Elzio(A)

Elzio(A)
Bab 3


__ADS_3

Kejadian kemarin sudah berlalu sekarang hari sudah berganti. Kini Elzio tengah didepan kompor memasak telur dadar dan tumis kangkung. Kenapa tidak elzia yang memasak? Jawabannya tentu saja Elzio tidak akan mengijinkan elzia untuk memasak. Tidak akan pernah. Elzio itu orangnya over protektif kepada Elzia.


"Zia udah selesai? Kalau udah keluar, kakak udah selesai masak. Kita sarapan bareng," panggil Elzio. Tak lama setelahnya Elzia datang sudah rapi siap untuk berangkat ke sekolah.


"Ini makan dihabisin!" Titah Elzio sambil menaruh piring lengkap dengan nasi dan lauk pauk ke hadapan Elzia.


Elzia tersenyum kecil melihat perhatian kakaknya. "Makasih kak," ucap Elzia tulus.


Mereka makan dengan khidmat tanpa ada pembicaraan. Setelah selesai Elzia yang baru saja akan mencuci piring ditahan oleh Elzio.


"Taruh aja biar kakak nanti yang cuci."


"Gak usah Zia aja yang cuci ini bukan kerjaan berat," tolak Zia.


"Gak nurut?" Tanya Elzio. Nyali Elzia seketika menciut lalu menaruh piring bekas ke wastafel.


"Ayo berangkat sekarang!" Ajak Elzio yang sudah menyelesaikan mencuci piringnya.



"Kakak duluan ya ada rapat osis. Maaf gak bisa nganterin kamu ke kelas," ucap Elzio sesampainya mereka di sekolahan.


"Gak papa kak, lagian aku udah gede masa ke kelas aja dianterin," kata Elzia sambil tertawa kecil.


Sebelum pergi Elzio mengusap rambut adiknya sayang lalu bergegas ke arah ruang osis untuk rapat. Elzio adalah ketua osis SMA Permadani. Setelah melihat Elzio yang benar-benar pergi Vania dan kedua temannya Rasya dan Sabrina keluar dari persembunyiannya.


Vania tersenyum miring melihat Elzia yang berjalan sendirian ke arah kelas.


"Bawa dia!" Perintah Vania yang diangguki mengerti oleh Sabrina dan Rasya.


"Eh apa-apaan ini?" Elzia terkejut melihat kedua orang yang tiba-tiba memegang tangganya dan menyeretnya entah kemana.


"Lepasin!" Teriak elzia yang tak digubris oleh keduanya. Bahkan murid - murid yang melihat tidak ada niatan sekalipun untuk menolong.


"Bisa diam? Lo berisik!" Sentak Sabrina.


Dengan susah payah Sabrina dan Rasya menyeret Elzia hingga sampai ke laboratorium yang sudah jarang dipakai. Karena letaknya di pojok belakang sekolah dan jauh dari kelas makanya jarang terpakai.


Bruk!


Rasya mendorong tubuh Elzia hingga menabarak kaki meja. Elzia merasakan punggunya sakit karena Rasya yang mendorongnya dengan kuat.


"Kalian pergi!" Perintah Vania. Tanpa kata Sabrina dan Rasya pergi meninggalakan mereka berdua.


"Kamu m-mmau ngapain?" Elzia bergerak mundur ketika melihat Vania yang berjalan mendekat kearahnya.


"Cuma mau ngasih lo peringatan, jauhin Elzio!" ucap Vania sembari berjongkok di hadapan Elzia.


"Kenapa aku harus jauhin kak Zio? emangnya kamu siapa?"

__ADS_1


Mendengar hal tersebut vania mendatarkan wajahnya. "Gue pacarnya Elzio, dan gue gak suka cewek kaya lo deketin pacar gue. Kalo gue lihat lo masih deketin El abis lo sama gue," Vania bangkit dari duduknya dan akan keluar dari ruangan.


"Aku gak akan pernah jauhin kak Zio!"


Mendengar kalimat yang diucapkan Elzia Vania urung meninggalkan ruangan. Diruangan ini hanya tersisa mereka berdua saja. Sehingga Vania bisa bebas melakukan apapun tanpa orang tau.


"Gak mau ya?" Vania terkekeh sebentar sebelum berbalik berjalan kembali ka arah Elzia.


Vania mencekram kuat dagu Elzia. Sedangkan Elzia berusaha melepaskan tangan Vania didagunya namun tidak bisa. Ditambah sekarang Vania mencekal kedua tangannya hingga dia tak bisa bergerak.


"Gue peringatin, lo cuma cewek gak tau diri yang deketin pacar orang. Gue kasihan sama lo hidup sebatang kara yang haus kasih sayang. Sampe deketin pacar orang."


Elzia menatap Vania nyalang. "Jaga omongan kamu ya!"


Plak


Vania menatap Elzia marah. Berani-beraninya Elzia menatapnya seperti itu harusnya Elzia takut dengannya bukan seperti tadi.


"Aku bakal bilangin hal ini sama kak Zio biar kamu nanti diputusin," ancam Elzia tidak main main.


Vania tertawa keras lalu menjambak rambut Elzia. "Emang Elzio bakal percaya sama lo. Dia pastinya lebih percaya gue daripada lo," ucap Vania dengan senyum meremehkan.


"Kita lihat aja nanti."


Plak


Vania menampar Elzia sekali lagi sebelum keluar dari ruangan. Elzia menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya. Rasanya dia ingin menangis sekencang-kencangnya sekarang. Selama dia hidup belum pernah Elzia diperlakukan seperti ini. Hanya Vania, bahkan kakaknya selalu memperlakukannya dengan baik.


"TOLONG! VANIA TOLONGIN AKU!"


"VANIAAA!"


Elzia semakin menangis dengan keras apalagi ruangan semakin dingin. Elzia segera bangkit dari duduknya untuk mencari remot AC namun tidak ketemu.


"Hikss dimana sih hikss?" Elzia menangis lebih kencang saat tidak menemukan remot AC. Apa jangan-jangan Vania menguncinya dan menyalakan AC entah suhu minus berapa derajat agar dia mati kedinginan disini?


Lebih baik dia menjauhi Elzio daripada mati konyol karena Vania.


"Kak Zio tolongin Zia," mohon Elzia sebelum kegelapan merenggutnya.


Di sisi lain Vania tersenyum senang rencananya berhasil. Vania membuang kunci serta remot AC ke tempat sampah.


"Semoga lo cepat pergi Elzia. Supaya El balik lagi ke gue," ucap Vania sebelum meninggalkan tempat.



Bel istirahat berbunyi nyaring rapat osis baru saja selesai. Elzio meregangkan badannya yang terasa kaku. Elzio lalu beranjak untuk ke kelas Elzia. Baru sampai dipertengahan jalan elzio melihat Arga yang berlari sambil meneriaki namanya.


"Hah El huh!" Arga berhenti dihadapan Elzio sambil mengatur nafasnya.

__ADS_1


"Kenapa ga?" Tanya Elzio bingung.


"Zia, dia sekarang ada dirumah sakit," jawab Arga membuat jatung Elzio berdebar seketika.


"Kenapa bisa?" Tanya Elzio dengan nada suara yang sudah berubah.


"Gue gak tau tapi tadi Delta cuma bilang kalo Zia sekarang di rumah sakit," Delta Abimana adalah temn Arga dan Elzio.


"Sekarang Zia di rumah sakit mana?" Tanya Elzio tidak sabaran.


"Ayo gue anter!" Elzio mengekor Arga sampai ke parkiran.


Elzio duduk disamping Arga. Sedang Arga dia mengemudikan mobilnya. "Lebih ceket bisa?" Pinta Elzio.


"Ini udah cepet El."


Elzio menggigit bibirnya, tubuhnya panas dingin. Dia takut Elzia kenapa-napa. Elzio hanya bisa berharap Elzia dalam keadaan baik-baik saja. Ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri bisa terjadi sesuatu dengan Elzia.


Kurang lebih 20 menit mereka sampai di rumah sakit tempat Elzia berada.


"Zia di ruang Flamboyan 1," ucap Arga.


Elzio menggaguk lalu berjalan cepat ke ruangan yang dituju. Didepan ruang rawat Elzia dia melihat Delta yang tengah melamun.


"Gimana keadaan Zia?" Tanya elzio mengagetkan Delta.


"Sekarang Zia udah membaik, tadi luka lebamnya udah diobati. Zia juga kena hipotermia," jelas Delta.


"Hipotermia?" Tanya Arga.


Delta menggaguk membenarkan.


"Kenapa Zia bisa kaya gini?" Tanya Elzio


Delta menghela nafas sebentar. "Entahlah El tadinya kelas gue bakal praktek di lab Komputer belakang. Tapi aneh aja, kaca jendela berembun. Bener aja waktu gue masuk ke dalam ruangan udah dingin banget. Gak tau siapa yang nyalain AC," Delta sejenak menghentikan penjelasannya.


"Terus setelah itu?" Tanya Arga penasaran.


"Gue lihat kaya ada orang, waktu gue ngedeket emang bener dan yang bikin gue kaget itu Zia."


"Bibir Zia lebam dan muka dia pucet banget. Tanpa lama-lama gue bawa zia ke rumah sakit."


"Badanya juga dingin banget, andai aja gue telat mungkin zia udah..."


Setelah mendengar pernjelasan Delta perasaan Elzio campur aduk. Persaaan bersalah lagi-lagi menggerogoti hatinya. Andai tadi dia memastikan adiknya masuk kelas dengan selamat kejadian ini tidak akan terjadi. Lagi-lagi dia gagal.


"Maafin kakak Zia," lirih Elzio. Air mata sudah menetes dari pelupuk matanya.


"Gue yakin pasti ini tidakan pembullyan" ucap Arga yakin.

__ADS_1


Gue pasti bakal bales lo lebih dari ini - batin Elzio yang merasa yakin jika adiknya memang korban bully.


......BERSAMBUNG!......


__ADS_2