
Sang Surya kini telah terbit. Menggantikan rembulan untuk bertahta di atas langit. Kicau burung pagi hari menenangkan siapapun yang mendengarnya. Hembusan angin membelai wajah damai yang tengah tertidur. Sedikit terusik dengan cahaya yang mulai menyorot tepat ke matanya.
Yunho menggeliat pelan. Kelopak indah itu mulai terbuka. Mengerjap pelan, menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke retinanya. Dengan pelan, Yunho melangkah ke bilik kamar mandi. Menjalankan rutinitas pagi yang biasa dia jalani.
Suara air yang terdengar sedikit mengganggu Mingi. Dengan malas-malasan, Mingi mulai meregangkan badannya. Melemaskan ototnya yang terasa kaku setelah berbaring semalaman. Mingi terduduk di tempat tidurnya sembari melihat lurus ke arah jendela. Melihat penampakan kota dari kejauhan.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu membuat Mingi mau tidak mau beranjak dari tempat duduknya. Ketika membuka pintu, terlihat Yeosang dengan wajah datar khasnya. "Sarapan", satu kata itu meluncur dari mulut Yeosang. Butuh beberapa detik sampai Mingi paham maksud sahabatnya itu.
"Hm, baik", Mingi terlonjak kaget mendengar suara Yunho di belakangnya. Yeosang mengangguk dan pergi begitu saja dari hadapan Mingi setelah mendengar ucapan Yunho.
"Aku tidak pernah bisa memahami Yeosang sampai sekarang", keluh Mingi.
Sikap Yeosang memang yang paling sulit untuk ditebak. Pribadinya yang pendiam dan cuek membuat teman-temannya sulit untuk lebih dekat dengannya. Sampai saat ini baru Wooyoung yang berhasil mencairkan batu es pada diri Yeosang.
"Jangan dipikirkan. Cepat mandi, lalu turun sarapan", Yunho berkata sambil menepuk bahu Mingi pelan. Setelah tubuh Mingi hilang di balik pintu kamar mandi, Yunho menghela napas pelan.
Pikirannya melayang. Mengingat bagaimana interaksi yang pernah dirinya lakukan dengan Yeosang. Yunho, Yeosang, San, Mingi dan Wooyoung lahir di tahun yang sama. Hanya berbeda bulan. Yunho ingat. Tidak ada interaksi spesial antara dirinya dan Yeosang selama ini. Mereka hanya berbicara ketika memang dibutuhkan untuk bersuara. Yunho meringis mengingatnya.
__ADS_1
"Ayo turun!" ucapan Mingi membuat Yunho tersadar dari lamunannya. Dua pemuda jangkung itu keluar dari kamar mereka. Melangkahkan kaki pelan menuju lantai satu.
Ramai. Itulah kondisi yang menggambarkan tempat makan di penginapan itu. Banyak orang yang tengah menyantap sarapan mereka. Sambil bercengkrama satu sama lain.
Di meja pojok, sudah ada Hongjoong dan yang lain. Dengan langkah lebar, Mingi dan Yunho menghampiri teman-temannya itu. Dua pemuda jangkung itu langsung mendudukkan dirinya. Tidak ada yang bersuara. Masing-masing fokus pada sarapannya. Hanya denting sendok yang terdengar di meja itu. Tidak seperti biasanya.
Yunho dan Mingi juga tidak bersuara. Mereka langsung menyantap sarapan yang sudah disiapkan tanpa mengatakan apapun. Membiarkan keheningan mengudara. Menyelimuti kegiatan mereka pagi itu.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" San adalah orang pertama yang membuka suara. Matanya menatap teman-temannya satu persatu. Hongjoong orang yang ia tatap cukup lama. Penasaran akan jawaban orang yang dipercayai sebagai ketua dari kelompok mereka.
"Kita harus mencari Wooyoung", Yeosang membuka suaranya. Wooyoung selalu ada di pikirannya. Orang pertama yang mengulurkan tangan padanya. Membantunya bangkit dari keterpurukan. Selalu ada untuknya di berbagai situasi. Bagi Yeosang, Wooyoung seperti matahari. Menghangatkan dunianya yang diselimuti kegelapan.
Tujuh pemuda itu beranjak dari tempatnya. Mereka mematuhi perkataan sang kapten untuk berpencar. Mencari informasi dan membeli perbekalan.
Yeosang berjalan bersama dengan San. Tidak ada yang membuka suara. Hanya berjalan beriringan dengan pandangan lurus ke depan. Di sepanjang jalan, keduanya melihat aktivitas yang dilakukan masyarakat. Kebetulan sekali, mereka menempati penginapan di keramaian pasar. Pagi itu, banyak para pedagang yang menggelar dagangan mereka. Aktivitas itu seperti di dunia mereka dulu. Kegiatan jual beli diikuti tawar menawar.
San dan Yeosang masih terus berjalan. Mengabaikan kebisingan di sekitar mereka. Entah berapa jauh keduanya berjalan. Kini mereka tiba di sebuah tempat yang jauh lebih ramai. Sebuah taman yang asri dan megah memanjakan mata. Di taman itu, banyak masyarakat yang tengah berolahraga. Da juga yang hanya sekadar berjalan-jalan. Menikmati keindahan taman. Satu hal yang bisa disimpulkan, tempat itu adalah taman kota.
Dua pemuda itu berjalan mendekat. Mereka ikut masuk ke dalam taman. Melihat-lihat keindahan yang memanjakan mata mereka. Terasa seperti kedamaian menyelimuti hati mereka ketika melihat pepohonan dan bunga yang tertata dan terawat rapi di sana.
__ADS_1
Di tengah-tengah taman, ada sebuah podium. Beberapa orang berseragam khas pegawai pemerintah ada di sana. Salah seorang dari mereka naik ke atas podium. Memberikan sebuah pidato mengenai pemerintahan yang tengah berlangsung saat ini. Dia mengaku sebagai orang kepercayaan pemimpin pusat. Seseorang yang berpengaruh dan memiliki jabatan tinggi.
"Semuanya. Perkenalkan, saya Ryan. Orang yang diutus dan diberikan kepercayaan oleh pemimpin untuk menyampaikan kondisi pemerintahan saat ini. Pemimpin telah memerintah selama tiga tahun. Dan selama kepemimpinannya tidak pernah terjadi hal buruk satu kali pun. Artinya semua kondisi aman terkendali. Ini berkat bantuan dari anda semuanya. Terima kasih kami sampaikan atas kerja sama kalian"
"Seperti yang telah disampaikan pemimpin. Hal yang membuat kita bersatu adalah dengan penghapusan seni. Bermacam bidang seni akan menimbulkan perpecahan di antara kita. Sudah banyak perpecahan yang terjadi bermula karena pentas seni. Pemberontakan contohnya. Para pemberontak menggunakan seni sebagai media untuk membuat negri kita yang damai menjadi neraka dunia. Oleh karena itulah saudara-saudara, dengan tegas PEMENTASAN SENI DALAM BENTUK APAPUN DILARANG!"
Mata Yeosang berkilat tajam. Dia tidak terima seni dipandang buruk seperti itu. Tidak pernah sekalipun ia dan temannya memiliki niat terselubung ketika mementaskan seni di panggung. Hatinya tidak diterima dituduh seperti itu. Walaupun memang tuduhan itu tidak ditujukan untuk dirinya. Tapi, ia tidak terima jika semua seniman disamakan.
"Apa anda yakin jika seni membawakan kehancuran? Apa yang menjadi dasar pemikiran anda bahwa seni hanya akan menimbulkan kericuhan?" San bertanya dengan tenang. Namun, raut wajahnya terlihat seperti menantang.
"Tidak semua pementasan seni memiliki niat terselubung seperti yang anda katakan. Saya dan teman saya sering melakukan pentas seni. Kami melakukannya semata-mata untuk menghibur diri. Seni bisa membuat seseorang nyaman, terhibur, tidak seperti yang anda katakan. Jika memang seni bisa menimbulkan kekacauan, sudah pasti saya tidak ada di sini sekarang"
"Dengar semuanya. Seni itu membicarakan keindahan. Suci dan murni. Pementasan seni seperti pertunjukan drama malah membuat banyak orang terhibur. Mereka yang lelah bekerja bisa mendapatkan tawa dari pertunjukan drama yang dipentaskan. Itu lah yang dinamakan seni. Tidak seperti yang orang itu katakan", San berkata dengan lantang.
Perkataan San, membuat Ryan kesal. Masyarakat tidak boleh goyah karena ucapan pemuda itu. "Apa yang kau katakan, anak muda? Tidak ada pertunjukan drama yang menghibur. Orang-orang selalu ketakutan setelah melihat pertunjukan drama. Para pemain drama bersikap seolah mereka membawakan cerita untuk menghibur, namun di belakang para pemain itu malah menyerang. Menimbulkan kekacauan dan perpecahan. Jangan terpengaruh olehnya. Anak ingusan seperti dia tidak memahami perkataannya sendiri".
"Saya paham betul dengan apa yang saya katakan. Anda takut masyarakat malah menyetujui apa yang saya katakan. Bukan begitu, tuan?" San menyeringai melihat Ryan yang mengepalkan tangannya.
"Menentang perkataan saya, sama dengan menentang pemimpin. Tangkap dia!"
__ADS_1
***