
Jun menatap Wooyoung dengan lekat. Dia tidak melepas pandangannya dari Wooyoung barang sedetik saja. Wooyoung balas menatap Jun dengan pandangan aneh. Wooyoung tengah menganalisis tatapan apa yang diberikan Jun padanya. Jujur saja Wooyoung tidak mengerti arti tatapan itu. Hanya saja Wooyoung merasa tidak terancam. Wooyoung merasa aman bersama dengan Jun.
"Jadi, namamu Wooyoung? Temanku juga punya nama yang sama sepertimu. Bahkan wajah kalian mirip. Aku kira kau adalah temanku", ucap Jun. Wooyoung membuka mulutnya mendengar penuturan Jun. Sebenarnya tatapan Jun sedikit mengganggu Wooyoung. Tatapan itu menyiratkan kesedihan dan kerinduan yang dalam. Wooyoung bisa menangkapnya setelah beberapa lama.
Dengan refleks Wooyoung memeluk Jun. Tidak ada usapan atau tepukan. Hanya pelukan hangat yang bisa membuat Jun sedikit lebih tenang. Wooyoung melepas pelukannya dan berkata, "Tidak masalah untuk menangis. Menangis adalah cara untuk melampiaskan emosi. Jika dengan menangis kau akan merasa lebih baik, maka menangislah dengan keras. Setelah hatimu lega, tataplah langit dan berikan senyuman padanya".
Jun tertegun sesaat. Ucapan Wooyoung, semakin membuatnya teringat temannya. Teman seperjuangan yang selalu berada di sisinya. Teman yang senantiasa mendukungnya. Sebuah senyum terbit menghiasi wajah Jun. Melihat Jun tersenyum Wooyoung ikut tersenyum lebar. Menampakkan barisan giginya yang putih dan rapi.
Wooyoung kemudian memperhatikan sampan yang dia naiki. Dia menggoyangkan bakul ikan yang berada di dekatnya. Air yang ada dalam bakul bergelombang. Ikan-ikannya terlihat sedang berusaha meloloskan diri. Wooyoung terkekeh pelan melihatnya. Entah kenapa ikan-ikan itu mengingatkannya pada sekumpulan anak kecil yang dikumpulkan dalam satu ruangan gelap. Dan semua anak kecil itu berusaha mendobrak pintu untuk bisa keluar. Mereka saling mendorong untuk keluar dari sana.
Wooyoung menghela napas panjang mengingat hal itu. Satu hal yang selalu Wooyoung syukuri adalah anak-anak itu berhasil keluar. Walaupun ada beberapa di antara mereka yang tidak selamat ketika melarikan diri. Bayangan akan masa kelam itu membuat Wooyoung menggelengkan kepalanya. Wooyoung tidak mau menggali hal itu lebih dalam lagi. Semakin kenangan itu muncul, rasa takut yang dirasakan Wooyoung juga mulai timbul. Hal ini bisa menyebabkan sesuatu dari diri Wooyoung bangun dari tidurnya. Dan Wooyoung tidak ingin itu terjadi. Terlebih kini Wooyoung masih bersama Jun. Nelayan yang menyelamatkannya dari kematian.
"Jadi, ini pertama kalinya kau kemari?" Jun menyadarkan Wooyoung dari lamunannya. Wooyoung kembali menatap Jun yang masih asik mendayung. Wooyoung menganggukkan kepalanya. Selama beberapa menit menghabiskan waktu bersama Jun, Wooyoung merasa jauh lebih tenang dari sebelumnya. Wooyoung tidak memiliki kekhawatiran untuk saat ini. Wooyoung yakin, teman-temannya yang lain pasti baik-baik saja. Dan Wooyoung juga yakin kalau mereka sedang berusaha untuk mencari dirinya.
Lautan yang membentang luas itu memantulkan sinar matahari yang indah. Ternyata berada di lautan dengan sebuah sampan jauh lebih menenangkan. Wooyoung berpikir, apakah bajak laut akan menyerang mereka yang menggunakan sampan? Atau bajak laut hanya menyerang mereka yang menaiki kapal besar? Wooyoung terkekeh sendiri memikirkan pertanyaan retoris itu.
__ADS_1
"Jun, maukah kau menceritakan tempat ini? Maksudku pendapatmu tentang STRICTLAND", Wooyoung bisa melihat Jun yang kaget sesaat. Wooyoung tidak langsung mendengar jawaban dari Jun. Pria itu hanya diam, tapi tatapan matanya mengisyaratkan bahwa dia ingin mengatakan banyak hal. Wooyoung sadar, pasti menceritakan tentang STRICTLAND tidak semudah itu. Apalagi jika pemerintahan di STRICTLAND ketat. Tidak menutup kemungkinan jika ada agen atau mata-mata yang memantau rakyat agar tidak membicarakan mengenai pemerintah.
Tidak begitu lama, sampan yang dinaiki Jun dan Wooyoung sampai di daratan. Sejak melontarkan pertanyaan pada Jun, Wooyoung tidak mengatakan apapun lagi. Bahkan Wooyoung menghindari kontak mata dengan Jun. Wooyoung merasa tidak enak setelah menanyakan hal yang ia rasa tidak seharusnya dilontarkan.
Bakul ikan yang penuh itu dibawa oleh Jun. Dengan isyarat kepala, dia meminta Wooyoung untuk mengikutinya. Wooyoung mengekori Jun yang melangkah lebih dulu. Keduanya pergi ke pasar untuk menjual ikan, sebelum akhirnya bertolak pergi ke rumah Jun.
"Tidak aku sangka kau akan menangkap banyak ikan hari ini, Jun", ucap seorang wanita paruh baya. Dia menerima bakul ikan yang diberikan oleh Jun. Lalu memberikan uang sebagai ganti dari ikan yang ia terima.
"Aku juga tidak menyangkanya bibi. Mungkin ini hari keberuntunganku", balas Jun. Setelah bertukar kata, Jun menarik Wooyoung pergi. Kaki mereka melangkah dengan ringan, membelah kerumunan orang-orang di pasar. Jun dengan lincah menyelip di antara orang-orang itu. Walaupun hari sudah hampir gelap, tapi pasar di sana masih ramai akan pengunjung.
Tanpa ragu, Jun langsung membuka pintu dan mengajak Wooyoung masuk ke dalam. Jun meminta Wooyoung untuk membersihkan dirinya lebih dulu. Setelah Wooyoung menghilang dibalik kamar mandi, Jun termenung. Sekelebat pikiran mengganggunya dari tadi. Jun sangat ingin membicarakan tentang STRICTLAND dan segala hal nyeleneh yang ada di sana. Tapi, Jun tidak ingin menempatkan Wooyoung dalam situasi yang berbahaya.
Beberapa menit setelahnya, Wooyoung telah berganti pakaian. Tubuhnya terasa jauh lebih segar. Wooyoung menghampiri Jun yang masih larut dengan pikirannya. Bahkan Jun tidak menyadari kehadiran Wooyoung di sampingnya.
"Wooyoung, apa kau benar-benar tidak tahu tentang STRICTLAND?" tanya Jun sambil menatap Wooyoung. Dengan semangat Wooyoung menganggukkan kepala. Sejak Mingi berkata bahwa seni dilarang di STRICTLAND, Wooyoung langsung memiliki banyak pertanyaan. Mingi mengetahui itu dari buku yang ada di kapal. Hal itu membuat Wooyoung yakin bahwa informasi di buku itu hanyalah sedikit.
__ADS_1
"Baiklah. Akan aku ceritakan", Jun menghela napas panjang sebelum bercerita. Rentetan kalimat keluar dari bibir Jun. Dia menceritakan semua hal yang berkaitan dengan STRICTLAND. Wooyoung mendengar cerita Jun dengan cermat. Sesekali bertanya dan menggerutu. Membuat Jun gemas bukan kepalang. Ingin Jun menyumpal mulut Wooyoung yang tidak berhenti bertanya. Padahal Jun belum selesai bercerita.
***
Di sisi lain, Hongjoong dan yang lainnya menemukan sebuah penginapan yang cukup terjangkau. Tujuh pemuda itu memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum pergi mencari informasi mengenai berbagai hal.
Hongjoong satu ruangan dengan Seonghwa. Keduanya duduk bersebelahan. Raut wajah Seonghwa masih terlihat murung. Sedangkan Hongjoong menampilkan raut wajah bingung.
Sepanjang perjalanan mencari penginapan, Hongjoong banyak melihat tempelan poster berisikan larangan untuk melakukan pertunjukan seni. Hongjoong tidak habis pikir, kenapa tempat itu sangat melarang adanya seni? Jika ada yang melanggar hukumannya tidak main-main. Yaitu pemusnahan satu keluarga.
"Hongjoong, apa kau tahu? Mereka menekan rakyat agar patuh pada pemerintahan. Padahal banyak rakyat yang menyukai seni. Dunia ini sangat kejam. Banyak hak rakyat yang dirampas. Stigma bahwa seni bisa membuat rakyat memberontak dan melawan pemerintah sangat kuat di benak para bajingan itu. Aku tidak tega melihat penderitaan rakyat. Apakah kita bisa menghapus stigma itu, Hongjoong?" lirih Seonghwa.
Aku merasa kau mengenal baik tempat ini, Seonghwa. Siapa kau sebenarnya?
***
__ADS_1