
Pada jam istirahat, Rezvan mengajak Freya makan bersama di kantin. Sayangnya, gadis itu tidak mau. Ia lebih memilih warung lotek depan sekolah yang tidak terlalu ramai. Rezvan memaksa ikut, namun Freya menolak.
"Orang kaya mending di cafetaria aja, ya. Makanannya lebih enak di sana daripada di warung," kata Freya sarkas. Tapi, Rezvan bukan orang yang mudah tersinggung, apalagi oleh gadis yang disukainya.
"Enggak, ah! Kalau lo suka jajan lotek pedes di warung, gue juga suka kok. Karena gue suka sama apapun yang lo lakuin."
Freya memutar mata malas akan gombalan receh Rezvan, meski hatinya berdebar tak karuan. Ia melangkah duluan disusul pria yang semakin sering berada di sekitarnya itu.
Di warung, mereka tidak banyak bicara. Hanya awal-awalnya saja Rezvan bertanya. Akan tetapi, lama-kelamaan ia jadi kurang nyaman karena Freya memasang tampang juteknya sepanjang acara makan. Nada jawabannya pun terdengar kurang ikhlas.
"Lo duluan, gue mau buang air kecil!" titah Freya ketika mereka selesai makan dan hendak kembali ke kelas.
Rezvan mengernyit, "gue ikut lo aja."
Freya sontak melotot geram. "Ikut??? YOUR HEAD! Udah sono balik duluan!"
"Hehe, bukan. Maksudnya, gue nunggu lo aja."
"Nggak perlu! Cepet balik, masih gue lihatin!"
Dengan perasaan kecewa, Rezvan pun pergi meninggalkan warung tanpa Freya. Sebelum jauh, laki-laki itu berbalik, ternyata Freya masih mengawasi kepergiannya sambil melipat kedua tangan. Rezvan berseru, "NANTI LO LATIHAN, KAN?"
Freya tidak langsung menjawab. Gadis itu terlihat kosong. Tentunya, ia sangat merindukan Dojo dan sensei Sadewa. "ENGGAK," jawabnya singkat.
Rezvan menunduk sedih. Ia berpikir kalau Freya masih takut padanya, Freya belum cukup percaya bahwa Rezvan tulus ingin dekat dengannya. Di tengah pikiran yang memberatkan hati itu, Freya sudah menghilang ke dalam rumah pemilik warung.
__ADS_1
Sebenarnya Freya tidak ingin buang air. Ia hanya tak mau terlihat berjalan santai dengan Rezvan dan diketahui orang, sehingga akan mendatangkan musibah bagi dirinya sendiri, mungkin juga bagi Rezvan. Freya memang setakut itu jika mendapat masalah baru.
Di jalan menuju kelas, Rezvan melihat Devan dan Linda seperti sedang mencari sesuatu di bawah pohon cemara taman sekolah. Rezvan mengintai mereka dengan hati-hati agar tidak ketahuan.
"Ini sekolah emang bersih banget, ya. Nyampe ulat di pohon aja nggak ada," keluh Devan. Di rambutnya tersangkut tangkai-tangkai daun kecil yang tidak dihiraukannya.
"Kan udah gue bilang! Akar Bangsa gitu, loh." Linda mengipasi wajahnya dengan bungkus tissue yang isinya masih setengah. Hari ini memang panas. Devan masih mencari-cari ulat bulu yang ingin ia pakai untuk 'aksi' selanjutnya.
Mereka masih belum menyadari sedang diawasi oleh Rezvan. Di kepalanya, laki-laki itu sudah merancang skenario balasan yang tak kalah sadis. Rezvan tak pernah ragu melakukan apapun yang ia rasa perlu dilakukan selama tidak membahayakan, sekalipun itu kepada sepupunya sendiri.
Tanpa sengaja Linda menjatuhkan tissue-nya. Saat ia ingin mengambil benda itu, matanya berbinar karena melihat ulat bulu sepanjang setengah kelingking orang dewasa tak jauh dari tissue-nya. "Dev, Dev! Kita dapet, Dev. Itu tuh, udah jatuh ternyata!" serunya seraya menunjuk-nunjuk ulat yang dimaksud.
Devan memandang hewan kecil berwarna hitam abu-abu itu seperti orang belum makan tiga hari. Senang sekali. Devan memungutnya dengan daun. Linda tampak geli melihat hewan kecil berbulu seram itu bergerak menggeliat.
"Hiii, lihat aja geli gue!"
"Hahaha, gini aja takut. Lo kan tahu ini buat si Freya, gimana sih!"
Tiba-tiba, Devan merasakan punggungnya didorong kuat. Anak itu secara otomatis menahan beban tubuhnya di kaki agar tidak terjungkal menimpa Linda. Sayangnya, meski ia tidak jatuh, ulat bulu tadi terlempar tepat di puncak kepala Linda.
Gadis itu terlonjak ketika merasakan sesuatu mendarat di ubun-ubunnya. Linda menjerit kegilaan. Ia menunduk sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, berharap ulat itu segera jatuh ke tanah. Namun, si ulat masih bertahta di antara helaian rambut. Tanpa pikir panjang, Linda mengacak-acak rambutnya dengan tangan. Begitu merasakan tubuh si ulat, Linda meraih dan melemparnya. Linda kelihatan sangat kacau dan matanya berkaca-kaca.
Devan melihatnya merasa bersalah, "so-sorry, Lin. Gue nggak,–"
"Gatel!"
__ADS_1
"...."
"Tangan gue gatelll, mamaaa....!" Linda menangis. Menggaruk-garuk telapak tangannya hingga merah.
Gadis itu memang selalu berlebihan. Tapi, Devan tak bisa menyalahkannya. Dua hal yang ia sesali, Linda jadi korban salah sasaran dan Freya justru aman.
Devan mencari-cari siapa yang mendorongnya dan mendapati Rezvan tertawa tak jauh dari mereka. Devan hanya mengumpat kesal, lalu menuntun Linda yang setengah menangis ke UKS.
Rezvan tertawa puas. Linda yang terlihat seperti baru pertama kali terkena bulu ulat, juga Devan yang kelabakan dengan ekspresi antara menyesal dan marah. "Rasain tuh! Gue udah bilang juga, jangan sekali-kali gangguin Freya."
Tak lama lagi, bel pasti berbunyi. Guru yang mengajar selanjutnya adalah pak Herman, guru matematika yang tak pernah telat masuk kelas. Rezvan harus cepat. Namun, ia menyempatkan diri memeriksa lorong, berharap Freya sudah selesai dengan urusan pribadinya. Sayangnya, gadis itu belum terlihat. Laki-laki itu pun melanjutkan ke kelas sendirian.
Tanpa Rezvan ketahui, seseorang tengah tersenyum di balik tembok kelas sebelas D. Seseorang yang juga tengah ada di pikiran Rezvan.
Freya tidak tahu kenapa ia tak bisa menahan senyum. Dan senyum itu adalah senyum yang aneh menurutnya. Karena ia juga merasakan perutnya terisi dengan puluhan kupu-kupu. Untuk pertama kali dalam sejarah SMA, perasaannya jauh dari kata terhina. Sebaliknya, Freya merasa hangat dan tidak sendiri.
Semakin dirasakan, semakin Freya ingin menangis. Freya membuang napas. Tidak ada yang perlu ditangisi untuk kebahagiaan kecil di hari ini.
Ia sekarang yakin kalau Rezvan bukan penjilat. Rezvan berbeda dari sepupunya yang kejam, Rezvan berbeda dari Deon yang sesekali memberinya kutipan motivasi namun tak pernah melakukan apa-apa untuk membelanya.
Tentu saja, ini hal yang bagus. Freya benar-benar tak perlu menangis atau matanya akan merah dan mengundang keheranan anak-anak. Biarlah Freya tetap dikenal sebagai gadis kasar, bukannya cengeng.
Freya menjulurkan leher, memastikan sekilas jika Rezvan sudah pergi. Ia kemudian melangkah ke kelasnya.
Langkah yang berbeda, tidak seperti biasanya. Kali ini, ia melangkah ringan tanpa rasa takut. Karena ia percaya, sekaranglah waktunya untuk merasa senang berada di sekolah impiannya sejak SMP.
__ADS_1
—*—