
" Pagi sayang", kata Juna.
Aku baru saja membuka mata ku, dan Juna sudah terlihat seceria ini?
Pikiran negatif ku langsung malayang kemana- mana, apa mungkin Juna sudah?
Aku melihat tubuhku sendiri... Memastikan yang sebenarnya tak perlu kupastikan.
" Kau ini, jangan berpikiran yang macam-macam, aku kan sudah bilang , tak akan ku lakukan jika kau belum setuju", kata Juna.
" Ehh, aku , memang aku kenapa?" , tanya ku berpura-pura bodoh.
" Kau pikir aku tak tahu apa yang sedang kau pikirkan itu? ", ucap Juna.
Aku tersenyum.
" Dasar !! Sangat menggemaskan ", ucap Juna sambil mengacak-acak rambutku.
Anehnya, saat ini aku merasa bahagia, entah karena apa, tapi perhatian Juna pada hal-hal sekecil ini, baru saja ku rasakan. Jadi aku menikmati apapun yang Juna coba lakukan untuk menarik perhatian ku.
" Cepat mandi , Ayah dan Bundamu pasti sudah menunggu ", kata Juna .
" Emm, tuan Juna.. Boleh kita tak usah pergi saja?", pinta ku.
" Kenapa?" , tanya nya.
" Aku masih capek , masih ingin tidur", jawab ku.
" Sudahlah.... Cepat mandi sana!", jawab Juna, tidak mendengarkan pintaku.
Aku dengan ogah berjalan lunglai ke kamar mandi.
--
Selesai mandi, aku tak mendapati Juna di kamar, pasti dia sudah ke bawah, selesai beres-beres , aku langsung menyusul nya.
Kulihat Ayah dan Bunda dengan beberapa kerabat tengah berbincang.
" Nahh ini, Elena sudah siap, gimana kita berangkat sekarang? ", tanya ayahku.
" Ayah dan bunda serta yang lain bisa berangkat dulu, Aku akan menunggu Elena sarapan dulu", kata Juna.
" Ealah, nak Juna benar-benar yaa , kalau lama ditinggal saja Elana nya!!", kata Bunda.
Aku menghela nafas, tak memperdulikan semuanya.
" Bun.. Mereka masih ingin berduaan sepertinya, Romantis begini jangan hanya di awal pernikahan, harus selalu dan selamanya yaa", ucap Ayah.
" Tentu saja", kata Juna mantap.
Aku melengos pergi ke dapur mencari sesuatu untuk dimakan.
" Gimana yah? Kita berangkat duluan atau nungguin Elena? ", tanya bunda.
" Udahlah .. Kita duluan saja, sambil bantu-bantu disana nanti... Jun, Ayah Bunda dan yang lain, berangkat dulu , nanti kamu sama mobilnya mas Budi yaa", ucap Ayah
" Oiya Yah...", jawab Juna.
" Hati - Hati yaa nak, sekarang Elena jadi tanggung jawab mu", kata Bunda.
Aku melihat Juna tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
Rombongan Ayah dan Bunda berangkat lebih dulu , benar-benar meninggalkan aku. Aku merasa kesal sekali pada Juna, karena dia yang meminta Orang tuaku untuk meninggalkan aku.
Juna menyusul ku dan duduk tepat disampingku,
" Ayoo, lekas selesai kan makannya" , ucap Juna sambil memainkan hp nya.
Entah siapa yang dihubungi nya, tapi ia nampak serius sekali.
" Siapa? ", tanyaku sambil menunjuk hp nya.
" Sony,, dia di rumah saat ini, ikut mengatur persiapan di rumah ", ucap Juna.
Aku mengangguk pelan.
" Hei... Kau sudah mulai protektif yaa.." , kata Juna .
" Aku hanya bertanya ya tuan Juna... Hanya karena penasaran saja" , ucap ku.
" Kau sudah makan ", tanyaku kacau, sangat terlihat jika aku sedang mengalihkan topik pembicaraan.
" Sudah sayang, disamping protektif sekarang kau juga mulai perhatian yaa..", kata Juna.
Aku melanjutkan makan ku tanpa memperdulikan omongannya lagi.
" Tuan Juna...", kataku lirih.
" Hmm? ", Juna menunggu ku berbicara.
" Apa boleh kita disini saja hari ini? Rasanya ada yang mengganjal di hatiku. Aku takut ke rumah mu", ucapku.
Juna langsung memeluk ku.
" Kamu enggak mengerti.. Aku rasa hari ini hari sial ku", kataku.
" Sudahlah...Aku akan menerima hari sial mu juga", Juna tersenyum
Juna melepaskan pelukannya, Aku menggerutu sendiri. Entah mengapa rasanya dari tadi jantungku berdebar, jadi aku merasa takut pergi kemana -mana.
Aku dan Juna segera menaiki mobil yang dikendarai oleh Pak Budi, sopir pribadi Ayahku.
" Gimana , sudah siap non ", tanya pak Budi.
" Ya ..", ucap ku, setelah Juna menutup pintu mobil.
Mobil melaju pelan tapi mantap.
" Kau masih kesal? ", tanya Juna.
Aku menggelengkan kepala.
" Lalu kenapa? ", Juna masih bersikeras.
" Entahlah... Rasanya aku tak nyaman saja" , jawab ku.
Juna menggenggam tangan ku, seakan bicara kalau semua akan baik-baik saja.
--
Acara di rumah Juna berjalan dengan cepat karena sebenarnya ini adalah rangkaian acara adat saja.
Ini adalah acara dimana Aku diserahkan pada keluarga Juna, orang tuaku meminta pada orang tua Juna untuk merawat dan menganggap ku adalah anak sendiri.
__ADS_1
Tentu saja, pihak keluarga Juna juga melakukan hal yang sama.
Tanpa berlama-lama, kedua keluarga segera bersalaman untuk acara terakhir dan acara penutup. Ini untuk mengantar kepergian orang tuaku setelah selesai menyerahkan ku pada pihak mertua ku.
Bunda menangis terharu, aky pun merasa sesak nafas, akhirnya aku harus berpisah dari orang tuaku, dan harus menjalani status baru menjadi istri seseorang.
Dan saat yang mengharu biru itulah , terdengar suara wanita yang menjerit dengan keras.
" Juna!!!", teriak seorang wanita.
" Juna!!!!!", teriakannya membuat semua orang menoleh ke arahnya.
Tak terkecuali Juna yang tepat di samping ku.
Setelah seperkian detik aku menyadari siapa sosok wanita itu, saat ingin bicara pada Juna , Juna sudah berlari , menghampiri wanita itu memeluknya dann..
' Brengsek, dia lupa sekarang akulah istrinya, beraninya dia memeluk wanita lain tepat di hadapan ku', jeritku dalam hati.
" Anna, kamu Anna? ", suara Juna masih bisa kudengar, ada kebahagiaan disana.
Entah akhirnya dia ingat baru saja menikahi ku atau apa akhirnya dia melepaskan pelukannya pada wanita itu, Juna memandangku dengan nanar. Aku menatapnya dengan kebencian.
" Iya Jun.. Ini aku, aku masih hidup Juna.. Akhirnya aku kembali", ucap wanita itu, Anna.
Semua yang ada di ruangan itu berkasak -kusuk, saling berbisik . Mereka sama syok nya dengan kami,
" Tidak mungkin", Hendri Mulya akhirnya menghampiri Juna.
" Maksudnya apa ini? Kau bangkit dari kubur? " , Hebdri Mulya meninggikan suaranya.
" Pah .. Aku masih hidup ", ucap Anna.
Mama Sherly terjatuh lemas, air mata tang tadinya adalah tangis haru nan bahagia kini berubah menjadi tangis kesedihan. Kelvin segera membopong mamanya... Mendudukkannya di kursi.
" Vin .. Bagaimana ini? ", tanya mama Sherly sambil menangis dalam pelukan Kelvin.
" Mah.. Tenang yaa, mama tenang ", ucap Kelvin.
Braghh
Aku mencari sumber suara, Ahh sial Bunda ku...
Aku yang sedari tadi hanya mengamati Juna dan keluarga Mulya , lupa jika disini ada Ayah Bunda ku.
Bunda melihat semuanya, pasti saking syok nya , Bunda hingga pingsan.
" Bund... Bunda...", ucap Ayah,
Tapi nihil, bunda enggan sadar.
Sony segera berlari menghampiri Bunda dan membopongnya menuju mobil, Aku berlari mengikuti nya.
" Kak Sony, segera bawa bunda ku ke rumah sakit" , teriakku pada Sony.
Sony mengangguk.
" Elena...", Juna mencoba menghentikan ku saat aku melewati nya.
Tapi aku tak menghiraukan dan segera membawa Bunda ke rumah sakit.
***
__ADS_1