DYSTOPIA : STRICTLAND | ATEEZ (DISCONTINUED)

DYSTOPIA : STRICTLAND | ATEEZ (DISCONTINUED)
3


__ADS_3

Yunho mengangkat benda itu. Melihat dengan saksama bentuk dan ukirannya. Warna emas yang menjadi pembalut jam pasir itu memantulkan cahaya matahari yang menyinarinya. Satu persatu buliran pasir berjatuhan, menandakan waktu tengah berjalan.


Ukiran pada pegangan jam pasir itu sangat indah. Nampak seperti dipoles dengan kehati-hatian menggunakan keahlian tangan. Benar-benar tampak seperti benda antik yang sangat berharga. Jika dijual, Yunho yakin harganya akan mencapai jutaan rupiah.


Jam pasir itu kemudian diletakkan di tengah-tengah meja. Mereka melihat dengan saksama bagaimana bentuk jam pasir tersebut. Ketika Yeosang mengangkat benda itu, mereka melihat satu ukiran yang tersusun rapi dari deretan huruf. Membentuk satu kata 'CROMER'.


"Ini namanya cromer?" suara San mengudara kala netranya menangkap tulisan itu. Yang lain hanya menganggukkan kepala. Membenarkan pertanyaan San. Dalam hati, Seonghwa bertanya-tanya. Kenapa benda ini ada di sini?


"Sudah. Simpan dulu cromer itu. Ayo kita makan, cacing di perutku sudah berpesta sedari tadi", Jongho mengambil tempat duduk di sebelah Wooyoung yang masih berdiri. Tanpa bicara lagi, yang termuda di antara mereka itu langsung mengambil banyak makanan. Mereka pun menyantap makanan itu dengan tenang. Tak ada yang bersuara, hanya dentingan sendok dan piring saja yang mengudara.


Selesai makan, kini mereka sedang berkumpul dalam suasana lebih santai. Saling bercengkrama, bertukar cerita dan bercanda satu sama lain. Gelak tawa selalu terdengar ketika Jongho melontarkan lelucon. Apalagi tawa Wooyoung yang selalu menggelegar. Setidaknya situasi sekarang lebih baik daripada pertama kali mereka membuka mata.


"Bukankah kita seharusnya membahas sesuatu sekarang?" Mingi bertanya sambil membaca buku yang ditemukannya.


Mendengar pertanyaan Mingi, mereka kembali membangun suasana serius. Atmosfer di sekitar mereka berubah seratus delapan puluh derajat. Tak ada candaan, tak ada gelak tawa. Sudah saatnya membahas rencana agar mereka tidak salah melangkah.


Hening melingkupi mereka. Selalu seperti itu jika ada pembicaraan serius. Pada dasarnya delapan pemuda itu memang sulit untuk berbicara serius. Membahas hal sulit bukanlah tipe mereka. Biasanya mereka hanya akan bercengkrama tanpa ada topik yang harus membuat mereka tertekan.


Beban menjadi bajak laut sangat terasa. Dalam pementasan drama saja, mereka berjuang mati-matian untuk membangun karakter penjahat lautan itu. Berwibawa, memiliki kharisma, tegas, dan karakter lainnya. Membangun suasana yang penuh dengan ketegangan sangat sulit untuk dilakukan. Kini mereka harus bisa membangun karakter itu untuk bisa bertahan.

__ADS_1


Pemikiran bahwa bajak laut haruslah memiliki kesan kuat sangat tidak cocok untuk mereka yang periang. Namun, mereka berusaha kuat untuk bisa membangun sifat itu. Hal ini semata-mata agar mereka tidak dipandang remeh. Kalau bajak laut memiliki mental tempe, lemah, terkesan lembut, maka mereka akan mudah untuk diinjak-injak. Sosok kapten yang memimpin harus memiliki sikap tegas, disiplin, kuat dan penuh wibawa. Hal yang tidak mereka miliki selama ini.


"Kapten. Kita harus menunjuk seseorang menjadi kapten", sahut Wooyoung setelah cukup lama terdiam. Memang, sedari dia bangun, Wooyoung


selalu memikirkan sosok pemimpin. Ia sangat ingin ada seseorang yang bisa mengarahkan mereka.


"Baiklah. Pembahasan pertama, kita harus memilih kapten. Bagaimana pendapat kalian? Apa ada yang memiliki rekomendasi?" tanya Yunho. Dia mengamati teman-temannya dengan saksama. Tatapannya terpaku pada pemuda yang lebih tua darinya. Seseorang yang dia anggap sangat tepat untuk menjadi seorang kapten. Ada sesuatu yang pemuda itu miliki dan hal tersebut tidak dimiliki oleh temannya yang lain.


"Aku merekomendasikan Hongjoong", Hongjoong terkejut. Dia tidak menyangka Seonghwa akan memilihnya tanpa pikir panjang. Matanya bersitatap dengan Seonghwa. Menatap lurus mata indah itu.


"Mengapa aku? Jika kalian bertanya padaku, aku merekomendasikan Mingi dan San. Kalian berdua sangat cocok untuk menjadi kapten", sanggah Hongjoong sambil merangkul dua orang yang disebutnya.


"Jadi sudah bulat. Hongjoong yang akan menjadi kapten kita", final Seonghwa sambil tersenyum ke arah Hongjoong. Tidak bisa berbuat apapun, Hongjoong mengangguk pasrah. Menerima posisi yang diberikan teman-temannya.


"Baiklah. Aku menerima posisi kapten yang kalian berikan. Terima kasih karena sudah percaya padaku. Tapi, aku tidak bisa bekerja sendiri. Aku minta kerjasama kalian", ucapan singkat itu membuat mereka bersorak. Kini perjalanan mereka akan semakin terarah.


"Kapten Joong! Berikan kami tugas pertama!" seru Wooyoung semangat. Yang lain tak kalah antusias. Mereka juga meminta Hongjoong memberi perintah pertamanya.


Hongjoong terkekeh melihat keantusiasan teman-temannya itu. Perasaannya menghangat ketika melihat senyuman lebar dari keluarga keduanya tersebut. "BAIK! SEBAGAI KAPTEN AKU INGIN KALIAN MEMELAJARI PETA YANG ADA! TEMUKAN DARATAN TERDEKAT!"

__ADS_1


Setelah mendengar perintah itu, mereka langsung menyambar tumpukan peta yang sudah ditemukan Yunho dan Mingi. Bahkan mereka berebut untuk mendapatkan peta.


Sedang asyik melihat peta yang akan dipelajari, mata Yeosang tak sengaja melihat satu gulungan yang sudah kusam. Gulungan itu memiliki hiasan pita berwarna emas. Sangat mirip dengan cat yang terdapat pada cromer. Dengan ragu-ragu dia mengambil gulungan tersebut.


"Teman-teman, lihat ini", Yeosang menyodorkan gulungan itu. Mengambil perhatian teman-temannya yang sedang asyik membaca peta. Jongho mendekat pada Yeosang. Mengambil alih gulungan tersebut. Tangannya lihai membuka gulungan itu, melihat tulisan apa yang terdapat di dalamnya.


"STRICTLAND. DUNIA TANPA SENI", hanya dua kalimat itu yang terdapat di sana. Dengan guratan tinta berwarna merah. Tulisannya cukup berantakan. Seperti terburu ketika penulis menorehkannya. Dua kalimat itu terkesan ambigu. Sangat aneh terdengar di telinga mereka.


"Dunia tanpa seni. Apa maksudnya?" tanya Yunho.


"Aku rasa pernah mendengar ini. Dunia tanpa seni. Dimensi di dunia sebenarnya tidak hanya satu. Ada banyak dimensi di kehidupan ini. Hanya saja kita tidak mengetahuinya. Dunia tanpa seni ada di salah satu dimensi itu. Sebuah tempat di mana seni dilarang. Masyarakat tidak diizinkan untuk menggambar, bernyanyi, melukis, mementaskan drama dan hal lain yang berhubungan dengan seni. Mereka yang melanggar akan dicap sebagai penghianat dan mendapat hukuman yang mengerikan. Tetapi, aku tidak tahu, apakah itu nyata dan benar-benar ada atau hanya karangan belaka. Aku mengetahuinya dari buku ini", jelas Mingi panjang sambil memperlihatkan buku yang dibacanya.


Mereka terdiam mendengar ucapan Mingi. Seni sudah mengalir di tubuh mereka. Kehidupan kedelapannya tidak pernah lepas dari keindahan seni. Drama hanya sebagian kecil yang mereka sukai. Di luar pementasan, mereka juga mengasah keterampilan bernyanyi, menari dan yang lain. Tidak akan bisa mereka bayangkan bagaimana rasanya hidup tanpa seni.


"Mereka gila. Bagaimana bisa manusia hidup tanpa seni?" Wooyoung mulai mengomel. Mengkritik bahwa apa yang dikatakan Mingi hanyalah bualan semata. Penuturan tidak suka dari mereka para anti seni. Orang-orang yang membenci seni.


"Kita tidak tahu tentang itu. Tapi, itu bukan masalah. Lebih baik kita sekarang keluar dan arahkan kapal ke Utara. Kita akan singgah di sana beberapa saat", kata Hongjoong. Dia lebih memilih mengenyampingkan hal tersebut. Walaupun dalam hati kecilnya, dia mulai merasakan firasat buruk. Sebuah perasaan yang baru muncul setelah sekian lama.


"AY! AY! KAPTEN!!! MENUJU DARATAN!!"

__ADS_1


***


__ADS_2