DYSTOPIA : STRICTLAND | ATEEZ (DISCONTINUED)

DYSTOPIA : STRICTLAND | ATEEZ (DISCONTINUED)
7


__ADS_3

"Hey, Yeosang! Kau baik?" San bertanya pada pemuda di sebelahnya. Yeosang menoleh pada San. Wajahnya yang tampan terlihat lelah. Baru beberapa jam mereka kehilangan Wooyoung, tapi Yeosang sudah terlihat sangat kacau. Bajunya acak-acakan, luka bekas pertempuran tadi masih terlihat. Lebam di wajahnya masih membiru. Yeosang, dia menolak untuk diobati.


"Obati lukamu, Sang. Wooyoung akan memukulku nanti kalau dia tahu, sahabat tersayangnya babak belur seperti ini", San tidak lelah membujuk Yeosang. Baru kali ini dia melihat Yeosang sangat terpukul. Biasanya Yeosang lah yang selalu terlihat kuat dan mampu menghadapi semua masalah dengan tenang. Malah Mingi pernah menduga bahwa Yeosang tidak memiliki perasaan. Manusia es yang. berhati dingin. Begitulah mereka menjuluki Yeosang. Tapi, sekarang Yeosang membuktikan bahwa dirinya juga manusia yang memiliki perasaan.


"Kalian berdua! Jangan hanya diam! Sebentar lagi kita sampai! Cepat siapkan barang yang harus dibawa!" teriak Mingi pada San dan Yeosang. Tanpa mengucap apa pun Yeosang langsung beranjak pergi. Meninggalkan San yang mendengus sebal. Ternyata dari tadi dia tidak diperhatikan sama sekali.


"Ck! Bagus San! Kau ditinggal", dengan gerutuan sebal San mengikuti langkah Yeosang. Keduanya masuk ke dalam kapal dan mulai mengemas barang yang sekiranya diperlukan.


"Bawa uang yang ada di sana. Kita akan sangat membutuhkannya. Bawa semua juga tidak masalah", Yunho berkata sambil membawa tumpukan peta yang telah dipelajari. Dia bersama Mingi masuk bersama. Kini, keempatnya berada di satu ruangan yang sama.


Aura yang dikeluarkan Yeosang masih terasa sangat suram. Walaupun mereka sudah berusaha membangun suasana yang lebih ceria, tapi itu tidak berlaku bagi Yeosang. Suasana hati Yeosang masih kacau berantakan. Dia tidak bisa berhenti memikirkan Wooyoung di luar sana. Entah bagaimana keadaan Wooyoung sekarang. Yeosang tidak bisa membayangkannya.


Mingi sudah menyerah menghadapi sikap Yeosang yang semakin dingin. Tatapan tajam dan raut wajah datarnya membuat Mingi mengurungkan niat untuk mengajak Yeosang bicara berdua.


"Jangan terlalu berpikir keras. Percayalah kalau Wooyoung pasti baik-baik saja sekarang", kata Yunho. Tidak dikatakan pun sudah jelas siapa orang yang sedang dia ajak bicara. Tangan Yunho masih sibuk memilah peta yang akan dibawa serta. Matanya juga tidak beralih dari gambar-gambar di peta.


"Tidak ada yang tahu tentang hal itu. Bisa saja Wooyoung sedang membutuhkan bantuan sekarang", balas Yeosang datar. Tiba-tiba saja aura yang di sana menjadi tegang. Yunho mengerti akan kekhawatiran Yeosang. Tapi, mereka tidak bisa mengikuti apa keinginan Yeosang. Bahan makanan untuk bekal mereka saja sudah hampir habis. Jika mereka memaksakan berlayar tanpa tujuan, bisa saja mereka akan mati di perjalanan. Resiko seperti itu tidak bisa diambil begitu saja.


"Sudah! Jangan diteruskan. Jangan membuat suasana makin keruh!" Mingi menengahi. Dia tidak ingin suasana semakin memburuk. Bukan hanya Yeosang saja yang masih mengeluarkan aura suram. Seonghwa juga sama. Tapi, aura suram dari Seonghwa tidak seseram aura milik Yeosang saat ini.


San menghela napas pelan. Jika suasana tidak kunjung membaik, sesuatu yang buruk mungkin saja akan terjadi. Menulikan telinganya, San hanya fokus dengan barang-barang yang akan dimasukkan ke dalam tas jinjingnya. Sudah ada dua tas yang terisi penuh oleh barang yang dianggap San penting.


"Apa kau yakin akan membawa barang sebanyak itu?" tanya Mingi saat melihat tas yang San siapkan. San mengangguk. "Semua barang ini adalah milik kita semua. Tentu barangnya pasti banyak", alibi San. Mingi tak menyahut lagi. Dia mengalihkan perhatiannya pada Yeosang yang sedang mengamati Cromer.

__ADS_1


"Yeo, apa yang kau lakukan? Kenapa melihat Cromernya seperti itu?" Yeosang menolehkan kepalanya pada Mingi sedetik. Lalu pandangannya kembali tertuju pada benda di hadapannya. Tangannya tidak berhenti mengusap jam pasir itu. Mata Yeosang semakin menajam ketika melihat pantulan sinar dari Cromer.


"Aku benci benda ini. Mengingatkanku pada kenangan buruk yang tidak pernah ingin aku ingat lagi", jawab Yeosang dengan datar. Perilaku yang dia lakukan sangat berkebalikan dengan perkataannya. San mengerutkan alisnya bingung. Kenapa pernyataan Yeosang terdengar seperti dia sudah mengenal benda itu sejak lama? Ingin San mengatakannya, tapi ia urungkan. San tidak ingin situasi bertambah buruk.


Yunho melihat Yeosang sejenak. Mencerna perkataan Yeosang. "Kau pernah melihat jam pasir sebelumnya?" Yeosang sedikit tersentak mendengar pertanyaan Yunho.


Yeosang memusatkan perhatiannya pada Yunho. Kini dua netra bertatapan satu sama lain. Entah kenapa Yunho merasa kalau Yeosang menyembunyikan sesuatu dari mereka. Apakah Yeosang merahasiakan sesuatu dari semua orang, termasuk Wooyoung? Pertanyaan itu terus terngiang di benak Yunho.


"Ada seseorang yang pernah memberiku benda ini sebelumnya. Dan aku menyesal menerima benda sialan itu!" intonasi Yeosang sedikit naik. Membuat San sedikit kaget di tempatnya. Perkataan Yeosang semakin membuat Yunho dan Mingi berspekulasi aneh. Dugaan bahwa Yeosang memiliki rahasia semakin menguat di benak mereka berdua. Untuk saat ini, biarlah mereka berdua menyimpannya.


"Aku sudah selesai mengemas semuanya. Aku keluar lebih dulu. Tolong kalian bawa sisanya", San berdiri dan melenggang keluar. Satu tas berukuran cukup besar ia gendong di punggungnya. Saat di luar, San bisa melihat Jongho menatap lautan dengan nanar. Dia pun menghampiri adiknya itu.


"Jongho. Bagaimana perasaanmu?" sebagai kakak San tentu tidak ingin adiknya bersedih terlalu lama. Dia ingin terus mengetahui bagaimana kondisi adiknya itu. Walaupun Jongho tidak lahir dari rahim yang sama dengannya, tetap saja mereka memiliki satu ayah. Ya, dengan kata lain, San dan Jongho adalah saudara tiri.


San hanya bisa menepuk bahu Jongho. Tidak banyak yang bisa San lakukan. Selain memberikan dukungan moral dan menyemangati adiknya itu. Karena San pun merasakan hal yang sama dengan Jongho. Sama-sama kehilangan. Namun, di lubuk hatinya, San terus berdoa dan berharap agar mereka dipersatukan kembali. Menjadi kesatuan yang utuh seperti sebelumnya.


"DARATAN!!! KAPTEN SEBENTAR LAGI KITA SAMPAI DI DARAT!!!" teriakan Seonghwa mengambil semua atensi. Dari balik teropong, Seonghwa bisa memastikan bahwa ada pelabuhan yang cukup ramai di sana. Menandakan ada kota yang bisa mereka singgahi untuk beristirahat dan menambah perbekalan yang dibutuhkan.


"SIAP SEMUANYA!!! KITA AKAN MENEPI DAN BERISTIRAHAT DI SANA SEJENAK!!" Hongjoong berkata dengan semangat. Yeosang, Yunho dan Mingi juga sudah keluar dari dalam kapal. Kini ketujuhnya sedang menunggu perintah untuk menurunkan layar dan menurunkan jangkar.


15 menit kemudian, Hongjoong memberikan perintah yang mereka tunggu-tunggu. Ketujuhnya mulai sibuk melakukan tugasnya. Setelah kapal berada di tepian, mereka kemudian bersiap turun dari kapal.


"Baiklah. Kita akan menghabiskan waktu setidaknya dua sampai tiga hari di sini. Kita cari penginapan dulu, lalu memutuskan apa yang akan dilakukan setelahnya", ucap Hongjoong. Ia kemudian turun lebih dulu diikuti oleh yang lainnya.

__ADS_1


"Pada akhirnya, aku kembali ke sini", ucap seseorang dengan sangat lirih.


***


HAI!!!!


BEE DI SINI!!!!


GIMANA KABARNYA HARI INI?


BEE BALIK LAGI DENGAN CERITA PIRATE ✨


SIAPA YA ORANG YANG BICARA DI AKHIR?


JANGAN LUPA TINGGALIN JEJAK YA🙌!!!


DUKUNG BEE DENGAN VOTE DAN KOMEN!!


TERIMA KASIH❤️!


SAMPAI JUMPA DI CHAPTER BERIKUTNYA!!!


SALAM HANGAT DARI BEE🤗!!

__ADS_1


BYE BYE👋*!!!


__ADS_2