Everlasting Realm

Everlasting Realm
Episode. 04: Sungai Styx Part I


__ADS_3

Ji Nie Tian membuka kelopak matanya, memperlihatkan sepasang mata yang berbeda warna — perak dan ungu — bersinar di bawah sinar matahari yang masuk melalui jendela. Awalnya dia terheran melihat atap yang sangat lah asing baginya, lalu ingatannya ditarik ke sehari yang lalu.


Benar, dia dibawa oleh Ayahnya, Immortal Ji.


Ini adalah hari pertama latihannya.


"Aku penasaran, apakah akan seperti biasa atau………"


"Pemalas, bangunlah,"


Saat Ji Nie Tian melihat ke luar jendela, ayahnya muncul di samping ranjang dengan tatapan tanpa emosinya.


"Ayah?!"


Ji Nie Tian melompat terkejut, jatuh dari ranjang lalu menatap Immortal Ji yang mengenakan pakaian taois putih polos dengan sedikit warna biru keperakan yang agak tua.


"Kenapa kamu seperti melihat hantu? Cepat lah bangkit, ini adalah hari pertamamu belajar." Setelah mengatakan ini, Immortal Ji berbalik dan keluar.


"Ya………" Ji Nie Tian menggaruk kepalanya, bangkit dan berjalan mengikuti Immortal Ji.


Di rumah barunya, di atas gunung tanpa nama, hanya ada 3 ruangan dan satu paviliun dengan satu gubuk misterius.


Dua ruangan adalah kamarnya dan ayahnya, dan ruang ketiga sepertinya ruang tamu namun tampaknya di desain untuk kultivasi daripada untuk menyambut tamu.


Setelah berjalan keluar dari rumah, Ji Nie Tian merasakan hembusan angin menerpa baju tipisnya yang biasa dan rambutnya yang sepanjang punggung.


Burung-burung bernyanyi menyambut pagi, sinar mentari indah bagaikan pantulan sinar bola kristal, dan udara yang segar membuat segala pikiran kotor pergi……… itu adalah pagi yang luar biasa.


Acuh dengan kedamaian itu, Immortal Ji terus menuntun Ji Nie Tian tanpa berhenti ke Paviliun mereka. Di sana telah disediakan meja bundar pendek dengan bantal kultivasi.


Di atas meja, ada dua teh yang memiliki posisi berseberangan.


Immortal Ji menyuruh Ji Nie Tian untuk duduk dan menyesap teh sebelum memulai.


Ji Nie Tian menurut dan meminum teh. Ketika teh mengalir melalui tenggorokannya, dia bisa merasakan ada sesuatu yang aneh dan ekspresinya agak berkerut.


"Bagaimana rasa dari seluruh Racun yang ada di dunia ini?" Immortal Ji tersenyum tipis. "Itu adalah salah satu mahakaryaku, jadi kamu harus memanfaatkannya dengan baik."


"AGHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!!!"


Hanya dalam waktu yang singkat, seluruh cairan itu telah menjalar ke seluruh tubuh Ji Nie Tian, menggerogotinya hingga tulang, membuat pikirannya tak bisa berpikir dengan tenang.


Bom!


Ketika rasa sakit tak kunjung pergi, ia membenturkan kepalanya ke meja dengan sangat kuat.


Bom!


Dua kali,


Bom!


Tiga kali,


Bom!


Prak!


Meja itu hancur ketika pada saat keempat kali.


Namun rasa sakit tak hilang.


Itu tak hilang.


Seluruh rasa sakit seperti penderitaan tiada akhir.


Dia ingin rasa sakit ini pergi.


"PERGI LAHHHHHHHH!!!!!!!"


Ji Nie Tian menarik rambutnya dengan kuat. Tapi percuma.


Mau dia cakar wajahnya, memukul tubuh dan membenturkan kepala ke lantai, rasa sakit itu tak hilang.


Dia terus melakukan apa yang dia bisa untuk mengurangi rasa sakit, selagi Immortal Ji duduk sambil meminum teh dengan tenang, seolah-olah itu bukan masalah besar.


Pada saat setelah seluruh kesadarannya di dorong sampai batas, Ji Nie Tian memejamkan matanya sekuat matanya hingga ia tak lagi bergerak.


Immortal Ji memandang dengan dalam dan dia menghembuskan nafas yang panjang.


"Berjuanglah."


………


"Huh?"


Ji Nie Tian terkejut mendapati dirinya duduk di atas perahu, yang berlayar di sungai yang panjang, penuh kabut dan embun dengan pepohonan cherry yang tampak telah berbunga di tepi sungai.

__ADS_1


"Kamu bangun." Itu lah yang dikatakan kakek yang mendayung perahu. Dia menoleh sejenak memandang Ji Nie Tian, dan kembali melihat jalan.


"Di mana aku?" Ji Nie Tian tanpa dia sadari, bertanya.


"Di Sungai Nyx."


Mendengarnya, Ji Nie Tian menarik nafas dalam dan wajahnya segera pucat. Lalu dia tertawa pelan, "Jadi aku mati?"


"Benar."


"Dan yang membunuhku adalah ayahku sendiri………"


"Benar."


"Jadi kemana aku akan pergi?"


"Tidak kemana-mana. Kamu akan berlayar denganku hingga Era Enam Alam kembali cemerlang."


"Enam Alam?" Ini pertama kalinya dia mendengar nama itu.


"Benar. Dahulu, semesta dibagi menjadi Enam Alam, Alam Iblis, Alam Hantu Kelaparan, Alam Binatang, Alam Manusia, Alam Setengah Dewa, Alam Dewa. Dahulu……… benar, dahulu, kultivator hanya perlu waktu 300 tahun untuk menjadi Immortal, dahulu kultivator mampu menjadi Dewa, dahulu Ranah Kekekalan terbuka lebar. Tapi sekarang……… naga jatuh, phoenix padam, gerbang abadi tertutup rapat, warisan tenggelam dan hanya beberapa kultivator dalam jutaan tahun yang dapat menjadi Immortal. Anak muda, terimalah, dirimu bukanlah salah satu orang yang ditakdirkan untuk menjadi Immortal."


Ji Nie Tian terdiam. Hatinya bergetar dan seluruh keinginannya seakan-akan menghilang. "Benar, di luar, ada banyak hal yang harus kulakukan……… itu berat……… namun………" Ji Nie Tian kemudian tersenyum pahit, "Aku ingin mengabulkan harapan Ayahku. Aku ingin menjadi Immortal dan menjatuhkan Tao Surgawi. Aku ingin membalaskan dendam Ibuku."


"Ibumu……… haishh, dia adalah wanita yang sangat cantik……… dan baik hati………" Pak tua menghela nafas berat, "Anak muda, masalah ibumu lebih rumit dari yang kamu duga. Surga tak menjatuhkan Immortal tanpa alasan yang jelas."


"Aku tidak peduli apa pun alasannya," Saat Ji Nie Tian mendengarnya, matanya bersinar dengan warna ungu dan putih, berkobar seperti api yang membawa. Perlahan, dia berkata dengan dingin, "Surga merebut kebahagiaanku, Surga merebut milikku, aku hanya perlu menjatuhkannya dan mengambil semua yang dia rebut dariku."


Bom!


Bom!


Bom!


Langit meledak, sungai bergelombang. Perlahan kekuatan misterius yang menghancurkan menekan seluruh Sungai Nyx, menghamburkan seluruh jiwa dan hantu yang kelaparan ke langit.


Jiwa dan Hantu yang berhamburan perlahan menyadari keberadaan Ji Nie Tian dan ketika mereka melihat aura yang menentang itu, mereka berteriak dan melemparkan diri mereka ke Ji Nie Tian.


Ji Nie Tian tersentak kaget. Seolah dikejar oleh waktu, dia melompat ke dalam Sungai Nyx, mengejutkan Pak tua dalam perahu.


"Anak itu?!"


Ji Nie Tian berenang di dalam Sungai Nyx, ketika perlahan jiwanya dirobek oleh arus ombak Sungai Nyx.


"Tidak! Tidak! Aku tak bisa mati disini!" Ji Nie Tian yang melihat jiwanya cabik-cabik, mulai merapalkan Mantra Kemurnian Agung, berharap itu membantunya.


Koneksinya dengan Tao di luar Sungai Nyx terpotong ketika dia datang ke sini.


Ji Nie Tian yang merasakan keputusasaan, terus mendorong kepalanya untuk berputar hingga ka mencapai suatu kesimpulan — minum air Sungai Nyx!


Mereka yang meminum air Sungai Nyx jiwanya akan lenyap!


Namun mereka yang berhasil bertahan, akan memperoleh umur panjang dan tak dikekang oleh Kematian!


Ji Nie Tian tahu ini adalah ide terburuk yang pernah dia pikirkan, tapi antara mati tanpa perlawanan dan mati dengan perlawanan, dia masih memilih mati dengan perlawanan!


Namun sebelum sempat Ji Nie Tian menciptakan tindakan, jiwanya menghilang dari Sungai Styx dan muncul di langit merah.


Angin meniup baju, rambut menari-nari dan dia terkejut.


Ji Nie Tian membuang seluruh air Sungai Styx dari mulutnya dan melihat ke Bulan yang berdiri di samping matahari.


Itu adalah langit alam Kematian!


Ketika dia di udara, seluruh jiwa dan hantu kelaparan menyadari keberadaannya sekali lagi dan menyerbu.


Ribuan jiwa dan hantu terbang mengitari langit seperti badai, menuju jiwa Ji Nie Tian yang redup.


Ji Nie Tian menggigit bibirnya dan terpaksa untuk merapalkan Mantra Kemurnian Agung.


Dalam hati, dia berharap bisa menemukan koneksi dengan Tao sejati, namun itu percuma.


Tak ada respon.


"Sial! Apa aku akan mati?"


Ekspresi Ji Nie Tian menjadi pahit dan dia memejamkan matanya.


"Ini adalah yang terakhir kalinya!"


Ji Nie Tian perlahan merapalkan Mantra Kemurnian Agung. Mulutnya komat-kamit ketika udara terus berhembus.


Jiwa-jiwa dan Hantu kelaparan yang mengejar telah mendekat.


Setelah selesai membaca Mantra Kemurnian Agung, dia membaca Mantra Langit Ungu. Dan setelahnya dia membaca lagi Mantra Kemurnian Agung dan seterusnya.


Ketika dia merasakan ada sesuatu yang retak dalam benaknya, dia membuka matanya lagi dan membaca bait terakhir dari Mantra Kemurnian Agung dengan lebih keras.

__ADS_1


[......... Sebagai Awal dan Akhir]


Ketika bait berakhir, cahaya bersinar terang dan ruang terdistorsi, membuka celah yang sangat kecil di sekitarnya.


Semua celah muncul di atas, dan hanya ada satu celah yang ada di bawah.


Tubuh Ji Nie Tian terus terjun. Dengan bagian atas yang sedikit mereng, dia berusaha untuk menjangkau celah kecil itu, yang hanya sebesar kepala.


Namun, ketika lengan kanannya masuk ke dalam, celah itu menghilang bersama tangan kanannya.


Ji Nie Tian tak merasakan sakit. Namun ketika tangan kanan dipulihkan, cahaya jiwanya semakin redup.


Melihat cahaya jiwanya lalu ke para jiwa dan hantu kelaparan lainnya, dia mau tak mau menggertakkan gigi.


"Jiwaku sudah selemah ini! Dan kalian masih menginginkannya?" Ji Nie Tian mengerutkan dahi dengan keras. Dalam waktu singkat, jiwa dan hantu menggapainya, namun Ji Nie Tian memukul setiap jiwa dan hantu yang berusaha memakan jiwanya, bukan hanya itu, dia bahkan berusaha untuk memakan jiwa dan hantu.


"Aggghhhh!!!" Seperti memakan daging, Ji Nie Tian mengoyak jiwa dan hantu kelaparan dengan mulut dan tangannya selagi jiwa dan hantu berusaha untuk memakannya.


Jiwa yang lainnya yang ada di luar badai pertempurna, yang mana ingin juga memakan jiwa Ji Nie Tian, berwajah pucat.


"Anak ini……… dia bahkan berusaha untuk memakan jiwa yang lainnya!"


"Dia sama seramnya dengan Raja Yama!"


Jiwa dan hantu itu berbeda, sementara jiwa masih memegang keinginannya, hantu sudah kehilangan akal dan hanya ingin memakan Jiwa yang baru datang ke Sungai Styx, terutama jiwa yang tak dijaga oleh Pemancing Jiwa.


Kembali ke sisi Ji Nie Tian, yang hanya ada di pikiran pemuda itu adalah mencabik!


Cabik!


Cabik!


Cabik!


Cabik setiap bagian mereka yang mencoba untuk memakannya!


Makan!


Lahap!


Telan!


Apapun yang mendekat, lahap!


Ketika pikiran Ji Nie Tian di dorong hingga gila, para jiwa yang masih memiliki keinginan untuk hidup, mundur sementara Hantu kelaparan dan jiwa yang telah pasrah akan nasib masih mencoba untuk memakan Ji Nie Tian.


Ji Nie Tian masih tak berhenti. Ketika hanya tersisa hantu kelaparan, dia melompat ke hantu itu dan menyerang mereka!


Memakan setiap bagian tubuh dari jiwa itu!


Jiwa bukan lah tubuh. Jadi bahkan jika itu robek atau terbelah, tak akan mengucurkan darah.


Itu tak terlihat terlalu mengerikan, namun yang membuat semuanya menjadi mengerikan adalah bagaimana Ji Nie Tian merobek setiap bagian dari jiwa yang datang pada dirinya.


"Ahhhhhhhhhhhhhhh!!!!!!!!"


Auman kuat diiringi dengan aura misterius akhirnya membuat para hantu kelaparan mundur terbirit-birit, hanya menyisakan satu hantu kelaparan yang sangat gila.


Ketika hanya tersisa satu hantu kelaparan saja yang bertahan, Ji Nie Tian memukul, menendang, mencakar, merobek dan membenturkan kepalanya ke setiap bagian hantu kelaparan, sembari mendorongnya jatuh ke Sungai Styx.


Sebelum sempat mencapai jarak 10 meter, Ji Nie Tian mendorong tubuh hantu kelaparan itu dan berhasil membuatnya mendarat ke atas hutan Sungai Styx.


Bom!


Debu dan pasir berhamburan.


Ji Nie Tian berbaring dengan ekspresi kelelahan, dengan mata yang memandang merahnya langit.


"Uhhh," Dia melihat telapak tangannya yang cukup jelas. Kemungkinan dia mendapatkan banyak nutrisi dari hantu-hantu itu……… sekarang jiwanya mulai pulih.


"Aku ingin pulang."


Ji Nie Tian bergumam lalu tertawa pahit, "Apakah ini takdirku untuk terjebak di sini?"


Takdir.


Benar.


Salah satu belenggu yang menahan seluruh umat manusia, belenggu mutlak yang tak tertebak, belenggu mutlak yang tak terpatahkan.


Itu lah takdir.


Kemungkinan ayahnya mengirimnya ke alam kematian untuk melawan takdir dan kembali.


Tapi, melihat bagaimana Surga menghalanginya, jelas dia tak memiliki kesempatan………


Ji Nie Tian menggigit bibirnya dan berdiri, "Tidak, aku harus bergerak. Masih ada orang yang menunggu di dunia luar. Pasti ada jalan keluarnya."

__ADS_1


Dengan begitu, Ji Nie Tian memulai perjalanannya di alam kematian.


__ADS_2