
"Kenapa Surga? Kenapa!!!" Seorang pria dewasa menangis menatap langit, memegang bayi yang pucat dengan lembut namun juga menyedihkan. "Engkau merebut ayah dan ibuku, Istriku! Sekarang engkau ingin merebut putraku yang baru beberapa saat yang lalu lahir? Hebat! Hebat!!! Aku bersumpah pada diriku, pada hati taoku, bahwa Putraku akan membalaskan dendam Ayahnya, Ibunya!!!"
Tepat setelah pria itu berbicara, perlahan, tubuh pria itu bercahaya. Cahaya itu membentuk jutaan bintik cahaya, yang kemudian menyatu dan membentuk batu kristal berwarna Violet, yang sangat — sangat cantik. Perlahan, batu kristal berwarna violet pecah, dan kekuatan tanpa batas memasuki tubuh Bayi di tangannya. Bertahap, kulit bayi itu yang awalnya pucat, mulai membaik, hanya saja………… pria itu memucat dan akhirnya jatuh. Namun, walau begitu, dia tetap bisa mempertahankan kesadarannya.
"Mulai sekarang, namamu adalah Ji Nie Tian."
+--+
Tahun 598 Kalender Perjanjian Baru Manusia dan Iblis,
Di Wilayah Hulong, lebih tepatnya di antara perbatasan Perfektur Lan dan Provinsi Yiyao,
Dari tanah timur yang nan jauh, angin musim semi berembus, membawa kedamaian ke tanah Suku Xu.
Di tempat di belakang Hutan Suku Xu, seorang bocah mengangkat tubuhnya, berdiri dengan penuh kegugupan. Dia memiliki tubuh kurus, namun cara dia berdiri dan berjalan; tegap seperti seorang pejuang. Matanya menunjukan vitalitas tiada batas ketika dia dengan gagah berani menunjukan bunga edelweiss pada gadis yang tampak seumuran dengannya.
"Aku………… aku menyukaimu! Aku harap kamu bisa menikahiku!"
Seruan bocah itu membuat gadis itu berkedip dengan terkejut. Gadis itu menerima bunga edelweiss dari bocah itu dan tersenyum tipis. "Ji Nie Tian, bukan? Ada banyak yang mau menikahiku, dan kata ayah, aku akan menikahi lelaki terkuat di dunia………… jika kamu menjadi laki-laki terkuat di dunia, aku akan menikahimu!"
Bocah itu, yang mendengarnya sebagai sebuah tantangan dan persetujuan, menunjukan kebahagian dibalik ekspresi malunya. "Be-benarkah? Baiklah! Aku, Ji Nie Tian, akan menjadi laki-laki terkuat di dunia!"
"Ka-kalau begitu aku akan kembali ke rumah dan segera berlatih!!!" Bocah dengan nama Ji Nie Tian segera berlari pulang ke rumah ketika gadis itu tersenyum dengan polosnya.
"Aku berharap kamu bisa menjadi lelaki terkuat!"
…………
Di kediaman Ji,
Ji Nie Tian mendobrak pintu kamar ayahnya dan berteriak. "Ayah! Aku ingin menjadi lelaki terkuat di dunia!"
Di hadapannya, seorang lelaki sedang duduk bermeditasi. Wajah nya pucat dan matanya ketika menatap Ji Nie Tian, penuh dengan harapan namun dia menggeleng kepala. "Belum saatnya." Jawab lelaki yang dipanggil Ayah oleh Ji Nie Tian.
"Kenapa? Aku ingin berlatih! Aku ingin membalaskan dendam ayah dan ibu! Aku ingin menikahi Yongmei!" Ji Nie Tian mengepalkan tangannya, berusaha untuk meyakini ayahnya dengan tekadnya. Sudah lebih dari 3 tahun sejak dia membujuk ayahnya, sekarang dia sudah berumur 10 tahun. Anak-anak biasa sudah mulai melatih tubuh mereka agar bisa menerobos ke ranah Houtian.
"Belum saatnya. Hati tao milikmu tidak sempurna. Dirimu belum siap." Ayah Ji Nie Tian menatap Ji Nie Tian dengan kepastian bahwa dia belum siap untuk segalanya.
Mendengarnya, Ji Nie Tian menjadi lebih penasaran. "Lalu bagaimana caraku agar hati ku siap?"
Ayah Ji Nie Tian menyentuh dagu dan memejamkan mata. Lalu dia menjawab, "Kamu harus menemukannya sendiri. "
Ji Nie Tian menjadi frustasi. Dia bersabar dan bertanya lagi, "Bisakah ayah memberitahuku cara untuk menemukannya?"
"Perhatikanlah manusia, perhatikan lah bumi, perhatikanlah langit. Dengan itu kamu bisa mengetahuinya. " Ayah Ji Nie Tian menjawab dengan samar.
"Manusia, bumi, langit………… ayah pasti tahu jawabannya! Tolong beritahu aku!"
"Setiap jawaban berbeda pada setiap orang. Ada yang ingin mencapai ujung dao, ada yang ingin mencari kebenaran, ada yang ingin menyempurnakan kejahatan, ada yang ingin mencapai langit." Ayah Ji Nie Tian menarik nafas sejenak lalu melepasnya. "Hanya dengan cara ini sebagai awal, kamu akan bisa memoles jalanmu menjadi lebih halus lagi."
Ji Nie Tian tak lagi paham. Ayahnya selalu seperti ini. Penuh dengan teka-teki, di sisi lain, dirinya, Ji Nie Tian adalah orang yang tak ragu menyampaikan sesuatu. Tapi, apa yang bisa ia lakukan? Ayahnya selalu seperti ini, dan ayah yang dia kenal memang seperti ini………… daripada mengeluh, lebih baik dia menyiapkan makanannya karena tubuhnya sudah mulai memberontak.
Jadi dia menganggukkan kepala dan keluar dari kamar ayahnya.
Segera setelah itu, dia ke dapur dan mempersiapkan makanan untuk dirinya sendiri. Ayahnya tak perlu makan………… karena memang, basis kultivasi ayahnya telah mencapai ke titik dimana dia tak perlu makan dan tidur. Jujur, Ji Nie Tian menganggap ini cukup membantu, karena dia tak yakin ayahnya menyukai masakannya jadi sejak dia tahu Ayahnya mampu hidup tanpa makan dan tidur, dia memutuskan untuk tidak memasak apapun.
—÷÷÷—
Waktu terus mengalir, langit berubah dan tanpa disadari, matahari kembali terbit dan menyinari seluruh daratan.
Pada pagi itu, Ji Nie Tian sudah ada di depan rumah, berolahraga dengan penuh semangat.
Dia memukul udara, menendang dan melompat seolah-olah dia sedang melawan seseorang.
Nafasnya berat dan tubuhnya lelah, namun tekad Ji Nie Tian tak membuatnya untuk tak berhenti, dan tanpa disadari kembali, dua jam kembali terlewati seperti itu saja.
Ji Nie Tian roboh. Tubuhnya terbaring diatas rumput dengan penuh keringat. Matanya yang hitam gelap menatap langit biru yang indah.
Nafasnya masih berat, namun tubuhnya sudah membaik.
Setelah beristirahat, Ji Nie Tian segera sarapan. Seluruh tenaganya telah habis, jadi dia perlu mengisinya kembali.
__ADS_1
Setelah sarapan, Ji Nie Tian bermeditasi selama 3 jam.
Seperti ini lah rutinitas Ji Nie Tian setiap pagi. Setelah meditasi ini, Ji Nie Tian harus menyalin Kitab Tao Kemurnian Agung dan Kitab Tao Langit Ungu. Lalu setelah ini, baru lah dia bisa menemui kekasih kecil nya…………
Memikirkan gadis kecil itu, Xu Yongmei, Ji Nie Tian menjadi semakin bersemangat dan melahap seluruh makanannya dalam satu lahapan dengan cepat dan segera memulai meditasi di ruang meditasi.
Ruang meditasi yang disiapkan oleh ayahnya sangatlah sederhana.
Di sana ada rak buku, meja bundar di dekat jendela dan bantal meditasi yang tersusun rapi, bertumpuk di ujung kanan ruangan.
Tempat itu sangat lah tenang. Tak ada suara apapun selain desisan angin yang masuk.
Di sini lah Ji Nie Tian menyalin Kitab Tao Kemurnian Agung dan Kitab Tao Langit Ungu.
Ji Nie Tian mengambil bantal meditasi, menaruhnya disamping meja bundar dan duduk di atas bantal meditasi. Dia menarik nafas perlahan dan memejamkan mata.
Ketenangan.
Hanya itu yang ia rasakan.
Tak ada apapun di dalam kepalanya.
Ji Nie Tian tak memikirkan apapun.
Fooshh…………
Angin berembus, dedaunan bergemirisik.
Bahkan ketika matahari sudah ada di atas takhtanya, di dalam ruangan itu masih segar, dan tak mengganggu fokus Ji Nie Tian.
Setelah 3 jam, Ji Nie Tian akhirnya membuka matanya. Dia telah mengakhiri sesi meditasi. Jiwanya sekarang terasa jauh lebih tenang.
Sekarang dia mengambil empat buku, diantaranya adalah buku kosong dan yang lainnya adalah salinan dari Kitab Tao Kemurnian Agung dan Kitab Tao Langit Ungu.
Ji Nie Tian membuka Kitab Tao Langit Ungu dan buku kosong, lalu mengambil kuas dan tinta dan mulai menyalin Kitan Tao Langit Ungu.
Waktu terus mengalir, tangan Ji Nie Tian bergerak dengan sangat cepat namun lembut. Dan hanya dalam waktu 30 menit, Ji Nie Tian menyelesaikan Kitab Tao Langit Ungu.
Ketika Ji Nie Tian selesai menyalin Kitab Tao Langit Ungu, dia menutup kedua buku, dan membuka dua buku lain.
…………
"Akhirnya selesai!!!"
Ji Nie Tian berteriak dalam hati. Dia segera berdiri dan berjalan keluar dengan tenang.
Harus diketahui, bahwa di dalam rumah, Ji Nie Tian tak boleh membuat banyak keributan atau dia akan dimarahi ayahnya.
Jika dia berada di luar………… maka dia bisa menjadi dirinya sendiri!
Ketika Ji Nie Tian sudah berjarak beberapa meter dari rumah, dia segera berlari.
Sekarang hampir mendekati sore, jika dia lambat, maka dia tak bisa melihat Xu Yongmei!
Ji Nie Tian berlari dengan sangat cepat. Dia, walau belum melatih Qi, dia masihlah seseorang yang melatih tubuh. Umurnya masih 10 tahun, namun tingginya sudah mencapai 160cm. Benar, dia memiliki tubuh yang terlatih.
Jadi untuk melewati beberapa blok rumah adalah hal yang mudah bagi dirinya!
Akhirnya, Ji Nie Tian mencapai hutan bambu. Di sana ada setapak jalan menuju pedalaman. Dan di sana lah, Ji Nie Tian mengendalikan nafasnya.
Setelah nafasnya menjadi teratur, baru lah dia melangkah ke dalam. Dia tak boleh terlihat tak bermartabat di hadapan Xu Yongmei.
Angin bersiul dalam keheningan, bambu bergoyang kanan dan kiri sementara dedaunannya berdesis seperti ular.
Tak lama kemudian, dalam perjalanannya, Ji Nie Tian berpapasan dengan 3 lelaki misterius — diantaranya adalah lelaki muda berumur tak jauh darinya. Dia mengenakan pakaian yang 10 kali lebih mahal darinya — itu bersinar dengan kemewahan.
Ji Nie Tian segan melihat orang-orang ini dan mengalihkan matanya ke depan.
Selagi Ji Nie Tian melangkah menjauh, lelaki muda itu bertanya dengan pelan, "Siapa dia?"
"............ Dia kemungkinan besar adalah putra dari lelaki Ji yang datang ke suku Xu sepuluh tahun yang lalu." Lelaki berkerudung hitam menjawab dengan nada sopan.
__ADS_1
"Lelaki Ji?"
"Ya. Tidak ada yang tahu siapa dia dan kenapa dia datang ke Suku Xu, akan tetapi kudengar bahwa lelaki Ji ini memiliki kekuatan yang maha kuasa………… banyak yang mengatakan bahwa dia adalah Immortal yang jatuh dari surga!"
"Immortal…………" Lelaki itu terkejut mendengarnya. Terutama itu dari mulut pelayan tempur yang hebat dari Sukunya. Jika memang seperti itu, maka bahkan Suku nya tak pantas untuk berhadapan dengannya.
Houtian, Xiantian, Pilar Umur Panjang, Istana Tao, Reinkarnasi, Samsara, Mahayana…………
Dari 8 ranah menuju keabadian, tak ada yang pantas disebut Immortal!
"Apakah dia berbakat?"
"Tidak………… tahu." Lelaki berkerudung memandamg punggung Ji Nie Tian dan menggeleng kepalanya. "Tak ada kekuatan apapun ataupun hal istimewa yang kulihat darinya."
"Jika Xiantian Grandmaster berkata seperti itu, maka pasti seperti itu…………" Lelaki kecil menyipitkan mata, berbalik dan pergi.
Ketika mereka pergi meninggalkan hutan bambu, Ji Nie Tian akhirnya tiba di sebuah paviliun.
Paviliun itu berada di tengah hutan bambu. Tak jauh ada sungai kecil dan jembatan untuk menyebranginya.
Ji Nie Tian berhenti sejenak, dan melihat seorang gadis kecil di sana, menyeduh teh dengan perlahan dan lembut lalu meminumnya dengan bibur kecil yang tipisnya.
Ji Nie Tian bisa mencium dari jauh, bau bunga yang manis. Jelas tak ada bunga di sana, tapi baunya sangat jelas.
Sesaat setelah gadis itu menaruh gelas teh, dia menyadari keberadaan Ji Nie Tian, menoleh namun tak melihat siapapun di sana.
"Hmm?" Gadis kecil itu berkedip heran. Jelas dia merasakan ada tatapan misterius dari jarak yang tak jauh darinya, namun tak ada siapapun di sana.
Ji Nie Tian, di sisi lain, bersembunyi dibalik semak yang lebat. Dia panik. Wajahnya memerah dan nafasnya sedikit tak teratur. Dia gugup. Hal ini terus terjadi sejak dia melihat Xu Yongmei untuk pertama kalinya, sekitar sebulan yang lalu…………
Wajahnya panas,
Jantungnya berdebar,
Pikirannya kacau,
Karena itu ketika dia datang kesini setiap hari untuk melihatnya, dia tak pernah menampakan diri dihadapan Xu Yongmei.
Mungkin semalam itu adalah pertama kalinya Xu Yongmei melihat Ji Nie Tian.
"Booo!"
Suara kecil nan manis tiba-tiba terdengar di telinga Ji Nie Tian, membuat lelaki kecil itu terkejut.
Itu adalah gadis kecil cantik yang terkikik melihat reaksi Ji Nie Tian. "Hihi ~ Apakah kamu ingin minum teh bersamaku?"
"…………" Ji Nie Tian terdiam melihat Xu Yongmei di sampingnya.
"Ya atau tidak?!" Xu Yongmei melihat bahwa Ji Nie Tian mengacuhkannya, dia menjadi marah.
"Oh…! Ya! Ya! Aku mau!" Ji Nie Tian panik ketika mendengar Xu Yongmei marah.
Aiya ~~~ bahkan ketika dia marah, dia masih sangat cantik!
Xu Yongmei tersenyum bahagia dan menarik Ji Nie Tian keluar menuju paviliun. Dia menyuruhnya Ji Nie Tian untuk duduk lalu menuangkan teh untuknya.
"Silahkan!" Xu Yongmei mendorong gelas yang ia tuangkan ke Ji Nie Tian lalu duduk di depannya.
"Ah, ya!" Ji Nie Tian meminum teh dengan perlahan. Rasanya manis dan pahit, membuatnya merasa nyaman dan aman. Rasanya seperti ketentraman tanpa batas mendatanginya…………
"Bagaimana?" Xu Yongmei menanyakan pendapat Ji Nie Tian dengan antusiasme.
Ji Nie Tian berkedip, menyentuh dagu dan perlahan berkata, "Kehidupan. Rasanya seperti kehidupan."
"Hmm?" Xu Yongmei yang tak memahaminya, memerengkan kepala dengan bingung. "Maksudnya?"
"Pahit dan manis, seperti indahnya langit dan kerasnya bumi." Ji Nie Tian mengingat perkataan ayahnya, dan mengucapkan nya tanpa sadar. Segera dia menarik nafas dalam. "Sangat indah."
"Indahnya langit dan kerasnya bumi…………" Xu Yongmei bergumam dengan nada yang misterius dan tersenyum. "Kata-kata yang bagus!"
Ji Nie Tian senang mendengar Xu Yongmei memujinya. Beruntung dia mengingat kata-kata ayahnya…………
__ADS_1
Ketika mereka saling tersenyum dan menikmati kenyamanan dan ketenangan, sepasang mata memerhatikan mereka dengan penuh antipasi…………
Saat-saat itu bagaikan ketenangan sebelum badai………….