DYSTOPIA : STRICTLAND | ATEEZ (DISCONTINUED)

DYSTOPIA : STRICTLAND | ATEEZ (DISCONTINUED)
1


__ADS_3

Suara dari dua belah pedang yang beradu terdengar ke segala penjuru. Di sebuah kapal yang membelah lautan, dua orang saling berhadapan dengan pedang di tangan masing-masing. Deru napas mereka sangat berantakan. Ditambah keringat yang mengucur dari dahi, membuat mereka lebih mempesona.


"Kau tidak akan bisa mengalahkanku, Kapten Joong!" ucap pemuda bertubuh tinggi.


"Benarkah? Aku kira kau yang sudah mulai kehilangan tenagamu, Kapten Mingi!" balas Hongjoong.


Walaupun perbedaan tubuh keduanya terlihat mencolok, tetapi kemampuan mereka sangat sepadan. Bahkan, Hongjoong-yang lebih kecil dari Mingi-bisa membalikkan berbagai serangan yang mengenainya. Wajah penuh kharisma keduanya sama-sama dipenuhi dengan lebam. Di sekeliling mereka banyak kru kapal yang terkapar tak berdaya.


Yang masih terlihat bertahan ada 8 orang. Mereka masih bertarung satu sama lain. Berusaha menguasai permainan dan memenangkannya. Tidak ada yang mau mengalah di antara mereka. Harga diri dan gengsi menguasai relung hati mereka. Kilatan tajam terpancar dari mata mereka. Menghunus tepat ke mata sang lawan.


Tepat ketika pedang mereka menghunus, tirai berwarna merah turun menjuntai. Menghalau pandangan penonton dari panggung teater kala itu. Akhirnya pentas yang berdurasi satu jam itu telah rampung. Para penonton mendesah. Banyak dari mereka yang memasang wajah cemberut akan akhir cerita yang kurang memuaskan. Tapi, riuh tepuk tangan dan sorakan semangat tetap dilontarkan. Pentas kali ini memang sengaja menggantungkan akhir cerita. Hal ini bertujuan agar para penonton bisa menggunakan imajinasi mereka terkait akhir dari cerita tersebut.


***


Di balik panggung pentas, delapan pemuda mengulas senyum mereka. Raut wajah lelah itu menampakkan kepuasan yang mendalam. Mendengar riuh rendah penonton membuat hati mereka berdebar keras. Suatu perasaan bahagia menggelitik relung hati mereka.


"Kerja bagus semuanya!" Eden menyadarkan mereka dari euforia yang baru saja mereka rasakan.


"Para penonton puas dengan penampilan kalian! Seperti biasa, bayaran kalian akan ku kirim lewat rekening", ucapnya lagi.


"Terima kasih, *Hyung", *balas mereka serempak.


"Hyung, kapan jadwal selanjutnya?" tanya Jongho.


"Masih lama. Kalian mendapat libur dua minggu ini. Walau begitu, jangan malas-malasan. Ingat! Jaga kesehatan kalian", peringat Eden.


Setelah beristirahat sejenak, mereka kemudian meninggalkan gedung pentas. Beranjak pulang. Ketika mereka

__ADS_1


keluar, hari sudah sangat larut. Kelap-kelip bintang dan sinar bulan membuat kota tampak begitu indah. Lalu lalang kendaraan tidak terlalu kentara. Menambah kesunyian yang mengudara.


Wooyoung menghirup napas dalam, matanya terpejam. Merasakan hembusan angin yang menyapa kulitnya. San yang di sampingnya terkekeh melihat kelakuannya. Dalam pandangannya Wooyoung terlihat menggemaskan. Dari luar, Wooyoung terlihat seperti orang yang ceria. Pribadinya sangat hangat dan riang. Senyum tidak pernah lepas dari wajahnya. Menyembunyikan banyak penderitaan dan tangisan. Ia tahu, sangat tahu. Semua yang ada pada Wooyoung, itu palsu.


"San, kenapa kau melihatku seperti itu?" suara Wooyoung mengalir, menyapa telinganya. Wajahnya menampakkan raut bingung. Merasa aneh dengan tingkah rekan se-timnya itu.


"Tidak apa. Hey, rapatkan jaketmu. Udara malam ini sangat dingin. Tidak seperti biasanya", San berceloteh sambil menyeletingkan jaket yang dikenakan Wooyoung. Membuat Wooyoung semakin ditelan jaket kebesaran miliknya. Sekarang, Wooyoung benar-benar tenggelam dalam balutan bajunya itu.


"Astaga!! Menggemaskan sekali!!" Seonghwa mencubit pipi Wooyoung dengan gemas. Membuat pipi itu merona merah. Kontras dengan kulitnya yang putih.


"Sudah. Ayo masuk mobil. Hongjoong hyung pasti sudah menunggu lama", ajak Yunho sembari melangkahkan kaki ke arah mobil mereka di parkiran.


Di dalam mobil, sudah ada Eden dan Hongjoong yang menunggu. Dengan segera mereka menaiki mobil itu dan duduk dengan rapi tanpa keributan. Sungguh suatu keajaiban karena kedelapannya kini duduk dengan diam. Eden merasa aneh dengan situasinya sekarang. Biasanya delapan anak ini selalu saja ribut. Tidak bisa diam. Sama seperti anak kecil yang masih harus diasuh.


"Jongho, kau tidur?" tanya Yeosang dengan lirih. Dia melihat Jongho memejamkan matanya sambil menyenderkan kepala ke jendela. Lehernya pasti akan pegal, pikir Yeosang. Dengan hati-hati dia mengubah posisi kepala Jongho. Menjadikan bahunya sebagai senderan. Sebelum ikut terlelap.


Saking fokus menyetir, Eden tidak pernah tau, bahwa ada sekelip cahaya yang merambat masuk ke dalam mobilnya. Cahaya itu bersinar sangat redup. Hampir tidak terlihat oleh mata keranjang. Sinar itu menyelimuti delapan pemuda yang terlelap dalam tidurnya.


***


Sebuah kapal berlayar dengan tenang di tengah lautan lepas. Kapal itu berukuran sedang dan terlihat sederhana. Ombak kecil dengan angin yang berhembus tidak terlalu kencang membuat kapal itu melakukan pelayaran dengan mulus tanpa hambatan yang berarti. Di dalam kapal ada delapan pemuda yang masih setia menutup mata mereka. Sinar matahari yang saat itu menyapa, membuat pemuda itu bangun.


“Hoammmm......”, Hongjoong, salah satu dari pemuda itu bangun sambil menguap dan menggosok


matanya. Dia menyipitkan matanya, membiasakan dengan cahaya yang menusuk retinanya.


“WAAHHH!!!!” Hongjoong terkejut mendapati dirinya berada di tengah lautan. Mulutnya terbuka lebar dengan mata yang terbelalak. Dia bangkit berdiri, langsung berjalan menghampiri sisi kanan kapal. Hongjoong menunduk dan memandangi air lautan yang menyentuh kapalnya tanpa berkedip.

__ADS_1


Tak sampai di situ, dia juga terkejut melihat teman-temannya yang lain juga berada di sana. Dengan cepat, dia membangunkan semua temannya untuk segera bangun dan melihat situasi yang terjadi.


“HEY! BANGUN! BANGUN!!! PEMALAS SEKALI KALIAN! CEPAT BANGUN!!!” mendengar teriakan Hongjoong yang tak berhenti membangunkan mereka, mau tidak mau satu per satu dari mereka membuka matanya.


“ADA APA SIH JOONG?! KENAPA BERISIK SEKALI?!” kesal Seonghwa.


“BENAR! HONGJOONG HYUNG TERLALU BERISIK!” timpal yang lainnya.


“LOH!! LOH!! KITA DI MANA?!” teriak San sambil memandangi sekitarnya. Seingatnya dia tertidur dalam perjalanan menuju ke rumah. Masih sangat jelas ketika dia menjadi sandaran Wooyoung yang pulas.


“LOH?! KOK AKU ADA DI SINI?!” Wooyoung ikut berteriak setelah nyawanya benar-benar terkumpul. Reaksi dari temannya yang lain pun tak jauh berbeda.


“Hyung, bisakah kau jelaskan mengapa kita ada di sini? Kau kan yang pertama bangun tadi?” tanya Yeosang setelah kembali dari keterkejutannya. Yang lain pun menatap Hongjoong meminta penjelasan mengenai situasi mereka.


“Maaf teman-teman. Tapi, aku juga tidak tahu kenapa kita bisa terjebak seperti ini.”, ucap Hongjoong.


“Tapi, kenapa kita bisa berada di kapal yang sedang melaju di lautan? Ini sangat aneh”, gerutu Jongho sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Tunggu sebentar. Sepertinya ada sesuatu”, perkataan Yunho memancing atensi mereka.


“Apa? Aku hanya yakin jika kita sedang ditimpa kesialan”, sahut Mingi sambil merebahkan kembali tubuhnya di lantai kapal.


“Ck, kau ini! Kapal ini memiliki bendera warna hitam. Coba pikirkan, kapal dengan bendera hitam dan cerita yang kita mainkan di pentas”, penjelasan Yunho membuat mereka terlonjak kaget.


“Kita jadi BAJAK LAUT?!”


***

__ADS_1


__ADS_2