Fake Hatred

Fake Hatred
Suka


__ADS_3

Di kamar yang hanya berlampukan cahaya redup karena si empunya hendak tidur tak lama lagi. Jam digital di atas nakas menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Devan masih fokus memainkan game online bersama teman-teman maya-nya. Dari raut mukanya, terlihat jelas bahwa ia sedang dalam kondisi tegang.


"Argh, ****! Kalah lagi, nggak asik banget, sumpah!"


Devan melempar ponselnya kesal. Untung ranjang itu berukuran king size, jadi ponselnya tidak semerta-merta jatuh ke lantai. Ia menghembuskan napas kasar, lengan kanannya diletakkan di atas dahi. Devan terpejam, namun bukan tidur.


Ia memang tidak begitu baik dalam game. Game yang terakhir saja sudah pertandingan ke-lima dan belum ada yang berhasil ia menangkan. Sejujurnya, Devan pun hanya bermain untuk bergaya seperti kebanyakan anak cowok. Ia tidak benar-benar menyukai permainan virtual apapun, kecuali untuk dipamerkan saja. Banyak anak perempuan menganggapnya gamer profesional. Dan meskipun Devan menyukai pujian itu, tetap saja kenyataannya ia sangat payah.


"Gue kira hidup jauh dari pengawasan papa bakal asyik. Lah apaan, rumah ini kayak penjara!"


Ya, Devan tinggal di rumah orang tua Rezvan. Ayah Devan adalah kakak dari ibunya Rezvan.


Dulu Rezvan dan Devan sekolah di SMA favorit yang sama dan sama-sama hidup mandiri di kost. Namun, Evan selaku ayah Devan tidak suka anaknya senang keluyuran ke tempat-tempat yang dianggapnya keren, padahal hanya menghambur-hamburkan uang dan memicu fitnah jahat. Orang tua mana yang rela anaknya dituduh dengan hal-hal buruk?


Meski nilainya tidak turun dan tidak naik, tetapi perilakunya kian bobrok. Evan memang keras dalam mendidik anak, ia bermaksud untuk mengekang Devan di bawah kendalinya. Namun, adiknya, Evie mengemukakan solusi agar Devan tinggal di rumahnya karena Rezvan juga akan dipindahkan ke sekolah yang lebih bagus prestasi akademiknya di tempat mereka. Dengan begitu, Ia dan Ferry suaminya bisa mengawasi Devan selagi sang kakak sibuk bekerja kesana-kemari. Evan pun setuju, dan seperti inilah hasilnya....


Tante Evie itu baik, lemah lembut, tidak seperti ayahnya yang galak. Namun, justru karena sifat beliau itu Devan menjadi segan untuk melakukan apapun yang ia mau. Untungnya, baru-baru ini ia menemukan hobi baru di sekolah. Mem-bully Freya!


SMA Akar Bangsa memang nyaris sempurna, kecuali bagaimana mereka memperlakukan salah satu siswinya. Dan Devan memanfaatkan hal itu sebagai penghiburan.


Pria itu segera melupakan game-game membosankan dan tersenyum jahat. "Besok ngapain lagi, ya? Apa gue taruh kulit pisang lagi? Nggak, pasti udah nggak manjur!" gumamnya dalam hati. Merencanakan rencana jahat yang bisa memicu kemarahan gadis itu.


Devan terlonjak mendapat ide, "kenapa nggak barang-barangnya aja yang gue rusak? Tasnya gue robek kek, sepatunya kek, buku PR-nya sekalian. Biar mewek tuh cewek cupu!"


Di tengah pikiran-pikiran kotor yang lalu-lalang di otaknya, pintu kamar terbuka menampilkan sosok Rezvan yang kelihatan sangat marah.


"Ngapain lo malem-malem bertamu?" polos Devan seakan lupa bahwa ia lah yang sudah berhari-hari numpang di rumah orang.

__ADS_1


Tanpa mempedulikan pertanyaan sepupunya, Rezvan menghampiri Devan dan langsung menarik kerah baju anak itu. "Gue peringatin lo, ya, jangan sekali-kali lo ganggu Freya!" katanya dalam nada rendah karena tak ingin membangunkan orang-orang.


Devan mengernyit, ia tak takut dengan pose Rezvan yang siap meninju kapan saja. "Lo kenapa suka ikut campur sih? Mau sok jadi pahlawan? Atau jangan bilang lo suka sama cewek itu?"


"Iya, gue suka sama Freya sejak pertama kali gue ketemu dia di luar sekolah. Jadi kalau lo macem-macem sama Freya, lo juga bakal berurusan sama gue, ngerti!" tegas Rezvan. Tak ada keraguan sedikitpun ketika ia mengaku telah menyukai Freya. Karena begitulah yang ia rasakan sejak pertemuan di Dojo MMZ.


Devan tercengang, tak pernah berharap sepupunya menyukai Freya seyakin dan secepat itu. "Lo serius? Lo nggak takut diinjak-injak sama anak-anak lain gara-gara ketahuan suka sama dia? Lo nggak kehilangan akal kan, Rez? Bilang sama gue kalau lo cuma KASIHAN sama si Freya!" Devan berusaha mengompori lewat kata-katanya.


Rezvan melepaskan kerah Devan malas. Pria itu mendengus remeh. Tentu saja ia tulus menyukai Freya. Perasaan itu sudah ada sehari sebelum ia mengetahui masalah Freya di sekolah. Dan rasa suka itu tumbuh bukan karena kasihan. Gadis itu, memang menarik.


"Gue suka sama Freya bukan karena kasihan. Gue tulus suka sama dia dan bakal jadiin dia sebagai pacar gue. Lo lihat aja! Gue juga nggak takut turun reputasi. Paling cuma lo sama Liora, gampang! Gue bisa ngehancurin kalian sekaligus dalam satu waktu, terutama lo!"


Untuk beberapa saat Devan hanya menatap lurus sepupunya. Kemudian terkekeh, "lo mau ngancem gue pake nama bokap gue?"


"Ya," singkat Rezvan. Meski begitu, Devan tak menyahut lagi.


Devan mungkin tidak bisa ditaklukkan oleh BP, satpam, polisi, gorila, beruang, dan sebagainya. Tapi, ayahnya bisa. Evan bisa berubah layaknya psikopat hanya untuk memberi anak semata wayangnya 'pelajaran kecil'. Namun Devan sadar, hukuman atas mem-bully teman sekelas mungkin tidak cukup dengan 'pelajaran kecil' itu, setidaknya menurut ayahnya.


Rezvan meninggalkan kamar Devan. Devan memandang kosong pintu kamarnya yang tertutup rapat. Sekelumit tawa sinis menghiasi pikirannya. "Oh, sepupu malaikat gue! Gue tahu, lo nggak akan tega nglaporin gue ke bokap."


—*—


"Makasih, Dil. Udah nganterin gue," Freya keluar dari kamar mandi dengan wajah berseri. Namun, ia tak melihat Dilla sampai ia menyadari kalau gadis itu sudah tertidur di pojokan lantai sambil mendekap bantal pikachu-nya.


"Eh, buset! Lo kayaknya nggak pernah mimpi buruk, ya. Bangun, Dil! Woy, bangun!" Freya menggoyang-goyang pundak saudaranya itu.


Dilla mengerang, "hrghh. Oh, udah selesai lo?"

__ADS_1


"Udah, ayo balik!"


Dilla menjulurkan tangannya lemas, "papah gue sampe kasur!"


"Jalan sendiri, lah! Lemprakan doang, kayak abis marathon aja," tolak Freya.


Dilla berdecak kesal, merasa jasa baiknya yang sudah bersedia mengantar Freya ke toilet tengah malam tidak mendapat balasan yang pantas. "Dasar, bocah tengil!"


Sesampainya di kamar, Freya tidak langsung tidur. Ia menatap langit-langit rumah sembari tersenyum tipis.


"Rey, gue janji besok-besok nggak akan telat lagi. You can count on me!"


Freya tak ingin mudah diluluhkan. Namun, terlepas dari tulus atau tidaknya perkataan Rezvan, kalimat sederhana itu mampu menghangatkan hatinya yang kesepian. Apalagi, ia juga tahu kalau Rezvan tidak terlibat dalam pem-bully-an Devan dan Liora terhadap dirinya.


Entah kenapa Freya memiliki sedikit harapan terpendam dengan Rezvan. Sudah sejak lama ia menginginkan teman yang sungguhan ada di saat terburuknya, sampai ia merasa baik-baik saja. Namun, Freya sadar diri dan takkan berharap lebih tinggi dari itu.


"Tidorrr, malah cengar-cengir!"


Freya menoleh Dilla yang rupanya belum seratus persen terlelap. "Kalau orang cengar-cengir tandanya apa, Dil?"


"Au, jatuh cinta kali," sahutnya asal.


"Hah? Ya kali, nggak mungkin ah."


"Wait, emang lo beneran lagi mikirin cowok? Siapa?"


"Tidorrr, nanya mulu!"

__ADS_1


"Ya elah, dasar bocah tengil!"


—*—


__ADS_2