
"SEMUANYA BERSIAP!! AYO PERTAHANKAN KAPAL! JANGAN BIARKAN MEREKA MENANG!" Hongjoong berseru semangat. Mata elangnya mengikuti setiap pergerakan kapal lawan.
"Hyung, kita akan baik-baik saja kan?" Wooyoung bertanya lirih. Rasa takut di hatinya memang sudah hilang. Namun, keraguan untuk menyerang masih saja memenuhi batinnya.
Wooyoung bukannya tidak mau mengangkat senjata dan mempertahankan kapal. Tapi, Wooyoung memiliki masa lalu yang tidak terlalu menyenangkan. Bayang-bayang suara pukulan, teriakan dan tangisan, membuat Wooyoung sakit kepala. Hal itu menyebabkan Wooyoung mengalami stres, sampai depresi.
Pernah satu waktu, Wooyoung mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari teman sekolahnya. Wooyoung menjadi korban perundungan. Ia dipukuli oleh beberapa siswa yang mengenakan seragam yang sama dengannya. Jika saja San tidak melihat perundungan itu, mungkin saja Wooyoung sudah tidak ada bersama mereka.
Rasa sakit dari pukulan, dengungan menyakitkan dari suara teriakan, menjadi sebuah alasan mengapa Wooyoung enggan untuk melawan. Sejak kecil Wooyoung sudah merasakan bagaimana sakitnya menahan pukulan. Ia tidak mau melakukan hal sama pada orang lain. Karena menjadi samsak tinju sangatlah menyakitkan. Wooyoung tidak mau dicap sebagai seorang penjahat yang senang memukul orang.
"Tenanglah, Woo. Aku bersamamu. Kami ada di sini. Kita melawan bukan berarti kita menjadi penjahat. Kita hanya berusaha mempertahankan apa yang kita miliki", ucap Hongjoong. Sebagai kapten Hongjoong juga harus memastikan bahwa semua kru kapalnya bisa mengendalikan diri dengan baik. Jangan sampai ada yang lengah dan terluka. Hongjoong berharap tidak akan ada yang terluka parah pada pertarungan pertama mereka.
Mingi masih setia memperhatikan gerak gerik kapal lawan. Senjata yang disiapkan oleh Yeosang dan Yunho sudah cukup untuk melawan. Mereka juga sudah mempelajari bagaimana cara menggunakan senapan dan meriam. Mingi yakin mereka bisa menang jika terus saling percaya dan bekerja sama. Ketika melihat Wooyoung yang sedikit kehilangan arah, hatinya tercubit. Bagaimana pun, Wooyoung adalah salah satu orang yang memiliki pengaruh besar di hidupnya. Mingi selalu terhibur dengan keberadaan Wooyoung di sekitarnya. Jika merasa sedih, Wooyoung lah yang pertama menghiburnya. Memberikan kata-kata penenang. Kini, Mingi merasa Wooyoung membutuhkan hal itu.
"Young, kau tahu? Orang bilang jika kau ingin mendapatkan sesuatu, maka kau harus berjuang untuk mendapatkannya. Sesuatu itu tidak akan bisa kau capai, jika kau hanya berdiam diri. Sama seperti sekarang. Kalau kau tidak ingin kapal kita dirampas, kau harus bisa mempertahankannya. Setidaknya jangan biarkan dirimu terluka", perkataan panjang itu terlontar begitu saja dari mulut Mingi. Teman-temannya membenarkan apa yang dikatakan Mingi dalam hati.
DUAR!!! DUAR!!!
Sesaat mereka mematung. Suara ledakan itu berdengung di telinga mereka. Akhirnya, kapal lawan mulai menunjukkan penyerangan.
"KAPTEN!! PERINTAHMU!" teriakan Seonghwa menyadarkan Hongjoong. Lalu dengan wibawanya, Hongjoong berkata, "PERTAHANKAN KAPAL! JANGAN BIARKAN MEREKA MENANG!! SERANG!!!!"
Sontak mereka berdelapan langsung berlarian. Mengambil senjata dan mempersiapkan meriam. Dua kapal saling berhadapan. Meriam teracung satu sama lain. Bersiap memuntahkan bola-bola yang akan menghancurkan kapal.
Hongjoong bisa melihat dengan jelas keadaan kapal lawan. Bajak laut dengan bendera warna merah itu memandang remeh Hongjoong. Netra keduanya saling bertubrukan. Sorot mata penuh kebencian, dendam dan amarah bercampur menjadi satu. Tatapan mereka saling mengunci. Aura permusuhan menguar dengan kuat.
Hongjoong berdiri di apit Jongho dan San. Tidak ada raut wajah sama sekali. Ketiganya memasang ekspresi datar. Apalagi mereka mendengar lontaran kalimat pertama dari lawan mereka. Membuat pemuda itu langsung mengacungkan senjata.
"Kalian bocah ingusan tidak tahu apapun. Menyerahlah, percuma melawan. Jangan sampai aku menenggelamkan kalian semua", perkataan kapten lawan tentu menyulut emosi delapan pemuda itu.
"Coba saja. Kau pikir, mudah mengalahkan kami?" Hongjoong membalas dengan sudut bibir yang terangkat. Menampilkan seringai yang menawan tapi berbahaya dalam waktu yang bersamaan.
__ADS_1
Seonghwa berani bertaruh. Jika bukan dalam keadaan tegang seperti ini, akan ada banyak wanita yang jatuh hati pada Hongjoong. Pesona yang dimiliki pemuda itu sangat kuat. Tidak bisa dikalahkan. Bahkan, kapten lawan saja terpaku sesaat. Hongjoong, berbahaya. Batin Seonghwa.
"SERANG!!!" kata itu membuat Seonghwa langsung membidik lawan. Sasarannya tidak meleset. Dia berhasil menumbangkan beberapa awak kapal dalam hitungan detik. Kemampuannya dalam menggunakan senapan sangat baik.
Satu per satu, lawan mulai naik ke kapal Hongjoong. Mereka memulai peperangan jarak dekat. Akhirnya, mereka berhadapan secara langsung. Hongjoong tidak bisa melihat jelas wajah lawan.
"Kapten Lei. Begitu mereka menyebutku", ucap kapten Lei, memperkenalkan diri. Walaupun pekerjaannya kotor, tapi Kapten Lei tidak melupakan sopan santun. Ia dengan sopan memperkenalkan dirinya pada Hongjoong. Wajah Kapten Lei tertutupi oleh topeng. Meski demikian, Hongjoong mengetahui kalau kapten Lei tengah menyeringai padanya.
"Kapten Hongjoong, namaku. Senang berkenalan dengan anda", setelah membalas, Hongjoong langsung menyerang tanpa celah. Dia tidak memberikan sedikitpun jeda pada Kapten Lei untuk membalas.
Tidak jauh dari tempat Hongjoong, ada Yunho yang berusaha menghindari serangan lawan. Dengan kemampuan seadanya Yunho berusaha untuk melumpuhkan lawan. Gerakannya lincah dan bertenaga. Lawan kesulitan membalas serangan Yunho. Pertarungan pun dimenangkan oleh Yunho yang berhasil menyayat perut lawan.
Sama dengan Yunho yang menguasai permainan, Yeosang pun dengan lihai menembaki lawan satu per satu. Di dekatnya, Jongho mengarahkan moncong meriam pada kapal lawan. Keduanya saling bekerja sama. Sangat efektif untuk membuat lawan tumbang.
"Hyung, bidikanmu benar-benar tepat. Tidak ada satu pun yang meleset", Yeosang tersenyum mendapat pujian dari Jongho. Dia menyempatkan untuk mengusak surai Jongho.
"Nanti aku akan mengajarimu. Sekarang fokus lagi. Tembakan meriam itu pada kapal lawan", Jongho mengangguk. Dia kembali memfokuskan diri untuk membidik kapal lawan. Jongho sangat geram. Rasanya ingin sekali menenggelamkan kapal milik lawan. Karena itu, yang termuda memilih untuk menghancurkan kapal milik lawan.
Wooyoung dan San saling membelakangi. Mereka yang paling banyak dikepung oleh lawan. San memegang erat pedangnya. Dia memasang sikap defensif. Bersiaga dan menyerang. San juga memastikan bahwa Wooyoung tidak terluka. Meskipun San tahu, Wooyoung bisa melawan, ia tetap khawatir temannya yang itu terluka.
Tidak berbeda dengan San, Wooyoung juga merasakan hal yang sama. Wooyoung mengkhawatirkan San yang selalu saja menghalangi lawan untuk meraihnya. Padahal Wooyoung juga bisa melawan mereka dengan kekuatannya sendiri.
"BIARKAN AKU MELAWAN SAN!" terlampau geram, Wooyoung berteriak. Suaranya membuat telinga San berdengung. Dengan berat hati, San menyingkir. Memberikan kesempatan bagi Wooyoung untuk melawan.
Pertarungan dua kelompok bajak laut itu semakin memanas. Tidak ada yang mau mengalah sama sekali. Mereka sama-sama tangguh dan kuat. Keinginan untuk mempertahankan kapal sangat kuat. Mendorong mereka bertarung sampai ke titik darah penghabisan.
Beberapa jam telah terlewati. Belum ada tanda-tanda pertarungan akan usai. Hongjoong sudah mulai kelelahan. Buliran keringat mengucur dari wajahnya. Tubuhnya terdapat luka yang cukup banyak. Sama seperti teman-temannya yang lain. Tidak ada yang tidak terluka.
Lelah sudah menerpa tubuhnya. Wooyoung kehilangan fokusnya. Hal ini tentu tidak disia-siakan oleh Kapten Lei. Sudah banyak kru kapalnya yang terkapar. Hanya tinggal tersisa beberapa saja. Rasa gengsi yang menyelimuti kapten Lei, membuatnya enggan untuk menyerah.
"BERHENTI ATAU AKU BUNUH DIA!" Kapten Lei menyandera Wooyoung. Pedang yang sedari tadi berdenting dengan pedang Hongjoong, sekarang bertengger manis di leher Wooyoung. Merasakan besi dingin itu menyapa kulit lehernya membuat Wooyoung gemetar. Matanya melebar, bibirnya mengatup rapat.
__ADS_1
"LEPASKAN WOOYOUNG!!" Yunho berteriak sambil mengarahkan pistol ke kepala kapten Lei. Tidak menghiraukan teriakan Yunho, Kapten Lei berjalan ke arah tepian sambil membawa Wooyoung. Yunho tidak bergerak. Tangannya ingin menekan pelatuk, agar timah panas itu bisa menembus tubuh kapten Lei. Tapi, dia takut bidikannya meleset dan malah melukai Wooyoung.
"Kau tidak berani melakukannya, bukan? Aku ambil dia. Setidaknya aku tidak sendirian"
"AAAAAAAHHHHHHH"
Kapten Lei langsung menceburkan dirinya sendiri bersama Wooyoung ke lautan. Teriakan Wooyoung adalah yang terakhir mereka dengar. Delapan pemuda itu terpaku sesaat. Mencerna apa yang baru terjadi. Seonghwa adalah orang pertama yang sadar. Tepat sebelum Seonghwa ikut melompat, Mingi menahannya.
"WOOYOUNG!!!"
Hari itu, setelah pertempuran pertama mereka, Wooyoung pergi. Meninggalkan mereka bertujuh dengan rasa sedih yang membelenggu di hati.
***
...*HAI!!!!...
BEE DI SINI!!!!
GIMANA KABARNYA HARI INI?
BEE BALIK LAGI DENGAN CERITA PIRATE ✨*
*JANGAN LUPA TINGGALIN JEJAK YA🙌!!!
DUKUNG BEE DENGAN VOTE DAN KOMEN!!
TERIMA KASIH❤️!
SAMPAI JUMPA DI CHAPTER BERIKUTNYA!!!
SALAM HANGAT DARI BEE🤗!!
__ADS_1
BYE BYE👋*!!!