Fake Hatred

Fake Hatred
Sudah Biasa


__ADS_3

Hari ini, seperti biasa, Freya berangkat lima belas menit sebelum bel masuk sekolah berbunyi. Padahal, jarak ke sekolah sekitar satu kilometer. Tapi, ia tidak begitu khawatir karena bunda Dahlia sudah membelikan sepeda baru untuknya.


Bunda Dahlia adalah pemilik sekaligus pengurus Panti Asuhan Bintang Kecil. Ya, Freya tidak pernah mengenal orang tuanya. Sejak kecil, ia tinggal di sana bersama teman-teman yang senasib dan sepenanggungan. Freya tidak menyesalkan hal itu. Ia senang bisa dipertemukan dengan wanita baik hati dan teman-teman yang luar biasa.


Freya adalah pembalap yang handal kalau cuma urusan sepeda. Lagipula, ia hafal semua jalan tikus yang bisa dilalui, membuatnya bisa memangkas jarak menjadi sekitar tujuh ratus meter.


Kebiasaan ekstrim berangkat sekolah yang beresiko kena marah pak Widi selaku guru olahraga ini sudah dilakoninya selama dua Minggu. Tepatnya, sejak ia mendapatkan sepeda itu. Hal ini dilakukan tidak semata-mata untuk memacu adrenalin, melainkan menghindari jebakan batman yang rutin diperbarui setiap hari oleh geng ciwi-ciwi terlaknat yang Freya sebut 'Trio Lampir'. Anggotanya terdiri dari Liora, Febry, dan Linda.


Freya tidak tahu apa salahnya sampai ia terus di-bully oleh mereka. Memang sekali dia pernah tidak sengaja menumpahkan botol minuman Linda sampai isinya habis separuh, separuhnya lagi diserap oleh rok yang Linda kenakan. Kejadian itu tepat sehari setelah MOS bagi kelas sepuluh SMA Akar Bangsa selesai. Linda yang aslinya suka merespon berlebihan koar-koar sambil menyuarakan sumpah-serapah, mengatai Freya iri dengannya, tidak menyukainya, ingin mencelakainya, dan lain-lain. Pada saat itu Freya tidak menggubris. Apalagi, Trio Lampir memang sudah sering memelototinya dengan sinis sejak awal masuk sekolah.


Malang, Freya tak pernah mengira bahwa kejadian itu akan berdampak jangka panjang. Ia sering di-bully terang-terangan, tentu saja tanpa diketahui guru. Freya selalu protes, dia gadis yang cukup pemberani untuk melawan. Meski perlawanannya hanya dalam bentuk kata-kata. Jujur saja, Freya tidak memiliki teman yang akrab di SMA ini untuk diajak balas dendam. Namun, tak peduli sekeras apa Freya memberontak dan melaporkannya ke guru, tidak ada yang peduli. Guru BP-nya memang sempat meminta bukti. Suatu hari, Freya menunjukkan rambutnya yang sedikit basah dan bau amis telur. Guru itu terlihat prihatin. Dia sudah mencoba menegur Liora dan kawan-kawan agar tidak mem-bully Freya lagi. Tetapi, mereka tidak menurut. Bahkan sudah disuruh membersihkan WC saat jam istirahat, eh, malah tidak kunjung kembali begitu bel masuk berbunyi sampai pulang sekolah. Guru BP sudah menawari Freya untuk pindah kelas, tetapi gadis itu tidak mau karena ia bilang sudah mengorbankan segalanya di SMP agar bisa masuk kelas A. Guru BP pun menyuruh Liora, Febry, dan Linda untuk pindah kelas, tetapi mereka tidak mau karena tidak ada Freya. Dan, begitu seterusnya, selalu ada laporan tindak pem-bully-an baru oleh si korban itu sendiri, Freya. Hingga si guru bosan dan Freya yang merasa laporan-laporannya tidak berguna pun ikut bosan.


Pilihan terakhir hanyalah ia harus mencoba menikmati setiap jebakan yang dibuat oleh mereka. Mereka boleh mengguyurnya dengan tepung aci, tapi tidak kalau sampai menggores kulitnya. Untuk itulah, Freya ikut kelas bela diri di luar sekolah. Terbukti, itu berhasil membuatnya bertahan dan merasa percaya diri meski tidak ada yang membelanya sampai di kelas sebelas ini.


Namun, dampaknya bukan hanya itu. Ia tidak punya teman. Kecuali teman sebangkunya yang super pendiam, Daisy. Bahkan Freya masih kurang yakin apakah Daisy memang tidak membencinya seperti yang lain.

__ADS_1


Ciiittt....


"Yeah, akhirnya sampai. Hm, nggak ada yang berubah. Masih kurang lima menit kayak biasanya."


Freya memarkirkan sepedanya di warung tukang sembako dekat sekolah. Karena parkir di sana, sepedanya akan ditaruh di dalam rumah, sehingga aman dari Trio Lampir. Meski ia harus selalu menyisihkan uang dua ribu untuk membayar, itu lebih baik daripada parkir gratis di dalam sekolah dan pulang dalam keadaan ban sudah bocor-bocor.


Freya berjalan santai menyusuri lorong-lorong kelas yang mulai sepi karena bel baru saja berbunyi. Ia melihat Bu Era yang berdasarkan jadwal akan mengisi pelajaran pagi di kelasnya. Freya menghampiri beliau sambil menyapa.


"Selamat pagi, Ibu! Gimana kabarnya hari ini, Bu?"


Gadis itu tersenyum maksimal, "aku nggak telat, Bu, cuma mepet aja. Oh iya, nanti ibu masuk kelas duluan, ya! Biar aku yang nutup pintu."


Benar, kan! Selalu seperti ini. Batin Bu Era. Menolak pun tak enak, guru itu hanya bisa mengangguk berat.


"Nggak apa-apa, Bu. Nanti aku jatuhin dulu ember tepungnya, baru ibu masuk. Kayak biasanya," kata Freya ringan tanpa beban.

__ADS_1


Lagi-lagi, Bu Era hanya bisa menganggukkan kepala.


Merekapun sampai di kelas sebelas A. Terlihat pintu tertutup, artinya jebakan akan berhasil kalau si korban tidak memperhatikan pergerakan di atas pintu. Berbeda kalau pintu terbuka, artinya jebakan akan berhasil kalau si korban tidak memperhatikan apa yang ia injak.


Freya segera mencari ranting panjang untuk menumpahkan ember berisi tepung yang pasti sudah disiapkan di atas pintu. Setelah menemukan ranting, ia membuka pintu sedikit lalu giliran rantingnya yang beraksi. Terdengar bisik-bisik kecewa dari dalam kelas saat Freya masih berusaha menggapai ember jebakan. Dan....


BYUURRR....


"Oh, ternyata air, Bu. Tumben bukan tepung. Dimarahin emaknya kali, ya! Setiap mau goreng bakwan, tepungnya nggak ada. Hihihi," masih sempat-sempatnya Freya melayangkan candaan receh kepada Bu Era yang sedari tadi kehabisan kata-kata.


"Ibu jalannya hati-hati, ya. Licin kayaknya, airnya agak keruh gitu nggak tahu lah mereka ambil air dari mana."


Bu Era masuk dengan hati-hati. Freya menyusul kemudian sambil menutup pintu dan pelajaran dilaksanakan seperti biasa. Tidak ada yang disalahkan, tidak ada yang dibela, hanya begitu saja seolah tidak terjadi apa-apa. Bu Era, meski fenomena ini sudah biasa terjadi tetap merasa canggung saat memulai pelajaran. Namun, lama-kelamaan ia bisa lebih santai. Terlebih dengan melihat Freya yang tampak antusias mengikuti pelajaran tanpa terganggu sedikitpun.


Tentu saja, sebagai guru Bu Era merasa iba pada anak itu. Namun, tidak ada yang bisa ia lakukan. Dia hanya seorang guru honorer yang baru dua bulan mengajar di sekolah ini, termasuk di salah satu kelasnya yang paling horor.

__ADS_1


—*—


__ADS_2