
Dunia fana,
Di atas Gunung tanpa nama,
Awan tampak berkumpul dan menutupi langit. Tanah hitam gelap dan suram. Gemuruh di langit tak kunjung henti ketika satu persatu petir jatuh ke tanah dan hutan, serta menghancurkan banyak puncak dan tebing di sana.
Jika dilihat lebih baik lagi, kita bisa melihat sebuah Paviliun berdiri. Paviliun itu memancarkan sinar cahaya. Ketika petir jatuh ke atas, petir itu menghilang.
Di dalam Paviliun itu, ada seorang pemuda terkulai di lantai. Matanya buram seakan tiada kehidupan dalam dirinya. Nafasnya habis seakan ia tak lagi hidup. Kulitnya pucat seakan ia adalah mayat.
Beberapa jam kemudian, tubuh anak muda itu mulai membaik, nafas mulai berhembus, dan matanya mulai penuh kehidupan.
Ketika dia seakan kembali sadar, dia bertanya, "Di mana aku?"
Awalnya dia bingung tapi dia kembali menyadari bahwa dia masih ada di Paviliun.
"Aku kembali!"
Benar, anak muda itu adalah Ji Nie Tian yang kembali dari kematian.
Ji Nie Tian bersorak gembira namun seluruh kegembiraannya menghilang ketika melihat gelapnya langit dan kacaunya dunia.
"Kemurkaan Surga." Ji Nie Tian bergumam. Lalu dia melihat kesekeliling, mencoba mencari ayahnya, namun dia tak menemukan siapapun di sana selain selembar kertas di atas meja.
Ji Nie Tian berjalan mendekati meja dan mengambil kertas itu lalu membacanya. "Wahai Putraku, aku tau kamu pasti akan kembali karena itu aku meninggalkan Kertas ini. Setelah kamu berhasil keluar dari Gunung dan lolos dari Kemurkaan Surga, maka latihanmu telah selesai. Kamu sesungguhnya sudah bisa mengolah Qi hanya saja tubuhmu hanya akan bereaksi saat kamu menemukan Hati Tao Sejati mu. Aku harap kamu bisa lolos dari Kemurkaan Surga dan pergi dari Gunung Diwu. Tertulis, Ayahmu."
Ji Nie Tian mengangkat alisnya. Dia merasa ayahnya kurang bertanggung jawab……… tapi bukan masalah besar.
Dia hanya perlu lolos dari Kemurkaan Surga dan pergi dari Gunung, 'bukan?
Mudah!
"MUDAH SAJA BERBICARA BEGITU!" Sikap tenang Ji Nie Tian berubah ketika dia selesai membaca surat dari ayahnya dan tangannya meremukkan kertas itu.
"Aiya! Apa aku harus terus berkultivasi di atas Paviliun ini?" Ji Nie Tian melihat keluar, yang penuh dengan petir yang mengacaukan daratan. Hati Ji Nie Tian tiba-tiba menjadi gentar.
Dia masih mengingat bagaimana Progenitor Cloudstream mengatakan hal tak akan sama lagi ketika dia menjadi Orang Tanpa Takdir.
Keberuntungan………
Benar!
Keberuntungannya lenyap!
Jika dia mati, maka dia akan mati selamanya!
Ayahnya benar-benar tega meninggalkan dirinya sendirian di atas sana tanpa penjagaan apapun………
Ji Nie Tian agak sedih. Dia duduk di dekat sana dan melihat teko yang penuh dengan teh. Apakah itu masih beracun?
Ji Nie Tian kemudian melihat sekeliling. Dia tak lagi menemukan gelas milik ayahnya atau dirinya. Tempat itu bersih seolah-olah tak ada orang disini sebelum dirinya.
Ji Nie Tian kemudian mencoba menciumnya. Dia masih mengingat aroma racun itu, jadi dia akan segera tahu. Racunnya memiliki bau harum yang khas jadi mudah mengidentifikasinya.
Saat Ji Nie Tian tak mencium bau apapun selain bau harum teh biasa yang ada di rumah lamanya, dia segera menjadi senang dan menuangkan teh itu ke dalam Gelas di dekatnya.
__ADS_1
Lalu Ji Nie Tian meminumnya dan tiba-tiba tubuhnya penuh dengan energi.
"Ini…?!" Ji Nie Tian terkejut dan menoleh ke teko teh itu. "Tampaknya Ayah menyiapkan ini khusus untukku!"
Ji Nie Tian bahagia ketika menemukan khasiat dari teh tersebut.
Karena teh itu ada dan dia masih dalam masa pelatihan, maka dia harus berlatih sekuat tenaga agar bisa keluar!
Dengan begitu, Ji Nie Tian mulai berkultivasi tanpa henti………
.... . .. . .. . .. . .....
7 Tahun kemudian,
Di Paviliun di atas Gunung Diwu,
Sesosok pemuda melintas di langit di dekat Gunung Diwu, diikuti dengan sekelompok orang di belakang.
Pemuda itu bukan pemuda biasa. Pasalnya, basis kultivasi miliknya itu berada di ranah Xiantian!
Benar, dia adalah Praktisi Pra Surga!
Di sekelilingnya adalah praktisi Pasca Surga biasa, dan beberapa dari mereka adalah praktisi Pasca Surga tingkat atas dan tengah.
Para praktisi muda ini adalah murid-murid dari Sekte Pedang Kosmik.
Kedatangan mereka kesini hanya ingin melihat Gunung Diwu yang telah menjadi salah satu tempat yang dikutuk oleh Langit dan Bumi dan ditakuti seluruh dunia bahkan untuk ahli Jendral Spiritual sekalipun.
Pernah seorang Jendral Spiritual mencoba untuk membebaskan Gunung Diwu dari cengkraman Surga, namun mati karena balasan baliknya.
Semuanya kacau.
Petir menyambar kemana-mana dan langit terus bergemuruh.
Tiba-tiba, mereka menyadari ada sebuah Paviliun yang bersinar di tengah-tengah badai.
Itu juga adalah Paviliun yang legendaris yang katanya adalah warisan seorang Immortal!
"Menurutmu apa yang ada di dalamnya?" Pemuda dengan basis kultivasi tertinggi bertanya dengan mata yang mengarah ke paviliun.
"Warisan abadi." Jawab mereka dengan yakin.
"Aku menginginkannya." Katanya lagi.
Tapi tak ada orang yang menyahutnya. Mereka diam sambil menatap paviliun tersebut.
Beberapa saat kemudian, mereka melihat sesosok pemuda dengan tinggi sekitar 178, dan berbadan ramping tapi terlatih, berdiri menatap mereka.
Mereka terkejut.
"Sepertinya itu adalah Immortal?"
"Bukan." Sahut si pemuda dengan basis kultivasi tertinggi. "Aku yakin dia bukan seorang Immortal."
Pemuda dengan basis kultivasi tertinggi pernah bertemu dengan seorang Immortal sebelumnya, jadi dia cukup yakin pemuda misterius yang ada di Paviliun bukanlah seorang Immortal.
__ADS_1
Pemuda dengan basis kultivasi agak diam sejenak memandang Pemuda misterius di Paviliun. Matanya memandang dalam-dalam. Tapi dia menggeleng kepalanya, "Mari pergi. Tak ada gunanya menetap di sini."
Semua pengikutnya mengangguk dan mereka pergi.
Sementara itu, sosok misterius di Paviliun mendesah pelan dan menggeleng kepalanya.
Dia kemudian mengangkat jari jemarinya yang bersinar dengan kekuatan abadi.
"Sudah saatnya keluar."
Sosok itu adalah Ji Nie Tian. Telah tujuh tahun dia ada di sana dan sudah ribuan kali dia berusaha keluar dan ribuan kali dia gagal. Berlatih selama 7 tahun dan gagal selama 7 tahun menghadapi kemurkaan Surga membuatnya tumbuh semakin dewasa.
Ada saat-saat Ji Nie Tian menyerah, adapula saat-saat semangatnya mengembara.
Tapi kali ini, hatinya tenang setenang air dan lembut selembut angin.
Perlahan, dia keluar dari Paviliun. Kemudian tubuh nya berhenti sejenak dan dia mendongak ke atas.
Seketika, angin lembut yang membawa kedamaian berhembus dan seluruh dunia di tutupi oleh kedamaian abadi untuk sesaat.
Beberapa saat kemudian, petir jatuh!
Bom!
Ji Nie Tian menghindar. Matanya masih tenang. Dia menggerakkan tangannya dan Qi berputar melindunginya.
Bom!
Petir lain jatuh!
Ji Nie Tian diselamatkan Qi sejatinya. Tapi itu belum berhenti karena petir selanjutnya sangat besar!
BOM!!!!
Gunung retak dan langit bergemuruh dalam waktu panjang.
Ji Nie Tian mengangkat kembali kepalanya dan dia menggerakkan lagi tangannya. Qi naik dan melindungi bagian atas, saat Qi menjadi padat dan solid, petir yang lebih besar menghantam!
BOOOMM!!!
Debu berhembus, angin menerjang, kekacauan di puncak Gunung Diwu sungguh mengerikan.
Namun Ji Nie Tian masih hidup. Dalam debu dan kabut, dia berdiri dengan tubuh yang telah terluka-luka. Matanya masih tenang dan tubuhnya tak gentar. Sekali lagi, dia berdiri tegap menghadap langit seolah-olah dia menantang langit!
Tiba-tiba, awan berubah menjadi merah.
Di dalam kumpulan awan merah, kilat cahaya berwarna ungu lewat.
Seketika, seluruh daratan di tutupi oleh sinar cahaya ungu!
Semuanya terkejut!
Dan pada saat yang sama, Gunung Diwu hancur berkeping-keping!
Hanya menyisakan gumpalan asap dan lubang raksasa!
__ADS_1