Elzio(A)

Elzio(A)
Bab 1


__ADS_3

Jam sudah pukul 11 malam tetapi Elzia belum pulang membuat Elzio khawatir. Padahal sudah sejak jam 3 sore tadi waktunya pulang sekolah, tapi sampai kini Elzia belum pulang juga.


"Elzia kamu kemana sih? Jam segini belum pulang gak tau orang khawatir apa?" Ucap Elzio yang sejak tadi mondar-mandir sambil melihat handphonenya.


Elzia tidak bisa dihubungi sejak tadi, hal itulah yang membuat Elzio semakin khawatir. Elzio menghela nafas lelah lalu duduk di kursi kayu. Baru saja mendudukan diri ia mendengar suara motor didepan rumah. Buru buru ia beranjak dari duduknya dan segera keluar.


Nampak Elzia yang baru turun dari montor tukang ojek. Elzio segera menghampiri Elzia dengan sedikit berlari.


"Kamu dari mana aja jam segini baru pulang?" Tanya Elzio langsung yang mana mengagetkan Elzia.


Elzia memegang dadanya terkejut ia kira Elzio sudah tidur, "Kakak belum tidur ini udah malem loh?"


Elzio berdecak sebal, "Bisa bisanya kamu nanya gitu?Kakak khawatir sama kamu ya kali bisa tidur nyeyak. Kakak ulangi sekali lagi kamu habis dari mana?" Tanya Elzio sekali lagi dengan nada tinggi.


Elzia segera menyeret Elzio untuk masuk ke rumah. Mereka masih didepan rumah takut nanti jika ribut malah membangunkan para tetangga.


Elzio menghembuskan nafasnya kasar. Apalagi setelah melihat adiknya berjalan dengan pincang tanpa aba-aba Elzio segera mengendong Elzia.


Elzia terkejut dengan reaksi elzio yang tiba-tiba, "kak turunin aku!" Elzia memberontak dalam gendongan Elzio. Tetapi Elzio semaki mengeratkan gendongannya.


Elzio segera mendudukan Elzia dikursi dan dia berdiri di hadapan Elzia. Elzio akan mengintrogasi Elzia malam ini.


"Ini lagi kaki kamu kenapa? Sudah pulang malem bikin khawatir sekarang ditambah kaki kamu. Kamu bener bener bikin kakak marah ya."


"Kak tenang aja,  besok pasti juga sembuh. Maaf tadi gak ngabarin kakak. Hp aku mati," ucap Elzia dengan suara kecil.


"Terus kamu dari mana saja?" Tanya Elzio lagi ia sudah muak bertanya hal yang sama tapi tidak dijawab juga.


"Aku dari rumah Bu Tania. Aku kerja disana lagi," ucap Elzia dengan nada takut. Takut kalau elzio marah.


"KAKAK UDAH BILANGIN KAMU BERKALI KALI JANGAN KERJA DISANA LAGI! KAMU GAK DENGERIN KAKAK?!" Benar kan Elzio langsung marah. Elzia hanya bisa menangis dengan isakan kecil.


Elzia menunduk ketakutan, "pasti ini juga perbuatannya Vania kan?" Ucap Elzio sambil menunjuk kaki Elzia.


"B-bukan ini karena aku yang ceroboh makanya jatuh dan jadi kaya gini."

__ADS_1


Elzio meraup wajahnya kasar. Elzia keras kepala sudah dinasehati berkali kali tetap saja ngeyel.


" Oke kali ini kakak maaafin, tapi ini yang terakhir kali. Kakak lihat kamu kerja ditempat itu lagi atau kamu kerjada dimana aja. Kakak gak akan biarin kamu keluar dari rumah tanpa kakak."


Elzia menggeleng dengan air mata yang menetes, "tapi aku kerja juga mau bantuin kakak. Aku gak mau ngrepotin kakak terus. Aku enak dirumah sedangkan kakak kerja capek capek, itu serasa gak adil buat aku."


"Memangnya kakak pernah ngerasa direpotin kamu?" Elzio menatap tajam Elzia.


"PERNAH KAKAK TANYA?"


Isakan Elzia semakin keras dan semakin menundukan kepalanya. Elzio yang kelepasan membentak Elzia segera memeluk tubuh elzia.


"Shttt jangan nangis lagi maafin kakak. Kakak cuma gak mau kehilangan kamu lagi, kakak takut."


Elzia mengeratkan pelukannya dan mengangis dengan kencang,  "m-mmafin Elzia juga hiksss...."


Elzio menatap Elzia yang kini tertidur di dekapannya. Dengan perlahanan Elzio menggendong tubuh Elzia dan membawanya ke dalam kamar.


"Selamat tidur Zia." Elzio mengusap rambut Elzia sebelum keluar dari kamar.


Pagi sudah tiba Elzia meregangkan tubunhnya yang kaku. Dia menguap lebar lalu melihat ke arah nakas. seketika matanya membola kaget. Dengan segera dia beranjak dari kasurnya dan berlari ke kamar mandi. Sekarang sudah jam 7, Elzia telat datang kesekolah. padal hari ini ada ulangan harian matematika.


"Bisa-bisanya kak Zio gak bangunin aku," gerutu Elzia sambil mengenakan sepatunya.


"KAK ZIO!" Teriak Elzia, namun tidak ada jawaban. Jangan-jangan Elzio meninggalkannya lagi.


Elzia segera berjalan keluar kamar dengan tampilan yang tidak rapi. Rambut yang dikuncir asal tanpa disisir terlebih dahulu, baju yang belum dimasukan, dan tas yang tersampir di bahu. Elzia sekilas melirik ke meja makan ada sepiring nasi goreng dan catata kecil.


Kamu gak usah kesekolah dulu dirumah aja. kakak udah masakin nasi goreng jangan lupa dimakan.


...-Zio...


Seperti itulah kata-kata yang ada di catatan yang dibalas Elzia dengan decakan kecil. Elzia melewati meja makan tanpa memakan nasi goreng yang terlihat menggiurkan. sebenarnya dia lapar tapi ini sudah terlambat. Nanti dia kena hukuman dan mempengaruhi beasiswanya.


Elzia berlari keluar rumah, jarak dari rumah ke sekolah sebenarnya tidak jauh kalau pakai kendaraan. Tapi kalo jalan kaki ya capek.

__ADS_1


"Pak tungguin saya!" kejar Elzia kearah angkot yang lewat. seketika angkot itupun berhenti. Elzia dengan cepat masuk kedalam.


"Ke SMA Permadani pak!" ucap Elzia kepada tukang angkot dan dibalas dengan acungan jempol. Elzia menggigit bibirnya sambil sesekali melirik ke handphonenya.


pukul 07.45, sial dia terlambat 45 menit. semoga saja nanti tidak ada guru yang berjaga di depan gerbang. setelah kurang lebih 10 menit menaiki angkot akhirnya tiba juga di sekolah. Tapi gerbang sudah ditutup, dia terlambat.


"Hei kamu yang terlambat!" teriak seorang gadis yang tiba-tiba sudah di gerbang.


Elzia dengan takut-takut berjalan menghampiri. Gadis tersebut segera membuka gerbang dan menyeret Elzia kelapangan sekolah.


"ini El ada murid telat," ucap gadis itu yang ternyata adalah anggota osis.


Elzia menelan ludahnya dengan kasar. Dia lupa kalau kakaknya ketua osis. tidak kena marah guru tapi kena marah kakaknya, ya sama saja. Lebih baik dia tadi tidak masuk sekolah saja. tapi kalau tidak masuk sekolah nilai ulangan harian matematikanya kosong. mana tidak boleh ulangan susulan lagi. menyebalkan.


Elzio menatap Elzia dari atas hingga bawah. Ia mengeluarkan buku kecil dari saku celananya. "Datang terlambat, baju tidak dimasukan, memakai sepatu putih. 12 poin buat kamu."


"Hukumanmu lari keliling lapangan 5 kali."


Elzia membulatkan mulutnya ingin membantah tapi tidak berani. ingin meminta keringanan, tapi apa akan diberi oleh Elzio?


"kenapa bengong cepet lari!" ucap gadis tadi yang masih ada disana. Dia adalah Vania Valensia.


"I-iya!" Elzia mulai berlari mengelilingi lapangan yang luas ini. Peluh mulai menetes dan perutnya sangat sakit aplagi kepalanya rasanya ingin meledak. Akibat tidak sarapan dan semalam dia belum juga sempat makan, pasti asam lambungnya kambuh.


Eliza menyesal harunya tadi dia dirumah saja. Toh sama saja ketika sampai disekolah bukanya ulangan harian matematika tapi malah dihukum. Sudah nilai kosong sekarang dihukum berlari. mungkin sebentar lagi dia akan pingsan.


Benar saja, kepalanya semakin berat pandangannya mengabur. Setelah itu dia tidak bisa mengingat apa-apa kecuali ada seseorang yang meneriaki namanya.


"ZIA!!"


...BERSAMBUNG!...


......................


...****************...

__ADS_1


__ADS_2