ELENA..ISTRI MUDA, TUAN JUNA

ELENA..ISTRI MUDA, TUAN JUNA
DUASATU.


__ADS_3

Ya Tuhan... Ciuman pertama ku.


Hilang....


Juna membelai rambutku, aku semakin tenggelam dalam ciuman ini, Juna .. Jika ia tak berhenti secepatnya aku yakin bibirku akan bengkak, Dia seolah telah lama tak mencium seseorang, sangat kasar dan tak sabaran, dasar mesum.


Tapi kenapa aku menikmatinya?


Merinding , geli dan entahlah, tidak dapat ku gambar kan rasanya. Tapi aku sungguh menikmati ini.


Arjuna benar -benar berpengalaman .


Tak seperti ku yang hanya bisa diam saja, mematung.


" Maaf ku rebut ciuman pertama mu, aku tak ingin kau lari lagi dariku", ucap Juna datar.


' Sial ', aku masih saja deg.degan .


" Malam ini , kita tidur saja disini", ucap Juna.


" Kita?", tanyaku.


" Yaa... Kau harus belajar menjadi istri ku kan?", tanya Juna.


" Aku sudah bisa.. Tak perlu belajar!!", kataku.


" Yang barusan saja, kau masih seperti patung begitu, malam ini ku ajari kau sampai bisa ", goda Juna.


" Tuan Juna .. Jika kau berani melakukan hal itu lagi, aku akan menghajar mu", jeritku.


" Hhhaa ... Kau manis sekali Lena", ucap Juna.


" Aku sangat ingin kau hajar", kata Juna.


" Berhenti menggodaku Tuan Juna", ucapku sebal,


Aku langsung merebahkan diriku ke kasur, menarik selimut dan menutup seluruh badanku sampai tak terlihat oleh Juna.


Tapi Juna tetap saja memelukku dan tidur di samping ku.


Aku menyerah tak ingin berdebat dengan Juna. Aku memejamkan mata dan tak tahu kapan aku mulai terlelap dalam tidurku.


**


Pagi itu aku bangun dengan Juna yang masih tertidur di sampingku.


Aku sudah tidak tertutup oleh selimut, Ahh, pasti Juna sudah membuka nya. Tiba-tiba aku takut jika Juna telah melakukan hal yang tidak-tidak.


Tapi ternyata tidak , aku tidak merasakan sakit apapun. Pakaian ku lengkap.


" Tuan Juna... Bangun", kataku.

__ADS_1


Juna menggeliat, rasanya ia masih malas untuk bangun.


Aku menggoyangkan badannya lebih kencang.


" Bangun!!!", aku sedikit berteriak.


" Aku dengar Len ..." , ucap Juna.


Dia bangun dengan ogah-ogahan.


Kami berdua bersiap -siap untuk kembali pulang.


**


Aku pulang ke rumah dan disambut dengan tangis haru dari Bunda .


" Ada - ada saja ini Len, Bunda gak mau yaa kamu pakai acara kabur - kaburan kaya begini lagi", kata Bunda sambil memelukku.


" Habisnya kesel Bun.. ini orang gak ada tegas - tegasnya , aku merasa gak dihargai tau", kataku sambil menunjuk Juna yang berdiri tepat di sampingku.


" Tau enggak.. malah nak Juna ini yang kelimpungan mati - matian nyariin kamu lhoo... " , sahut Bunda.


" Iyaa Bun.. ini orang pokoknya yang salah", kataku juga gak mau kalah.


" Untung kamu ketemu.. sembunyi dimana sih? ", tanya Ayahku yang menghampiri aku. Aku langsung memeluk ayahku.


" Deket ternyata, cuma sekitar lima kilo meter dari rumah, masih di pusat kota juga. Aku sampai menganga gak percaya Elen punya ide sehebat itu, untung Bunda memberikan masukan sesuai kebiasaan Elen", kata Juna sambil tersenyum puas.


" Ayoo duduk dulu nak Juna... kita sarapan bersama dulu yaa", ajak Bunda.


" Ehh iyaa nih , sudah sama Juna .. hahhaha.. iya , Oke tetap lanjut sesuai rencana saja yaa... Baik..Baik.. hhhaaa", Ayah mematikan telepon nya.


" Dari siapa Yah? ", tanya ku penasaran.


" Om Hendri, tanya kamu sudah ketemu belum", jawab Ayah.


" Aku bingung gimana minta maaf sama Tante Sherly dan Om Hendri", kataku.


" Tenang saja, Mama Papa gak marah kok, mereka memaklumi ", Juna mengedipkan matanya.


Aku hanya memasang wajah datar, 'Dasar Juna bodoh', batinku.


Bunda , Ayah dan Juna masih di ruang makan dan sedang berbincang-bincang , Aku pergi ke kamar untuk membersihkan diri.


Aku benar-benar tak habis pikir rasanya , kenapa kini aku sangat bahagia dan tak sabar menanti hari pernikahan ku. Padahal baru saja seminggu yang lalu rasanya aku sangat tidak peduli dengan pernikahan ini. Kini seakan sudah berbalik seratus delapan puluh derajat.


' Apa aku benar-benar jatuh cinta pada Juna?', aku bicara sendiri sambil menatap pantulan wajahku di cermin.


Lalu aku teringat pertanyaan Kelvin tempo hari yang menanyakan apa aku telah jatuh cinta pada Juna. Saat itu aku sama sekali belum bisa menjawab, apa jika kali ini ada pertanyaan yang sama aku akan menjawab 'iya'?


" Len , Kesini sebentar", Ayah berteriak padaku, aku langsung keluar dari kamar dan menuju ke ruang mereka semua berkumpul.

__ADS_1


" Ada apa Yah?", tanyaku dengan tergesa-gesa.


" Kamu ini gimana? Ada Calon suami malah mengurung diri di kamar", tanya Ayah.


Aku melihat Juna tersenyum dengan bangga.


" Bukan gitu, aku cuma mandi bentar saja kok", kataku membela diri.


" Nak Juna sudah mau pulang tuh.. ", ucap Bunda.


Juna segera berpamitan dengan Ayah dan Bunda ku, lalu aku mengantarnya hingga ke pintu depan.


" Jangan kangen padaku yaa", kata Juna.


" Enggak mungkin", ucapku ketus.


" Kamu yaa.. memang menggemaskan!!! Ahh iyaa..kemaren aku sudah meminta izin mu kan? Aku akan sangat sibuk, dua sampai tiga hari ke depan .. Mohon kamu jangan sampai salah paham lagi yaa", jelas Juna.


" Karena lima hariku telah terbuang sia-sia untuk mencari mu, aku harus menyelesaikan semua pekerjaan yang menunggu ", sambungnya lagi.


" Ahhh .. rasanya sangat disayangkan yaa, padahal aku sangat ingin bersamamu", Juna tiba -tiba memeluk ku .


" Emmh . . apa kamu butuh bantuan ku?", tanyaku pelan.


" Ahh.. benar juga.. aku punya istri konsultan bisnis yang handal kenapa tak ku manfaatkan", Juna membelai rambut ku.


' sial ... sial ... aku merinding lagi ', kataku pada diriku sendiri.


Aku memikirkan ciuman pertama ku tadi malam. Sungguh Juna telah meracuni otakku.


" Nanti sayang... Aku pasti akan butuh bantuan mu", katanya.


Dia melepaskan pelukannya , dan lagi tersenyum genit padaku.


" Jangan terus berusaha berpura-pura Len, kamu terlalu sensitif", bisiknya di telingaku.


Aku menatapnya dengan tajam, mungkin mataku hampir melotot. Juna tertawa kecil dan langsung masuk ke mobilnya, melajukan mobilnya dengan pelan.


" Kurang ajarr kamu Jun...!!!", aku meneriakinya. Entah dia mendengar atau tidak


Ishhh, betapa malunya aku, ternyata dia tahu kalau aku sangat menikmati sentuhan-sentuhan nya.


Oh tidak, rasanya aku ingin mengubur kan diriku saja, sungguh aku malu.


" Ada apa sayang?", tanya bunda ku yang sudah ada di belakang ku.


Aku menggelengkan kepala.


" Apa ada yang terjadi antara kamu dan nak Juna", telisik bundaku.


" Tidak bun... Tidak ada apapun yang terjadi", ucap ku menyembunyikan diri.

__ADS_1


" Ya sudah kalau begitu... Ayoo masuk", kata bunda..


***


__ADS_2