfeel.


"KAMU PASTI BAKAL NYESEL UDAH KAYAK GINI KE AKU, ARGA!"


Terserah.


Arga tidak peduli.


Bisa jadi, hari ini Arga memilih mengundurkan diri dari pada berada satu lingkungan kerja dengan wanita yang terobsesi dengannya.


...••••...


Sret!


"Tck, sialan!" makinya ketika pisau itu meleset dan tidak sengaja menggores telapak tangannya saat membersihkan sisik ikan gurami yang akan dimasak.


Lantas Gea memutar kran westafel lalu membasuh lukanya untuk membersihkan cairan merah itu.


"Ish! Ngerepotin banget! Gak apa-apa! Kalau ada yang susah, ngapain harus pilih yang mudah."


Gea meringis ngilu melihat lukanya cukup memanjang. Belum lagi darahnya tidak berhenti keluar.

__ADS_1


Saat Gea sibuk membasuh luka itu, suara bel pintu Apartemennya berbunyi.


Gea bergegas meraih tisu dan menutup lukanya sementara.


"Iya, iya bentar! Gak sabar banget jadi or— Arga?"


Di sinilah mereka sekarang.


Duduk berhadapan tapi saling terdiam. Arga menatap tajam ke arah tangan wanita itu.


"Tanganmu kenapa?"


Akhirnya.


Arga memberanikan diri untuk bertanya guna menuntaskan rasa penasaran semenjak ia memperhtikan tangan Gea yang dibalut dengan tisu.


Sebab ada rembesan bercak merah pada benda itu.


"Bukan urusanmu! Justru harusnya aku yang tanya, ngapain kamu ke sini?"


"Kak Bintang kemana?"


Arga mengalihkan topic pembicaraan agar tidak diusir keluar oleh Gea yang tidak senang bertemu dengannya.


"Kamu budek?"


Mereka saling menatap, hanya satu detik sebelum Gea melengos memeriksa lukanya yang masih mengeluarkan darah.


Arga yang masih berpakaian kerja lengkap— minus jas Dokternya, langsung membuka tas berisi perlengkapan medis.


Ada perban, anti septik dan kapas.


Dejavu.


Gea merasa seperti saat pertama mereka bertemu. Saat Arga belum menyadari jika wanita itu tengah mengandung empat bulan karena tubuh Gea memang kecil untuk ukuran wanita berkepala dua. Jadi tidak ada yang menyadari kehamilannya.


Lama Gea melamun, hingga tidak sadar jika Arga sudah selesai mengobati lukanya.


"Selain galak, kamu juga ceroboh! Lain kali kalau beli ikan di Pasar, minta Abang penjualnya bersihin sekalian, bisa kok ..."


Arga tersenyum tipis saat mata mereka kembali bertemu, "Perbannya jangan lupa dilepas setelah tiga hari. Jangan sampai kena air juga. Takut lukanya gak kering-kering ntar."


Seolah mengetahui apa yang terjadi, Gea dibuat terkejut ketika Arga yang dikira akan beranjak pulang, namun justru berjalan menuju Dapur setelah menggulung kemejanya sebatas siku.


Dengan cekatan, Arga melanjutkan pekerjaan Gea yang tertunda.


Arga menghela napas pelan saat melihat bercak merah pada pisau itu.


"Gak usah, Ga! Mending kamu pulang aja! Aku bisa kerjain itu sendiri." Gea menahan tangan Arga yang hendak memotong ikan gurami itu.


Arga tersenyum, lagi.


Senyuman yang begitu menenangkan dan terlihat tulus.


Menyingkirkan tangan Gea yang ada di lengannya.


"Saya akan pulang tapi nanti, setelah pekerjaan saya selesai."


Arga mengabaikan Gea yang mendengus kesal sembari berlalu menuju Ruang Tamu. Sebab laki-laki itu tidak mau mendengar ucapannya.

__ADS_1


...••••...


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!


__ADS_2