Elzio(A)

Elzio(A)
Bab 5


__ADS_3

Vania menghancurkan seluruh barang yang berada dikamarnya. Bunyi pecahan dan bantingan Sampai terdengar keluar. Untung orangtuanya sedang tidak berada dirumah.


"kenapa El? kenapa kamu perhatian banget sama Elzia? apa gue kurang cantik?" Vania melihat pantulannya di cermin.


"Aaa!" Vania melempar gelas ke cermin dihadapannya. "Gak vania. Lo cantik, lo lebih cantik dari Elzia. Lo lebih segala-galanya dibanding cewek itu."


"gue harus minta bantuan siapa? gue gak mau kalau sampai Elzio nglaporin gue ke polisi."


Vania berjalan mondar-mandir sambil memikirkan cara bagaimana agar Elzio tidak bisa melaporkan dia ke polisi. Jalan satu-satunya yaitu menghapus bukti rekaman pembullyan itu. Dia tidak mau kalau sampai Elzio benar-benar lapor polisi dan membuat orangtuanya marah. Apalagi papanya seorang public figure yang pasti akan mencoreng nama papanya.


kring! kring!


Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Vania berjalan menuju ranjang tempat dia menaruh ponselnya. Vania mengerutkan keningnya bingung. Nomor tidak dikenal. Vania melemparkan ponselnya kembali ke ranjang.


"gak jelas," gumam Vania.


Namun ponselnya kembali berdering. Nomor yang sama, karena penasaran akhirnya Vania mengangkat panggilan tersebut.


"Halo!" Namun tidak ada jawaban. Vania menatap layar ponselnya. Masih tersambung, kenapa tidak ada respon sama sekali?


"Halo! Siapa ya?" Ucap Vania sekali lagi.


"Saya bisa membantu kamu," ucap orang disebrang sana.


"Bantu? Bantu dalam hal apa?" Tanya Vania.


Orang disana tertawa pelan. "Saya akan membantumu agar Elzio tidak melaporkan kamu ke polisi. Tapi ada satu syarat, jika kamu mau datang ke apartemen di jalan Lotus. Saya menunggumu disana sekarang."


"Ma-" Belum sempat Vania menjawab orang tersebut sudah mematikan telepon secara sepihak. Vania menimang-nimang, apakah dia harus menerima tawaran orang tersebut.


"Gak ada salahnya kan gue Nerima. Lagian gue dapet untungnya. Syaratnya pasti orang itu cuma minta uang aja."


Vania keluar dari kamarnya dan akan menuju apartemen di jalan Lotus seperti yang orang tadi bilang. Doakan saja orang itu bukan orang jahat.



Vania sudah sampai di depan apartemen yang orang tadi bilang. Namun kawasan apartemen itu sangat sepi. Hawa dingin menusuk membuat Vania mengeratkan sweater yang melekat ditubuhnya.


"ck jangan-jangan gue dibohongin tuh orang?" Gumam Vania. Vania duduk dengan berjongkok di bawah pohon. udara semakin dingin dan orang itu belum datang.


"kalau tahu bakal kaya gini, mending tadi gue gak dateng. buang-buang waktu."


"Vania!"

__ADS_1


vania bangkit dari duduknya dan menengok ke sumber suara. Disana ada seorang yang berdiri tak jauh dari tempat Vania sekarang.


"Lo orang itu?" Tanya Vania dan berjalan mendekat.


orang itu memakai masker serta tudung jaket yang menutupi kepalanya. Entahlah orang itu laki-laki atau perempuan. tetapi kalau dilihat dari tubuhnya dan suaranya adalah laki-laki. tetapi siapa yang tahu dia laki-laki atau perempuan?


"Ya, saya bisa membantu kamu agar Elzio tidak melaporkan kamu ke polisi."


"Apa yang bisa lo lakuin?" Tanya Vania sedikit meremehkan.


"Saya akan mengahapus bukti rekaman CCTV pembullyan kamu, dan menghapus rekaman yang ada di ponsel Elzio."


"Oke gue mau. Gue bakal lakuin apapun syarat yang lo ajuin," ucap Vania.


Orang itu tersenyum di balik maskernya. "Syaratnya mudah. kamu hanya perlu memberikan saya uang 10 juta dan berhenti menganggu Elzia."


"jika kamu melanggar syarat yang kedua, saya akan mengirimkan bukti rekaman pembullyan kamu ke sosial media," bisik orang itu dengan jarak yang sangat dekat dari Vania.


Vania mengepalkan tangannya marah. Lagi-lagi Elzia. sebenarnya ada hubungan apa orang ini dengan Elzia? Kenapa orang ini sampai bela-bela membantunya hanya untuk Elzia?


"kayaknya gue menolak deh. Lebih baik gue dilaporin ke polisi daripada berhenti gangguin Elzia."


"Bodoh! Kamu tidak memikirkan secara benar ya?"


"kamu tidak akan berurusan dengan polisi, ayahmu tidak malu, dan kamu tidak berurusan dengan warganet."


"kalau kamu menolak hanya kamu yang rugi saya tetap mendapatkan untung. kamu dicemoh orang-orang ayahmu malu dan dibenci orang-orang."


"Oke gue setuju!" Tidak ada pilihan lain selain menerima. Vania menyesal harusnya dia tidak perlu menemui orang gila ini.


"jawaban yang tepat," ucap orang itu.


"oke tapi gue juga minta syarat dari lo. gak adil rasanya kalo gue gak ngasih lo syarat," Ucap Vania.


"oke, apa syaratnya?"


"Buka masker lo! Rasanya aneh kerjasama tapi gak lihat rupa orangnya."


Orang itu menatap Vania sebentar sebelum melepas masker dan tudung yang menutupi kepalanya. Vania membulatkan mulutnya tak percaya. Orang itu, orang yang tidak pernah Vania sangka.


"L-llo!"


__ADS_1


setelah menginap di rumahsakit selama satu hari, akhirnya Elzia diperbolehkan pulang. Tak henti-hentinya Elzia tersenyum sejak tadi. Hal itu karena temannya yang beberapa hari lalu pergi keluar negeri kini telah pulang dan menjenguknya. Sarga Erzana, teman satu-satunya yang dimiliki Elzia.


"Lo gue tinggal seminggu udah kaya gini zi. apalagi gue tinggal satu bulan," ucap Sarga membuat bibir Elzia mengerucut.


"makanya ajarin aku bela diri biar aku bisa ngelawan mereka yang jahatin aku."


"besok kalau udah sembuh."


Sarga membantu Elzia untuk turun dari ranjang dan membantunya berjalan ke arah mobil Sarga yang ada di parkiran.


"mau kakak gendong zi?" Tanya Elzio yang dibalas gelengan oleh Elzia. Elzio menghela nafas. Elzia marah sejak Elzio menemui Vania waktu itu. Dia sudah meminta maaf namun Elzia enggan memaafkan.


"gak baik tau cuekin kakak sendiri. nanti kalo kak Zio balik cuekin gimana? entar nangis," Elzia menghentikan jalannya mendengar nasehat Sarga. Elzia berbalik ke arah Elzio dan merenganggkan kedua tangganya.


"Gendong!"


Elzio yang tadinya murung langsung tersenyum lebar. Dengan senang hati Elzio menggendong tubuh Elzia di punggungnya.


"udah gak marah lagi sama kakak?"


"gak, kata sarga nanti kalo aku cuekin kakak nanti kakak bakal cuekin aku balik. aku gak mau."


"ya lagian tumbenan sih lo marah sama kak zio sih zi? biasanya juga kak zio yang marah sama lo," ucap Sarga.


"sarga gak perlu tau!" Elzia memeluk leher kakaknya semakin erat. dia berniat akan tidur saja.


Setelah berjalan beberapa menit mereka sampai di depan mobil milik sarga. Elzio meletakan Elzia dengan hati-hati lalu menyandarkan kepala elzia di bahunya.


"maaf ya ga ngrepotin lo," ucap Elzio.


"tenang aja kak gue gak ngerasa direpotin kok," balas sarga sambil tersenyum kecil.


Elzio berdecak pelan. "Ga lain kali jangan panggil kak lagi. gimanapun juga lo sama gue tuaan lo."


"yaelah udah terbiasa susah mau ngerubah."


Elzio menghembuskan nafasnya pasrah, terserahlah Sarga mau memanggilnya apa. Mobil milik Sarga mulai meninggalakan parkiran rumahsakit tempat Elzia dirawat. Di dalam mobil hanya terisi keheningan hingga beberapa menit akhirnya mobil sudah memasuki pekarangan rumah kontrakan tempat tinggal Elzio dan Elzia.


Elzio menyipitkan matanya. "itu mobil milik siapa?"


"Lah lo gimana sih kak? tamu lo kali."


"gue gak ada kenalan orang yang bawa mobil mewah ga. Dan kenapa pintu rumah kebuka?"

__ADS_1


...BERSAMBUNG!...


__ADS_2