Fake Hatred

Fake Hatred
Murid Baru di Sekolah


__ADS_3

"Sudah pulang, Nak. Cepet banget," bunda Dahlia yang tengah membersihkan meja ruang tamu heran melihat Freya pulang cepat. Padahal, gadis itu izinnya mau latihan beladiri.


"Iya, Bun. MMZ rame banget, ah! Aku jadi males," Freya tidak bohong soal MMZ ramai. Hanya saja, bukan itu alasan sesungguhnya Freya pulang cepat.


Perasaannya jadi gundah sejak mengetahui Rezvan adalah murid baru yang dibicarakan anak-anak. Lebih buruk karena kemungkinan besar Rezvan akan dimasukkan ke kelasnya. Geng Trio Lampir pasti lebih mudah menghasut anak baru supaya ikut membenci Freya. Freya memang sudah biasa di-bully, bukan berarti ia sekuat itu jika seluruh dunia membencinya. Seperti kata Fiersa Besari, tidak ada yang benar-benar profesional untuk urusan patah hati. Apalagi Freya yang tidak tahu salahnya apa, kenapa hanya ia yang dibully, dan bagaimana bisa Liora dkk tidak pernah lelah menindasnya?


Namun, bunda Dahlia percaya dengan alasan Freya. Wanita itu menawarkan sisa ketupat tahu di dapur kalau Freya belum makan siang.


"Aku udah makan, kok. Mau ke kamar aja, capek. Dilla udah pulang juga kan, Bun?"


"Ya sudah kalau gitu. Ah, Dilla, paling lagi tidur siang dia. Coba kamu lihat!"


Freya bergegas ke kamar yang ada di lantai atas. Ruang lantai atas tidak begitu luas dan tidak begitu penting sebenarnya. Justru yang penting dari lantai atas adalah tempat jemurannya yang di area terbuka. Namun, karena Dilla senang berada di sana, Bunda Dahlia pun memberi kasur dan menata ulang ruang atas agar layak dijadikan kamar. Melihat kebahagiaan Dilla membuat Freya tidak mau kalah. Ia memaksa pindah kamar juga.


Freya dan Dilla adalah anak paling tua yang tersisa di panti asuhan. Kak Sita sudah dinikahi pacarnya tiga tahun lalu, kak Harun sudah memiliki perusahaan sendiri, dan kak Mita yang bekerja di Kementrian Luar Negeri juga sudah tinggal di apartemennya sendiri. Oleh karena itu, kalau Freya tidak memaksa pindah kamar, artinya ia harus rela tidur dengan adik-adiknya yang masih kecil dan suka mengigau aneh kalau tidur. Jujur saja, Freya merasa itu tidak adil. Bunda Dahlia pun mengabulkan permintaan Freya.


"DILLAAA, KANGEN BANGET GUE SAMA LOOO!!!"


Benar dugaan bunda, Dilla sedang menikmati indahnya tidur siang. Freya menggoyangkan tubuh Dilla hingga berhasil membuat murid kelas dua SMK itu mengerang jengkel.


"Enghhh, apaan, sih! Pergi sana, ganggu orang tidur aja!" sarkas Dilla yang masih ingin melanjutkan mimpi siang bolongnya.


Freya mendesah lemas. Dilla paham betul, kalau sudah begini pasti ada masalah lagi dengan sekolah Freya.


"Ya ampun! Dibilangin pindah aja ke SMK gue udah! Ngomong sama bunda, jangan ditutup-tutupin lagi."


Selama ini Freya memang menyembunyikan masalah pem-bully-an terhadap dirinya dari bunda Dahlia. Ia tak ingin merepotkan bunda. Apalagi bunda sangat menyayanginya pasti khawatir setengah mati kalau mendengar fakta seburuk itu. Hanya Dilla yang ia beri tahu, gadis itu juga yang selalu menjadi tempat penampungan keluh kesah dan gelisahnya.


"Nggak mau gue di SMK."


"Enak, loh! Tinggal milih satu jurusan yang pengen lo tekuni doang. Pelajarannya juga nggak sebanyak di SMA."

__ADS_1


"Bodo amat, di sekolah lo nggak ada jurusan biologi, kan?"


"Kata siapa? Ada, tuh, farmasi."


Sontak Freya menepuk jidat gemas, "farmasi itu kimia, bege!"


"Ha? Masa, sih?"


"Ya ada kali biologinya, dikit. Tapi dominan kimia, pelajaran yang paling gue benci malah."


"Ah, gak urus gue! Jadi sebenarnya masalah lo tuh apa? Pindah nggak mau, lapor guru nggak mempan, maunya gimana sih? Nggak ngerti lagi gue, hoahm!" Dilla menguap lebar. Ia kini duduk bersila sambil menyender pada tembok.


"Gue takut, Dil," Freya berkata lirih.


Dilla mengernyit, tidak biasanya Freya selemah itu. "Apa?! Lo mulai takut sama geng yang lo sebut apa tuh? Trio trio, Trio Lampir? Yakali, Rey!"


"Bukan, kalau mereka doang mah gue masih sanggup, Dil! Lo tahu kan, kenapa selama ini gue bisa bertahan dari mereka? Apa yang bikin gue masih PD dan setegar ini walaupun jadi objek bully? Yaitu karena beladiri. Sekalipun gue nggak pernah pakai buat nonjok mereka, seenggaknya ada sesuatu yang bisa gue andalkan kalau mereka mau nyelakain gue pakai preman-preman sewaan, kayak di sinetron gitu loh. Tapi, sekarang gue nggak se-PD itu lagi, Dil."


Freya menggeleng, "besok bakal ada anak baru di sekolah, kayaknya mau ditaruh di kelas gue, deh. Kata Daisy ada dua anak, cowok semua, sepupuan. Dan, lo tahu nggak, Dil? Gue baru aja ketemu salah satunya, di Dojo coba! Dia anggota baru dan gue heran, kok sensei kelihatan suka sama dia. Awalnya, gue rada sok keren gitu. Eh, dia nantangin gue! Awalnya gue nggak mau ladenin lah, tapi dia mancing, mau gimana lagi? Dan ternyata, Dil, dia udah jago! Habis itu dia bilang kalau kita bakal sering ketemu, saat itulah gue tahu dia juga murid baru di sekolah! Gue harus gimana, Dil, kalau anak itu ikut Trio Lampir? Gue nggak bisa apa-apa, tamat gue udah!"


Dilla menggaruk-garuk kepalanya. Bicara tentang fisik membuatnya ikut panik. Freya sendirian di sekolah, tidak ada yang mengawasi ataupun membelanya saat diperlukan. Dilla juga tak rela kalau teman sekaligus saudaranya itu sampai terancam bahaya. "Waduh, berat nih urusannya. Walau gue belum yakin mereka bakal ikut Liora atau enggak, tapi lo harus jauhin mereka Rey!"


"Sampai kapan? Masa gue harus keluar dari MMZ juga?"


"Gausah, lo dateng pas dia nggak dateng aja. Pokoknya jauhin mereka, tapi jangan kebablasan jadi cupu. Kalau terbukti mereka bully lo lagi, lo harus lawan Rey. Tunjukin kalau lo bukan cewek lemah yang pantas diinjak!"


—*—


Freya sangat gugup. Rasanya ingin bolos saja hari ini.


"Nggak mau pindah itu pilihan lo, Rey. Lo harus jalanin sebisa mungkin!"

__ADS_1


Kata-kata Dilla menggema di kepalanya. Benar, semua ini pilihan Freya sendiri. Bahkan, Dilla sudah berulang kali menyarankan agar ia tidak menyembunyikannya dari bunda lagi, supaya Freya dipindah-sekolahkan. Tetapi, Freya tidak mau. Ia sudah mencurahkan segalanya, belajar siang malam, sampai pernah mengalami gejala maag karena jadwal makan yang tidak teratur. Semua itu demi bisa masuk sekolah favorit, SMA Akar Bangsa. Freya tidak sudi melepas begitu saja apa yang sudah ia perjuangkan.


Freya berangkat seperti biasa, lima belas menit sebelum bel masuk. Ia berjalan ke kelas bersama Miss Aulia yang akan mengajar bahasa Inggris pagi ini. Sebelum masuk kelas, Freya memastikan jebakan yang dibuat Liora dan teman-temannya hancur terlebih dahulu. Namun, diluar dugaan, ternyata mereka tidak membuat jebakan di atas pintu.


Freya tersenyum kepada Miss Aulia, "aman, Miss! Kayaknya, mereka ingat harus minum obat setelah sarapan, hehe. Tapi, aku masuk dulu ya, Miss. Takutnya ada jebakan lain di dalam."


Miss Aulia tersenyum. Sebisa mungkin tidak terlihat kasihan agar tidak membebani pikiran Freya. Gadis itu mungkin saja merasa terhina jika dipandang iba.


Anak-anak tampak masih bergerombol. Rupanya topik mengenai siswa baru belum musnah juga.


Liora menyadari kedatangan Freya. Ia berbicara dengan nada memuakkan yang dibuat-buat. "Aduh, guys! Saking senengnya mau dapet temen baru, kita sampai lupa nggak nyiapin 'sarapan sehat' buat Freya, nih!"


"Oh, kalian nggak perlu khawatir! Gue udah sarapan, kok. Makasih loh udah perhatian banget sama gue," balas Freya tak kalah drama.


Liora dan beberapa perempuan di dekatnya menatap Freya dingin, tak terkecuali yang bukan anggota Trio Lampir. Freya angkat bahu, tidak peduli.


Satu jam berlalu, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Dua siswa baru, cowok-cowok ganteng pindahan dari SMA favorit di luar kota. Yang satu bernama Devan Pradipa, Freya tebak Devan gamer adiktif dengan mata tajamnya seolah menyiratkan bahwa ia juga seorang playboy atau semacamnya.


Sedang satunya lagi, siapa kalau bukan Rezvan Pradipta? Pembawaan Rezvan lebih dewasa. Sorotnya yang teduh menggambarkan pribadi bijaksana ada dalam diri Rezvan. Freya tidak heran jika mengingat betapa tenangnya dia saat menangkis semua serangan Freya kemarin sore.


Tempat duduk diatur sesuai urutan abjad. Revan duduk di sebelah Poppy Indriasa, si peringkat satu. Banyak yang iri dengan Poppy. Gadis itu juga senang, namun tidak berlebihan. Freya melirik ke arah Rezvan yang ternyata juga sedang memandanginya. Cepat-cepat Freya memalingkan wajah.


Kabar buruk! Devan duduk di sebelah Deon Alvaro, bukan masalah. Tapi, di depannya ada Liora dan Linda. Devan nampak berbincang dengan keduanya, asyik sekali. Tiba-tiba, Liora menyeringai sambil menatap Freya lurus, disusul Linda, lalu Devan.


Freya memicing curiga. Miss Aulia memberi salam karena pelajarannya telah usai. Liora dan Linda sudah kembali menghadap ke depan, namun Devan tidak. Cowok itu, Freya seperti dapat melihat rencana gila yang sedang tumbuh subur di otaknya. Rencana busuk untuk menaikkan darah Freya.


"Bangke!"


Mulai saat ini, Freya akan mencatat Devan dalam daftar musuh-musuhnya!


Rezvan? Masih jadi misteri.

__ADS_1


—*—


__ADS_2