
"Tadi gue ketemu pak Danny bagian TU. Katanya, bakal ada murid pindahan baru, loh!"
Freya mendengar kasak-kusuk meluas di kelas itu memperbincangkan tentang murid baru yang begitu fenomenal. Geng Trio Lampir seperti biasa sudah bersatu kembali saat jam istirahat dan ikut meramaikan obrolan yang tidak menarik itu.
"Cuma anak baru. Ribut amat, sih!" gumam Freya yang ternyata didengar Daisy. Freya merasakan Daisy menatapnya aneh dari samping, "kenapa lo?"
"Kamu nggak tahu, ya? Yang bakal jadi murid baru di sini itu dua orang, cowok semua. Dan fun fact-nya adalah mereka sepupu-an, udah gitu sama-sama ganteng dan tajir pula!" terang Daisy.
Freya menatap Daisy tidak berkedip. Ia akui, diam-diam Daisy bisa lebih update daripada dirinya. Bahkan ketika anak-anak lain masih saling bertukar informasi, Daisy sudah mengetahui detail berita yang kini sedang viral. Sayangnya, karena Daisy lebih suka diam, kebanyakan orang justru mengira gadis berkacamata bulat itu tidak tahu apa-apa.
Meski begitu, memikirkan Daisy kadang membuat Freya iri. Daisy bukan ahli matematika, dia juga berpenampilan cupu, karakternya pun jelas pendiam, suka menyendiri. Tetapi, ia tidak jadi bahan bully-an seperti Freya. Sekalipun mereka duduk satu meja. Geng Trio Lampir seperti tidak berminat mengganggu Daisy sama sekali. Mereka malah lebih senang menyulut api dengan Freya yang tidak ragu untuk berkata kasar kapan saja. Aneh tapi nyata!
"Terus kenapa kalau mereka sepupu-an, ganteng, dan tajir? Paling juga ototnya lembek kayak plastisin," celetuk Freya sambil mengalihkan pandangan ke arah ponsel. Sebagai murid seni beladiri, Freya punya standar yang cukup tinggi soal laki-laki.
Daisy menaikkan sebelah alisnya. Mungkin sedang memikirkan kata-kata teman sebangkunya itu. "Hmm, bener juga. Cowok ganteng-tajir pasti banyak yang suka, skip aja!" Daisy juga mengalihkan pandangan ke arah novel misterinya karya penulis terkenal, Agatha Christie.
Keduanya sibuk dengan kegiatan masing-masing ketika Freya mendengar kalimat Linda yang menyiratkan tanda bahaya besar tengah menghadang di depan mata.
"Yeay, dapat sekutu baru, nih!"
Freya melirik gerombolan anak-anak itu tidak suka. Liora, atau bisa dibilang ketua dari geng Trio Lampir, menatapnya sinis dan penuh ancaman. Mau bikin komplotan Freya Haters tambah subur, kan? Iya, paham gue, paham! Batin Freya mencoba sabar.
"Bener banget! Mereka pasti masuk di kelas kita. Secara, pas tuh ada dua kursi kosong nganggur," kali ini Febry angkat bicara.
Rasanya, Freya ingin keluar dari tempat menyesakkan itu. Tetapi, bel segera berbunyi. Tak lama kemudian, pak Herman masuk dengan wajah kusut. Apa lagi kalau bukan karena pemandangan sisa air kotor tadi pagi yang tidak dibersihkan?
__ADS_1
Pelajaran pak Herman adalah kelas terakhir untuk hari ini. Begitu guru setengah baya itu mengucapkan salam, Freya buru-buru menggendong ransel hitamnya untuk segera menyusul di belakang beliau. Ia tak ingin merasakan lebih banyak 'keajaiban' yang dibuat Liora dan kawan-kawan dengan berlama-lama di tempat ini.
Mata tajam Liora mengikuti perginya Freya. Gadis itu mendengus. "Dasar cemen! Beraninya sembunyi di belakang guru!"
Freya tidak langsung pulang ke panti, ia sudah ada jadwal latihan beladiri di Dojo langganannya. Setelah setengah jam mengendarai sepeda dengan kecepatan normal, Freya pun sampai di tempat tujuan. Dojo yang cukup besar itu bernama Modern Martial Zone (MMZ).
Freya memasuki MMZ setelah melepas sepatu dan menaruhnya di rak khusus.
"Hey! Freya!" terdengar sensei Sadewa memanggil. Laki-laki itu melambai isyarat agar Freya menghampirinya. Dia berdiri di dekat matras bersama pria lain yang tidak Freya kenali. Pria yang bersama sensei terlihat masih remaja, seumuran dengan Freya. Kemungkinan murid baru, atau jangan-jangan anak sensei Sadewa?
"Perkenalkan, pemuda tampan ini akan jadi bagian dari keluarga MMZ! Namanya Rezvan," sensei tertawa sambil menepuk-nepuk bahu si pria asing.
Sensei kelihatannya menyukai murid baru ini, tetapi Freya biasa saja. Apalagi sebagai anggota lama, ia merasa sedikit lebih tinggi derajatnya. Freya memberi salam formal sebagai ucapan selamat datang.
"Rez, karena kamu masih baru pasti lebih nyaman ngobrol sama yang seumuran. Makanya saya manggil Freya. Freya, kamu antar Rezvan keliling dan jelaskan alat-alat yang ada disini juga fungsi setiap ruangan. Mengerti?"
"Ya sudah, jangan lama-lama!" Freya mengiyakan dan segera berlari menuju ruang ganti wanita.
Rezvan mengamati perginya gadis bernama Freya dengan hati penasaran. Sepertinya dia adalah satu-satunya perempuan yang masih SMA di Dojo ini. Dan seragam yang dikenakan Freya sama seperti seragam baru yang tergantung dalam lemari bajunya di rumah. Hal itu semakin membuat Rezvan ingin tahu banyak tentang Freya.
"Hmm, agak sombong, ya? Menarik," gumam Rezvan lebih kepada diri sendiri karena sensei Sadewa sudah tidak di sampingnya.
Freya kembali dengan baju lengan pendek dan celana olahraga panjang yang dinaikkan sebelah, biar keren. MMZ memang tidak memaksa soal seragam, mereka hanya mengharuskan anggotanya memakai pakaian bebas yang sopan, kecuali kalau ada event tertentu harus berseragam. Freya memulai dengan ruang ganti putra di bagian timur dan menjelaskan fasilitas-fasilitasnya. Lalu ke halaman belakang yang terdapat palang tunggal dan sejajar untuk pull up serta bak pasir untuk lompat jauh.
Saat mendekati ruang ganti putri, Freya memutuskan berhenti. "Gue rasa udah cukup, ya. Ruang ganti putri sama kayak punya putra. Cuma nggak ada toilet berdiri aja, nggak penting."
__ADS_1
"Eh, penting loh itu. Kalau ada cowok cantik masuk sana gimana? Bingung cara pipisnya," canda Rezvan yang sedari tadi hanya mendengarkan penjelasan Freya.
Cowok cantik? Gadis itu mencerna maksud Rezvan, "hahh, serah lo, deh!"
"Lo emang jutek gitu, ya? Gue jadi penasaran sejauh apa kemampuan lo yang sebenarnya," pemuda itu menatap Freya intens.
Freya memicing merasa sedang ditantang oleh anak baru. Ia mengira Rezvan hanya menggodanya. Freya memilih kembali ke indoor, namun Rezvan dengan lancang memegang pundaknya. Sontak Freya melepaskan tangan Rezvan kasar dan menghujami pria itu dengan tendangan dasar taekwondo serta pukulan-pukulan kelas menengah. Ternyata, Rezvan bisa menangkis semua serangan Freya dengan mulus.
Freya menyeringai, pantas sensei menyukai Rezvan. Anak baru ini bukan 'abangan', dia sudah punya dasar yang cukup mumpuni.
Meski menantang duluan, Rezvan nampaknya tidak ingin menyerang balik. Lama-lama Freya capai sendiri. Satu kali dirinya lengah, tahu-tahu Rezvan sudah mengunci pergelangan Freya hingga tak bisa bergerak.
Rezvan tersenyum puas mendengar napas Freya yang naik-turun tak beraturan. "Jadi, lo anak SMA Akar Bangsa?" tanya Rezvan masih memegang kendali atas Freya.
"I-iya, kenapa?!" Freya tidak tahu mengapa suaranya terbata. Apa karena Rezvan bertanya sambil berbisik di samping telinganya?
"Kalau gitu, kita bakal sering ketemu," ujar Rezvan sambil melepas pergelangan Freya.
Gadis itu mencerna lagi perkataan Rezvan. Kenapa mereka akan sering bertemu? Jangan-jangan....
"Lo, lo mu-murid baru juga di sekolah g-gue?" Rezvan mengangguk pasti. Freya meneguk ludah, perasaannya mulai tidak enak tentang Rezvan. Ia jadi terpikir ucapan Linda tentang sekutu baru. Jika Rezvan betulan jadi bagian dari mereka, tamatlah riwayat Freya. Rezvan bukan orang sembarangan dengan keterampilan beladiri yang sekelas itu.
"O-oh! Gu-gue duluan."
Gugup, Freya meninggalkan Rezvan yang tak habis pikir kenapa perilaku gadis itu tiba-tiba berubah,,, cemas?
__ADS_1
—*—