
Nafas Elzio memburu setelah mengusir orang yang mengaku sebagai orantua kandungnya. Elzio duduk disamping Elzia yang menundukan kepalanya.
"Kenapa kamu bisa percaya gitu aja sama orang itu? Jelas-jelas orang asing tapi kamu percaya kalau mereka orangtua kita. Kakak sudah bilang kan dulu. Orangtua kita sudah mati. Mereka gak akan pernah ada dan gak akan pernah datang."
Elzia menatap Elzio dengan sorot sedih. "Aku ngerasa kalau mereka emang bener orangtua kandung kita. Waktu tadi tante itu meluk aku, rasanya nyaman dan tentram."
"itu cuma perasaan kamu aja. Kamu cuma merasa kasihan sama orang itu aja, gak lebih," ucap Elzio.
"Pokoknya aku bakal tetep percaya kalau mereka orangtua kandung kita!"
Elzia berlari menuju ke kamarnya. Dia berniat mengurung diri dikamar untuk sementara waktu. Elzia kesal karena Elzio tidak percaya dengannya.
Tapi kalau di posisi Elzio juga sulit percaya jika tiba-tiba saja ada orang yang mengaku-ngaku menjadi orangtua kandungmu. Tentu tidak semudah itu untuk percaya kan. Apalagi jaman sekarang banyak modus penipuan.
Kalau dipikir Elzia sedikit bodoh karena bisa percaya dengan orang tidak dikenal.
"Mungkin sekarang kamu percaya, tapi besok kakak akan buktiin kalo mereka cuma penipu."
Elzio keluar dari rumah untuk menuju ke rumah Arga. Dia menaiki motor matic-nya selama beberapa menit hingga sampai di rumah Arga.
Elzio memencet bel beberapa kali hingga seorang wanita paruh baya membukakan pintu.
"Arga ada bi?" tanya Elzio dengan sopan.
"Tuan muda sedang diatas sama temennya. Langsung keatas aja!" ucap wanita bernama bi Dara itu.
"Terimakasih bi!" ucap Elzio sembari sedikit menundukan kepalanya.
Setelah itu Elzio berjalan menuju ke arah lift yang tersedia dirumah Arga. Fyi, Arga itu anak orang kaya. Dulu Elzio bahkan ragu berteman dengan Arga. Arga anak orang kaya sedang dirinya hanya anak biasa yang jauh dibawah Arga.
Sesampainya di depan kamar Arga, Elzio mengetuk dulu pintu kamarnya. "Ga lo didalem?"
Terdengar suara grusah-grusuh dari arah kamar. Tak berselang lama Arga membukakakan pintu dan menyuruh Elzio untuk masuk. Elzio duduk di sofa yang tersedia dikamar arga setelah disuruh.
"Tumben kesini zi? Biasanya gue yang ke rumah lo," ucap Arga yang juga mendudukan dirinya di sebelah Elzio.
__ADS_1
"Gue mau minta tolong sama lo," pinta Elzio sambil menatap ke arah Arga.
"Minta tolong?"
"Ya, gue minta tolong sama lo buat sebarin video pembullyan Vania ke zia. Dan gue juga pengen Vania dipenjara setelah ngelakuin pembullyan."
"Bentar-bentar. Vania bully Zia? Apa jangan-jangan dia yang kunci Zia kemarin di lab?" Tanya Arga dengan mata yang membulat karena terkejut.
Elzio menganggukan kepalanya sebagai jawaban. "Gue udah ada video-nya bentar gue kirim dulu."
Elzio mengotak-atik hp-nya namun dia mengerutkan dahinya. Arga pun masih menunggu. Tapi berselang 10 menit Elzio hanya mengotak-atik hp-nya sejak tadi tanpa suara.
"Lama banget El? Lo beneran ada video-nya kan?" Tanya Arga membuka suara setelah terjadi keheningan selama 10 menit.
"Ada, tapi kok sekarang gak ada ya."
"Lo lupa mungkin, gak sengaja kehapus."
"Gak mungkin gue hapus. Gue main hp baru sekarang sejak sehari ini. Kemarin juga masih ada video-nya," ucap Elzio sambil memijat kepalanya yang tiba-tiba pening. Kenapa bisa video itu hilang? Kalau hilang dia sudah tidak ada bukti kejahatan Vania lagi.
"Tahu bahkan gue ngomong sama dia kalo bakalan gue laporin ke polisi," jawab Elzio debgan polosnya.
Arga menjitak kepala Elzio. Elzio pun mengusap kepalanya yang terasa sedikit sakit. "Kenapa lo jadi mukul gue sih? Bukannya bantu cari solusi biar video itu bisa balik."
"Lo itu bego! Kalau mau ngelaporin Vania ke polisi seenggaknya lo jangan bilang sama dia dong. Jadinya gini video-nya bisa aja Vania yang ngehapus."
"Lain kali juga kalau ada video penting itu buat salinannya," lanjut Arga.
"Gue dapet video itu dari rekaman cctv lab. Mungkin aja Vania gak kepikiran sampe hapus rekaman cctv itu. Gue bakal ambil video-nya besok. Besok langsung gue kirim ke lo deh biar gak ilang lagi."
Arga bernafas lega, semoga saja Vania tidak menghapus bukti rekaman Cctv itu. Hanya ini harapan mereka satu-satunya. Sebenarnya dari dulu mereka ingin melaporkan pembullyan Vania sejak dulu. Tetapi tidak ada bukti. Vania selalu melakukan pembullyan di luar sekolah. Baru kali ini dia sampai melakukan di sekolahan. Bukan hanya Elzia saja yang dibully tapi semua orang yang berkerja dirumahnya.
Entahlah motifnya apa, tidak ada yang tau.
"Oh iya gue kesini juga mau cerita," ucap Elzio.
__ADS_1
"Cerita aja," Arga mengambil cemilan keripik kentang yang ada di meja lalu mulai memakannya.
Sebelum berbicara Elzio sedikit menghembuskan nafasnya. "Setelah Zia sudah sembuh kita pulang. Tapi waktu sampe rumah tiba-tiba aja ada orang asing dateng."
"Mereka berdua ngaku-ngaku jadi orangtua kandung gue sama Zia. Gue gak percaya lah, walaupun kita mirip tapi didunia ini kita punya 7 kembaran kan?"
"Tapi Zia dengan bodohnya percaya. Sekarang dia marah sama gue karena gue gak percaya. Kalo menurut lo kalo lo di posisi ini lo milih mihak gue atau Zia?"
Arga meminum air sedikit sebelum berbicara. "Gue jelas gak percaya lah El. Mereka dateng ngaku-ngaku tanpa kepastian. Apalagi lo gak pernah sekalipun ketemu orangtua kandung lo. Jadi kalo gue di posisi lo gue gak bakalan percaya. Bisa aja kan mereka penipu? Atau mungkin anaknya mirip lo kali?"
"Gue juga kepikiran gitu, tapi Zia gak. Gimana caranya ya Zia gak percaya sama mereka?"
"Yaudah si tes aja mereka beneran orangtua lo atau bukan. Kalo hasilnya negatif lo tinggal ngomong aja sama Zia kalo mereka emang bukan orangtua kalian. Tapi kalo hasilnya positif ya, yassalam," ucap Arga menyengir waktu kalimat terakhir.
"Gak mungkin lah hasilnya positif."
"Lo cuma mikir satu kemungkinan aja El. Karena lo gak pernah tau dan gak pernah ketemu orangtua lo, lo jadi mikir gini. Lo gak mikirin kemungkinan lainnya. Bisa aja mereka orangtua yang lo tunggu sejak dulu. Lo cuma berasumsi kalo mereka penipu. Lo gak lihat kemungkinan yang lain," ucap Arga membuat Elzio terdiam.
Benar apa yang dikatakan Arga tapi tetap saja dia tidak akan pernah percaya. "Gue boleh minta tolong satu hal lagi gak?"
"Apa?" Tanya Arga.
"Cari identitas orang yang ngaku-ngaku jadi orangtua gue. Namanya Rangga dan Renata."
"Lo ada fotonya?"
"Ada tadi gue emang sengaja foto mereka biar lo bisa cari tahu dan gue tau identitas mereka,"
"Fotonya gue kirim."
Ting!
Arga membulatkan matanya terkejut melihat foto yang dikirim Elzio.
"El ini kan....."
__ADS_1
...BERSAMBUNG!...