
Sarga berjalan memasuki rumahnya, ternyata rumahnya sangat ramai. Dia menatap bingung beberapa mobil yang terparkir di halaman rumahnya.
"Siapa yang dateng? Perasaan mama gak bilang-bilang kalau ada tamu," gumam Sarga lanjut memasuki rumahnya.
Namun baru saja memebuka pintu dia sudah disambut pelukan oleh seorang perempuan. Perempuan itu adalah Diva. Sarga berusaha melepaskan pelukannya namun sayang pelukan orang ini sangat kencang hingga membuatnya sedikit sesak.
"Ck, lepas!" Akhirnya dengan sekuat tenaga pelukan mereka terlepas. Nampak mata Diva yang berkaca-kaca.
"Sarga gitu sih! Aku bilangin mama!" Diva berjala dengan kaki yang dihentak-hentakan.
"Dasar cewek manja! Tukang aduan!" Teriak Sarga yang di dengar Diva dan orang-orang yang tengah berkumpul di ruang tamu.
Ternyata tamunya itu orangtua Diva serta om tantenya. Siapa lagi jika bukan Rangga dan Renata.
"Sarga bilang apa kamu? Kamu gak boleh seperti itu sama tunangan kamu!" Ucap Mama Sarga— Diana.
Sarga memutarkan bola matanya malas memdengar ucapan mamanya. "Ma! Kita belum tunangan, dan gak akan pernah. Lagian aku udah punya pacar. Gak mungkin aku ninggalin pacar aku demi orang asing kaya dia," ucap Sarga sambil menunjuk ke arah Diva.
"Pacar? Bukannya kamu gak punya pacar?" Tanya mama Diva— Fina.
"Heh kalian aja yang gak tau. Jadi mulai sekarang aku mau perjodohan ini batal. Aku gak akan tunangan sama Diva. Aku cuma pengennya sama pacar aku aja."
"Mama gak percaya! Mama bakal percaya kalau kamu bawa pacar kamu besok kesini. Kalo terbukti kamu bohong perjodohan ini bakal lanjut," putus Diana.
Diva menatap Sarga dengan mata berkaca-kaca. Hatinya sakit ketika Sarga mengatakan dirinya hanya orang asing. Apalagi dia tidak mau tunangan dengan dirinya.
"Siapa pacar kamu ga?" Tanya Diva lirih yang hanya di dengar Sarga.
"Heh tadi bukannya lo udah ketemu? Lupa sama yang di cafe tadi."
"Jadi cewek itu! Cewek jelek kaya dia jadi pacar kamu? Gak pantes tau ga!" Ucap Diva.
"Cih! Emang lo juga pantes jadi pacar gue? Gak!" Bisik Sarga tepat di telinga Diva.
Diva meremas rok yang dia gunakan. Lalu dia berjalan ke arah orang tuanya berada. "Ayo ma pa pulang!"
Setelah mengatakan itu Diva berjalan keluar duluan dan disusul orangtuanya. Sarga tersenyum senang, semoga saja Diva sadar diri dan tidak megejarnya lagi.
__ADS_1
"Keterlaluan kamu ga!" Ucap papa Sarga— Hasbi.
"Apanya yang keterlaluan sih pa?"
"Kamu kalau mau hentiin perjodohan ini dengan cara yang baik-baik. Bukan yang kaya tadi," ucap Hasbi.
"Lah emang tadi Sarga sampe bentak atau kasar? Enggak kan? Tadi itu masih wajar. Kalau kalian tetep lanjutin perjodohan ini, aku bakal pake cara yang lebih dari ini."
"Sudah malah berantem. Lagian kamu juga kak, kenapa pake acara jodoh-jodohin Sarga? Biar dia nentuin pilihannya sendiri," lerai Renata yang sejak tadi diam.
"Sebenarnya aku jodohin dia karena takut dia gak punya pasangan dan jadi perjaka tua," ucap Hasbi.
Sarga memelototkan matanya. "WTF! Papa keterlaluan. Aku masih 18 tahun ya wajar kalau belum punya pacar. Lagian sekarang aku ada pacar. Jadi stop jodoh-jodohin aku."
"Hah lo ada pacar? Bukannya lo jomblo?" Tanya Arga yang keluar dari balik tembok. Dia sejak tadi menguping pembicaraan mereka.
"Nanti juga lo tau!" Balas Sarga.
"Oke besok mama minta bawa pacarmu kesini! Kalau gak mama tetep akan jodohin kamu sama Diva," ucap Diana.
"Ya besok aku bawa kesini."
Diana, Hasbi, dan Arga berdecak pelan sebelum keluar dari ruang tamu. Sedangkan Rangga dan Renata menatap bingung Sarga. Tumben?
—
Disinilah mereka, di pinggir kolam renang rumah Sarga. Sarga menatap om tantenya dengan tatapan yang sulit diartikan. Entahlah Sarga akan membicarakan apa? Seperti-Nya penting.
"Sarga mau ngomong kalo Sarga bisa bantuin tante sama om buat tes DNA sama Elzia dan Elzio," ucap Sarga membuat jantung Renata berdetak lebih cepat.
"Benar kamu bisa bantu tante? Tante bakal kasih apa yang kamu mau kalo kamu bisa lakuin itu," ucap Renata sambil memegang kedua tangan Sarga.
"Tenang aja tan! Besok langsung aku bawa Elzia kesini. Untuk omongan tante yang pengen ngasih aku apa yang aku mau, nanti aku pikirin."
"Terimakasih Sarga! Terimakasih," Renata memeluk keponakannya dan dibalas oleh Sarga.
"Tapi gimana sama Elzio? Kayaknya bakalan susah buat dia percaya kalau kita orangtuanya," ucap Rangga.
__ADS_1
"Pasti dia bakal percaya. Dengan om sama tante tes DNA Elzio gak akan bisa ngelak lagi," ucap Sarga menenangkan.
"Apa? Jadi kalian sudah menemukan anak kembar kalian yang lama hilang."
Mereka tersentak kaget ketika Diana muncul dari pintu diikuti seorang perempuan di belakangnya.
"Mama sama papa udah nemuin adek?" Tanya perempuan itu dengan wajah yang bahagia.
Renata memeluk perempuan yang merupakan putrinya itu. "Ya, akhirnya kita bakal kembali kaya dulu lagi."
"Aku seneng banget akhirnya adek balik lagi ke kita. Pasti mereka udah gede. Aku gak sabar ketemu mereka."
"Besok Sarga bakal bawa salah satu dari mereka kesini," ucap Sarga.
Diana menatap bingung Sarga. "Kenapa salah satu? Gak sekalian mereka berdua?"
"Huh! Elzio gak kaya Elzia. Elzio gak percaya kalo om sama tante itu orangtua kandungnya. Tapi kalo di pikir ya wajar sih orang gak pernah ketemu tiba-tiba dateng ngaku-ngaku. Kalo Sarga pasti juga gak percaya."
"Oke tugas kamu Sarga, buat Elzio percaya kalau Renata sama Rangga adalah orangtua kandungnya," ucap Diana.
"Ma! Kok aku si?! Harusnya itu tugasnya om sama Tante lah!" Tolak Sarga mentah-mentah.
"Sudahlah mbak. Aku aja udah seneng kalo Sarga bantu aku tes DNA. Kalo urusan percaya gak percaya biar nanti aku yang urus," ucap Renata.
"Tunggu! Apa lo bilang tadi ga? Elzio? Elzio yang lo maksud bukan Elzio..." Ucapan Perempuan itu terpotong oleh perkataan Sarga.
"Iya emang Elzio yang lo pikirin len. Jadi gue harap lo bisa jagain Elzia di sekolah kalau aja gue gak ada."
Len? Perempuan itu adalah Falen. Masih inget Falen? Dia adalah salah satu temannya Vania.
"Elzia? Apa hubungannya Elzia sama Elzio?" Tanya Falen. Sebenarnya hubungan kakak adik itu hanya diketahui orang terdekatnya saja. Kalau orang lain pasti menganggap mereka sepasang kekasih.
"Zia itu kembarannya Elzio. Mereka berdua adik lo. Jadi setelah lo tahu kalo Elzia adik lo gue harap lo bisa jagain dia. Terutama dari temen dakjal lo itu," bisik Sarga.
"Kalian ngomongin apa sih bisik-bisik?" Tanya Diana penasaran.
"Hehehe... Gak ada kok tante," ucap Falen sambil tersenyum kikuk.
__ADS_1
"Gue harus bilang sama Vania kalo Elzia itu adiknya Elzio. Biar dia gak pernah bully Zia lagi," ucap Falen dalam hati.
...BERSAMBUNG!...