DYSTOPIA : STRICTLAND | ATEEZ (DISCONTINUED)

DYSTOPIA : STRICTLAND | ATEEZ (DISCONTINUED)
2


__ADS_3

"KITA JADI BAJAK LAUT?!" mereka berseru bersamaan.


Bajak laut. Cerita pentas yang mereka bawakan terkahir kali memang bertemakan bajak laut. Dengan Hongjoong dan Mingi yang menjadi kaptennya. Jika hanya dalam suatu pementasan, mereka tidak akan khawatir. Semua sudah diatur dalam skenario yang ditulis oleh pengarang cerita.


Tapi, sekarang berbeda. Mereka benar-benar menjadi bajak laut di kehidupan nyata. Entah di kehidupan apa atau di belahan bumi mana sekarang mereka berpijak.


Bajak laut bukanlah sesuatu yang mudah untuk bisa dijadikan sebuah pekerjaan. Melakukan pembajakan pada kapal yang sama-sama berada di lautan bukanlah perkara yang mudah. Akan ada banyak hal yang harus dipertimbangkan. Dari mulai segi kekuatan, persenjataan, kekompakan bahkan komando yang diberikan.


Ancaman menjadi bajak laut bukan hanya dari manusia saja. Arus laut yang ganas, monster-monster laut yang-mungkin saja-tengah mengintai mereka, badai dan banyak hal lain. Apalagi jika keberadaan bajak laut diburu pemerintah.


Delapan pemuda itu masih tercengang. Tidak pernah terlintas sekali pun di benak mereka untuk menjadi bajak laut sungguhan. Tak ada yang bersuara. Pandangan kosong, mulut yang terbuka, adalah yang mereka lakukan saat ini. Hanya nyanyian burung camar yang terdengar dari kejauhan menjadi pengiring tingkah mereka.


"Teman-teman, aku tahu, ini sulit dipercaya. Aku juga tidak bisa memahami apa yang sebenernya terjadi. Tapi, di sinilah kita sekarang. Di sebuah lautan yang entah berada di bumi sebelah mana. Kita harus melakukan sesuatu. Setidaknya untuk bertahan hidup", Hongjoong adalah orang pertama yang membuka suara setelah keheningan menyapa.


Suaranya yang mengudara mengembalikan kesadaran mereka. Hongjoong tahu, sangat tahu. Teman-temannya belum bisa memahami dan mencerna apa yang menimpa mereka. Di sisi lain, mereka juga harus mampu mengerti dan bertahan untuk menemukan solusi.


"Haaahh, Hongjoong *h*yung benar. Kita tidak bisa berdiam terus. Mau tidak mau, suka tidak suka, di sinilah kita", Wooyoung menyahut. Dia kemudian beranjak dari duduknya. Mengitari kapal yang menjadi pijakannya saat ini.


"Apa yang bisa kita lakukan? Ini bukan pentas drama yang semuanya telah terencana", keluh Mingi.

__ADS_1


Wooyoung berhenti melangkah. Dia memutar tubuhnya. Menatap satu persatu temannya. Tatapannya menajam. Kenapa teman-temannya menjadi lembek seperti ini? Yang ia ketahui selama ini, temannya itu ialah pemuda tangguh. Tak pernah sekalipun ia melihat mereka mengeluh tak berdaya seperti ini. Bahkan, ketika mereka belum memiliki banyak penonton di pementasan, mereka tidak pernah mengeluh seperti ini.


Menyadari tatapan Wooyoung yang begitu menelisik, Yeosang ikut berdiri. Harus ada yang mengambil keputusan di antara mereka. Jika semuanya diam, akan sia-sia saja. Cepat atau lambat, mereka bisa mati dengan konyol.


Melihat Yeosang yang beranjak dan mengajak Wooyoung berdiskusi, membuat mereka sadar sepenuhnya. Delapan pemuda itu kini berpencar. Menemukan apa saja yang bisa dijadikan sebuah petunjuk. Terutama kompas dan peta.


Jongho dengan seksama mengamati awan yang bertengger manis di angkasa. Memprediksi apakah akan turun hujan atau tidak. Kegemarannya pada benda-benda yang ada di angkasa ternyata bisa diterapkan sekarang. Andai rekan-rekan sekolahnya ada bersamanya, Jongho sudah pasti akan menyombongkan diri. Betapa bergunanya dia mempelajari benda-benda langit itu.


Yunho dan Mingi masuk ke dalam kapal. Mereka mencari petunjuk mengenai cara kerja kapal, persenjataan, dan sebagainya. Mengumpulkan beragam barang yang sekiranya berguna untuk menemani perjalanan panjang mereka. Dengan beragam celotehan Yunho memenuhi gendang telinga Mingi.


Hongjoong, Seonghwa dan San ikut dalam pembicaraan Wooyoung-Yeosang.


"Dengar. Satu kelompok bajak laut membutuhkan kapten. Agar ada yang mengarahkan kita. Membagi tugas dan mengatur strategi. Kita harus menunjuk seseorang menjadi kapten", ucap Wooyoung.


"Apa kita benar-benar membutuhkan seorang kapten?" suara San menyadarkan Wooyoung dan Yeosang akan keberadaan tiga temannya yang lain.


Keduanya kompak mengangguk. Tanpa ada yang memimpin, mereka bisa saja kehilangan arah. Bertindak sesuka hati, tanpa memikirkan hal lain. Eksistensi seorang kapten juga akan menunjukkan berada di tingkat mana, bajak laut tersebut berada. Seorang kapten haruslah orang yang memiliki kekuatan, kharisma, dan wibawa yang tinggi. Karena dia harus bisa membuat kru kapal tunduk pada perintahnya.


"Masalah tentang kapten, kita bicarakan nanti. Lebih baik kita jelajahi kapal ini dulu. Hari sudah beranjak siang dan perutku sudah mulai meronta ingin diisi makanan", timpal Hongjoong sambil berlalu.

__ADS_1


"Hongjoong benar. Ayo kita cari sesuatu untuk dimakan. Aku yakin kita memiliki orang yang tepat untuk dijadikan kapten", Seonghwa berkata dengan senyum menghiasi wajahnya. Dia melangkah mengikuti Hongjoong di belakang. Membuat tiga pemuda penasaran, siapakah yang dimaksud oleh Seonghwa.


Tidak berlama-lama memikirkan hal itu, ketiganya pun ikut mengikuti yang lebih tua. Memasuki bagian dalam kapal.


"Apa yang terjadi di sini?" ialah kalimat pertama yang meluncur dari bibir Jongho. Ia sampai di bagian dalam kapal bersamaan dengan San, Yeosang dan Wooyoung. Mereka berempat terkejut dengan penampakan bagian dalam kapal yang sangat berantakan. Sungguh seperti badai telah mengacak-acak ruangan itu.


Seonghwa berkacak pinggang. Mulutnya sudah siap untuk menyemburkan kata-kata mutiara untuk Yunho dan Mingi. Sedangkan dua pemuda itu hanya memasang wajah tak berdosa, dengan senyum lebar sebagai penghias. Alih-alih takut, mereka seperti menantikan omelan Seonghwa.


"KALIAN!!! KENAPA RUANGANNYA BERANTAKAN?! TIDAK BISAKAH KALIAN MENCARI BARANG DENGAN BENAR?!" dua tangan Seonghwa menjewer telinga Yunho dan Mingi bersamaan. Erangan kesakitan mulai dilontarkan dua pembuat onar saat itu. Membuat tawa Wooyoung menggelegar.


"Haish... Sudahlah Hwa. Jangan diperpanjang. Lebih baik kita cepat bereskan ruangan ini. Aku, Yunho, Mingi dan Jongho akan membereskan ruangan ini, sekalian mencari benda yang bisa kita pergunakan. Kalian pergilah cari makanan", entah kekuatan apa yang dimiliki Hongjoong. Kedelapannya langsung pergi dan mengabulkan perkataan Hongjoong begitu saja. Ada suatu aura yang membuat mereka mengiyakan permintaan Hongjoong.


Kini hanya tinggal empat pemuda yang di sana. Empat lainnya pergi mencari makanan. Dengan dikomando oleh Hongjoong, mereka mulai membenahi tempat itu.


Empat orang itu berusaha untuk mencari kompas dan peta. Dua hal menjadi prioritas mereka saat ini. Sangat berbahaya jika berlayar tanpa tau arah dan tujuan. Setelah lama mencari, akhirnya mereka menemukan tumpukan peta dan beberapa kompas.


BRAK!!


Pintu dibuka dengan kasar. Menampakkan San yang membawa beragam makanan di tangannya. Diikuti oleh Yeosang yang membawa makanan lain sama banyaknya. Sedangkan Wooyoung dan Seonghwa melangkah ringan tanpa membawa apapun.

__ADS_1


Perut mereka langsung keroncongan ketika melihat begitu banyaknya makanan. Karena itu, tepat setelah makanan di letakkan di tengah meja, mereka langsung berebut tempat duduk. Sampai Yunho terdorong dan tak sengaja menyingkap tirai hitam yang menutupi suatu benda.


Netra mereka menangkap benda itu. Kedelapannya sama-sama terkejut melihat benda asing yang baru dijumpainya kali ini. Benda itu berwarna keemasan yang memantulkan cahaya mentari. Titik pasir berjatuhan dari atas ke bawah. Memindahkan tumpukan pasir dari satu wadah ke wadah lainnya dalam satu tempat. Benda itu, sebuah jam pasir.


__ADS_2