
" Bagaimana keadaan Bunda? ", tanyaku.
" Bunda baik - baik saja sayang", ucap bunda sambil tersenyum.
Air mata bunda menetes, meratapi nasib putri semata wayangnya.
" Maafkan aku sayang, ini semua salah Bunda, andai kami...", Bunda berhenti bicara karena aku memeluk nya.
" Bun... Aku sudah mengatakan ini bukan salah siapapun, ini adalah takdir , dan saat ini mungkin takdir sedang tidak berpihak padaku, tapi it's oke , aku akan melewati nya ", ucapku.
" Nak Juna, kau sudah berjanji padaku kan , untuk selalu menjaga dan membahagiakan Elena, jika sampai Elen terluka.... ", ucap Bunda.
" Aku berjanji!! Ku pastikan Bund, Elena akan selalu bahagia", ucap Juna.
'Dasar si Juna yang bodoh itu, beraninya berjanji pada Bunda ku, sendirinya tak tahu akan melakukan apa pada si istri pertamanya. Ahh, bodohnya aku yang terperdaya pada wajah tampan nya itu, IQ nya benar-benar jongkok..' aku menggerutu sendiri.
Aku akan selalu bahagia katanya ? Bagaimana mungkin?
" Lalu apa yang akan nak Juna lakukan pada dia?", tanya Bunda.
" Untuk sementara aku menampungnya Bund , aku tak bisa membiarkan dia sendirian, tadi ia sempat ingin bunuh diri", ucap Juna.
Aku kaget, senekat itukah wanita itu.
" Ya Tuhan, lalu bagaimana keadaannya?", tanya Bunda.
" Kelvin berhasil menggagalkannya, dia sekarang baik- baik saja", ucap Juna.
" Terlalu beresiko kalau begitu membiarkan nya diluar , apalagi sendirian, ia bisa sangat nekat,, tapi bagaimana sebenarnya status hubungan kalian? ", tanya Ayah .
" Kamu baru saja menikah, dan jika orang tahu istri pertama yang dikira mati hidup kembali, apa tidak akan membuat sensasi dan gossip?", sambung Aya.
Inilah yang ingin kutanyakan juga padanya, apakah mereka masih terikat hubungan suami-istri yang sah?
" Sebenarnya, sejak meninggalnya Anna, pengacara pribadi keluarga Mulya sudah membuat akta kematian nya, Kartu tanda penduduk ku juga sudah berganti status akibat adanya nya akta kematian Anna menjadi status duda. Tapi jujur saja saat ini aku juga bingung status kami ini apa, karena ternyata dia belum meninggal " , jelas Juna.
" Untuk media paman dan bibi tenang saja, kami masih bisa mengatasinya, banyak media dibawah perusahaan kami", bela Kelvin.
Ayah nampak cukup lega dengan mendengar jawaban Juna dan Kelvin
" Bolehkah Bunda bertanya dengan serius ?", tanya Bunda pada Juna.
Juna mengangguk.
" Akankah kamu akan meninggalkan Elena nak?", Bunda terlihat sedikit khawatir.
" Tidak akan", kata Juna.
Lagi-lagi, aku ingin sekali berteriak di wajah Juna.. Dia harusnya tidak pernah membuat Janji kosong pada Bunda.
Setelah suasana mereda , Aku meninggalkan rumah sakit atas perintah Ayah dan Bunda. Kelvin mengantarkan kami ke kediaman Wijaya meskipun awalnya ia sangat menggerutu karena ia hanya dijadikan sopir oleh kakak nya.
" Sampaikan pada papa dan mama jika aku ditempat istriku", ucap Juna.
Kelvin hanya mengangguk dan segera mengendarai mobilnya dengan cepat dan menghilang dari pandangan kami.
__ADS_1
Juna berusaha menggandengku tapi aku menepisnya dan berjalan cepat memasuki rumah.
Mbok Siti menyambut kami,
" Gimana keadaan Nyonya Naya non?", tanya mbok Siti
" Baik Mbok", jawabku singkat.
" Syukurlah kalau begitu... Den Juna dan Nona ini mau dibuat kan makanan untu makan malam?", tanya nya lagi.
" Enggak usah mbok, segera istirahat saja, sudah malam", ucap Juna.
Mbok Siti mengangguk, aku berjalan cepat menuju kamar ku dan Juna mengekor di belakang.
" Kau jangan menghindari ku seperti ini!!", ucap Juna menarik tanganku tepat setelah kami memasuki kamar.
" Lepas, aku mau mandi", ucap ku menahan marah.
" Aku akan memandikan mu", kata Juna.
" Apa urat malu mu benar-benar putus tuan Juna, di saat seperti ini kau malah berpikiran mesum", kata ku.
" Apapun yang terjadi , kau adalah istriku", bisik Juna.
Ingin sekali aku menampar pria ini, tapi dia adalah suami ku. Bagaimana pun keluarga Wijaya mengutamakan adab dan sopan santun.
" Tuan Juna, lepaskan aku, aku benar-benar ingin mandi", kataku dengan lirih.
Aku berharap aku yang tidak memberontak ini akan membuat Juna senang dan tidak memaksaku mengikuti kemauan nya lagi.
" Tuan Juna, kita....", kataku terbata.
" Kita adalah pasangan suami-isteri yang sah " , kata Juna.
" Sakit", kataku .
Juna tak menyadari cengkeraman tangannya semakin menguat dan membuat pergelangan tangan ku sakit.
" Maaf", kata Juna , ia mendudukkan aku di tepi ranjang.
Dia langsung berlutut di depanku, mencium tanganku.
" Maafkan aku", kata Juna.
" Tuan Juna, tadinya aku ingin minta cerai darimu", kata ku sedikit gelisah.
Juna menatap ku dalam- dalam.
" Bagaimana mungkin kau bisa memikirkan hal semacam itu?", Juna melepaskan tanganku dan dia segera berdiri, berjalan memunggungi ku.
Ia terlihat marah.
" Bagaimana lagi, istrimu yang paling kau cinta dan tak bisa kali lupakan itu sudah kembali... Aku yang dari awal hanyalah alat untuk mengamankan posisi mu , tak pantas bersaing dengan nya", kata ku.
" Kau gila Elena... Aku sudah bilang, pernikahan itu sakral, aku tak suka mempermainkan nya", Juna masih belum melihat ke arah ku.
__ADS_1
Sepertinya kali ini ia benar-benar marah pada ku.
" Tapi aku mengurungkan niatku, aku teringat kata si mbok, jika ada masalah itu kita harus melewati nya, bukan melarikan diri", kata ku.
Juna masih terdiam.
" Saat aku sadar akan hal itu, untunglah masih belum terlambat , aku tidak akan melarikan diri lagi dan menambah masalah baru bagi kalian semua", ucapku.
" Baik lah. . terserah saja ", ucap Juna yang langsung pergi menuju kamar mandi.
' Sial, sepertinya dia malah marah padaku? Harusnya aku kan yang sekarang marah padanya.'
" Tuan Juna, kau marah?", tanyaku sambil menggedor-gedor pintu.
Tapi tak ada jawaban, aku hanya bisa menunggu nya keluar.
Sepuluh menit berlalu, Juna keluar hanya memakai sehelai handuk untuk menutupi pinggangnya.
" Carikan aku pakaian" , ucap Juna .
" Pakaian mu?", tanyaku.
" Ku buang!! Istriku tak suka aku beraroma wanita lain", Juna nampak acuh pada ku.
Dia duduk bersandar pada ranjang, memainkan hp nya.
Aku segera mencari pakaian terbesar ku, tapi melihat dada nya sebidang itu, aku tak yakin akan muat.
" Pakaian terbesar ku", ku berikan padanya.
Dia hanya mengangguk.
" Kau marah?", tanya ku.
" Apa kau peduli aku marah atau tidak, ? Cepatlah mandi sebelum terlalu larut", ucap nya.
Kenapa rasanya aneh sekali saat dia marah seperti ini, Aku jadi sangat merasa bersalah, aku menyesal mengatakan tentang perceraian.
Aku ingin Juna yang bersemangat dan memperhatikan ku.
Aku sungguh galau. Aku segera mandi dengan cepat, aku harus menyelesaikan kesalahpahaman ini.
Tapi selesai aku mandi, ku dapati Juna sudah tertidur, memakai bajuku yang ketat sungguh membuat nya tidak seperti lelaki dewasa seperti biasanya. Tidak terlihat sebagai bos Mulya Grup.
" Tuan Juna, kau tidur?", aku mendekati nya.
" Maafkan aku, tapi setidaknya harusnya kau tidak membuatku cemburu dengan langsung berlari memeluk nya di depan mataku.. ", kata ku.
" Sudahlah... Percuma bicara, dia juga sudah tertidur",
Aku membaringkan tubuh ku menghadap pada punggung Juna. Aku ingin memeluk nya .
Juna tersenyum mendengar semua perkataan Elena.
***
__ADS_1