Everlasting Realm

Everlasting Realm
Episode. 09: The Fragments of Dark Harmony Sage Part II


__ADS_3

Langit cerah,


Bumi damai,


Tanah subur,


Angin sepoi menerpa dedaunan, menerbangkannya ke langit biru yang cerah, mengikuti jalur yang tak terlihat,


Kemudian, hembusan angin itu membawa dedaunan jatuh ke atas atap sebuah Kuil kuno yang tampak tak lagi terawat.


Kuil itu terlihat kotor dan kusam. Rumput liar tumbuh di antara sela lantai, tumbuhan jalar menjalar ke tanah melalui atap, pohon tumbuh menghancurkan dinding disebelah kanan gedung kuil,


Tempat itu sepi dan damai, akan tetapi tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana, hingga bunyi gerbang yang berdenyit terdengar.


Nggg... ... ...


Dari gerbang, masuk lah tiga sosok manusia. Mereka mengenakan jubah taois dan mereka tampak seperti pendekar jalanan yang berkeliling di dunia.


Mereka adalah Gu Kuangren, saudari junior Gu Kuangren, Gu Die Yu dan sandera mereka yang ada di atas pundak Gu Kuangren, Dong Han.


Habis dua dupa untuk mereka agar bisa sampai ke sini.


"Apakah ini tempatnya?" Gadis itu, Gu Die Yu melihat ke sekeliling dan menoleh lagi ke Dong Han. "Benarkah ini tempatnya?"


"Benar, benar!" Dong Han mengangguk cepat karena takut mereka menjadi ragu dan membunuhnya ditempat.


"Baiklah. Kalau begitu kamu harus menemani kami." Gu Die Yu memandang dingin Dong Han.


"Gulp," Dong Han menelan ludah. Ikut dengan mereka? Yang benar saja! Jika maju selangkah lagi, maka akan ada pertempuran antar praktisi Pra Surga!


Tuan Kuil adalah orang yang sangat kuat, jika bukan karena itu, bagaimana dia mau menjilatnya?


"Aku, aku adalah beban!" Dong Han tak boleh membiarkan Tuan Kuil tahu dia lah yang memimpin mereka pergi. "Biarkan aku pergi! Aku sudah menyelesaikan tugasku!" Teriaknya lagi sambil memberontak.


Gu Kuangren dan Gu Die Yu melihat bagaimana Dong Han ketakutan dengan Tuan Kuil ini, dan mereka terdiam.


Lalu Gu Kuangren menurunkannya.


"Kuangren!" Gu Die Yu berteriak panik.


"Biarkan dia." kata Gu Kuangren. "Dia hanya akan menjadi beban. Jikapun salah, kita hanya perlu mencarinya lagi."


Gu Die Yu menepuk jidatnya melihat kesombongan Gu Kuangren.


Dia tahu bahwa Gu Kuangren mencoba memberikan Dong Han kesempatan, namun dia merasa bahwa saudara junior serta satu garis keturunannya itu adalah orang yang bodoh!


Dong Han yang diturunkan, segera melompat pergi melalui atap dinding.


Mereka melihat bagaimana Dong Han pergi dan Gu Die Yu menghela nafas. "Seterah." katanya. "Ayo bergegas masuk. Aku tak mau membuang waktu."


Gu Kuangren mengangguk dan melangkah masuk lebih dalam bersama Gu Die Yu.


Tak! Tak! Tak!


Langkah demi langkah bergema ketika mereka berjalan memasuki gedung Kuil. Di sana tak terlalu gelap, karena ada pohon yang tumbuh dengan merusak tembok. Sinar mentari masuk melalui tembok itu.


Di bawah pohon itu, ada seorang pendeta buddha, duduk bermeditasi. Matanya khusyuk. Nafasnya tenang. Ketika ia menyadari keberadaan Gu bersaudara, dia membuka matanya dan tersenyum cemerlang.


"Wahai dua anak muda, apa gerangan engkau kemari?" tanya pendeta itu.


Gu Kuangren hendak menjawab. Namun Gu Die Yu menahannya dan lebih dahulu menyahut, "Apakah engkau Tuan Kuil?"


"Diriku ini memang Tuan Kuil dari Kuil ini, tapi apa gerangan yang engkau miliki denganku?" Tuan Kuil masih tersenyum dengan sangat murni.


"Bukankah kamu lebih tau?" Mata Gu Die Yu menjadi lebih dingin.


"... ... ... ..." Senyum dari Pendeta tua itu tiba-tiba luntur. Dia memejamkan mata, dan membukanya lagi. Ketika matanya dibuka lebar-lebar, kegelapan segera menyelimuti tempat itu dan Gu bersaudara ditelan oleh kegelapan.


Gu Die Yu mencoba membuat pelindung dari Mantra Pelindung Buddha, namun percuma, pelindung itu rusak sebelum dia menyelesaikan mantranya.


Fwooooshhhh!!!!!!!


Kegelapan seperti gelombang, datang dan pergi, dan ketika kegelapan pergi, mereka melihat ada banyak jasad yang di tumpuk di sekeliling.


"Aku ingat, kalau aku memerlukan dua tubuh lagi." kata pendeta tua. "Aku akan meminjam tubuh kalian."


Gu Kuangren panik. Dia mengeluarkan pedang panjangnya dan diam. Ini pertama kalinya dia diam seperti itu. Memang, pendeta tua itu adalah lawan terkuat yang pernah ia hadapi. Dia harus berpikir dulu sebelum menyerang, dan dia bukan ahlinya dalam berpikir!


Dia hanya Kuangren yang mencari kebenaran dan keadilan!


"Hmm," Pendeta tua itu tak mempedulikan Gu Kuangren dan menatap Gu Die Yu dengan dalam. Sosoknya yang mulus, kulitnya yang putih dan wajahnya yang sempurna itu, sesuatu seakan-akan bangkit dalam diri pendeta tua ketika melihatnya. "Terakhir kali aku menyicipi seorang gadis perawan adalah sehari yang lalu. Aku tak tau lagi dimana tubuh itu, jadi aku rasa aku akan menjadikanmu mainanku juga." Katanya menatap Gu Die Yu dengan tanpa ekspresi.


Saat Gu Die Yu tahu bahwa dia dalam bahaua, dan hendak merapalkan mantra pelindung, namun sesosok pemuda turun dari langit, mengenakan jubah merah gelap yang mereka kenal — itu seperti milik Dong Han... ... ...


"Senior tua, tahanlah." Kata pemuda itu, yang matanya penuh dengan ketenangan.


"Kamu... ... ... Kamu sangat menarik." kata pendeta itu. "Membunuhmu akan terlihat menyayangkan," kemudian pendeta itu melemparkan sesuatu, namun Pemuda itu dengan satu tangan saja menangkap benda yang dilempar. Itu adalah parasit cacing pelacak.


Pemuda itu memandang cacing itu dan mendengus. Lalu dia meremukkan cacing tersebut dan berkata, "Tampaknya berbicara baik-baik percuma."


Setelah mengatakan itu, Qi yang mendalam tiba-tiba meledak dan menyembur ke sekitar.


"Kemarilah, pedang." kata pemuda itu dan pedang di tangan Gu Kuangren terbang ke tangannya.


"Aku belum pernah mencoba teknik Cloudstream ke siapapun sebelumnya... ... ..." Pemuda itu bergumam dengan tidak jelas ketika angin terus berhembus seperti badai hujan di sekitarnya. Matanya menatap bilah bersih pedang dan senyumnya terpantulkan di bilah itu. "Teknik Cloudstream yang Menghanyutkan Bumi."


Dengan ayunan tunggal, tiba-tiba awan berubah arah mengikuti arah bilah diayunkan dan energi misterius menyapu ke arah pendeta tua dengan kekuatan yang maha penghancurnya!


BOOOOOMMMMM!!!


Energi itu meledak namun tampaknya sesuatu melindungi Pendeta tua itu dari energi penghancurnya.


Pendeta tua itu awalnya tercengang — sama seperti Gu bersaudara — namun dia tertawa sedetik kemudian. "Hahahahaha, Pertapa Harmoni Kegelapan melindungiku!!! Ia mendengar doa ku!!! Sekarang kalian tak bisa melakukan apa-apa!"


"Apa-apaan itu?"


"Apakah pohon itu semacam dewa?!"


Gu bersaudara terkejut dengan perubahan yang terus mengejutkan. Akan tetapi pemuda itu masih tampak biasa saja. Malah, dia sedikit tertawa.

__ADS_1


"Aku belum pernah berhadapan dengan Pertapa sebelumnya," gumam Pemuda itu yang masih tersenyum. "Tapi itu hanya secuil dari kekuatannya dan bahkan itu tak lagi stabil dan sempurna." Lanjutnya dengan Qi yang menyembur keluar dengan jumlah yang tak terbayangkan, bahkan Gu bersaudara terkejut dengan jumlah Qi itu!


"Ahli Pra Surga — tidak, Master Pra Surga!"


Ketika Gu Die Yu menyadari basis kultivasi pemuda tersebut, pemuda tersebut mengayunkan pedangnya dan seketika, energi yang menerjang seperti petir, merusak pelindung milik Pendeta tua itu!


Crack!


Crack!


BOM!


Ketika pelindung rusak, ledakan terjadi dan pendeta itu terbawa oleh arus angin dengan tubuh yang sudah banyak luka.


Pemuda itu merasa membiarkan pendeta tua kabur merupakan hal yang salah dan dia melesat ke langit.


Dalam waktu singkat, dia mencapai pendeta tua itu dan menarik kerahnya, lalu dia menusuk dada pendeta itu tanpa berpikir dua kali.


Setelah mencabut pedang, pemuda itu mengapung di angkasa, membiarkan tubuh Pendeta tua jatuh dan memandang kedua Gu bersaudara dengan dalam.


Gu bersaudara masih terkejut dengan apa yang terjadi.


Tapi pemuda itu menyadari sesuatu dan dia terbang ke samping. Dia melihat tali yang ingin melilitnya dan berkerut. Energi ini... ... ... Lalu pemuda itu menoleh lagi ke arah Pohon.


Dia melihat ada sosok pria tua lain di sana, berdiri dengan aura suci.


"Anak muda," panggilnya. "Aku adalah Pertapa Harmoni Kegelapan dan aku menawarkanmu—"


Bom!


Sebelum sosok itu menyelesaikan kalimatnya, pemuda itu menjatuhkan gelombang serangannya yang lain namun pohon itu tak tumbang. Hanya saja tubuh-tubuh yang mati berserakan karenanya.


"Hmm," Pemuda itu masih bingung, dia harus melakukan apa agar pohon itu lenyap.


"Sangat sombong! Aku menyukainya!" sosok pria tua itu tertawa terbahak-bahak. "Jadilah muridku, dan aku akan membawamu ke puncak kultivasi."


Pemuda itu tertawa setelah mendengar sosok tua itu.


"Kenapa kamu tertawa?" sosok pria tua itu menjadi marah.


"Tak ada." pemuda itu masih tersenyum, tak menunjukan sedikitpun aura kesombongannya.


"Jika kamu tak tertarik, pergilah. Pak tua ini ingin membangkitkan tubuh klonnya!" serunya dengan marah.


"Pergi? Kenapa aku harus pergi," pemuda itu tampak masih belum menyerah dan aura ungu bangkit dari tubuhnya. Aura itu terlihat menakjubkan, membawa setiap sudut sosok seorang kaisar agung!


Melihat aura ungu itu, pria tua terkejut. "Qi ungu dari timur?"


Pemuda itu masih tersenyum. Dan dia menerjang Pak tua tersebut.


Tapi pria tua taois itu sama sekali tak takut dengan Qi ungu dari Timur. Dia mendengus dingin dan energi kegelapannya naik dari bumi dan perlahan akar-akarnya tumbuh dari tanah lalu menghancurkan bumi.


Crack-crack-crack...-


Bersamaan dengan bunyi gemuruh, akar-akar melesat ke arah Pemuda itu.


Keadaan tampak genting dan pemuda itu berhenti di tengah udara lalu mundur. Kemudian dia ingat ada orang lain disini dan memandang Gu bersaudara seharusnya berada. Namun selain reruntuhan, dia tak melihat apapun. Melihat mereka sudah lebih dahulu pergi membuat pemuda itu menjadi tenang.


Jika dibandingkan dengan Grandmaster Pra Surga, sisa-sisa dari Pertapa ini tampak jauh lebih kuat!


Sudah pasti dia tak akan bisa menyelamatkan dua orang itu jika terjadi


Tapi tak masalah. Dia bisa kabur kapanpun dia mau dan dirinya tak selemah itu untuk mati. Di tambah lagi di tangannya ada sebilah pedang. Dengan pedang ini, dia masih bisa bertempur!


"Anak mudah, diamlah dan jadilah pengikutku" Pak tua berteriak dengan kejam, suaranya bergemuruh dan qi kegelapan tiada batas menerjang ke arahnya.


Pemuda itu mengeluarkan Qi aneh lainnya. Itu seputih salju, dan sejernih perak. Ketika dihadapkan dengan energi yang gelap, mereka beresonansi dan pecah!


Bom!


Ledakan terjadi di udara dan debu menyebar.


Pemuda itu keluar dari debu dan asap dengan pedang yang bersinar bersama wawasan dao nya. Wawasan dao Pedang yang selama ini hanya ia bayangkan, sekarang sudah menjadi satu dengan realitas.


Pemuda itu sadar, bahwa ada Pedang di tangannya!


Tsing! Tsing! Tsing!


Dengan niat untuk membantai Pertapa Harmoni Kegelapan, dia menyerang setiap akar dan memotongnya. Pertapa Harmoni Kegelapan masih tetap tenang. Bahkan ketika Pemuda itu perlahan mendekatinya, matanya tetap tenang.


Tepat setelah pemuda itu sampai di depannya, akar-akar itu melilit tubuhnya, membuat pedang di tangan tak kunjung sampai ke tubuh utama.


"Anak muda, kamu harus tahu, bahwa kesombongan itu ada batasnya."


"Benarkah?" pemuda itu tertawa kecil. Kemudian, tangannya tiba-tiba menghancurkan setiap akar yang menahan tangan kanannya dan dengan niat membunuh, ia mengayunkan kedepan!


Itu mengejutkan Pertapa Harmoni Kegelapan, namun hanya sesaat sebelum wajahnya kembali khusyuk dan tenang.


Tsing!


Pedang panjang dan tipis menembus setiap kulit dari batang pohon. Akan tetapi Pertapa Harmoni Kegelapan tak kunjung hilang. Dia masih ada bersama dengan ekspresi tenangnya.


"Sungguh," katanya. "Sekali jenius tetap lah jenius. Harus kuakui, kamu adalah jenius yang hanya akan ada setiap 10.000 Tahun. Tidak ada yang akan tahu kapan orang sepertimu muncul... ... ... Berhasil melancarkan serangan ke bentuk kehidupan tingkat Jendral Spiritual. Tapi Ahli Pra Surga tetap ahli Pra Surga, mereka masih dibawah Jendral Spiritual."


Mendengar itu, pemuda tersebut tahu bahwa sesuatu salah dan dia terbang mundur!


"Insting yang menakjubkan." puji pak tua itu.


Pemuda itu menjadi kesal kesal.


Kenapa pak tua ini cerewet sekali? Apa dia kesepian atau semacamnya?


Ketika dia berpikir seperti itu, matanya menjadi bersinar putih dan dua Qi yang berbeda meledak dari tubuhnya.


Sebelum Pertapa Harmoni Kegelapan menyelesaikan kalimatnya, udara tiba-tiba bergetar dan suhu berubah menjadi panas.


Merasakan perasaan ini, Pemuda itu mau tak mau menarik nafas yang sangat dalam.


Raja Spiritual!

__ADS_1


Raja Spiritual telah muncul!


Dan sesuai dugaannya, seorang pria paruh baya muncul dari kekosongan. Ia memiliki wajah dewasa. Matanya coklat dan dia memiliki jenggot yang tipis. Ketika angin berhembus pelan, rambut hitam yang telah tampak memudar warnanya berayun-ayun mengikuti.


Auranya tak terduga dan temperamennya berbeda dari dunia fana — benar, dia adalah Raja Spiritual!


"Pecahan dari kesadaran seorang pertapa?" gumam Raja Spiritual itu. "Benar-benar luar biasa untuk bertemu dengan senior. Jika yang muda ini boleh tau, siapakah gerangan senior ini?"


Pertapa Harmoni Kegelapan mendengus dingin. Dia masih tak takut. "Aku adalah Pertapa Harmoni Kegelapan."


"Oh?" tiba-tiba, udara menjadi lebih dingin. Tampak bahwa pertapa Harmoni Kegelapan tak terlalu disambut olehnya, "Beberapa tahun yang lalu, kamu memerintahkan beberapa Jendral Spiritual menyerang Pegunungan Taiyuan. Apakah kamu masih ingat?"


"Ahh, ya, aku mengingatnya. Jika ingatanku benar, pencuri itu mencari pertolongan kalian." jawabnya dengan nada tak peduli.


"Itu adalah muridku." Dan pada saat itu, Qi sejati menerjang ke arah Pertapa Harmoni Kegelapan dan ia dibekukan oleh Qi sejati.


TANG!!!!!!!!!!!


Udara dingin dengan kecepatan yang luar biasa menerpa apapun dan menghancurkan apapun dalam radius 6mil ke barat dan es terwujud dari Qi sejati yang dingin itu, menutupi radius 1 mil dari Kuil.


Ketika pemuda itu melihat Qi sejatinya mulai membekukan udara hingga ke arahnya, dia menggunakan seluruh Qi sejatinya dan melonjak ke atas langit, berusaha untuk kabur.


Ketika dia berhenti di atas langit yang luas, dia melihat ujung dari es terbentuk hanya berjarak 5 jengkal dari kaki.


Ketika dia melihat kebawah, dia melihat bahwa gunung es telah tercipta dari niat Raja Spiritual dan segera nafasnya menjadi dalam.


"Beginikah kekuatan sesungguhnya dari Raja Spiritual?" pemuda itu seakan mengingat masa lalu dan mendesah. "Ah, Xu Yongmei, aku merindukanmu."


...-... ... ... ... -...


Di atas langjt, pria paruh baya memandang gunung es yang menakjubkan dengan tanpa ekspresi.Dia mencari sumber kejahatan. Ketika dia melihat pohon, dia tak lagi merasakan tanda-tanda kehidupan.


"Katakan pada anak itu, bahwa aku akan mendatanginya suatu hari nanti."


Tiba-tiba suara di langit terdengar dan dia mendongak. Anak itu? Siapa? Kedua muridku?


Pria itu, Patriark Renyuan kebingungan dan khawatir. Jika Pertapa Harmoni Kegelapan tertarik pada Murid-murid manisnya, dia tak akan bisa menghalangi Pertapa Harmoni Kegelapan kecuali dia menerobos ke ranah Samsara dan menjadi Kaisar Agung, akan tetapi, dibutuhkan waktu ribuan tahun dan kesempatan besar yang tak terduga untuk bisa mencapai ranah Samsara.


Dia masih jauh dari ranah Samsara.


Patriark Renyuan membuang nafasnya dengan sangat dalam. Lalu dia membalikan badannya. Di sana, ada seorang pemuda tampan dengan warna mata yang berbeda. Yang mengejutkan adalah Qi ungu dari timur menguap dari tubuhnya dan mata keperakannya bersinar dengan cahaya yang mendalam.


"Ji Nie Tian memberi hormat pada Senior." pemuda itu membungkuk.


Patriark Renyuan berkedip heran dan dia bertanya, "Junior ini apakah ingin mengatakan sesuatu?"


"Ya!" pemuda itu, Ji Nie Tian masih menundukan kepala dan memberikan pedang Gu Kuangren kembali pada Patriark Renyuan. "Sebelumnya saya meminjam Pedang dari salah satu muridmu dan saya ingin mengembalikannya."


"Hmm?" Patriark Renyuan berkedip. "apakah kamu yang menolong murid-muridku menghadapi pendeta Tua?"


"Ya," Ji Nie Tian menganggukkan kepalanya.


Patriark Renyuan menerima pedang itu, dan melemparnya ke udara dengan santai lalu pedang itu menghilang.


"Baiklah, karena kamu menolong muridku, aku akan mengabulkan satu permintaanku sebagai ucapan terimakasihku." Matanya ramah dan bibirnya mengungkapkan senyuman yang tulus.


Mata Ji Nie Tian tiba-tiba mengembara dengan semangat api. "Benarkah?"


"Ya... ... ..." Dia melihat lagi pemuda ini dan merasa ada sesuatu yang aneh dalam dirinya.


"Kalau begitu saya ingin menjadi murid dalam Sekte Renyuan!"


Ji Nie Tian saat ini bisa digolongkan ke kelompok kultivator lepas. Akan tetapi, jika dia terus menjadi kultivator lepas, dia akan kesulitan untuk mendapatkan sumber daya... ... ...


"Huh?" Patriark Renyuan terkejut. "Kenapa kamu ingin menjadi Murid sekte Renyuan ku? Bukankah kamu murid sekte lain?"


"Uhh, tidak?" Ji Nie Tian merasa ada kesalahpahaman disini.


"Kalau begitu baju itu, baju apa? Bukankah itu baju Sekte Wujian?" Patriark Renyuan menunjuk ke arah baju nya itu dan Ji Nie Tian berdehem.


"Saya bukan dari Sekte Wujian. Saya mengambil baju ini dari pria bernama Dong Han." Ji Nie Tian diam-diam mengingat kembali masa lalu, "Senior bisa menanyakannya pada dua murid Senior."


"Kenapa kamu mengambilnya... ... ...?"


Ji Nie Tian berdehem, lalu dia berbisik pelan, "Karena sesuatu saya harus setengah telanjang... ... ..."


Patriark Renyuan berkedip dengan tanda tanya lalu dia memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut. Dia menyentuh dagu dan berpikir. Lalu dia menganggukkan kepala, "Baiklah. Selama kamu bukan seseorang dari Dao Kejahatan, aku akan menerimamu. Tunjukan aku seluruh potensimu."


"Terimakasih banyak, Senior!" Ji Nie Tian menundukkan tubuhnya dalam-dalam dan berterimakasih. Lalu dia mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi. Perlahan. Qi kemurnian agung dan Qi langit ungu merembes keluar dari tubuhnya.


Dan secara bertahap, temperamen Ji Nie Tian berubah dan seluruh langit bergemuruh seolah-olah menyambut keberadaannya.


"Cukup." kata Patriark Renyuan.


Ji Nie Tian menarik seluruh Qi yang keluar dan melihat Patriark Renyuan dengan bertanya-tanya. "Ada apa, senior?"


"Aku hanya ingin melihat bentuk Qi sejatimu. Qi itu memiliki bentuk yang khas... ... ... Apa kamu benar-benar bukan murid suatu Sekte?" Patriark Renyuan bertanya.


"Ya," Ji Nie Tian mengangguk.


Dia tak terlihat berbohong... ... ...


"Baiklah kalau begitu, ikuti aku." Patriark Renyuan kemudian berbalik dan terbang ke barat.


Ji Nie Tian mengikuti dari belakang.


Tak jauh dari mereka, Gu bersaudara menunggu. Mata mereka terbelalak ketika melihat Ji Nie Tian disamping Master mereka.


"Ada apa?" Patriark Renyuan bertanya dan mendarat di hadapan mereka.


"Tak ada... ... ... " Gu Die Yu tersenyum dan menggeleng kepalanya. Lalu dia maju ke hadapan Ji Nie Tian. "Junior ini berterimakasih pada Senior."


"U-uh, ya, aku juga." Gu Kuangren mengikuti gerakan saudarinya dan memberi hormat.


Ji Nie Tian panik dan mendekati mereka lalu tersenyum, "Jangan seperti itu. Kalian adalah seniorku dan aku adalah murid dalam sekte kalian."


"... ... ...?"


"Yang dikatakannya benar. Dia adalah murid dalam Sekte kita." Patriark Renyuan menganggukkan kepala, membenarkan perkataan Ji Nie Tian.

__ADS_1


"Tapi, dia dari divisi apa?" Gu Die Yu terheran-heran, "Dan kenapa aku gak pernah mendengar namanya?"


"Sepertinya kurang jelas ya?" Ji Nie Tian tertawa kecil, "Mulai sekarang, aku adalah murid dalam Sekte kalian."


__ADS_2