
Dragon Heart.
...Chapter 04 : Cahaya Hitam Dari Ritual Pemanggilan....
...-...
Setelah beberapa menit memasuki Ruang Aula Buku, Yuka akhirnya keluar dengan perasaan sangat bahagia karena telah terpilih menjadi Penyihir Tingkat Tinggi. Lark dan Leon memandang Yuka dari kejauhan juga ikut bahagia melihat reaksi dari saudara nya ketika keluar dari Aula Buku seperti telah melepas semua beban pikirannya selama setahun sebelumnya. Rasa kegembiraan dan Ketakutan masih terbayang di pikiran Lark, tetapi setelah melihat kebahagiaan dari saudara yang telah terpilih menjadi Penyihir. Dia enggan menunjukkan nya.
Tersenyum tipis dan di paksakan, Lark juga menggenggam erat tangannya. Dia duduk kembali untuk menenangkan pikiran, sementara Yuka berusaha menyemangati mereka berdua, walaupun hanya membantu sedikit rasa khawatir mereka. Beberapa Anak sudah memasuki Aula Ruangan Buku dan sekarang giliran mereka berdua untuk tampil di atas panggung yaitu memasuki Ruang Aula.
" Leon, Selanjutnya Giliran mu masuk Kedalam ! "
Sebelumnya Leon sempat takut ketika namanya di panggil, tetapi dia berusaha tegar dan mempersiapkan mentalnya. Dia ingin menjadi Penyihir hebat yang bisa melindungi keluarga nya, dengan mengandalkan keberanian serta takdir. Leon membuka pintu Ruang Aula secara perlahan dan memasukinya. Leon berdiri ditengah lingkaran menatap sekeliling nya, dia mengamati semua rak-rak buku disekitar nya seolah merasa ada keanehan terdapat di Ruangan Aula yang memilih seorang menjadi Penyihir. Benar saja, ketika dia melihat semua keseluruhan. Entah kenapa Leon merasa banyak aliran Mana keluar dari celah-celah buku dan aliran itu menuju dirinya, awalnya Leon sedikit terkejut ketika melihat banyak Aliran Mana di sekitarnya. Mencoba untuk tetap dalam keadaan tenang, Leon menarik nafas yang panjang dan memejamkan matanya.
Suasana semakin menegangkan, Cahaya perlahan mulai muncul yang diikuti banyak buku mengelilingi nya. Suara seperti bisikan terdengar di telinga Leon, sesuatu suara sedikit menakutkan dan memaksakan kehendak dari ribuan banyak kehidupan. Satu persatu cahaya membentuk sesosok tubuh manusia yang saling memegang punggung satu sama lain di belakang punggung Leon, di lantai 2 terdapat orang menyaksikan kejadian itu. Tentunya saudara perempuannya, Aniese. Dia terkejut ketika Cahaya membentuk sesosok Manusia muncul secara tiba-tiba di belakang adiknya itu, Aniese merasa khawatir dengan keadaanya dan ingin membangunkan Leon. Usahanya gagal ketika rasa ingin tau merasuki dirinya, Aniese mengurungkan niatnya untuk turun mendekati Leon dan tetap diam di tempatnya sambil mengamati keadaan.
Tidak berlangsung lama, Cahaya itu perlahan menghilang dengan sendirinya. Begitu juga Sosok di belakang Leon juga ikut menghilang, di depan Leon terdapat satu buku masih menunjukkan cahaya nya. Sebuah buku bersampul emas yang terlihat sangat mewah, buku itu terlihat banyak menyimpan banyak Mana di dalamnya.
Pada Sampul depannya terdapat Gambar Dadu dan menunjukkan Angkanya yaitu Dadu Angka 12.
Kemunculan Dadu Angka 12 memang sangatlah langkah di dunia karena hanya takdir menentukan semuanya, mereka yang dicintai Sihir akan menjadi sangat termulia di kehidupannya.
Singkatnya, Dadu angka ini memiliki simbol kekuatan tertinggi dalam penguasaan Sihir hingga ketingkat yang lebih menakutkan jika dia melatihnya. Banyak orang mengharapkan mendapatkan sesuatu kesempatan untuk menjadi penyihir dari Dadu Angka 12, tetapi takdir tidak memilih mereka. Di kota, tepatnya di Akademi Sihir.
Mereka sangat mengharapkan Penyihir-Penyihir yang memiliki potensi di Dadu Angka Tingkat Lanjut, dan bahkan Orang yang memiliki Angka Dadu 12 akan sangat dibanggakan setiap orang di Akademi.
__ADS_1
Mereka secara Khusus akan melatih Penyihir Tingkat Lanjut untuk menjadi Seorang Penyihir yang berpengalaman hingga dapat mengendalikan batasannya.
Leon membuka mata dengan perlahan untuk menghadapi cobaan nya, dia tidak yakin pasti dari suara yang samar didengarnya tadi. Tapi menurutnya karena mereka Leon bisa mendapatkan kesempatan seluar biasa ini, Leon menggenggam harapannya dan melihat cahaya masa depan.
Hanya ketika dia menjadi seorang Penyihir Tingkat tinggi bisa mewujudkan impiannya, saat Leon mendekati Bukunya. Tiba-tiba entah kenapa ia merasa telah tercerahkan dan dengan kekuatan yang ada di dalam buku membuat dirinya dapat melihat banyak hal, terutama Aliran Mana yang mengalir seperti arus kecil di sekitarnya.
Lalu Aliran itu sedikit diserap oleh buku, kemudian Buku mengeluarkan Aliran itu untuk memasuki Tubuh Leon. Tahap itu diulang secara terus-menerus.
Leon pergi keluar meninggalkan keadaan di dalam Ruang Aula Buku, wajah datarnya terlihat sedikit menunjukkan sisi kebahagiaan dan tersenyum tipis. Leon berjalan mendekati Pria tua di depan Pintu, tentunya Pria Tua sangat terkejut serta sangat bangga dengan pencapaian Leon.
Sedikit memaksakan kehendaknya yang terlihat dari kejauhan tentang Pria Tua itu membujuk Leon agar secara khusus mendatangi langsung Akademi Sihir tanpa melakukan tahapan Ujian sihir Murid. Karena Leon sudah termasuk Penyihir Tingkat Tinggi yang memiliki angka dadu tertinggi bisa masuk Akademi lewat jalur prestasi.
Tetapi Leon masih berpikir untuk meninggalkan Desanya dan pergi Ke kota, begitu juga saat dia melirik Lark yang ada di bangku peserta. Leon belum bisa memutuskan pilihannya, dia ingin melihat keadaan dari Lark terlebih dahulu agar bisa memutuskan lebih awal. Leon kembali ke tempat duduknya, menunggu Lark selesai terpanggil.
Melihat semua Saudaranya telah terpilih oleh takdir, pikiran Lark menjadi tenang dan merasa sangat percaya diri untuk memasuki Ruang Aula Buku. Dia berdiri dari tempat duduknya, berjalan perlahan mendekati pintu ruangan diapun membukanya.
Lark telah sampai di tengah Lingkaran Sihir, rasa gugup kembali merasuki dirinya. Lark berkeringat, sesekali keringatnya jatuh ke lantai karena merasa sangat tegang dengan keadaannya sekarang. Tidak lama dalam suasana itu, dia kembali menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengeluarkan secara perlahan. Tidak lupa sebelum memulai Ritual roulette, dia memejamkan mata dan berharap terpilih menjadi penyihir.
Walaupun menjadi Penyihir tingkat bawah atau berangka Dadu 01 juga tidak masalah, itu yang diharapkan nya saat dia memejamkan mata.
Cahaya mulai menyinarinya, buku-buku berterbangan dari raknya dan memutari Lark yang sedang berdiri di tempat. Di lantai dua, Aniese juga berharap melihat keajaiban seperti Leon sebelumnya. Tidak lama kemudian suatu keanehan terjadi saat Ritual masih berjalan dengan semestinya, Cahaya terang sedikit demi sedikit menjadi hitam.
Buku-buku yang terbang berjatuhan, begitu juga dengan Lark masih dalam keadaan mata tertutup. Cahaya sepenuhnya menjadi Hitam, membuat Aniesse panik dan ingin melompat dari lantai 2 hingga menolong Lark. Tapi dia tidak berani mendekati Lark karena ada Aura menakutkan mencoba mencekik nya jika dia berani mendekati atau mengganggu Ritualnya.
" Sihir Air - Gelombang Pasang "
__ADS_1
Dalam keadaan panik, dia mengeluarkan sihirnya untuk melawan hukum Ritual. Dia berharap adiknya tidak terjadi apa-apa saat cahaya hitam muncul menyinari dirinya. Menurut beberapa cerita saat cahaya hitam muncul sebagai pengganti cahaya sebenarnya, maka akan menyebabkan malapetaka kepada yang melakukan Ritual.
Cahaya hitam dapat muncul ketika seseorang yang nekat melakukan pemanggilan Buku secara paksa atau melakukannya di satu tahun 2 kali, karena sebelumnya sudah di buatkan larangan untuk melakukan pemanggilan 2 kali dalam setahun oleh Penyihir Agung untuk menghindari malapetaka yang bisa menyebabkan kematian kepada Peritual.
Lark samasekali belum melakukan pemanggilan seumur hidupnya, ketika dia melakukan pemanggilan pertamanya. Dia tidak menyadari bahwa ada malapetaka akan menghampiri dirinya, dalam keadaan mata tertutup tentunya dia tidak menyadari hal itu.
Aniese masih mencoba melawan Hukum Ritual dengan segenap kemampuan yang ia miliki, tetapi kekuatan sihirnya tidak dapat mengalahkan kekuatan sihir hitam. Dia masih terus mencobanya, walaupun menguras semua Mana di dalam tubuhnya, hanya untuk adiknya tersayang dia rela menghabiskan Mana yang telah ia kumpul selama beberapa bulan terkahir ini.
Sudah setengah jam ketika Lark memasuki Ruangan Aula, Lark sebelumnya sudah di beritahu oleh saudaranya ketika Ritualnya selesai maka akan ada suara yang menyuruhnya untuk membuka mata. Tetapi suara itu tidak kunjung ada dan membuat Lark sudah merasa lelah karena terus berdiri di tempatnya tanpa bergerak sedikitpun.
Berpikir tidak akan ada suara yang membisikannya, Lark perlahan membuka Matanya. Seketika Cahaya Hitam menjadi retak dan hancur saat Lark hendak membuka matanya, begitu juga aura hitam yang menyerang Aniesse menghilangkan seperti hembusan angin.
Aniese terkejut dengan hilangnya Aura hitam, dia sadar dan langsung berlari melihat keadaan dari Lark. Di atas lantai 2, dia masih mengamati keadaannya. Saat Lark membuka matanya, dia tidak melihat satupun buku berterbangan atau bercahaya seperti cerita dari Leon dan Yuka sebelumnya.
Hanya ada beberapa buku terjatuh di lantai yang berserakan di sekitar Lark, melihat keadaannya. Lark sebelumnya sudah mengetahui situasi seperti apa di dalam Ruang Aula Buku karena dirinya tidak dicintai Mana atau tidak memiliki Mana di dalam tubuhnya. Itu sebabnya dia memohon agar dirinya menjadi Penyihir, walaupun menjadi Penyihir tingkat bawah juga tidak menjadi masalah bagi Lark.
Lark menghelakan nafasnya, perlahan meninggalkan Ruangan dengan perasaan kecewa dan sedih. Dia juga berharap takdir akan memihak dirinya, menjadi seorang penyihir serta mewujudkan cita-citanya yaitu Master Sihir.
...-...
...-...
...-...
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1