
Hampir tengah malam mereka menunggu kedatangan papa hery, tetapi tak ada sedikitpun jawaban. Mama diana hanya menangis seharian itu, keyla tak tau harus berbuat apa, bahkan menguatkan dirinya saja, ia sudah tak mampu. Jarum jam di dinding rumah sekotak itu sudah berganti arah sekarang sudah pukul 3 pagi.
Tok..tok..tok
di luar, mama diana cepat cepat membuka pintu tersebut berharap sosok laki laki yang ia cintai sudah pulang dan selamat dari incaran polisi. Tetapi takdir berkata lain, 4 orang datang.
"Maaf, ibu saya harus membawa anda sesuai dengan perintah yang sudah saya terima dari atasan saya.." pernyataan laki laki tegap itu, seketika membuat keyla mengeluarkan benih air dari matanya. 4 orang itu membawa mama diana secara paksa.
" tolong, jangan.. mama, mama mau kemana?" Keyla terus menangis dan memohon untuk melepaskan mamanya tetapi sia sia.
Keyla terpaku pada titik dimana ia benar benar sendiri sekarang, mau dibawa kemana mama? Dan papa ada dimana? Isi otak keyla sambil menangis, ia harus bisa bertahan sendirian. Cukup lama keyla berdiam diri di tempat. Suasana sunyi di pukul 3 pagi, mengisyaratkan hati keyla saat ini.
__ADS_1
Hari itu melelahkan, menguras energi dan otak bagi keyla. Tak sadar bahwa raganya kini sudah tidak stabil. Ia tergeletak jatuh di lantai rumahnya sendiri.
***
"Kepalaku.." keyla sadar, kini ia mulai duduk dan melihat sekitar lingkungannya. "Dimana aku?" Tanya keyla sembari ia melihat ruang tidur berlampu kuning. Sadar bahwa ada beberapa orang yang sedang mengawasi dirinya.
" key..." mama diana berlari menghampiri keyla dengan air mata yang menghiasi wajahnya. Wajah itu dapat dilihat keyla lagi. Dengan mata panda, dan tubuh sedikit gontai, mama diana menghampiri keyla.
"Ahkirnya, gadis tuan hery sudah sadar.." suara itu asing bagi keyla, ia langsung menghadap ke sumber suara. Dilihatnya pria tubuh tegap yang sudah berumur tengah berada di samping keyla.
"Dia siapa?" Batin keyla.
__ADS_1
"Keyla.. nama yang bagus, cocok untuk bersanding di samping putraku.." gumam pria paruh baya itu. "Kau pasti ingin bertemu dengan papamu kan?" Tanya laki laki paruh baya itu.
Papa? Dimana papa?, jadi kau.." pikiran keyla hanya menuju pada musuh papanya saat ini. Iya, dialah wijaya, benar dia orangnya.
Di sisi lain, ada seorang lelaki muda berumur 20 tahun, sedang mengintip di balik pintu, ia penasaran dengan apa yang ingin dilakukan pada ayahnya. Iya, itu adalah iqbal putra dari wijaya musuh dari papa hery.
"Kau sudah tahu siapa aku?" Pria itu memiringkan senyumnya. "Baiklah.. baiklah, sepertinya kau sudah tidak sabar menemui papamu.." pria itu menyuruh rangga, orang kepercayaannya. "Bawa dia masuk ngga.." suruh wijaya.
Dilihatnya sosok laki laki yang sangat keyla sayangi itu, ya itu adalah papa hery. Seketika keyla lega melihat keadaan papanya baik baik saja. Tetapi tak ada sedikitpun kata kata yang terlontarkan dari mulut keyla, hanya air mata yang tidak bisa terbendung, mengisyaratkan bahwa ia merindukan sosok laki laki itu sekarang.
Keyla mencoba menghampiri papa hery, tetapi dihadang oleh pengawal pengawal dari pak wijaya. "Keterlaluan.." gumam keyla.
__ADS_1
bersambung...