
Elzia sudah sejak tadi sadar kini dia sedang makan disuapi oleh Elzio. Walapun sejak tadi Elzia sudah sadar tapi Elzio belum mengucapkan satu patah kata apapun, begitupun dengan Elzia.
Elzio menghembuskan napasnya sejenak dan meletakan semangkuk bubur yang sudah kosong di atas meja.
"Kenapa kamu bisa terkunci di lab komputer itu? Ada yang jahatin kamu?" Tanya Elzio membuka pembicaraan.
Elzia menatap Elzio ragu. Dia takut kalau jujur kakaknya pasti akan mendatangi Vania dan pastinya Vania akan berbuat lebih dari ini. Kalau bohong dia takut kalau kakaknya tahu yang sebenarnya dan berakhir marah kepadanya.
"Ini semua gara-gara kakak. Kakak chat aku suruh ke lab tapi waktu aku sampai kakak malah gak ada. Malahan aku dikunci dan akhirnya kedinginan."
"Kamu bohong!" Desis Elzio. Elzia menatap ke arah lain, enggan menatap Elzio.
"Hadap ke kakak dan bilang didepan wajah kakak," Elzio menangkup wajah Elzia dan mengarakan tepat didepan wajahnya.
"Ayo ngomong sekarang!" Perintah Elzio.
"Ini semua gara-gara kakak," setelah mengatakan itu Elzia mengalihkan pandangannya lagi.
"Kamu bohong! KAMU BOHONG!" Teriak Elzio tepat didepan wajah Elzia. Elzia memejamkan matanya takut.
"Aku gak bohong ini semua emang gara gara kakak andai aja kalo disekolah kakak gausah kenal sama aku hal ini gak terjadi va-" Elzia menghentikan ucapannya.
Sialan dirinya keceplosan. Kenapa sih dia harus bilang itu nanti kakaknya akan menghampiri Vania. Dan pasti Vania akan tambah membullynya besok.
"Va siapa?" Tanya Elzio memastikan dugaannya benar atau salah.
"B-bukan Vania kok kak," Jawab Elzia dengan gugup.
"Kakak gak bilang orang itu Vania ya." Elzia membulatkan matanya kaget. Double ****!
Elzio mengepalkan tangannya dan keluar dari ruangan tempat Elzia dirawat. Elzia sendiri sudah panik. "Kakak jangan apa-apain Vania. KAK!" percuma Elzio sudah berjalan jauh.
...Vania...
^^^Bisa dateng ke lab komputer belakang? gue ada perlu.^^^
Seperti itulah pesan yang dikirim Elzio kepada Vania. Disana nanti Elzio akan memberi peringatan Vania juga balas dendam. Di tempat yang sama Vania melakukan itu kepada Elzia.
—
"aaaaa...."
__ADS_1
Vania memekik kegirangan sambil menatap ponselnya. Teman-temannya menatap bingung ke arah Vania. Ada apa dengan Vania? Apakah mendadak jadi gila?
"Lo kenapa Van? kek orang gila," Falen menghentikan kunyahannya. Mereka berempat sedang dikantin, membolos pelajaran.
"Elzio chat gue," ucap Vania sambil memperlihatkan ponselnya kehadapan Falen, Sabrina, dan Rasya.
Sabrina mengerutkan dahinya pertanda bingung. "Tumben El chat lo duluan? Biasanya lo dulu kan yang sering chat dia duluan."
Vania mendatarkan wajahnya. "Mungkin Elzio lagi butuh gue makanya chat duluan."
"Cih chat cuma kalo ada butuhnya doang bangga," ejek Falen.
Rasya menyenggol pelan kaki Falen. "Bisa gak lo gak ngomong gitu?"
"eh Van tapi di lab itu lo kunciin Elzia disana kan? Mampus kalo Elzio kesana dan Elzia masih disitu," ucap Rasya.
Vania menepuk jidatnya pelan. "Mampus ayo kita kesana sekarang."
Belum sempat pergi Falen menahan Vania. Falen menatap Vania tajam. "lo ngebully Elzia lagi van? udah gue peringatin jangan bully dia lagi."
Vania menghempas tangan Falen yang bertengger di lengannya kasar. Ia berdecih sinis. "Lo kenapa sih malah kaya Elzio. Gak lo sama Elzio sama aja, suka larang gue buat jahatin Elzia. emangnya sepenting itu ya Elzia buat kalian berdua?"
"Gue cuma gak mau lo kenapa-napa Van. Lo tau kan Elzio orangnya gimana. Dia gak pandang bulu kalo tahu ada orang yang nyakitin Elzia. jadi gue mohon stop ganggu Elzia. Gue mohon."
Falen menatap sendu punggung Vania.
Gue cuma mau lo berhenti harepin Elzio Van masih ada yang lebih dari dia-batin Falen.
—
Vania, Sabrina, dan Rasya berlari dari kantin hingga sampai di lab Komputer. Murid-murid di dalam kelas sampai terheran-heran.
"huh untung Elzio belum dateng," ucap Sabrina dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Ayo bantu gue cari kuncinya!" ajak Vania.
Mereka mulai mengobrak-abrik tempat sampah untuk mencari kunci yang tadi dibuang oleh Vania. Namun nihil tidak ketemu yanga dan mereka malah menghambur-hamburkan sampah.
"kok gak ada sih," ucap Rasya yang kini sudah berjongkok. rasanya menjijikan, memegang sampah dengan tanggannya sendiri.
"gue yakin gue buang disini kok. tapi kok gak ada ya."
__ADS_1
"Kalian ngapain disitu?"
sontak mereka kaget dan menatap ke arah sumber suara. mereka langsung bernafas lega. mereka kira tadi itu Elzio. apalagi Vania yang sudah panas dingin. ternyata oh ternyata orang itu Arga.
"kalian ngapain ngubek-ubek sampah kan jadi bececeran?" tanya Arga sambil menunjuk sampah yang kini bececeran.
Sabrina meringis kecil. "ehehe itu tadi kita cari kertas ulangan yang kita buang. tadi jatuh terus dibuang sama anak yang piket jadi kita cari di tempat sampah. iya gitu."
"kalian gak bohong kan? ngapain kalian carinya di tempat sampah deket lab? kan kelas kalian jauh dari sini," Arga memicingkan mata curiga.
Rasya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "kita udah cari di tempat sampah lain tapi gak ada. berakhir sampe disini."
Arga manggut-manggut percaya. "oh gitu."
"oh iya van tadi gue ketemu Elzio katanya nyuruh lo masuk lab. Elzio udah dateng dari tadi," ucap Arga yang membuat tubuh mereka menegang.
Jangan-jangan Elzio sudah tau kalau Elzia ada di dalam. Dan kunci yang mereka cari ada di tangan Elzio. Tapi bagaimana bisa Elzio tau?
"o-oh Elzio udah dateng."
Vania menatap kepada dua temannya. Dua temannya hanya menatap Vania prihatin.
"hati-hati van," bisik Sabrina sebelum menyeret Rasya pergi dari sana diikuti Arga.
Vania melangkah dengan takut-takut. Bagaimana nanti kalau Elzio tahu jika Elzia didalam? Apa yang akan Elzio lakukan nanti kepadanya? Vania menghembuskan nafasnya perlahan.
"tenang van huft... Elzio gak akan pernah tau kalo lo udah ngunci Elzia di dalem. Gak ada bukti dan lo gak bersalah."
setelah memantapkan hatinya Vania mulai memasuki lab tersebut. Dia melihat Elzio yang sedang memainkan salah satu komputer. Vania langsung mengubah raut wajahnya menjadi ceria.
"Hai El!" sapa Vania dengan ceria.
Vania melunturkan raut cerianya kala Elzio yang diam saja tanpa balik menyapanya. Bahkan melihatnya pun tidak. Seperti enggan.
"kamu kenapa suruh aku Dateng kesini?" Tanya Vania.
Elzio bangkit dari duduknya dan menatap Vania tajam. Vania seketika menelan ludahnya melihat ekspresi Elzio yang tampak menakutkan.
"Lihat," Elzio memutar komputer yang ada dihadapannya yang menampilkan video pembullyan tadi yang Vania lakukan kepada Elzia.
"E-el," Vania menatap nanar Elzio.
__ADS_1
"Masih mau ngelak? Setelah ini gue bakal laporin lo ke polisi!" Elzio tersenyum miring.
...Bersambung!...