
Bel masuk sudah berbunyi. Anak-anak juga sudah berada di dalam kelasnya masing-masing untuk memulai pelajaran. Namun, di kelas sebelas A guru yang mengisi tampaknya agak telat.
Rezvan menepati janjinya bahwa ia akan berangkat awal. Namun, justru Freya yang belum terlihat. Sayang sekali ia belum memiliki nomor telepon Freya. Jika punya, Rezvan pasti sudah mengirim pesan pada gadis itu bahwa ia berhasil membuat Devan, Liora, dan lainnya absen dari rutinitas membuat jebakan ember tepung di atas pintu.
Rezvan sudah mengamati bagaimana geng Liora membuat jebakan. Ia selalu menggunakan ember yang sama, benang, tali, dan stok tepung yang disembunyikan di loker meja guru. Kunci loker tersebut ada di tangan Linda, cewek dengan resleting tas paling banyak dibanding yang lainnya. Tapi, saat ditanya guru mereka selalu bilang kalau kuncinya hilang. Suatu sore sepulang sekolah, Rezvan diam-diam mengambil kunci kelas sebelah untuk membuka loker guru yang ada di kelasnya. Ternyata, kunci itu bekerja. Ia menyerahkan semua benda-benda pembawa sial itu ke dapur sekolah karena ia percaya mereka berasal dari sana.
"Oh, makasih ya, Mas! Biasanya kelas sepuluh yang sering pinjam peralatan dapur kalau lagi kemah alih golongan. Mungkin lupa dikembalikan," begitulah menurut kesaksian pak penjaga sekolah. Rezvan sudah pesan kalau ada kelas sebelas A yang meminjam benda itu lagi agar tidak perlu ditanggapi karena kemungkinan akan dipakai untuk perbuatan negatif.
Ah, nanti ia akan minta nomor Freya pada sensei Sadewa.
"Dulu, Freya lumayan famous di SMP," kata Poppy yang tengah menceritakan sedikit kisah lama Freya. "Cuma dia agak tomboi, setahu gue belum pernah pacaran. Dia gaul di sekolahan, tapi jarang main keluar sama temen-temennya. Oh ya, dia paling deket sama anak kelas 9C, namanya Dilla. Nggak tahu Dilla nerusin dimana, dengar-dengar sih di sekolah kejuruan. Yang jelas, Freya nggak punya temen di SMA karena Liora. Anak-anak takut kalau mereka deket-deket sama Freya, mereka juga bakal kena bully. Dan, yahh lo tahu lah. Daisy yang kayak gitu aja nggak dibully. Tapi, anak-anak udah terlanjur bodo amat dan mereka juga mulai fokus sama tryout ujian."
"Bukannya Freya sama sekali nggak kenal sama Liora?" interupsi Rezvan.
Poppy mengangguk, "iya. Tapi gue rasa sebenarnya nggak begitu, Rez."
"Maksudnya?"
"Gimana kalau mereka emang pernah saling kenal di masa lalu. Freya bikin Liora sakit hati, terus Liora ngilang. Tapi, pas Liora balik ke kehidupan Freya, dia udah lupa sama Liora. Entah amnesia atau apapun itu. Lo ngerti kan maksud gue, motif Liora ngelakuin pem-bully-an itu karena dendam.
Dan kalau lo ada di kantin waktu kejadian Liora nyiram es teh ke Freya, Liora sampai berani ngungkit soal penjara. Dia juga bilang seandainya Freya ingat sama kesalahannya dulu, Freya pasti bakal minta ampun di kaki dia. Mungkin Freya pernah ngelakuin sesuatu yang bikin Liora hancur berat."
Rezvan berpikir keras, tapi tak banyak yang bisa ia dapatkan. Masalahnya terlalu asing bagi siswa baru sepertinya di SMA ini.
"Satu-satunya yang bisa jelasin akar masalahnya adalah Liora. Tapi jujur, gue nggak yakin dia mau ngomong segitu mudahnya. Pasti dia pengen supaya Freya bisa inget sendiri. Tapi gue juga nggak yakin kapan Freya bisa inget," pungkas Poppy dilematis.
Rezvan mendesah. Pada dasarnya, ia tak ingin menyalahkan Freya. Bagaimanapun, penjelasan Poppy masuk akal juga.
"Maaf banget, Rez. Gue cuma bisa ngasih info segitu doang. Dulu di SMP gue nggak sekelas sama Freya, jadi kurang tahu," sesal Poppy.
Rezvan tersenyum menenangkan, "nggak apa-apa, santai aja. Eh, tapi lo tahu rumah Freya dimana?"
Poppy menggeleng.
Di sisi lain, Liora dan Linda yang berbagi tempat duduk dengan Febry juga tengah berbincang.
__ADS_1
"Gue yakin peralatan kita disembunyiin di suatu tempat. Tapi dimana, dan oleh siapa?" Linda menyibak rambutnya sok cantik.
Febry memicing, "sebenarnya gue suspect sama satu orang."
"Yah, siapa lagi!" sahut Liora, "tapi sebisa mungkin kita nggak gangguin Rezvan. Gue nggak mau kita salah sasaran."
Devan mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja, tampak sedang memikirkan sesuatu. "Kalian tiap hari cuma kaya gitu doang?" tanyanya.
"Apa?"
"Apa?"
"Apa?" geng Trio Lampir hampir bersamaan.
Devan berhenti mengetukkan jarinya, "maksud gue masang jebakan di atas pintu doang? Nggak nglempar dia pakai telur busuk gitu, kasih ulat di sepatunya, atau ngunci dia di kamar mandi sampai pulang sekolah?"
Linda seperti biasa, yang paling semangat. "Pernah nglempar Freya pakai telur, tapi bukan yang busuk, jijik megangnya. Kalau ulat, kita jarang nemu dan gue sama Liora ogah bawa-bawa hewan kayak gitu. Sedangkan Febry--"
"Gue alergi bulu!" sambar Febry.
"Nah itu! Kalau ngunciin Freya di kamar mandi...." ketiga perempuan itu saling berpandangan.
"What?" Devan terkejut nyaris menggebrak meja.
Linda mengangguk-angguk, "gue juga nggak tahu, ya. Mungkin dia tahan sampai pulang. Who knows?"
"Heh, kalian nggak malu apa ngomong begitu di depan gue yang ketua kelas ini?" picing Deon yang sedari tadi diam lama-lama jengah dengan ketidakmaluan empat anak itu.
Liora mendengus, "nggak lah. Korbannya sendiri lapor BP sebulan penuh, gurunya sampe bosen. Ketua kelas doang bisa apa?"
Deon menghela napas berat, dia memang tidak bisa apa-apa. Payah! "Nggak ada harganya banget gue jadi ketua di kelas ini."
Tak beberapa lama kemudian, pintu kelas diketuk tiga kali. Freya dan Miss Aulia muncul. Miss Aulia kelihatan senang karena tidak ada tepung lagi hari ini. Sementara, Freya terheran-heran dan merasa lebih waspada jika jebakan itu berpindah ke meja atau kursinya.
Febry sudah kembali ke tempat duduknya. Liora tajam mengamati Freya yang berjalan hati-hati sambil balik menatapnya curiga. Namun, Freya berhasil menuju tempat duduk dengan selamat.
__ADS_1
"Mereka nggak naruh apa-apa di tempat duduk gue kan, Dai?" gelengan kepala Daisy membuat Freya lega.
"Loh, aneh! Hari ini kok cerah banget, ya? Hahaha," Freya tertawa bergumam sambil mengeluarkan buku-buku pelajarannya.
Saat mengaitkan ranselnya dengan sandaran kursi, Freya tak sengaja melihat Rezvan tengah menatapnya sambil tersenyum-senyum sendiri. Freya balas menatapnya datar, Rezvan mengedipkan sebelah mata. Freya rasa pipinya memanas, jadi dia segera memalingkan wajah ke depan.
Apa kedamaian hari ini hasil perbuatan Rezvan? bisiknya dalam hati.
Tuk!
Segumpal bola kertas jatuh di mejanya. Freya langsung tahu kertas itu berasal dari arah Rezvan. Freya memungut kertas kusut tersebut dan menggelarnya.
**To : Mate
Gue seneng lihat lo senyum.
Bagi nomor Hp, dong.... ^^
Your mate,
Rez**
Freya menahan senyum. Astaga, sejak kapan ia bisa tersenyum hanya gara-gara menerima surat-suratan kuno begitu?
"Cie," bisik Daisy yang ikut membaca.
Freya menoleh terkejut, "ini nggak seperti yang lo pikirin, Dil. Eh, Dai maksudnya! Gue nggak jatuh cinta sama siapa-siapa."
"Emang apa yang gue pikirin?" gumam Daisy bingung dengan kegugupan Freya yang tiba-tiba.
Freya menoleh Rezvan dengan tampang jutek. Mulutnya berkomat-kamit mengatakan "jangan harap" tanpa suara.
Di tempatnya, Devan memelototi interaksi sepupunya dengan Freya yang semakin mengalami kemajuan. Jadi benar, Rezvan berniat menjadikan Freya pacarnya. Cepat atau lambat, Devan merasa harus mencegah hal itu sampai terjadi.
Merasa diawasi, Freya menangkap pandangan tidak suka Devan. Gadis itu memperlihatkan jari tengahnya pada Devan saat Miss Aulia sedang menulis di whiteboard. Menyunggingkan senyum miring tanda senang.
__ADS_1
Devan semakin geram!
—*—