ELENA..ISTRI MUDA, TUAN JUNA

ELENA..ISTRI MUDA, TUAN JUNA
DUADELAPAN.


__ADS_3

Aku terdiam duduk di depan ruang IGD, aku tak mengerti kenapa semua bisa terjadi kepada ku. Aku juga bukan orang yang jahat, tapi kenapa seakan-akan Tuhan ingin menghukum ku.


" Elen... ", kak Sony duduk di samping ku.


" Bunda mu aman, tidak ada yang serius... Hanya terkejut sedikit, setelah ini mereka akan memindahkan ke ruang rawat inap. Dokter minta Bunda di rawat disini semalam agar tetap terpantau", jelas kak Sony.


" Kak, aku sangat berterima kasih", kata ku.


Aku sangat bersyukur bunda tidak kenapa-napa.


" Sama -sama, kau sudah menganggap ku kakak, maka dari itu aku juga menganggap mu adik", Sony tersenyum.


" Apalagi beliau sekarang adalah mertuanya Juna", sambung Sony.


Benar , tapi Juna tak ada disini, tidak menemani ku. Ahh pasti ia sedang menemani istri pertamanya. Rasa marah di dadaku kembali lagi, sama marahnya saat aku melihatnya memeluk wanita itu.


" Kak.....", aku sangat ingin meminta pendapat Sony saat ini, tapi kenapa malah nyaliku ciut.


" Aku memahami apa yang sedang kau pikirkan...kita semua syok dan kaget atas apa yang terjadi. Aku juga... . Aku ikut ke pemakaman Anna Len... Tapi sekarang tiba-tiba dia hidup kembali dan datang ke Juna", ucap Sony, mengerti apa yang sedang ku pikir kan.


" Apa mungkin kalian salah orang?", tanya ku.


Sony terdiam sejenak. Sepertinya ia sedang berpikir.


" Entahlah Len, itu mungkin saja, karena...", Sony tak melanjutkan perkataannya.


" Karena apa ?", tanyaku antusias.


" Tubuh Anna tak bisa dikenali lagi", jawab Sony.


Aku mencerna kata-kata nya, bukan kah Sony bilang Anna koma selama setahun lebih, bagaimana mungkin tak bisa di kenali.


" Tubuh Anna rusak parah karena kecelakaan itu dan terbakarnya mobil yang ditumpangi nya, wajah nya hancur, selama koma , wajahnya di tutup perban, hanya dokter dan suster yang mengganti perbannya", jelas Sony.


" Wait, pikiran ku masih belum bisa mencerna, Tapi mereka apa tidak diberi tahu wajah aslinya atau ciri ciri tubuh nya, atau bagaimana?", tanya ku.


" Susah Len... benar -benar tak dapat dikenali lagi saking parahnya, dan yang bisa menjelaskan dia Anna hanya barang -barang yang di kenakan nya, seperti cincin, kalung, dan tas serta hp yang rusak... Semua masih ada bersama nya, hanya itu yang membuat Juna yakin dia adalah Anna", ucap Sony.


" Pantas saja , dia bisa kembali dengan keadaan sempurna. Kalian salah orang", kataku datar.


" Entahlah Len.. Ini pasti juga berat untuk Juna. Sebagai istrinya kamu harus menguatkan dirinya", kata Sony.


Aku memandang Sony dengan senyuman, dia tulus memikirkan Juna. Bukan hanya sebagai seorang Asisten tapi dia benar benar sahabat sejati nya Juna.


" Lalu siapa yang menguatkan ku kak ? ", kata ku datar.


Sony tersentak,


" Maaf Len.. ", ucap nya.


" Sudahlah kak " , kataku.

__ADS_1


Saat ini siapa yang paling dirugikan? Bukankah aku?


Ayah datang dengan langkah cepat, di ikuti beberapa kerabat dan asisten nya.


" Yah...", kata ku langsung memeluk Ayahku.


Sony mengabarkan semuanya, jika bunda dalam kondisi baik dan harus di rawat inap untuk semalam.


" Syukurlah jika tidak ada yang serius", ucap Ayah.


Ayah mengelus rambutku, mencoba menenangkan aku.


Sony dan Ayah langsung berbicara mengenai apa yang sudah ia lihat dan dengar di rumah Juna.


Aku duduk terkulai lemas,


' Dia benar-benar Anna', batin ku.


Sedari tadi aku mencoba denial, meyakinkan diriku sendiri jika itu bukan Anna meskipun semua logika sudah ku pakai. Tapi nihil. Dia Anna. istri pertama Juna yang telah kembali.


'Aku harus mengakhiri hubungan ini. Aku tak bisa menjadi istri kedua' , hatiku meronta -ronta.


" Hilang ingatan?", kata Sony. Ia nampak tak percaya mendengar cerita semacam itu.


Aku tak bisa bicara apa apa lagi.


Rasanya lidahku kelu.


" Semua orang nampak tidak percaya pada ceritanya, tapi aku tidak begitu mengenal Anna, aku tidak bisa menilai itu benar atau cuma kebohongan", ucap Ayah.


" Maafkan ayah nak", kata ayah masih memegang bahuku.


" Ini bukan salah siapapun yah, ini murni takdir kan? ", kata ku mencoba menghibur ayah yang terlihat terguncang.


" Andai ayah tidak memaksamu menikahi Juna ..", ayah terhenti karena Aku menggelengkan kepala ku , tanda menyuruh nya berhenti bicara.


" Aku menikahi Juna juga atas persetujuan ku sendiri, jangan merasa paling bersalah. Kami akan mencoba mengatasi ini ", kataku.


" Baiklah, aku tahu meskipun umur mu masih muda, kau pasti akan bersikap dewasa, itu yang selama ini kau lakukan sayang", ucap Ayah.


Aku tersenyum mengangguk, menyembunyikan kekecewaan yang tak bisa ku deskripsi kan.


" Sekarang pergilah mencari angin, makan atau minum agar pikiran mu tenang sayang ", ucap Ayah .


Aku mengangguk,


Benar... Aku membutuhkan udara segar untuk bisa berfikir dengan jernih.


" Baiklah, aku akan ke cafetaria di bawah, jika ada apa-apa tolong telpon aku", ucapku.


Aku pergi dengan berjalan gontai.

__ADS_1


--


*Percakapan Sony dan Juna di telepon


Sony : " Aku suah dengar semuanya dari om Arnold apa yang terjadi disana",


Juna : " Kepala ku rasanya mau pecah Son, hari bahagia ku berubah menjadi mimpi buruk",


Sony : " Tenanglah, pasti ada jalan keluarnya ",


Juna : "Kau tetap disana, temani Elena sampai aku datang",


Sony : "Baiklah, tapi Elena begitu terpukul, aku tidak tega melihatnya",


Juna : " Aku akan meminta maaf padanya nanti..",


Sony : "Bagaimana kau akan meminta maaf? Apa kau bersalah?",


Juna : " Apa maksudmu Son?" ,


Sony : " Ini bukan salah mu Jun.. Kita semua tahu dia sudah mati..",


Juna : " Tapi dia kembali Son",


Sony : " Anggap saja dia bangkit dari kubur, tolong jangan sampai salah langkah menghadapi ini, sekarang ada Elena , dia juga harus kau jaga kan" ,


Juna : " Papa dan Mama juga menyuruh ku agar tidak salah langkah, aku tak mengerti maksud nya",


Sony : " Apa kau bodoh bosss? Maksudnya jangan sampai kau kembali pada Anna.."


Juna : " Menurut mu apa dia masih sah sebagai istri ku?"


Sony : " Tentu saja tidak, kau gila?" ,


Juna : " Dia mencoba bunuh diri Son.. Dia ingin menyayat tangan nya sendiri",


Sony : " Anna memang sudah gila...",


Juna : " Dia juga menderita Son... Aku tidak bisa membiarkan nya sendirian.. Sementara ini aku akan menampung nya",


Sony : " Kau gila, bagaimana dengan Elena",


Juna : " Aku akan bicara dulu dengan nya",


Sony : " Aku yakin dia akan minta di ceraikan saja" ,


Juna : " Tutup mulut mu",


Sony : " Tentu saja begitu, dari raut wajahnya saja aku sudah bisa melihat isi hatinya",


Juna : " Aku tidak akan pernah melepaskan dia. Jaga dia, aku akan segera kesana",

__ADS_1


Juna menutup telpon nya.


***


__ADS_2