ELENA..ISTRI MUDA, TUAN JUNA

ELENA..ISTRI MUDA, TUAN JUNA
DUASEMBILAN.


__ADS_3

Entah berapa lama aku berada di cafetaria ini, rasanya baru sebentar. Tapi ku lihat langit sudah mulai menggelap. Aku memang menghabiskan banyak waktu disini untuk melamun, bahkan teh matcha kesukaan ku tidak habis separo gelas.


Aku benar-benar ingin apa yang terjadi hari ini adalah sebuah mimpi dan aku akan segera bangun. Tapi semakin aku sadar , rasanya jadi semakin sakit. Dadaku sesak sekali, ingin berteriak meluap kan segala emosi.


Setelah menerima message dari Ayah jika Bunda sudah dipindahkan ke ruang rawat inap , aku segera bangkit dari dudukku, tergesa-gesa ingin segera menemui bunda ku.


Saat sampai disana, ku lihat dari pintu Bunda sedang tidur dan Ayah juga sepertinya ketiduran di tempat duduk. Dari wajah ayah ku, ku lihat gurat kelelahan dan kesedihan, aku tak kuasa melihat mereka lagi. Ku putuskan untuk duduk menunggu di depan kamar.


Ayah dan Bunda ku adalah orang yang teguh pendirian, mereka berpacaran sejak kuliah, tapi karena restu untuk menikah tak kunjung di dapat dari orang tua Bunda akhirnya mereka menikah di usia yang terlalu matang itu juga karena Bunda mengancam tidak akan pernah menikahi lelaki manapun selain Ayah. " so sweet ", tapi juga sangat sadis.


Itulah juga mengapa di usia hampir menginjak lima puluh tahunan aku baru seumur ini dan hanya menjadi anak semata wayang untuk mereka.


Tiba-tiba sebuah cup gelas kopi panas ada di depan ku,


" Kopi len " , ucap Sony.


" Terimakasih", aku mengambil cup gelas itu dan hanya memegang nya.


" Kau kenapa belum pulang kak? ", tanyaku.


" E, itu karena aku sedang menunggu seseorang ", ucap Sony.


" Kau tidak boleh minum kopi" , tangan seseorang menarik paksa cup gelas itu dari tanganku, Aku hanya bisa melihatnya.


" Jun... ", Sony menyapa karibnya.


" Terimakasih sudah menangani semua yang ada disini, kau boleh pulang", ucap Juna.


Sony merenggangkan otot-otot nya.


" Baiklah, karena sudah ada bos besar, aku bisa untuk pulang. Elena... Jangan lupa beristirahat", kata Sony.


Aku tersenyum padanya, dan Sony segera melangkah kan kaki nya meninggalkan kami.


Juna tidak sendiri, selang beberapa saat Kelvin berjalan ke arah kami.


" Parkiran penuh, aku harus memutar jauh ", kata Kelvin.


" Pantas saja lama", kata Juna.


Ia menyerahkan kopi pada adiknya itu.


" Minum ini" , ucap Juna.


Kelvin menerima nya dan mulai meneguknya sedikit demi sedikit.


" Itu punyaku", ucapku akhirnya keberatan kopi itu di minum orang lain.


Kelvin mendongak melihat ke arahku.


" Maaf Elena... Kak Juna memberikan ini padaku, kupikir ini punya nya", ucap Kelvin.


" Siapa yang Kau panggil Elena?", Juna memukul Kelvin.


" Panggil dia kakak Ipar, dia istri ku", sambung Juna.


" Maaf kak ipar" , ucap Kelvin sambil sedikit menggerutu.

__ADS_1


" Kau tak ingat, minum kopi akan membuatmu tak bisa tidur", Juna memarahiku.


" Bukan urusanmu ", kataku jengkel.


" Oyyya? Kau yakin bukan urusanku?", Juna memegang tangan ku dan duduk di samping ku. Aku menggeser kan badan untuk menjauh darinya, ku coba melepaskan genggaman tangan nya.


" Cukup... Stop dulu", ucap Kelvin.


" Jangan lakukan apapun di depan mataku, aku masuk dulu ke dalam", sambung Kelvin segera memasuki kamar inap Bundaku.


" Apa kau sungguh tak tahu malu? Adik mu saja malu", ucapku, masih mengibaskan genggaman tangannya.


" Aku merindukanmu", ucap Juna dengan suara bergetar.


Aku sedikit tersentak.


" Kau merindukanku? Atau merindukan istrimu yang baru hidup dari kematian nya?", tanyaku sinis.


" Elena... Aku sungguh tidak tahu , mengapa Anna bisa hidup lagi", kata Juna.


" Tapi kau sangat bersemangat tadi", kata ku.


" Aku? Tidak !!!", ucap Juna.


" Lalu siapa yang berlari bersemangat untuk memeluk nya?", bentakku


Aku mengingat kembali bagaimana dia berlari memeluk Anna, mungkin jika dia tidak lupa jika disana banyak orang dia akan langsung mencium nya dengan bergairah, karena sudah lama tidak bertemu wanita itu.


" Kau cemburu?", tanya nya.


" Kau gila??", aku memalingkan muka.


" Bermimpi lah saja kau!!", kata ku.


Juna memelukku, dengan erat.


Tapi tiba-tiba bayangan ia sedang memeluk Anna terlintas di benak ku, itu membuat ku kesal.


" Lepaskan!! Aku tak suka ada bau wanita lain di tubuh mu", kata ku.


Juna perlahan melepaskan pelukannya. Ia tersenyum lebar


" Baiklah setelah ini kita pulang, Aku akan mandi", ucap Juna.


" Aku sangat bahagia jika kau protektif pada ku", sambung nya.


Aku tak menghiraukan nya.


" Bunda mu menyuruh Kak Juna masuk", ucap Kelvin menghampiri kami. Untung saja ia tak sempat melihat pertengkaran ku dan Juna.


" Aku?", tanyaku.


" Hanya Kak Juna, kau disini dulu", ucap Kelvin.


Juna memasuki ruang inap Bunda.


Aku merasa aneh, kenapa hanya Juna? Aku lah anak kandungnya kan?

__ADS_1


" Kenapa?", tanya Kelvin.


" Kenapa Bunda tidak ingin bertemu denganku?", kataku parau.


Kelvin mengangkat bahu nya.


" Aku sudah bilang kan, kamu akan menyesal jika tetap menikahi Kakakku ", ucap Kelvin.


" Maksudmu?", tanya ku.


" Yaa... Kau sekarang sedang menyesal kan?", kata Kelvin.


Aku memang kecewa, tapi aku tidak semenyesal itu menikahi Juna. Benar, benih-benih perasaan ku sedang tumbuh untu nya.


" Sebenarnya aku tak ingin menyeret mu ke dalam masalah keluarga Mulya, tapi , sepertinya semua perkiraan ku benar", ucap Kelvin.


Aku memandang nya, tak mengerti apa yang sedang di bicarakan nya.


" Ku pikir , kakak ku memang sedang diincar, maka dari itu aku membiarkan kalian yang menikah dan ternyata boooommm, dugaan ku benar. Jika kita yang menikah, tidak akan ada drama ini", sambung Kelvin.


" Jangan bertele-tele, aku sama sekali tak mengerti ", ucapku.


Kelvin mengeluarkan rokok electrik nya, semerbak bau cappuccino mendadak menyelimuti ku lewat kepulan asap-asap putih.


" Kurang lebih setahun ini aku berusaha menangkap Anna", ucap nya.


" Kau...", aku tercengang.


Selama ini Kelvin tahu? Kenapa tidak bilang? Anak ini benar-benar keterlaluan.


" Aku tak punya bukti jika itu adalah Anna", kata Kelvin kembali menghisap rokok nya.


" Maksudmu kau tahu Anna masih hidup?", tanya ku.


" Tidak, aku tak yakin itu Anna atau orang lain", kata Kelvin


Aku kebingungan mencerna kata-katanya, Kelvin memang orang yang aneh.


" Saat aku sedang liburan di London, mama mengabari ku jika Anna kecelakaan dan koma. Tapi aku bertemu dengan orang yang mirip dengan Anna di London. Ku pikir orang yang ku lihat adalah orang yang hanya sekedar mirip , tapi tidak ia sangat sama, karena penasaran aku selalu mengikutinya, tapi teman -temannya memanggil nya dengan nama Flo , Florensia. Jadi aku memutuskan untuk berhenti mencari tahu , Aku berpikir saat itu, Aku hanyalah berdelusi", jelas Kelvin.


" Saat mendengar Anna meninggal aku juga buru-buru ingin pulang, saat itu aku masih di Sydney untuk berkuliah, tapi sahabat ku di London memfoto kan jika Anna sedang bersama laki-laki Lain entah siapa, Lalu aku menyuruh sahabat ku mengikuti nya, ku batalkan semua penerbangan ku pulang, aku kembali terbang ke London untuk mencari tahu. Tapi nihil, jejak Anna tak terdeteksi lagi", ucap Kelvin.


" Kenapa kau tak ceritakan sebelumnya padaku?", tanya ku.


" Aku sudah bilang aku tak punya bukti, Lagi pula jika itu adalah benar-benar Florensia bagaimana? Dan saat ini masih tinggal di London bersama entah itu pacar atau suaminya, Apa aku tidak akan membuat kegaduhan?", jelas Kelvin.


Kelvin benar, jika dia bukan Anna bagaimana?


" Dan ini , dia kembali saat kakak menikah, aku takut dia sedang merencanakan hal buruk untuk kakak", kata Kelvin.


" Ayoo kita beritahu kan pada Juna..", kata ku.


" Jangan Len... Lebih baik Juna tidak mengetahui nya, aku akan mencari cara untuk mencari bukti dan menangkap basah Anna, aku masih menyelidiki nya", ucap Kelvin.


" Setidaknya jika Juna tahu, dia bisa menjaga dirinya dari wanita itu", ucap ku .


" Kan Juna sudah memiliki mu. Kau istrinya, jadi kau yang harus menjaganya ", kata Kelvin.

__ADS_1


" Apa- apaan kau ini", kataku kesal.


***


__ADS_2