Fake Hatred

Fake Hatred
Rezvan Peduli


__ADS_3

Rezvan mulai memahami situasi yang sedang terjadi di keanehan ini. Deon sempat mendengar bahwa Liora menaruh dendam tertentu pada Freya.


"Tapi, gue nggak tahu persisnya dendam karena apa," katanya setelah menceritakan penindasan macam apa yang Liora dan kawan-kawannya lakukan pada Freya.


"Dan Freya juga nggak tahu," sahut Rezvan yang diangguki oleh Deon.


"Ya, kayaknya sih begitu. Dia bukan tipe orang yang minta maaf kalau nggak tahu salahnya apa. Freya itu cewek kasar. Tapi jujur, gue salut sama dia yang sekuat itu. Mungkin kalau nggak di-bully, dia bisa aja jadi primadona sekolah, Rez!" ucap Deon berbinar membayangkan Freya bergaul dengan cewek-cewek 'papan atas' di sekolah.


Rezvan menjitak jidat Deon. Entah kenapa ia sedikit tidak rela jika ada orang selain dirinya yang mengagumi Freya.


"Woy, tobat! Semalem gue lihat twitter lo yang pakai nama samaran, Bro! Ternyata pacar lo dua, kan? Ngaku lo!"


Deon cengar-cengir, "udah putus kok. Lebih tepatnya, mereka yang mutusin gue, hehehe. Nggak masalah, gue mah nggak suka galau-galauan gitu orangnya. Sekarang gue lagi naksir sama anak SMK Negeri 2, tabiatnya mirip Freya, Bos. Kasar! Tapi sayanggg. Cuma ya itu, susah banget digombalin. Bahkan, gue sempet mau dipukul waktu bilang kalau dia cantik banget."


Rezvan geleng-geleng kepala mendengar pengakuan jujur Deon yang sudah dikenal playboy sejak lahir. Meski begitu ia cukup lega bahwa Deon memiliki gebetan baru dan itu bukan Freya.


"Emang Liora sama Freya pernah kenal sebelumnya?" tanya Rezvan kembali ke topik.


Deon ber-mmm panjang, mencoba mengingat-ingat. "Setahu gue nggak, deh. Soalnya, Freya kayak bener-bener nggak kenal Liora itu siapa pas kelas sepuluh."


Deon melirik teman barunya yang terlihat antusias mengorek informasi tentang Freya dan Liora. Senyum jahil terbit di bibirnya, "kalau lo emang sepenasaran itu sama Liora."


Rezvan seketika protes, "kok Liora?"


Deon terbahak, "ooh, maksud gue Freya." Kali ini, Rezvan tidak menyangkal yang membuat Deon semakin kencang tertawa. "Hahaha! Oke, gue paham Rez. Gue paham perasaan lo."

__ADS_1


"Perasaan apa sih, Yon? Udah terusin tadi lo mau ngomong apa!" gemas Rezvan tak sabaran.


"Iya iya. Kalau lo sepenasaran itu sama Freyaaa, lo coba tanya ke Poppy. Katanya, dulu mereka se-SMP. Temen semeja lo kan dia?"


Rezvan mengangguk.


"Ya udah, jangan wawancara-in gue mulu. Gue juga kasihan sama Freya, gue pengen bela dia. Tapi, kalau gue sendirian juga gue ragu lah, Rez. Apalagi gue nggak terlalu paham masalah mereka."


"Jadi, kalau ada temennya lo mau belain Freya?" potong Rezvan penuh selidik.


"Hah?" Deon berpikir, agak lama sampai Rezvan mulai curiga. Gawat, pertanyaan menjebak, nih! Rutuk Deon dalam hati. "Eh itu, anu, kalau temennya banyak ya gue mau. Hehe!"


Rezvan menghela napas berat. Ada harapan, tapi sangat kecil.


Ia maklum kenapa orang-orang ragu untuk membantu Freya. Pertama, karena mereka tidak ingin ikut campur urusan orang lain. Ia akui SMA Akar Bangsa lebih unggul daripada sekolahnya dulu. Anak-anak lebih senang memikirkan masalahnya sendiri dan berkutat dengan pelajaran agar bisa bersaing dengan teman-temannya secara akademik. Bahasa kasarnya, tingkat individualistik mereka cukup tinggi.


Gue yakin Freya nggak ngelakuin apa-apa. Dia bener-bener nggak pantes di-bully! Batin Rezvan. Topik tentang Freya selalu memenuhi kepalanya akhir-akhir ini.


Sudah tiga hari ia berada di sekolah baru. Selama itu pula, Freya tidak pernah terlihat lagi di Dojo. Rezvan curiga gadis itu mengundurkan diri. Namun, saat bertanya pada Sensei Sadewa, Freya tidak mengundurkan diri. Dia memang sering bolos sewaktu-waktu.


Di sekolah, ia tidak punya waktu menyapa Freya. Gadis itu juga tak terlihat di mana pun saat jam istirahat. Padahal, Rezvan sangat ingin bicara padanya.


Setiap pagi Rezvan melihat Liora, Febry, dan Linda memasang jebakan ember berisi tepung di atas pintu. Bukan hanya itu, yang membuatnya lebih marah adalah Devan ikut membantu mereka. Rezvan sudah memperingatkan mereka berempat agar tidak melakukan perbuatan buruk tersebut. Namun, anak-anak itu sangat keras kepala.


Apalagi Devan. Rezvan kenal betul bagaimana dia. Jika sudah senang akan sesuatu, ia takkan menyerah sebelum kena azab.

__ADS_1


"Sini, Rez, kalau mau ikutan!" katanya dengan tanpa dosa saat ditegur oleh Rezvan. Bahkan, Rezvan sempat dijegal karena berusaha menghancurkan hasil pekerjaannya dan Liora.


"Rezvan, kalau nggak mau bantuin jangan ganggu, dong!" Linda selalu bisa membuat bulu kuduknya merinding dengan nada centil yang tidak diharapkan itu.


Mungkin karena menyadari sikap Devan yang keterlaluan, Freya jadi menjauhinya. Freya takut Rezvan seperti mereka. Namun, tidak! Rezvan ingin dekat dengan Freya bukan untuk jahil atau apapun. Ia tulus ingin berteman dengan gadis itu.


Hari ini, Rezvan sudah kehilangan kesabaran. "Gue harus ngomong sama Freya, hari ini juga!"


Tepat jam istirahat, Freya langsung keluar. Liora menjulurkan satu kakinya di jalan Freya agar gadis itu tersandung. Namun, Freya terlanjur hafal dengan trik kuno tersebut. Bukannya tersandung seperti yang diharapkan Liora, Freya justru menginjaknya dengan sengaja yang sukses membuat Liora mengumpat.


Freya tersenyum miring. Lah bodo amat, batinnya senang.


Freya melangkahkan kaki ke luar sekolah. Tepatnya, ke warung lotek depan sekolah. Meskipun gerbang dibuka pada jam istirahat untuk memberi kesempatan pada pedagang-pedagang kecil, tidak banyak siswa yang tertarik untuk keluar. Apalagi kantin sudah lebih dari cukup untuk menghidupi satu ekosistem itu. Freya hanya mendapati beberapa adik kelas yang barangkali masih canggung bergumul di tempat yang sama dengan kakak kelas. Namun, mereka tampak tidak sungkan lagi dengan Freya, bahkan menyapanya. "Halo, Kak Freya! Gimana tadi jadi ulangan?"


Inilah yang ia suka dari tempat-tempat kecil, keramahan.


"Halo! Jadi dong, untung soalnya nggak susah-susah banget," Freya membalas sapaan mereka hangat. Ia pun duduk di bangku pojok yang tidak langsung terlihat dari gerbang sekolah.


Sebenarnya, dia tidak takut dengan Trio Lampir. Dia bisa saja makan di kantin asal konsentrasinya tetap terjaga. Tidak seperti kemarin saat ia disiram air oleh Liora. Saat itu, ia sedang banyak pikiran dan tidak menyadari keberadaan Liora.


Hanya saja, ia tak yakin bisa selamat dari Devan maupun Rezvan. Devan, mereka sudah mengklaim saling bermusuhan secara tidak tertulis beberapa hari lalu. Sebagai pendatang baru, Freya yakin Devan tak tahu apapun soal batasan mem-bully dirinya. Maka dari itu, Freya sangat waspada jika dekat-dekat dengan Devan kurang dari sepuluh meter. Sedangkan Rezvan tampaknya ingin mendekatinya. Freya tak ingin memberi celah bagi orang yang salah. Ia masih mencurigai potensi Rezvan yang kemungkinan tak jauh dari sepupunya. Freya berusaha menjauh dari Rezvan sesuai saran Dilla.


Puk....


Tiba-tiba, seseorang menepuk bahu Freya pelan. Freya terkejut saat mengetahui siapa orang itu. Wajahnya seketika mengeras tanda siaga.

__ADS_1


"Rezvan! Ngapain lo disini, mau ikut bully gue juga? Pergi sana sebelum gue hajar! Mumpung sepi di sini," serunya.


—*—


__ADS_2