
ZETTT....
BRUGGG...
Freya meraung kesakitan ketika terpeleset di depan kelas. Bokongnya menghantam lantai dengan keras. Ia bisa merasakan nyeri yang menjalar ke tulang-tulang belakangnya.
Ini hari yang sangat buruk. Guru yang mengajar jam pertama sedang ada urusan untuk mempersiapkan suatu acara penting. Pintu kelas-kelas lain ditutup karena pelajaran sudah dimulai. Freya terpaksa berjalan sendiri ke kelasnya. Malang tak dapat ditolak. Seseorang menaruh jebakan di depan kelas, sehingga ia jatuh terpeleset.
Gadis yang wajahnya sudah semerah kepiting rebus itu celingukan mencari benda yang membuatnya naik darah. Ia melihat kulit pisang yang dicat putih senada dengan warna lantai.
"SIAPA YANG NARUH KULIT PISANG DI SINI?!"
Freya membentak ke arah kelas. Meski pintu tertutup, ia tahu anak-anak sedang cekikikan di dalam sana. Freya bangkit dengan tergesa, ia menggenggam kulit pisang itu di tangannya dan membuka pintu dengan kasar.
"Gue tanya sekali lagi, siapa yang naruh kulit pisang di luar?!" Freya mengangkat kulit pisang tinggi-tinggi.
Tidak ada yang menjawab. Suasana menjadi hening, namun penuh penghinaan dan ketidakpedulian sebagaimana biasanya mereka memandang Freya.
"Jawab gue! Atau kalian semua tuli?! Gue yakin pasti ada yang tahu siapa yang naruh kulit pisang di sana!" geram Freya sambil menunjuk arah luar.
Lagi-lagi, tidak ada yang menjawab. Freya menyapu pandangan mencari keberadaan Trio Lampir yang ternyata tidak ada. Lalu Devan juga tidak, dan.... Rezvan tidak ada.
Freya sangat kecewa. Ia hampir mengira kalau Rezvan memang berbeda, ternyata tidak. Dia sama saja dengan yang lain. Rezvan tak ubahnya mereka yang memandangnya sebelah mata.
Sekejap kemudian, Freya teringat pada Daisy. Teman duduknya yang pendiam, namun tahu segalanya. "Dai," panggilnya.
Gadis kacamata itu mengangkat wajahnya.
"Jawab gue, siapa yang naruh kulit pisang di luar?"
Daisy menggerakkan jari-jarinya menulis sesuatu di kertas dengan huruf kapital. Sesudah selesai, gadis itu dengan ragu memperlihatkan tulisannya pada Freya. Freya memicing, karena yang tertulis bukan Liora, melainkan.... DEVAN
"Iya, itu gue!" suara penuh hinaan anak laki-laki memecah keheningan.
Devan masuk dengan gaya sok berkuasa. Tangan dimasukkan ke dalam saku. Freya tertawa hambar melihat kedatangan calon musuh besarnya yang jadi kenyataan itu.
__ADS_1
"Oh! Ini, ya? Baji*gan baru produksi Trio Lampir, huh?!" sindirnya.
"Siapa yang lo sebut Trio Lampir, B*tch?" Liora dan kedua kawannya menyusul masuk ke kelas.
Freya nyaris terbahak. Namun, ia ingat pantatnya yang masih nyeri. Freya hanya mendengus jengah. Ia menatap anak-anak lain, "kalian lihat Nenek Lampir ini? Kalian denger barusan dia ngomong apa? Dia ngatain gue b*tch, padahal dia sendiri SAMPAH!"
Liora, Febry, dan Linda melotot tak terima. Namun, Devan segera membalas perkataan Freya. "Udahlah, Rey. Terima aja kalau yang b"tch, sampah, kotoran, baji*gan, penjahat, dan segalanya itu lo!" Devan tertawa girang.
"Lo bakal tahu akibatnya macam-macam sama gue, Baji*gan!" ancam Freya dingin.
Devan justru semakin menantang, "lo mau apa? Laporin gue ke BP? Ngehajar gue? Atau balas dendam? Lo tuh nggak bisa apa-apa, Cupu!"
"Tenang aja. B*tch kayak dia nggak akan bisa ngapa-ngapain kita," dukung Linda.
"Bener banget! Justru yang kita lakuin ini pantes buat dia!" tukas Febry. Liora tersenyum miring, puas dengan pemandangan ini.
Empat lawan satu. Ketidakadilan yang sangat Freya benci. Bayangan menghajar mereka satu persatu muncul sekilas di kepalanya. Namun, Freya menahan diri. Ia tak ingin Bunda Dahlia sampai dipanggil sekolah. Bunda pasti langsung memindahkannya ke sekolah lain, yang mana sangat tidak Freya harapkan sampai terjadi.
Freya mendesah lemas, "Trio Lampir ditambah satu baji*gan. Gue bisa apa coba? Seandainya aja, tiga dari kalian kena bisul di pantat sampai nggak bisa masuk sekolah, gue jamin satu bocah yang berangkat bakal habis di tangan gue!"
Liora yang semula berdiri di belakang Devan maju menghampiri Freya. Freya menaikkan sebelah alis ketika Liora berada tepat di hadapannya, menunggu hal luar biasa apa yang akan ketua lampir itu lakukan.
"Lo tuh emang bisanya bac*t doang, ya. Payah!" hina Liora.
Tak terima, Freya mendorong kedua bahu Liora. Gadis tukang bully itu nyaris jatuh jika Febry tidak menahannya.
"Ups, letoy banget kayak cendol! Hahaha," tawa Freya mengisi ruang kelas yang hening.
Merasa direndahkan, Liora menarik rambut kuncir Freya membuat gadis itu berteriak kesakitan. Freya balas menarik rambut Liora yang digerai hingga bando kecil yang dipakainya lepas dan patah menjadi dua. Adu jambak pun terjadi.
Febry dan Linda ingin membantu Liora, namun Freya menendang kaki mereka, sehingga keduanya teralihkan perhatiannya.
PRITTT....!
Suara melengking peluit pak Wira tak mampu menghentikan pertengkaran mereka. Pak Wira terpaksa melerai Liora dan Freya dengan jeweran di telinga masing-masing.
__ADS_1
"Aww, ampun Pak, sakit, Pak!" keluh Liora. Sementara, Freya hanya meringis pedih.
"Kalian ini sudah besar, tapi kelakuan masih seperti anak kecil! Yang lainnya sedang belajar, kalian malah ribut sendiri!" marah pak Wira yang kumis tebalnya ikut bergerak ke atas ke bawah ketika berbicara.
Freya dan Liora masih kesakitan karena pak Wira belum melepaskan jewerannya. Febry, dan Linda berdiri berdempetan menempel papan tulis. Sedangkan, Devan sudah bisa menyimpulkan bahwa guru ini kemungkinan yang paling galak di antara semua guru yang ada, ia pun hanya diam tak berkutik.
"Jangan mentang-mentang jam kosong kalian pikir kalian bebas dari pelajaran. Memangnya kalian tidak diberi tugas, hah? Jawab bapak!"
Deon sebagai ketua kelas menjawab dengan terbata, "di-diberi, Pak."
"Apa kalian semua sudah selesai, secepat itu?!"
"Belum, Pak," sahut Deon menunduk. Tentu saja, ia merasa payah sebagai ketua kelas. Namun, ia tak bisa apa-apa sepanjang Liora dan teman-teman kepala batunya yang beraksi. Apalagi wakilnya, Nindi, cenderung pro dengan kelakuan Liora. Entah apa yang telah merasukinya.
Pak Wira menarik napas panjang. Ia melepaskan jewerannya di telinga kedua gadis yang sudah bagaikan anjing dan kucing itu. "Sekarang yang paling penting kalian harus bisa memikul tanggung jawab sebagai murid. Bapak akan mengawasi kalian sampai guru mata pelajaran berikutnya datang. Terutama kalian berlima. Bapak sangat kecewa pada kalian. Sekarang, duduk ke kursi masing-masing!" pak Wira memerintah anak-anak agar melanjutkan pekerjaannya kembali, termasuk yang tadi bertengkar.
Freya, Devan, dan geng Trio Lampir kembali ke tempat duduknya masing-masing dengan pak Wira yang mengawasi mereka di meja guru.
Tak lama kemudian, seorang laki-laki masuk ke kelas dengan napas terengah, keringat bercucuran dari pelipisnya.
"Maaf, Pak. Saya telat," aku Rezvan yang mencuri perhatian para siswa.
Pak Wira mendengus, betapa banyak masalah yang ada di kelas sebelas A ini. "Kenapa kamu telat?"
"Ban mobil saya bocor di jalan, Pak. Saya terpaksa ke sini naik angkutan. Kayaknya ada yang sengaja ngelakuin itu ke mobil saya, Pak," mata elang Rezvan menyorot ke arah Devan. Sepupunya itu hanya mengendikkan bahu acuh.
Menyadari akan adanya tanda-tanda pertikaian baru, pak Wira cepat menyuruh Rezvan duduk. Ternyata, Rezvan tidak langsung ke kursinya. Ia menghampiri Freya dengan khawatir.
"Lo nggak apa-apa, Rey? Sorry, gue telat," pemuda itu memegang pundak Freya lembut. Belum sempat Freya menjawab pertanyaan Rezvan, pak Wira menginterupsi terlebih dahulu.
"Rezvan, saya bilang duduk di kursi kamu sendiri dan kerjakan soal kimia di buku paket halaman 123 nomor satu sampai sepuluh, sekarang!" titah pak Wira.
"Baik, Pak," Rezvan menghela napas malas.
"Rey, gue janji besok-besok gue nggak akan telat lagi. You can count on me!" dengan berat, Rezvan meninggalkan Freya yang hatinya tengah kebingungan dengan kata-kata pria tersebut.
__ADS_1
Are you really an angel or just a liar?
—*—