
Puk....
Tiba-tiba, seseorang menepuk bahu Freya pelan. Freya terkejut saat mengetahui siapa orang itu. Wajahnya seketika mengeras tanda siaga.
"Rezvan! Ngapain lo disini, mau ikut bully gue juga? Pergi sana sebelum gue hajar! Mumpung sepi di sini," serunya.
Mulanya Rezvan terkejut dengan respon mengerikan Freya. Akan tetapi, ketenangan wajahnya menyembunyikan segalanya. "Nggak! Gue cuma mau ngomong sama lo."
"Ngomong apaan, sih? Gue nggak punya urusan apa-apa, ya, sama lo!" Freya berdiri. Ia belum memesan makanan, tetapi sudah siap ingin pergi.
"Uh, tenang tenang! Gue cuma mau ngomongin soal Dojo."
Freya mengerutkan kening. Ada masalah apa dengan Dojo? "Kenapa? MMZ mau pindah lokasi?"
Jika Rezvan tidak sedang bersandiwara, ia pasti sudah tertawa saat ini juga. Freya gadis yang lucu dan menyenangkan. Seandainya, orang-orang tahu akan itu.
"Nggak lah, ngapain pindah-pindah segala? Gini, gue dititipin sensei buat bilang ke lo kalau dia berencana mau ngeluarin lo dari MMZ. Karena lo mulai sering bolos seenaknya."
"APA?!" Freya menggebrak meja, "boong lo, ya?"
Rezvan berdecak, "ck! Yaelah, beneran ini gue udah ditelpon sama sensei tadi pagi-pagi buta."
"Loh, sensei kan punya nomor gue. Kenapa telponnya ke lo?!"
"Sensei ada urusan. Kan gue udah bilang pagi-pagi buta, ya mungkin lo belum bangun."
"Bohong! Nggak ada miss call apapun di Hp gue."
Rezvan memutar otak. Keadaannya semakin terdesak. Ia tahu sejak awal Freya bukan cewek bodoh. Sekarang pun, Rezvan butuh trik kotor agar bisa mengelabuhi Freya.
"Oke, kalau lo nggak percaya nih, gue kasih tahu rekaman telpon gue sama sensei," Rezvan mengeluarkan iPhone-nya dari saku celana.
"Siniin Hp lo!" ujar Freya memerintah.
"Lo dong yang kesini. Kan gue yang punya Hp."
"Nggak bakal gue bawa kabur tuh iPhone. Siniin, gue nggak mau deket-deket sama lo!"
"Oh, nggak bisa! Lo yang kesini."
Freya mengembungkan pipinya. Pasti dia marah sekali, namun ia justru terlihat imut membuat Rezvan tak tahan untuk tersenyum.
"Gini aja, pokoknya besok-besok lo nggak usah datang ke Dojo. Lo nggak ada barang yang ditinggal, kan?"
__ADS_1
"Ada."
"Apaan?"
"Botol Tupperware gue yang warna biru ketinggalan di sana."
Lagi-lagi Rezvan menahan tawa, "gampang lah itu. Ntar gue bawain. Yaudah, gue ke kelas dulu, bye!"
Freya tak percaya, ia masih belum puas dengan percakapan ini. Gadis itu meraih lengan Rezvan sebelum pria itu pergi. "Tunjukkin buktinya, gue masih belum percaya!"
"Tadi nggak mau."
"Hp lo!" Freya geram. Ia berusaha mengambil ponsel Rezvan dari dalam saku.
"Ih, pegang-pegang paha lagi!" celetuk Rezvan.
Sontak, Freya mundur selangkah. Wajahnya semerah kepiting rebus. Tetapi, rupanya bukan amarah, melainkan rasa malu. Anak-anak kelas sepuluh yang masih di sana pun terkekeh pelan, berusaha tidak menggangu acara kakak kelasnya.
"Oke, kita diskusiin ini di tempat lain!" Freya berjalan mendahului Rezvan. Cowok itu tersenyum menang sambil mengikuti Freya dari belakang.
Mereka berhenti di parkiran sepeda sekolah. Tempat itu berada di halaman depan pojok, sehingga tidak banyak orang lalu-lalang.
"Mana Hp-nya?!" tagih Freya.
Rezvan bersidekap tak mau menanggapi. Ponselnya masih ada di saku celana. Freya memutar mata jengah melihat gelagat pria yang menyusahkan itu.
"Ambil sendiri, dong! Nggak apa-apa gue ikhlas."
"Prett! Cepet ambilin!"
Rezvan mengalah. Dengan malas ia menyerahkan ponselnya kepada Freya.
Freya mengkerut ketika menghidupkan ponsel itu. Pasalnya, keamanan ponsel menggunakan fitur deteksi wajah. "Pakai face ID lagi. Mana muka lo, sini!"
Rezvan menutupi wajah dengan kedua telapak tangan. Freya berusaha menyingkirkan tangan Rezvan, tetapi tidak berhasil. "REZVANNN!"
"Iya, kenapa?"
"Gue tonjok lo!"
Saat bogem Freya melayang ke arah Rezvan, pria itu dengan sigap menarik tangan Freya ke samping membuat Freya tergelincir dan jatuh ke dada bidang Rezvan. Untuk beberapa saat, Freya tidak bergerak. Jantungnya berdenyut cepat, begitupun Rezvan yang dapat ia dengar dengan jelas.
Rezvan? Yang Freya kenal lihai mengondisikan ekspresi tenang di wajahnya, bisa mengalami detak jantung yang begitu cepat?! Hanya karena....
__ADS_1
Freya segera tersadar dan mundur. Wajahnya memerah lagi-lagi karena malu.
"So-sorry, Rey, gue emang bohong," ujar Rezvan terbata.
Freya menatap Rezvan datar. Dari awal ia sudah berpikir begitu. Tetapi, wajah Rezvan terlalu meyakinkan. Sehingga dirinya harus memastikan lagi.
"Gue sebenernya cuma mau ngobrol sama lo. Soalnya, lo kelihatan ngejauhin gue gitu," aku Rezvan.
Tercipta keheningan beberapa saat, sampai Freya mendesis samar. "Emang."
"Pasti karena Devan, ya? Percaya sama gue, Rey, gue nggak kayak dia."
"Lo ngomong apa, sih?" tukas Freya pura-pura tidak mengerti. Freya tak suka membahas pem-bully-an terhadap dirinya kepada siapapun kecuali Dilla. Karena itu membuatnya terlihat lemah dan patut dikasihani.
"Gue nggak akan nakalin lo kayak Devan, Rey. Gue bisa laporin Devan ke ayahnya malah. Om Evan tuh galak banget, loh. Devan nggak akan berani nglawan kalau om Evan udah angkat bicara."
"Terus? Mau lo apa dengan nawarin sesuatu yang nggak gue minta?" sambar Freya.
"Gue, gue pengen deket sama lo. Gue harap lo juga rajin latihan lagi di Dojo. Please, Rey, jangan nghindarin gue. Gue nggak bakal nyakitin lo, gue bakal nglindungin lo."
Freya menghela napas panjang. Tentu saja ia tak mudah luluh hanya dengan kata-kata manis. Namun, kelihatannya Rezvan takkan menyerah begitu saja. "Pertama, gue nggak suka dibantuin. Karena gue nggak punya masalah yang harus-harus banget dapat bantuan dari orang lain. Kedua, gue nggak semudah itu percaya sama lo."
Rezvan menatap lawan bicaranya sendu. Kalimat terakhir Freya amat menohok dirinya. Namun, ia mengerti akan kecurigaan gadis itu.
"Gue bakal buktiin kalau gue beneran pengen deket sama lo bukan karena mau nyakitin lo. Gue pengen jagain lo, Rey. Tapi, gue butuh izin dari lo. Karena kalau nggak, selamanya lo bakal nganggap gue punya maksud jahat. Lo bakal nganggep usaha gue jagain lo itu palsu. Gue nggak pengen kayak gitu."
Freya menggaruk kepalanya pusing. Kenapa lama-kelamaan suasananya menjadi tegang, mellow, berbelit-belit, dan susah dipahami?
"Intinya, lo mau bilang kalau lo nggak kayak Devan yang udah terinfeksi virus kebencian Liora. Jadi lo nggak akan bully gue, tapi belain gue, gitu?" Rezvan mengangguk, "terus gue harus gimana? Percaya sama lo? Aduh, maaf ya, dapetin kepercayaan gue itu nggak gampang. Singkatnya aja, deh, gue harus gimana selain percaya sama lo?"
Rezvan berpikir sesaat, "jadi temen gue."
Keheningan kembali melanda. Freya tidak menyangka kalimat paling indah sejak ia berada di SMA ini akan keluar dari mulut Rezvan. Anak baru yang belum genap seminggu duduk di salah satu bangku kelasnya.
Freya tak pernah merasakan kehadiran teman yang benar-benar ada untuk selalu membelanya. Teman yang selalu ada untuk mengurangi lukanya, selain Dilla. Tapi sekarang, seseorang yang masih terasa asing bahkan memintanya untuk menjadi teman. Seperti mimpi yang tak pernah muncul di angan-angan.
Rezvan menatap kedalaman mata Freya yang masih mematung memikirkan jawaban.
Meski begitu, Freya tetap ragu. Bayangan tentang pengkhianatan menghantuinya. Pengkhianatan yang lebih kejam daripada sekedar di-bully.
"Terserah lo!" ketus gadis itu pada akhirnya sembari mengembalikan ponsel Rezvan yang masih digenggamnya dan pergi menuju kelas.
Jawabannya yang paling tepat untuk saat ini adalah, Freya tidak peduli. Jika pun terbukti Rezvan tidak main-main soal menjadi teman, Freya masih punya hati untuk menerima. Namun, selama masih memungkinkan, Freya akan terus berdiri di atas kakinya sendiri tanpa bergantung pada orang lain.
__ADS_1
Jika suatu saat Freya menerima Rezvan sebagai temannya, pun ia takkan menyeret laki-laki itu ke dalam penderitaannya. Tiada yang akan berubah.
—*—