DYSTOPIA : STRICTLAND | ATEEZ (DISCONTINUED)

DYSTOPIA : STRICTLAND | ATEEZ (DISCONTINUED)
10


__ADS_3

Jongho, Mingi dan Hongjoong berjalan tak menentu. Mereka melangkahkan kaki secara asal. Melihat-lihat sekitar penginapan yang mereka sewa. Tidak jauh berbeda sebenarnya tempat ini dengan dunia mereka.


Bagaimana mereka tahu kalau ini bukan dunia mereka? Itu karena beberapa hal terlihat mencolok perbedaannya. Peradaban di kota ini jauh lebih maju. Mereka bahkan melihat ada mobil terbang di sana. Walaupun baru terhitung jari.


"Hyung, apa kita bisa bertahan di sini?" Jongho bertanya lirih. Hatinya selalu diselimuti ketakutan tak berdasar. Jongho sangat takut tidak bisa menyesuaikan diri dengan kondisi di sana. Terutama jika dia dilarang menyanyi. Pasalnya, Jongho sangat menyukai bernyanyi. Namun, di sini, hal itu dilarang keras.


"Kita akan mencoba, Ho. Apapun yang terjadi, kami tidak akan meninggalkanmu atau yang lain. Kita juga akan membawa Wooyoung kembali", ujar Hongjoong.


Sebagai kakak tertua dan kapten, Hongjoong merasa bahwa dirinya harus bisa menguatkan semua orang. Menjadi sandaran bagi adik-adiknya. Membiarkan mereka menangis di bahunya. Dan menyampingkan perasaannya sendiri.


Jika kalian bertanya siapakah pembohong ulung di antara delapan pemuda itu, maka jawabannya adalah Hongjoong. Dia selalu memasang wajah sok kuatnya. Menyembunyikan semua kekhawatiran, kesedihan, dan kesakitannya dalam-dalam. Hanya Wooyoung yang berhasil mengetahui semua itu. Wooyoung lah yang paling pandai mendeteksi suasana hati seseorang. Hongjoong tidak pernah bisa membohongi temannya yang satu itu.


Mingi yang berada di tengah memerhatikan gerak-gerik Hongjoong. Tidak mengerti apa yang sebenarnya dirasakan kaptennya itu. Dan tidak tahu tindakan macam apa yang harus dilakukan. Mingi memang menjadi orang yang memasang badan pertama jika ada yang mengganggu temannya. Tapi, dalam hal memahami suasana hati seseorang, Mingi sangat payah.


"Hyung! Lihat! Sepertinya ada sesuatu di taman itu", seru Mingi.


Pemuda jangkung itu melangkahkan kakinya dengan semangat ke sana. Sayup-sayup telinganya mendengar suara yang sangat dikenalnya. Setelah diperhatikan baik-baik, matanya menangkap San dan Yeosang berada tepat di depannya.


"Dengar semuanya. Seni itu membicarakan keindahan. Suci dan murni. Pementasan seni seperti pertunjukan drama malah membuat banyak orang terhibur. Mereka yang lelah bekerja bisa mendapatkan tawa dari pertunjukan drama yang dipentaskan. Itu lah yang dinamakan seni. Tidak seperti yang orang itu katakan", San berkata dengan lantang.


Mingi tidak berkedip mendengar perkataan San. Jongho dan Hongjoong juga sama. Keduanya terpana akan semua ucapan San. Namun, ketiganya belum memahami duduk permasalahannya. Jadi, mereka hanya diam dan mengamati. Tidak ikut campur dalam pembicaraan.


"Apa yang kau katakan, anak muda? Tidak ada pertunjukan drama yang menghibur. Orang-orang selalu ketakutan setelah melihat pertunjukan drama. Para pemain drama bersikap seolah mereka membawakan cerita untuk menghibur, namun di belakang para pemain itu malah menyerang. Menimbulkan kekacauan dan perpecahan. Jangan terpengaruh olehnya. Anak ingusan seperti dia tidak memahami perkataannya sendiri".


Mingi mengepalkan tangan tidak terima. Hongjoong menahan tangan Mingi. Memintanya untuk tidak mengeluarkan apapun dari mulutnya. Walaupun dalam lubuk hatinya, Hongjoong ingin memukul wajah pria di atas mimbar itu.


"Saya paham betul dengan apa yang saya katakan. Anda takut masyarakat malah menyetujui apa yang saya katakan. Bukan begitu, tuan?"


Hongjoong, Mingi, dan Jongho menyeringai bersamaan. Sangat puas dengan jawaban San. Tiga orang itu menunggu balasan si pria sombong di mimbar.


"Menentang perkataan saya, sama dengan menentang pemimpin. Tangkap dia!"


"LARI SAN! YEO!"

__ADS_1


San dan Yeosang terkesiap mendengar teriakan itu. Reflek, keduanya melarikan diri dari tempat itu. Tidak, itu bukan teriakan Jongho, Mingi, ataupun Hongjoong. Namun, Wooyoung. Teriakan itu milik Wooyoung.


Hongjoong melihat sekitar. Netranya membulat menangkap sosok Wooyoung ada di tengah kerumunan. Wooyoung, pemuda itu juga berlari. Langkahnya mengikuti arah San dan Yeosang.


"Wooyoung", ucap lirih Mingi.


Jongho menarik tangan Mingi dan Hongjoong untuk ikut berlari. Pasalnya orang-orang itu juga tiba-tiba mengejar mereka. Entah kenapa. Padahal yang memprovokasi hanya San.


"TERUS LARI!!!"


Wooyoung memberi instruksi. Tangannya menggapai tangan Yeosang. Menuntunnya ke arah yang bahkan tidak diketahui Yeosang. San, Mingi, Jongho, dan Hongjoong mengekor di belakang.


Perasaan mereka campur aduk. Bisa melihat Wooyoung lagi merupakan hal membahagiakan sepanjang hidup mereka. Sungguh, hati mereka lega.


DOR!!!


DOR!!!


DOR!!!!


"Aduh!! Kenapa mereka malah nembak sih?!" gerutu Wooyoung.


"Berhenti! Berhenti atau kami tembak kepala kalian?!" ucap salah satu orang yang mengejar mereka.


"Terus lari! Berhenti atau lari sama aja! Sama-sama ditembak!!" Wooyoung terkekeh mendengar perkataan Yeosang. Sesekali dirinya melihat ke belakang. Orang-orang itu masih mengejar.


"Ck! Beraninya keroyokan! Mana bawa senjata lagi!" gerutu Wooyoung.


San yang di belakangnya tertawa kecil. Membuat Wooyoung mendelik ke arahnya.


Mata Wooyoung membulat melihat dua sosok temannya yang lain. Mereka tengah asyik memilih beberapa sayuran di sana. Dengan pikiran jahilnya, Wooyoung berteriak pada mereka juga.


"Seonghwa Hyung!!! Yunho!!! Ayo lari!!!!"

__ADS_1


Seonghwa dan Yunho terlonjak kaget. Keduanya ditarik paksa oleh San dan Mingi untuk ikut berlari.


DOR!!!!


DOR!!!


DOR!!!


Dan semakin kaget mendengar tembakan beruntun yang dilayangkan pada mereka. Seonghwa tersentak untuk sesaat. Teriakan tadi, teriakan yang selalu terngiang di benaknya. Temannya, adiknya, saudaranya, Seonghwa yakin itu teriakan Wooyoung.


"Apa tadi Wooyoung?" tanya Seonghwa.


"Iya. Wooyoung di depan, sama Yeosang", jawab Hongjoong seadanya.


Langkah kaki delapan pemuda itu mengarah ke hutan. Sebuah hutan yang cukup luas dan belum terjamah.


Wooyoung memelankan langkahnya setelah merasa memasuki tengah hutan. Pemuda itu tertawa melihat teman-temannya yang terengah.


"Capek, ya?" tanya Wooyoung ringan.


"PIKIR SENDIRI SANA!" Wooyoung tertawa mendengar bentakan itu. Dirinya tidak merasa tersinggung sama sekali mendengar itu.


"Eh, Yeo? Kamu nangis?" mata Yeosang sangat merah dan berkaca-kaca. Mata itu mengeluarkan buliran air yang semakin lama semakin deras.


"Syukurlah! Aku kira kamu mati dimakan hiu atau tenggelam!" Yeosang memeluk Wooyoung dengan erat.


"Hei! Kamu kira aku ini lemah?! Sudah jangan menangis! Aku baik-baik saja dan sekarang kita bertemu lagi. Jadi, berhenti menangis", Wooyoung mengelus punggung Yeosang lembut. Menenangkan pemuda itu agar tidak terus terisak.


Dalam hitungan detik, semua teman-temannya memeluk Wooyoung dengan erat. Bahkan, wajah pemuda itu memerah. "Hoi! Udah! Lepasin!! sesek ini!!" protes Wooyoung.


"Untung kamu baik-baik aja, Woo", ucap Yeosang.


"Aku bakalan selalu baik-baik aja", jawab Wooyoung sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kok kalian bisa ada di sini?" Wooyoung menatap mereka penuh selidik. Berdasarkan cerita dari Jun, Wooyoung mulai khawatir dengan kondisi yang ada. Apalagi pada teman-temannya. Wooyoung tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi. Ditambah lokasi mereka berpijak saat ini adalah pusat kota STRICTLAND.


"Kami mencarimu, Woo".


__ADS_2