Elzio(A)

Elzio(A)
Bab 8


__ADS_3

Setelah beberapa waktu berada di rumah Arga kini Elzio sudah sampai di rumah. Dia menatap meja makan yang kosong. Biasanya adiknya akan masak walaupun sering dia larang. Namun sekarang sepertinya adiknya benar-benar marah.


Elzio menghembuskan nafasnya lelah. Lalu berjalan menuju kamarnya yang berada tepat disebelah kamar Elzia.


Dia menatap langit-langit kamar yang mulai kotor karena jarang Elzio bersihkan.


"Ternyata Orang yang ngaku-ngaku jadi orangtua gue itu om tantenya Arga."


"Pantes aja Sarga juga kenal."


Fyi, Arga dan Sarga itu juga saudara kembar.


"Kenapa Sarga kemarin gak bilang kalau kenal mereka berdua. Ck, gue jadi gak enak sama Sarga juga Arga. Gue udah perlakuin om tantenya gak baik kemarin."


"Tapi bodoamatlah kalopun mereka jadi gue pasti lakuin yang sama. Mendingan sekarang mandi."


Elzio beranjak dari tidurnya dan keluar kamar untuk mandi. Sedangkan Elzia yang mendengar omongan Elzio tadi menutup mulutnya tak percaya. Jadi Sarga kenal dengan orangtuanya?


"Aku harus hubungi Sarga sekarang," Elzia mengetikan pesan kepada Sarga untuk diajak ketemuan. Setelah mendapatkan balasan persetujuan Elzia buru-buru keluar rumah sebelum Elzio selesai mandi.


Tak lupa dia mengunci pintu kamarnya agar Elzio tidak curiga.



Setelah berhasil dari Elzio kini Elzia tengah duduk di bangku cafe sambil bermain ponselnya. Ternyata Sarga sedikit terlambat dikarenakan jarak cafe dan rumahnya yang lebih jauh daripada jarak rumah Elzia ke cafe.


Elzia memesan dulu sebelum Sarga datang. Bertepatan pesanan datang Sarga pun juga datang. Tapi anehnya Sarga membawa seorang perempuan yang mengelendoti lengannya.


Siapa orang itu? Kenapa Sarga terlihat risi?


"Sorry telat zi. Nih cewek uler ngintilin gue sejak tadi," ucap Sarga sambil menghempas tangan perempuan itu.


"Kok kamu gitu sih sama tunangan kamu?" Perempuan itu mengerucutkan bibirnya.


"Tunangan?" Tanya Elzia bingung. Hey, kenapa Sarga tidak mengundangnya kalau mereka tunangan? Dia temannya Sarga loh.


"Udah gak usah di dengerin. Dia cuma bohong," sangkal Sarga yang membuat perempuan itu bersungut marah.


"Gitu ya Sarga sama Diva. Aku bakal aduin ke mama," perempuan bernama Diva keluar dari cafe dengan menangis. Elzia sebenarnya sedikit kasihan tapi dia tidak mau ikut campur.


"Udah zi gak usah dipikirin. Sebenernya kita cuma dijodohin sama orang tua kita. Tapi dia malah nanggep tunangan. Emang cewek gila."

__ADS_1


"Oh iya btw ngapain lo ngajak gue ketemuan? Gak kaya biasanya?" Tanya Sarga bingung. Biasanya kan dia yang mengajak Elzia bukan kebalikannya.


"E... Aku mau tanya soal orangtua aku tadi. Kamu tau kan kalo tadi mereka dateng kerumah?"


Sarga mengangguk membenarkan. "Iya terus hubungannya sama gue apa?"


"Kamu gausah pura-pura gak tau. Mereka om tante kamu kan?" Tanya Elzia.


Selama beberapa detik Sarga menegang, lalu tak lama dia mendelikan mantanya ke arah Elzia. "Lo tau dari mana? Gue gak pernah bilang perasaan."


"Aku gak sengaja denger omongan Kak Zio. Katanya Orangtua aku sama kak Zio itu om tantenya kamu sama Kak Arga," ucap Elzia.


"Yah bener yang lo omongin. Mereka om tante gue. Tante Renata itu adiknya papa," jelas Sarga.


"Kalau bener bisa gak aku minto tolong," pinta Elzia.


"Apa yang bisa gue lakuin?"


"Aku minta tolong bawa aku ketemu mereka. Aku mau mereka tes DNA. Aku ngerasa kalau mereka emang orang tua aku. Aku juga pengen kak Zio nerima mereka."


"Oke tapi ada syaratnya."


"Apa syaratnya? Jangan susah-susah," ucap Elzia.


Sarga tersenyum sangat manis membuat Elzia bersikap was-was. Sepertinya Sarga meminta hal yang bau- baunya tidak enak. "Gausah senyum kaya gitu! Pasti kamu minta yang aneh-aneh kan?" Tanya Elzia.


"Gak kok. Syaratnya lo cukup jadi pacar gue."


Elzia membulatkan matanya. "Gak aku gak mau!" Tolak Elzia mentah-mentah.


"Ayolah Zi! Gue bakal bantu lo sampai lo bener-bener jadi anaknya om rangga sama tante renata."


"Kenapa kamu minta aku jadi pacar kamu? Kita kan cuma temen."


"Ya lo lihat kan tadi orang yang ngaku jadi tunangan gue. Gue mau ngelihatin ke dia kalo gue punya pacar. Biar perjodohan ini batal. Sebenernya gue udah nolak tapi keluarga Diva tetep gak setuju. Makanya gue minta bantu gue supaya perjodohan ini batal."


"Mau kan lo zi? Ayolah gue udah bantu lo! Masa lo gamau?"


"Yaudah deh!" Ucap Elzia dengan terpaksa.


"Oke makasih Zia!" Ucap Sarga dengan senyum yang lebih manis dari tadi.

__ADS_1


"Tau gitu tadi minta tolong kak Arga aja," ucap Elzia dalam hatinya.



Elzio sudah selesai mandi kini dia berkutat dengan alat masak di dapur. Dia berniat akan memasak kepiting saus padang dan tumis kangkung. Makanan ini adalah makanan favorit Elzia.


Setelah memasak lumayan lama akhirnya Elzio menata makanan tersebut di meja makan. Dia tersenyum senang melihat masakannya. Pasti Elzia suka— pikir Elzio.


"Waktunya panggil Zia," Elzio berjalan menuju kamar Elzia.


"Tapi dia masih marah gak ya?" Elzio mengurungkan niatnya untuk mengetuk kamar Elzia. "Tapi Bodoamat lah kalo Zia gak makan nanti dia sakit."


Akhirnya Elzio mengetuk pintu kamar Elzia. Tapi tidak ada jawaban membuat Elzio merasa bingung. Apa Elzia tidur? Tapi sepertinya tidak ini masih pukul 7 malam.


"Zi! Zia! Kamu denger kakak?" Tapi tetap tidak ada jawaban. Elzio mencoba memutar kenop pintu namun tidak bisa.


"Apa masih marah?" Tanya Elzio kepada dirinya sendiri. Tak biasanya Elzia mengunci pintunya.


Elzio berjalan menuju kamarnya untuk mengambil kunci cadangan. Dia khawatir jika Elzia jatuh sakit. Karena sejak pertengkaran tadi dia belum melihat sama sekali wajah adiknya itu.


Ceklek!


Pintu terbuka tapi suasana kamar Elzia gelap. Elzio menyalakan lampu. Dia mengepalkan tangannya marah ketika mendapati kamar Elzia yang kosong.


"Sial! Kemana perginya?" Elzio berjalan keluar dengan langkah lebar. Baru saja mengambil kunci motornya pintu rumah terbuka dan menampilkan wajah Elzia yang terkejut.


"Dari mana saja ha?" Tanya Elzio membuat tubuh Elzia sedikit gemetar.


"Aku tadi ketemu Sarga. Bahas tugas kelompok," jawab Elzia.


"Bener?" Tanya Elzio yang tidak percaya.


"Ya buat apa aku bohong. Kalo gak percaya tanya aja Sarga," ucap Elzia.


Elzio menghembuskan nafasnya. Ia kira tadi Elzia hilang karena diambil orang yang mengaku sebagai orangtuanya.


"Yaudah ayo makan kakak masak makanan kesukaan kamu," Elzio menarik lembut tangan Elzia ke arah meja makan.


Elzia menelan ludahnya kasar. Aduh mampus dia tadi sempat makan di cafe bersama Sarga. Sebenarnya dia sudah kenyang. Tapi kasihan Elzio yang sudah memasak makanan kesukaannya susah payah. Lagian gimana dia bisa nolak kalau itu makanan kesukaannya.


...BERSAMBUNG!...

__ADS_1


__ADS_2